<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231</id><updated>2011-04-21T17:39:27.681-07:00</updated><title type='text'>PENYEJUK SADDHA BUDDHANI</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>61</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-1717456761402184581</id><published>2008-04-09T19:14:00.002-07:00</published><updated>2008-04-09T19:16:49.245-07:00</updated><title type='text'>UCCHANGA JATAKA</title><content type='html'>Diterjemahkan oleh Jimmy Chandra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. 67&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UCCHANGA-JATAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                "Seorang anak lelaki satu yang mudah didapat."-... Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika di Jetavana, tentang seorang perempuan negeri tertentu. Untuk suatu kejadian di kosala tiga orang laki-laki sedang berjalan dengan susah payah di bagian luar dari sebuah hutan tertentu, dan perampok-perampok itu menjarah di dalam hutan itu dan mereka mengadakan pelariannya. [307] Korban-korban datang, dalam arah tujuan dari suatu pencarian bajingan-bajingan itu yang sia-sia, kemana ketiga orang laki-laki itu sedang berjalan. "Disinilah perampok-perampok hutan itu, menyamar sebagai petani-petani," mereka berteriak, dan menarik ketiganya sebagai tawanan dari raja Kosala. Sekarang dari waktu ke waktu di sana seorang perempuan datang ke istana raja yang dengan ratapan yang keras meminta untuk "Dengan mana untuk dilindungi." Mendengar tangisannya, raja memerintahkan memberikan sebuah pakaian untuk diberikan kepadanya, tapi ia menolak itu, berkata ini adalah bukan yang dimaksudnya. Maka pembantu raja kembali kepada yang mulia dan berkata bahwa apa yang perempuan itu inginkan bukanlah pakaian-pakaian tetapi seorang suami &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7648873842606600231#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Kemudian raja telah membawa perempuan itu ke hadapannya dan menanyakan ia apakah yang ia betul-betul maksudkan seorang suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                "Ya, tuanku," ia menjawab, "Karena seorang suami adalah betul-betul seorang pelindung perempuan, dan ia yang kehilangan seorang suami, malah walaupun perempuan itu memakai dalam pakaian berharga seribu keping pergi tanpa apa-apa dan betul-betul telanjang." Dan untuk menyakinkan kebenaran ini, sutta berikut ini akan dinyanyikan disini:-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagai kerajaan tanpa raja, bagai sebuah sungai kering,&lt;br /&gt;Begitu tanpa apa-apa dan telanjang seorang perempuan tampaknya,&lt;br /&gt;Yang, mempunyai sepuluh saudara-saudara, namun kehilangan seorang pasangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka senang dengan jawaban perempuan itu, raja menanyakan hubungan ketiga tawanan itu denganya. Dan ia menjawab bahwa satu adalah suaminya, satu saudaranya, dan satu anaknya. "Kalau begitu, untuk menandakan anugerah Saya," berkata raja, "Saya berikan kamu satu dari tiga, yang mana akan kau ambil?" "Tuanku," jawabnya, "Kalau Saya hidup, Saya bisa mendapat suami yang lain dan anak lelaki yang lain, tetapi karena orang tuaku sudah mati, Saya tidak akan pernah mendapatkan saudara yang lain. Jadi berikan saja saudara Saya, tuanku." Merasa senang dengan perempuan itu, raja memerdekakan ke tiganya, dan itulah seorang perempuan ini adalah alat untuk menyelamtakan kejadian ini diketahui oleh persaudaraan, mereka sedang memuji perempuan itu di dalam Dhammasala, ketika Sang Guru masuk. Mendengar pada apa yang menjadi pokok pembicaraan mereka, Beliau berkata, "Ini bukan pertama kali, saudara-saudara, bahwa perempuan ini telah menyelamatkan ketiganya dari bahaya, ia melakukan yang sama pada waktu yang lalu." Dan demikian katanya, Beliau menceritakan masa lalu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu waktu ketika Brahmadatta sedang memerintah di Benares, tiga orang laki-laki sedang berjalan dengan susah payah pada bagian luar dari sebuah hutan, dan segala sesuatunya berjalan seperti di atas. Ketika ditanya oleh raja yang mana dari ketiganya itu yang ia akan ambil, perempuan itu berkata, "Tidak bisakah yang mulia memberi saya semua ketiganya?" "Tidak," berkata raja, "Saya tidak bisa." [308] "Yah, kalau Saya tidak bisa mendapat semua ketiganya, berikan Saya saudaraku." "Ambillah suamimu atau anakmu," kata raja. "Seperti halnya seorang saudara?" "Dua yang terdahulu Saya bisa siap menggantinya." menjawab perempuan itu, "Tetapi seorang saudara tidak pernah!" Dan demikian katanya, ia mengulangi pantun ini:-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak sesuatu yang mudah didapat, suami juga.&lt;br /&gt;Sebuah pilihan yang luas mengerumuni cara-cara umum.&lt;br /&gt;Tapi dimana akan semua usaha-usahaku mendapatkan saudara yang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ia betul sekali," berkata raja itu, sangat senang. Dan ia memerintahkan semua ketiga orang itu diambil dari penjara dan diberikan kepada perempuan itu. Ia mengambil mereka semua ketiganya dan berlalu pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Demikianlah, kamu lihat, saudara-saudara," berkata Sang Guru, "Bahwa perempuan yang sama ini satu kali sebelumnya menyelamatkan ketiga orang yang sama dari bahaya." Pelajarannya berakhir, Beliau membuat hubungan dan menyatukan kelahiran dengan berkata, "Perempuan itu dan tiga laki-laki itu sekarang adalah juga permpuan dan orang-orang dari waktu yang lampau, dan saya adalah raja itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Cf. Untuk ide dari sajak Herodotus III-118-120, Sophocles Antigone 902-912, dan lihat karangan ini didiskusikan dalam India Antiquary, untuk Desember 1881.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7648873842606600231#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt;       Cf. ‘femme couverte.’&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-1717456761402184581?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/1717456761402184581/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=1717456761402184581' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/1717456761402184581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/1717456761402184581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/04/ucchanga-jataka.html' title='UCCHANGA JATAKA'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-1648557563077178562</id><published>2008-04-09T18:42:00.001-07:00</published><updated>2008-04-09T18:42:53.263-07:00</updated><title type='text'>TAYODHAMMA JATAKA</title><content type='html'>Diterjemahkan oleh Jimmy Chandra&lt;br /&gt;Diedit oleh a.c. untuk pertama kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. 58&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAYODHAMMA-JATAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Barangsiapa seperti kamu ..."Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Veluvana (Hutan Bambu) juga atas pokok pembicaraan tentang maksud untuk membunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Pada suatu waktu ketika Brahmadatta sedang memerintah di Benares, Devadatta terlahir lagi sebagai seekor kera, dan berdiam di dekat pegunungan Himalaya sebagai penguasa suku kera yang semuanya keturunannya sendiri. Di pengaruhi oleh ramalan buruk bahwa keturunan laki-lakinya yang menjadi dewasa akan menyingkirkannya dari kepimpinannya, ia biasa mengebiri [281] mereka dengan gigitannya. Sekarang sang Bodhisatta telah diperanakkan oleh kera yang sama ini, dan ibunya, dalam usaha menyelamatkan keturunannya, minggat ke hutan di kaki gunung, di mana pada waktu yang sesuai ia melahirkan sang Bodhisatta. Dan ketika ia sudah dewasa dan tiba pada tahun-tahun pengertian, ia di anugerahkan dengan kekuatan yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                "Di mana ayah saya ?", suatu hari ia bertanya kepada ibunya. "Ia bertempat di kaki gunung tertentu, anakku," ibunya menjawab, "Dan ia adalah raja dari suku kera.". "Bawalah saya untuk melihat ia, Ibu.". "Jangan begitu, anakku, karena ayahmu begitu takutnya digantikan oleh anak-anaknya maka ia mengebiri mereka semua dengan giginya.". "Tidak apa-apa, bawalah saya ke sana, ibu," kata Sang Bodhisatta. "Saya akan mengetahui apa yang akan di kerjakan.". Kemudian ibunya membawanya kepada kera tua. Pada saat ia melihat anaknya, kera tua itu merasa yakin bahwa sang Bodhisatta akan menjadi dewasa dan memecatnya. Ia memutuskan, dengan sebuah pelukan pura-pura untuk menghancurkan kehidupan Sang Bodhisatta, “Ah Anakku!” dia berteriak, “Kemana kamu sepanjang Waktu ini?” Dan, melakukan sebuah gerakan untuk memeluk Sang Bodhisatta, ia mendekapnya seperti sebuah catok.Tetapi sang Bodhisatta, yang sekuat seekor gajah, membalas pelukan itu dengan kuat sampai tulang rusuk ayahnya seolah-olah mau patah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Kemudian kera tua itu berpikir, "Anak lelaki saya ini bila dewasa akan betul-betul membunuh saya.". Memikirkan bagaimana ia membunuh Sang Bodhisatta terlebih dahulu, ia terpikir tentang sebuah danau yang dekat, di mana tinggal seorang raksasa yang bisa memakannya. Demikianlah ia berkata kepada sang Bodhisatta, "Saya sudah tua sekarang, anakku, dan akan menyerahkan pimpinan suku kepadamu, hari ini kamu akan di jadikan raja. Di dalam sebuah danau yang dekat, tumbuh dua macam bunga lily air, tiga macam bunga teratai biru, dan lima macam bunga teratai putih. Pergilah dan petik beberapa untuk saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                "Baik, ayah," jawab Sang Bodhisatta, dan ia berangkat pergi. Mendekati danau itu dengan hati-hati, ia mempelajari jejak kaki pada pinggirannya dan menandai bagaimana semuanya menuju ke dalam air, tapi tidak ada jejak yang kembali. Menyadari bahwa danau itu dihuni oleh seorang raksasa, ia menduga ayahnya tidak sanggup untuk membunuhnya sendiri, berharap ia dibunuh [282] oleh raksasa itu. "Tetapi saya akan mendapatkan bunga-bunga teratai itu," katanya, "tanpa sama sekali masuk ke dalam air." Maka ia pergi ke tempat yang kering, dan berlari melompat dari pinggir danau. Dalam lompatannya, ia berada di atas air, ia memetik dua bunga yang tumbuh di atas air, dan turun bersama bunga-bunga itu di tepi yang lain. Pada jalan kembalinya, ia memetik dua lagi dengan cara yang sama, sebagaimana dia melompat, dan dengan demikian membuat sebuah timbunan pada ke dua sisi dari danau itu. Tapi selalu menjaga di luar air tempat tinggal raksasa itu. Ketika ia telah mengumpulkan itu semua di atas pinggir danau, raksasa itu berteriak kagum, "Saya telah hidup lama di danau ini, tapi saya tidak pernah melihat walaupun seorang manusia begitu pintar ! Inilah kera yang telah memetik semua bunga-bunga yang ia kehendaki, namun tetap selamat di luar jangkauan kekuasaan saya."Dan memisahkan air terbelah, Raksasa itu ke luar dari danau menuju tempat sang Bodhisatta berdiri, dan mengarahkan ini kepadanya, "Oh raja kera, ia yang memiliki tiga persyaratan akan mengungguli lawan-lawannya, dan kamu, saya pikir mempunyai ketiga-tiganya." dan demikian katanya, ia mengulangi syair ini yang memuji Sang Bodhisatta:&lt;br /&gt;Barang siapa seperti anda, Oh raja Kera, digabungkan&lt;br /&gt;Ketangkasan dan keberanian dan akal.&lt;br /&gt;Akan melihat jalan musuhnya berbalik dan lenyap.&lt;br /&gt;                Pujiannya berakhir, raksasa itu menanyakan sang Bodhisatta kenapa ia mengumpulkan bunga-bunga.  "Ayahku bermaksud untuk menjadikan saya raja dari sukunya," kata Sang Bodhisatta, "dan itulah mengapa saya mengumpulkannya." "Tetapi seorang yang tak ada taranya seperti anda tidak harus membawa bunga-bunga," kata raksasa itu, "saya akan bawakan bunga-bunga itu untuk anda." dan demikian katanya, ia memetik bunga-bunga itu dan mengikuti di belakang Sang Bodhisatta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Melihat kejadian ini dari kejauhan, ayah Sang Bodhisatta mengetahui rencana jahatnya telah gagal. "Saya kirimkan anak lelaki saya untuk mangsa raksasa, dan di sini ia kembali selamat dan sehat, bersama raksasa itu yang dengan rendah hati membawakan bunga-bunga itu untuknya ! Saya gagal !" teriak kera tua itu, dan hatinya merekah pecah [283] menjadi tujuh keping, dengan demikian ia mati di sana. Dan semua kera-kera yang lain berkumpul bersama dan memilih Sang Bodhisatta menjadi raja mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Pelajaran berakhir, Sang Guru memperlihatkan hubungan dan menyatukan kelahiran dengan berkata, "Devadatta adalah raja dari kera-kera itu, dan saya anaknya."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-1648557563077178562?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/1648557563077178562/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=1648557563077178562' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/1648557563077178562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/1648557563077178562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/04/tayodhamma-jataka.html' title='TAYODHAMMA JATAKA'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-9189225847298808644</id><published>2008-04-09T18:41:00.002-07:00</published><updated>2008-04-09T18:42:20.033-07:00</updated><title type='text'>VANARINDA JATAKA</title><content type='html'>Diterjemahkan oleh Jimmy Chandra&lt;br /&gt;Diedit oleh a.c. untuk pertama kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. 57&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VANARINDA-JATAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa, Oh Raja Kera ..."Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika Beliau berdiam di Veluvana, tentang maksud Devadatta untuk membunuhnya. Mengetahui keinginan Devadatta untuk membunuhnya, Sang Guru berkata, "Ini bukan pertama kali, para bhikkhu bahwa Devadatta telah berusaha untuk membunuh saya, ia melakukan hal yang sama pada waktu yang lampau, tapi maksud jahatnya gagal." dan demikian katanya, Beliau menceritakan kisah masa lampau ini. Pada suatu waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Sang Bodhisatta terlahir sebagai seekor kera. Ketika dewasa, ia sebesar seekor anak kuda dan kuat luar biasa. Ia hidup sendiri di tepi sungai, di tengah sungai ada pulau, di sana tumbuh mangga dan sukun, dan pohon buah-buahan lainnya. Dan di tengah aliran air di separuh jarak antara pulau dan tepi sungai sebuah batu karang tunggal mencuat keluar dari dalam air. Kuat bagaikan seekor gajah, sang Bodhisatta biasa untuk meloncat dari tepi sungai ke atas batu karang ini dan dari sini ke pulau itu. Di sini ia makan buah-buahan yang tumbuh di pulau itu sampai kenyang, pada sore hari kembali lagi dengan cara sebagaimana ia datang. Dan beginilah penghidupannya sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu itu di sungai itu hidup seekor buaya dan pasangannya yang sedang hamil, yang melihat sang Bodhisatta bepergian bolak balik, berangan-angan [279] untuk makan hati kera. Maka ia memohon suaminya untuk menangkap kera itu untuknya. Berjanji bahwa ia akan memenuhi angan-angannya, buaya itu pergi dan berdiam di atas batu itu, maksudnya untuk menangkap kera itu pada perjalanan pulang sore harinya. Setelah menjelajahi sekeliling pulau itu sepanjang hari, sang Bodhisatta pada sore harinya melihat ke arah batu itu dan merasa heran mengapa batu itu begitu tinggi keluar dari air. Menurut cerita, sang Bodhisatta selalu menandai tinggi yang pasti dari muka air sungai itu, dan dari batu ke dalam air. Ia memperkirakan bahwa seekor buaya mungkin sedang mengintai untuk menangkapnya. Dan dengan maksud untuk mendapatkan kenyataan dari kejadian ini, ia berteriak, yang ditujukan kepada batu itu, "Hey ! Batu !" Dan tidak ada jawaban kembali. Ia berteriak tiga kali, "Hey ! Batu !" dan karena batu itu diam saja, kera itu mengatakan, "Bagaimana ini, kawan batu, bahwa kamu tidak mau menjawab saya hari ini ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh !" pikir buaya itu, "Kalau begitu batu ini mempunyai kebiasaan untuk menjawab kera itu. Saya harus menjawab untuk batu itu hari ini."Sehubungan dengan itu, ia menyahuti, "Ya, kera, ada apa ?". "Siapakah kamu ?" tanya Sang Bodhisatta. "Saya seekor buaya.". "Untuk apa kamu duduk di atas batu itu ?". "Untuk menangkap dan memakan hatimu.". Karena tidak ada jalan kembali yang lain, hanya satu yang harus di lakukan, yaitu mengakali buaya itu. Kemudian sang Bodhisatta berteriak, "Karena tidak ada pertolongan untuk itu kecuali saya menyerahkan diri saya padamu. Bukalah mulutmu dan tangkap saya ketika saya melompat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ketahui bahwa waktu buaya membuka mulut mereka mata mereka terhalang &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7648873842606600231#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; . Kemudian, ketika buaya ini membuka mulutnya tanpa curiga, matanya terhalang. Dan di sana ia menunggu dengan mata terhalang dan rahang terbuka ! Melihat ini, kera yang banyak muslihatnya ini melakukan lompatan ke atas kepala buaya, dan dari sana dengan sebuah lompatan seperti kilat mencapai tepi sungai. Ketika kecerdikan perbuatan ini menjadi jelas bagi si buaya, ia berkata, "Kera, dalam dunia ini [280] memiliki empat kebajikan mengalahkan musuh-musuhnya. Dan kamu saya pikir, memiliki keempat-empatnya." Dan demikian katanya, ia mengulangi syair ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa, Oh raja kera, seperti kamu, digabung&lt;br /&gt;Kebenaran, pandangan ke depan, keputusan pasti, dan keberanian,&lt;br /&gt;akan melihat jalan musuhnya berbalik dan lenyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengan pujian ini pada sang Bodhisatta, buaya itu balik kembali ke tempatnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Sang Guru, "Ini bukanlah pertama kali, ia telah mencoba untuk membunuh saya, ia melakukan hal yang sama juga pada masa lalu." Dan, setelah mengakhiri pelajarannya, Sang Guru memperlihatkan hubungan dan menyatukan kelahiran dengan berkata, "Devadatta adalah buaya pada waktu itu, anak perempuan brahmana itu Cinca &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7648873842606600231#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; adalah isteri buaya, dan saya sendiri raja kera."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Catatan: Cf. No. 224 (Kumpulan jataka). Sebuah versi Tionghoa diberikan oleh Beal dalam 'Romantic legend' Hal. 231 dan sebuah versi Jepang dalam 'Fairy Tales from Japan' nya Grifffin]&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7648873842606600231#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt;       Pernyataan ini tidaklah sesuai dengan kenyataan dari sejarah alam.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7648873842606600231#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt;       Jati dirinya di sini sebagai isteri buaya jahat sesuai dengan kenyataan bahwa Cinca, yang adalah seorang "Pertapa perempuan dari kecantikan yang langka," di suap oleh musuh-musuh Gotama untuk pura-pura hamil dan menuntut tanggung jawabnya sebagai ayah. Bagaimana penipuan ini di jalankan, di katakan dalam Dhammapada, hl. 338-340&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-9189225847298808644?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/9189225847298808644/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=9189225847298808644' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/9189225847298808644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/9189225847298808644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/04/vanarinda-jataka.html' title='VANARINDA JATAKA'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-2638346084129590223</id><published>2008-04-09T18:41:00.001-07:00</published><updated>2008-04-09T18:41:52.954-07:00</updated><title type='text'>KABCANAKKHANDA JATAKA</title><content type='html'>Diterjemahkan oleh Jimmy Chandra&lt;br /&gt;Diedit oleh a.c. untuk pertama kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. 56&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KABCANAKKHANDA-JATAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                "Bila kegembiraan ..."Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Savatthi, mengenai seorang bhikkhu tertentu. Tradisi mengatakan melalui mendengar Sang Guru berkotbah tentang seorang anak muda dari Savathi jatuh hati pada kebenaran yang sangat berharga &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7648873842606600231#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; dan menjadi seorang bhikkhu. Pembimbingnya dan guru-gurunya mulai mengajarnya dalam sepuluh sila, berturut-turut, menguraikan kepadanya, yang singkat, sedang, dan sila yang panjang &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7648873842606600231#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; memberitahukan sila yang tertinggal di dalam pertahanan diri menurut Patumokkha &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7648873842606600231#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; sila yang tinggal di dalam pertahanan diri sebagai pikiran, sila yang tinggal pada sebuah ketidaksalahan perjalanan hidup, sila yang berhubungan pada jalan seorang bhikkhu bisa menggunakan keperluan itu. Berpikir si pemula yang muda itu, "Banyak sekali sila ini, dan saya tak ragu lagi akan gagal untuk memenuhi semua yang telah saya ikrarkan. Kalau begitu apa bagusnya untuk menjadi bhikkhu kalau seseorang tidak dapat menjaga sila ? Arah saya yang terbaik adalah kembali kepada keduniawian, mengambil seorang isteri dan mendidik anak-anak, hidup dalam suatu penghidupan dengan menderma dan lain-lain pekerjaan baik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Maka ia mengatakan kepada atasannya apa yang dipikirkannya, berkata bahwa ia mengusulkan untuk kembali pada keadaan yang lebih rendah sebagai umat biasa, dan bermaksud untuk mengembalikan mangkok dan jubahnya. "Yah, kalau kamu mau begitu," kata mereka, "Setidaknya permisilah kepada sang Buddha sebelum kamu pergi," dan mereka membawa orang muda itu ke hadapan Sang Guru, "Kenapa kamu membawa saudara ini bertentangan dengan kehendaknya ?" "Guru, ia berkata bahwa ada sila yang lebih banyak daripada apa yang ia bisa perhatikan, dan bermaksud untuk mengembalikan jubah dan mangkoknya. Jadi kami ajak ia dan membawanya kepada Guru." "Tetapi kenapa, para bhikkhu," tanya Sang Guru, "Apakah kamu membebankan ia sedemikian banyak sila ? Ia dapat kerjakan apa yang ia sanggup, tidak lebih dari itu. Jangan melakukan kesalahan lagi, dan tinggalkan saya untuk memutuskan apa yang akan dilakukan dalam kasus ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Kemudian, kembali kepada saudara yang muda ini, Sang Guru berkata, "Marilah, bhikkhu, kekuatiran apa yang kamu dapat dengan sila secara keseluruhan ? Apakah kamu pikir kamu dapat mengikuti hanya tiga peraturan sila ?" "Oh, ya Guru." "Nah sekarang, perhatikan dan juga tiga garis besar, dari perkataan, pikiran, dan badan, jangan berbuat kejahatan, baik dalam kata-kata, pikiran, atau perbuatan. Jangan berhenti menjadi seorang bhikkhu, tapi teruslah dari sekarang dan ikuti hanya tiga peraturan ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                "Ya, tentu saja, Guru, saya akan menjaga mereka," ucap anak muda yang gembira itu, dan ia kembali dengan gurunya lagi. Dan sebagaimana ia terus menjaga tiga peraturannya, ia berpikir pada dirinya sendiri, "Saya telah diberitahu semua sila oleh pembimbing saya, yapi karena mereka bukan Buddha, mereka malah tidak dapat membuat saya memegang sedemikian banyak. Sebagaimana (277) Yang  Maha Sadar, dengan akal budi Kebuddhaanya, dan karena ia penguasa kebenaran, telah mengemukakan begitu banyak sila hanya dalam tiga aturan berhubungan dengan garis besar, dan telah menjadikan saya mengerti dengan jelas. Sesungguhnyalah Sang Guru telah memberikan suatu pertolongan yang segera kepada saya." Dan ia memenangkan pengertian, dan dalam beberapa hari mencapai kearahatan. Ketika berita ini sampai ke telinga para bhikkhu, mereka membicarakan hal ini pada waktu berkumpul di dalam Dhammasala (Gedung Kebenaran), mengatakan bagaimana bhikkhu itu, yang akan balik kembali ke kehidupan duniawi karena ia tidak berharap untuk dapat memenuhi sila, telah dilengkapi oleh Sang Guru dengan tiga aturan yang mengandung semua sila, dan telah membantunya memegang tiga aturan itu, dan kemudian telah dibuat sanggup oleh Sang Guru untuk memenangkan kearahatan. Alangkah luar biasa, kata mereka tentang Sang Buddha itu. Memasuki gedung pada saat ini, dan mendengar pertanyaan dari pokok pembicaraan mereka, Sang Guru berkata, "Para bhikkhu, biarpun sebuah beban yang berat, akan menjadi ringan, bila dibawa sedikit demi sedikit, dan seperti itu 'Yang bijaksana dan baik' pada waktu yang lampau, sewaktu mendapatkan sebongkah besar emas, terlalu berat untuk diangkat, pertama-tama memecahkan dan kemudian memungkinkan mereka untuk membawa harta sepotong demi sepotong." Demikian kata-nya, Beliau menceritakan kisah masa lampau ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu waktu ketika Brahmadatta sedang memerintah di Benares, sang Bodhisatta terlahir sebagai seorang petani dalam sebuah kampung, dan suatu hari sedang membajak di ladang yang dulunya berdiri sebuah kampung. Pada waktu yang lalu, seorang saudagar kaya yang telah meninggal meninggalkan timbunan dalam lubang ini sebongkah besar emas, setebal lingkaran paha rang dan empat 'cubit' panjangnya. Dan bajak sang Bodhisatta membentur bongkahan itu, dan menempel dengan kuat. Mengira itu sebagai akar pohon yang menyebar, ia menggalinya, tapi mendapatkan benda yang sebenarnya, ia membersihkan kotoran penutup emas itu. Pekerjaan hari itu telah di kerjakan, pada waktu matahari terbenam ia meletakkan disamping bajak dan alat-alatnya, dan mencoba untuk memikul hartanya dan berjalan dengan itu. Tetapi ia tidak dapat berbuat banyak untuk mengangkatnya, ia duduk di depannya dan mendapat sebuah pikiran. Untuk apa saya gunakan emas ini. Saya akan punya begitu banyak untuk hidup, begitu banyak untuk ditimbun sebagai harta, begitu banyak untuk berdagang. "Saya akan punya begitu banyak untuk hidup, begitu banyak untuk ditimbun sebagai harta, begitu banyak untuk berdagang, dan begitu banyak untuk kedermawanan dan pekerjaan-pekerjaan baik," ia berpikir pada dirinya, dan sehubungan dengan itu ia memotong emas itu menjadi empat. Pembagian itu menjadikan bebannya mudah dibawa, dan ia membawa pulang bongkahan-bongkahan emas. Setelah penghidupan dari kedermawanan dan pekerjaan-pekerjaan baik lainnya, ia meninggal dunia dengan apa yang ditinggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajarannya berakhir, Sang Guru, sebagai Buddha, mengucapkan syair ini: [278]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kegembiraan mengisi hati dan mengisi pikiran,&lt;br /&gt;Bila keadilan dilaksanakan memenangkan keduniawian,&lt;br /&gt;Siapa yang menjalankannya menghasilkan kemenangan.&lt;br /&gt;Dan semua belenggu sungguh-sungguh dihancurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Sang Guru telah mengarahkan ajarannya untuk mencapai kearahatan sebagai puncaknya, Beliau memperlihatkan hubungan dan menyatukan kelahiran dengan berkata, "Pada waktu itu saya sendiri adalah orang yang mendapatkan bongkah emas itu."&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7648873842606600231#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt;       Atau barangkali ratanasasanam artinya ‘Kepercayaan dihubungkan dengan tiga permata’ yaitu, Buddha, Dhamma dan Sangha.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7648873842606600231#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt;       Ini semua diterjemahkan dalam Rhys Davids “Buddhist Suttas.” Hal. 189 - 200&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7648873842606600231#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt;       Patimokkha diterjemahkan dan dibahas dalam Pt.I dari terjemahan dari vinaya oleh Rhys Davids dan Oldenberg (S.B.E.Vol.13)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-2638346084129590223?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/2638346084129590223/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=2638346084129590223' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/2638346084129590223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/2638346084129590223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/04/kabcanakkhanda-jataka.html' title='KABCANAKKHANDA JATAKA'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-6341190180681745870</id><published>2008-04-09T18:39:00.002-07:00</published><updated>2008-04-09T18:41:07.178-07:00</updated><title type='text'>PHALA JATAKA</title><content type='html'>Diterjemahkan oleh Jimmy Chandra&lt;br /&gt;Diedit oleh a.c. untuk pertama kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. 54&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PHALA-JATAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                "Ketika dekat sebuah kampung ..."Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, mengenai seorang bhikkhu yang akhli dalam pengetahuan tentang buah-buahan. Hal ini terjadi karena seorang tuan tanah dari Savatthi telah mengundang persaudaraan sangha dengan Sang Buddha sebagai pemimpinnya, dan telah mempersilakan mereka duduk dalam kebun peristirahatannya, di mana mereka dijamu dengan bubur beras dan kue-kue. Setelah itu ia minta tukang kebunnya pergi berkeliling dengan para bhikkhu dan memberikan mangga dan buah-buahan lainnya kepada yang mereka hormati. Dalam mematuhi permintaan itu, orang itu berjalan sekitar lapangan bersama para bhikkhu dan dapat mengatakan dengan tengokkan sekilas ke atas pohon, apakah buah-buah itu masih hijau, mana yang hampir masak, dan mana yang sudah masak, dan seterusnya. Dan apa yang ia katakan selalu benar. Maka para bhikkhu datang pada sang Buddha, dan mengatakan bagaimana mahirnya si tukang kebun itu, dan bagaimana selagi ia berdiri di atas tanah, ia dapat mengatakan dengan tepat keadaan buah-buahan yang tergantung di atas. "Saudara-saudara," kata sang Guru, "Tukang kebun ini bukanlah satu-satunya yang mempunyai pengetahuan dari buah-buahan. Pengetahuan yang sama diperlihatkan oleh yang bijaksana dan baik pada waktu dulu juga." Dan demikian katanya, Beliau menceritakan kisah masa lampau ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Pada suatu waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, sang Bodhisatta di lahirkan sebagai seorang saudagar. Ketika ia dewasa dan sedang berdagang dengan lima ratus kereta, suatu hari ia sampai pada jalan menuju ... melalui sebuah hutan yang besar [271]. Berhenti pada bagian luar hutan, ia mengumpulkan kafilah dan mengarahkan mereka sebagai berikut :" Pohon-pohon beracun tumbuh dalam hutan ini. Perhatikanlah bahwa kamu jangan mencicipi daun-daun yang tidak dikenal, bunga-bunga, atau buah-buahan tanpa terlebih dahulu menanyakannya kepada saya." Semua dipesan supaya dilakukan dengan sangat hati-hati, dan perjalanan ke dalam hutan itu dimulai. Sekarang, tepat di batas hutan terdapat sebuah kampung, dan di sebelah luar kampung itu tumbuh sebatang pohon buah 'apa'. Pohon buah 'apa' persis menyerupai pohon mangga, batangnya, cabang, daun, bunga dan buah. dan tidak hanya bagian luarnya, tapi juga dalam rasa dan bau, buah itu masak atau belum masak meniru buah mangga. Bila dimakan, ia menjadi racun mematikan dan menyebabkan kematian dengan segera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Sekarang, beberapa kawan yang tamak, yang pergi mendahului kafilah tiba pada pohon ini, mengambil itu sebagai sebuah mangga, makan buahnya. Tetapi yang lainnya berkata, "Marilah kita tanya pemimpin kita sebelum kita memakannya," dan sehubungan dengan itu mereka berhenti dekat pohon itu, buah dalam tangan, sampai sang pemimpin datang. Mengetahui bahwa itu bukan mangga, dia berkata: "Pohon ini adalah sebatang pohon buah 'Apa', jangan sentuh buahnya." Menyuruh mereka berhenti makan, sang Bodhisattta mengalihkan perhatiannya kepada yang telah memakannya, pertama ia memberi sejumlah tertentu obat yang membuat mereka muntah dan kemudian ia memberi mereka empat makanan manis untuk di makan, dan akhirnya mereka baik kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Pada kejadian-kejadian sebelumnya, kafilah-kafilah telah berhenti di bawah pohon yang sama ini, dan telah mati karena memakan buah beracun itu yang mereka sudah ambil sebagai mangga. Keesokannya orang-orang kampung akan datang, dan melihat mereka terbaring mati di sana, akan melempar mereka dengan menyeret tumitnya ke dalam sebuah tempat yang dirahasiakan, menjarah semua yang dimiliki kafilah itu, kereta-kereta dan semuanya. Dan juga pada hari cerita kita, orang-orang kampung ini tergesa-gesa pada pagi harinya menuju ke pohon itu untuk yang mereka harapkan kehancuran kafilah itu. "Sapi-sapinya menjadi milik kita," kata beberapa dari mereka. "Dan kita akan memiliki kereta-kereta," kata yang lainnya. Sewaktu yang lainnya lagi menuntut barang-barang sebagai bagian mereka. Tapi ketika mereka tiba terengah-engah ke pohon itu, di sana seluruh kafilah hidup dan tidak kurang suatu apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana sampai kamu mengetahui ini bukan sebuah pohon mangga ?" tuntut orang-orang kampung yang kecewa itu. "Kami tidak tahu," berkata orang-orang kafilah, "Pemimpin kamilah yang mengetahui.". Maka orang-orang kampung datang kepada sang Bodhisatta dan berkata, "Orang bijaksana, apa yang anda lakukan untuk mendapatkan bahwa pohon ini bukan mangga ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dua hal mengatakan saya," jawab sang Bodhisatta, dan ia mengulangi syair ini. [272]&lt;br /&gt;Bilamana dekat sebuah kampung tumbuh pohon&lt;br /&gt;Tidak sukar untuk dipanjat, jelas bagi saya&lt;br /&gt;Tidak juga perlu, saya membuktian lebih jauh untuk mengetahui,&lt;br /&gt;Tak ada buah menyehatkan di atas sana dapat tumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan setelah mengajarkan kebenaran pada banyak orang-orang yang berkumpul, dia menyelesaikan Perjalanan dengan selamat. "Itulah saudara-saudara," berkata sang guru, "Dalam waktu lampau, yang bijaksana dan baik ahli dalam buah-buahan.” Pelajaran berakhir, beliau menunjukan hubungan dan mengakurkan kelahiran dengan berkata, “Pengikut-pengikut buddha adalah orang-orang dari kafilah, dan saya sendiri adalah pemimpin mereka.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-6341190180681745870?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/6341190180681745870/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=6341190180681745870' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/6341190180681745870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/6341190180681745870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/04/phala-jataka.html' title='PHALA JATAKA'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-4638519709825068976</id><published>2008-04-09T18:39:00.001-07:00</published><updated>2008-04-09T18:39:51.025-07:00</updated><title type='text'>DURAJANA JATAKA</title><content type='html'>Diterjemahkan oleh Jimmy Chandra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. 64&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DURAJANA-JATAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                "Kamu pikir..."Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, mengenai seorang upasaka. Tradisi mengatakan bahwa di Savatthi tinggal seorang umat biasa, yang telah di kukuhkan dalam Tisarana dan Pancasila, seorang berbakti yang mencintai Buddha, Dhamma dan Sangha. Tetapi istrinya adalah seorang yang berdosa dan perempuan yang jahat. Pada hari-hari istri itu berbuat salah, dia patuh seperti seorang budak perempuan yang dibeli dengan seratus keping, sedangkan pada hari-hari dia tidak berbuat salah, dia berlaku seperti nyonyaku, menggairahkan dan lalim. Suaminya tidak bisa merubahnya. Suaminya sangat mengkawatirkannya sampai dia tidak bisa melayani Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Suatu hari dia pergi dengan wewangian dan bunga-bunga, dan telah mengambil tempat duduknya setelah memberi hormat, ketika Sang Guru berkata kepadanya:- "Mohon bagaimana datang, Saudara biasa, bahwa tujuh atau delapan hari telah berlalu tanpa kedatanganmu untuk melayani Buddha?" "Istri Saya, Tuan, hari seperti seorang budak perempuan yang dibeli seharga seratus keping, sementara itu hari yang lain mendapatkan dia sebagai seorang yang menggairahkan dan nyonya yang lalim. Saya tidak bisa merubahnya, dan itulah karena ia Saya kawatir sampai Saya tidak melayani Sang Buddha."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, ketika beliau mendengar kata-kata ini, Sang guru berkata, "Kenapa, umat biasa, kamu telah diberitahukan oleh yang bijaksana pada waktu yang lalu bahwa adalah sukar untuk mengerti keadaan alam perempuan-perempuan." Dan beliau terus menambahkan, "Tetapi keberadaannya yang lebih dulu telah membingungkan pikirannya, jadi dia tidak mengingatnya." Dan demikian katanya, beliau menceritakan masa lampau itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Pada suatu waktu ketika Brahmadatta sedang memerintah di Benares, Sang Bodhisatta datang sebagai seorang Guru yang terkenal di Dunia, dengan lima ratus Brahmana muda belajar kepadanya. [300] Satu dari murid-muridnya ini seorang Brahmana muda dari Negeri Asing, yang jatuh cinta dengan seorang perempuan dan menjadikan ia sebagai istrinya. Meskipun dia terus tinggal di Benares, dia gagal dua atau tiga kali dalam kehadirannya kepada Sang Guru. Karena kamu harus ketahui, istrinya adalah seorang yang berdosa dan perempuan jahat, yang penurut sebagai seorang budak pada hari-hari bila dia berbuat salah, tapi pada hari-hari ketika ia tidak berbuat salah, memainkan seperti nyonyaku, menggairahkan dan kejam. Suaminya sama sekali tidak dapat merubahnya, sangat kawatir dan diganggu olehnya karena istrinyalah dia tidak bisa hadir untuk melayani Sang Guru, setelah tujuh atau delapan hari kemudian ia hadir kembali, dan ditanya oleh Sang Bodhisatta kenapa ia telah kelihatan begitu lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                "Guru, istriku penyebabnya," berkata dia. Dan ia menceritakan Sang Bodhisatta bagaimana dia patuh suatu hari seperti seorang budak perempuan, dan kejam hari lainnya, bagaimana ia tidak bisa merubahnya, dan bagaimana ia telah kawatir dan diganggu oleh perasaan hatinya yang berganti-ganti yang membuatnya dia pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                "Tepat demikian, Brahmana muda," berkata Sang Bodhisatta, "Pada hari-hari ketika mereka berbuat salah, perempuan-perempuan merendahkan hati mereka didepan suami-suaminya dan menjadi penurut dan lembut sebagai seorang budak perempuan, tapi pada hari-hari ketika mereka tidak berbuat salah, kemudian mereka menjadi bersitegang leher dan mendurhakai tuannya, setelah kejadian-kejadian ini perempuan-perempuan adalah berdosa dan jahat, dan alam mereka sukar untuk diketahui. Tak ada perhatian yang akan dilakukan baik pada kesukaan atau ketidaksukaan mereka." Dan untuk memperbaiki moral murid-muridnya Sang Bodhisatta mengulangi pantun ini :-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu pikir seorang perempuan mencintaimu?" jangan gembira.&lt;br /&gt;Kamu pikir ia tidak mencintaimu? bersabarlah pada kesedihan.&lt;br /&gt;Tidak diketahui, tak tentu bagai jalan&lt;br /&gt;Dari ikan-ikan dalam air, perempuan membuktikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[301] Seperti itu perintah Sang Bodhisatta kepada murid-muridnya, yang sejak itu tidak menaruh perhatian kepada tingkah istrinya. Dan perempuan itu, mendengar bahwa kelakukan buruknya telah didengar oleh Sang Bodhisatta, berhenti dari waktu itu seterusnya dari kenakalannya. Begitu juga istri umat biasa itu berkata pada dirinya sendiri, "Sang Buddha yang sempurna dengan sendirinya mengetahui, mereka mengatakannya pada Saya, dari pada kelakuan burukku," dan sejak itu dia tidak lagi melakukan dosa. Pelajarannya berakhir, Sang Guru mengkotbahkan kebenaran, pada penutupan di mana upasika memenangkan buah dari jalan pertama. Kemudian Sang Guru memperlihatkan hubungan dan menyatukan kelahiran dengan berkata. "Suami istri, ini adalah juga suami istri pada waktu lalu, dan Saya sendiri Guru sebagai Brahmana itu."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-4638519709825068976?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/4638519709825068976/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=4638519709825068976' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/4638519709825068976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/4638519709825068976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/04/durajana-jataka.html' title='DURAJANA JATAKA'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-2104798491574005093</id><published>2008-04-09T18:38:00.002-07:00</published><updated>2008-04-09T18:39:18.406-07:00</updated><title type='text'>ANABHIRATI JATAKA</title><content type='html'>Diterjemahkan oleh Jimmy Chandra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. 65&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANAHBHIRATI-JATAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                "Seperti jalan raya."- ... Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang upasaka lainnya lagi seperti itu sebagai yang terakhir. Orang ini ketika bertanya ia yakin pada dirinya dari kelakuan buruk istrinya, bertengkar dengannya, dan hasilanya kacau balau dan bingung hingga untuk tujuh atau delapan hari gagal dalam kehadirannya. Suatu hari ia datang ke Biara membungkuk pada yang suci dan menempati tempat duduknya. Ketika ditanyakan kenapa ia telah tidak hadir untuk tujuh atau delapan hari, ia menjawab, "tuan, istri Saya telah berkelakukan buruk, dan Saya telah menjadi sangat kesal mengenai ia, itulah Saya tidak datang." "Upasika," kata Sang Guru, "Dahulu kala yang bijaksana dan baik memberitahukan kamu jangan marah pada kenakalan yang didapat pada perempuan-perempuan, tapi untuk melindungi ketetapan hati ini, bagaimanapun juga, kamu telah melupakannya, disebabkan kelahiran kembali telah menyembunyikan itu dari kamu." Dan demikian katanya, Beliau mengatakan atas permintaan upasika itu cerita pada masa lalu ini.-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Pada suatu waktu ketika Brahmadatta sedang memerintahkan di Benares, Sang Bodhisatta adalah seorang Guru dengan reputasi yang melebar Dunia, sebagaimana kisah sebelumnya. Dan seorang muridnya, mendapatkan istrinya tidak setia, sangat sedih dengan pertemuan ini yang menyebabkan ia berdiam untuk beberapa hari, tapi suatu hari ditanya oleh gurunya apa sebabnya dari ketidak hadirannya, ia membuat suatu cerita kesalahannya yang jelas, kemudian berkata kepada gurunya, "Anakku, tdak ada milik pribadi dalam perempuan, mereka adalah umum bagi semua. [302] Dan pada saat itu orang-orang bijaksana mengetahui kelamahan mereka, tidak bergairah untuk marah menentang mereka." Dan untuk memperbaiki moral muridnya ia mengulangi pantun ini:-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti jalan-jalan raya, sungai-sungai, lapangan-lapangan, penginapan-penginapan.&lt;br /&gt;Atau kedai minuman, yang meluas seperti itu.&lt;br /&gt;Adalah keperempuanan, dan laki-laki bijaksana tidak akan tunduk&lt;br /&gt;Pada kemarahan dari kelemahan dalam sebuah perkelaminan yang begitu tersesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Seperti itulah perintah yang diberikan oleh Sang Bodhisatta kepada murid-muridnya pada saat itu, dan selanjutnya menjadi tidak acuh kepada apa yang dilakukan oleh perempuan-perempuan itu. Dan sebagaimana pada istrinya ia begitu berubah karena mendengar bahwa Guru itu mengetahui bagaimana keadaan mereka, bahwa ia telah menghentikan kenakalannya sejak saat itu. Demikian juga istri upasika itu, ketika ia mendengar bahwa Sang Guru mengetahui seperti apa ia, menghentikan kenakalannya sejak itu buah Pelajaran berachir, sang guru mengkotbahkan kebenaran, pada penutupan dimana upasika itu memenangkan buah dari jalan pertama. Dan Sang Guru memperlihatkan hubungan dan menyatukan kelahiran dengan berkata, "Suami istri ini adalah suami istri pada kehidupan masa yang lampau dan Saya Guru Brahmana itu."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-2104798491574005093?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/2104798491574005093/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=2104798491574005093' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/2104798491574005093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/2104798491574005093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/04/anabhirati-jataka.html' title='ANABHIRATI JATAKA'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-2469253465081326751</id><published>2008-04-09T18:38:00.001-07:00</published><updated>2008-04-09T18:38:27.623-07:00</updated><title type='text'>SAKETA JATAKA</title><content type='html'>Diterjemahkan oleh Jimmy Chandra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. 68&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAKETA-JATAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                "Orang yang mempercayai pikirannya."-... Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru, ketika di Anjanavana, mengenai seorang Brahmana tertentu. Tradisi mengatakan bahwa ketika yang suci dengan pengikut-pengikutnya memasuki kota Saketa, seorang Brahmana tua dari tempat itu, yang sedang berpergian keluar, menjumpai Beliau di pintu gerbang. Menjatuhkan diri pada kaki Sang Buddha, dan memeluk Beliau pada pergelangan kaki Sang Buddha, orang tua itu menangis, "Nak, apakah bukan tugas dari anak-anak untuk menghargai umur lanjut dari orang-orang tua mereka?. [309] Kenapa kamu tidak membiarkan kami melihatmu selama waktu yang panjang? Akhirnya Saya telah melihatmu, marilah, biarkan juga Ibumu melihatmu." Demikian katanya, ia membawa Sang Guru bersamanya ke rumahnya, dan di sana Sang Guru duduk di atas tempat duduk yang disediakan untuk Beliau, dengan pengikutnya-pengikutnya sekeliling Beliau. Kemudian datang istrinya Brahmana, dan ia juga menjatuhkan diri di kaki yang suci, menangis, "anak lelakiku, kemana kamu selama waktu ini? Apakah bukan tugas dari anak-anak untuk menyenangkan orang tua mereka pada usia lanjutnya?" Di sini, perempuan itu memanggil anak-anak lelaki dan anak-anak perempuannya bahwa saudaranya datang, dan membuat mereka menghormati Buddha. Dan dalam kegembiraan mereka pasangan usia lanjut itu memperlihatkan keramahan yang besar kepada tamu-tamu mereka. Setelah Beliau makan, Sang Guru menceritakan kepada orang-orang tua Sutta mengenai usia lanjut, &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7648873842606600231#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; dan, ketika Beliau telah mengakhirinya, keduanya suami dan istri memenangkan hasil dari jalan kedua. Kemudian bangkit dari tempat duduk beliau, Sang Guru pergi kembali ke Abjanavana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Berkumpul bersama di dalam Dhammasala, saudara-saudara membicarakan tentang hal ini adalah gerak hati bahwa Brahmana itu harusnya telah sangat menyadari bahwa Suddhodana adalah Ayah, dan Mahamaya Ibu dari Sang Buddha, namun tidak satupun, ia dan istrinya telah mengakui Sang Buddha sebagai anak lelaki mereka,. Dan itu dengan kerelaannya Sang Guru. Apa itu artinya semua? Mendengar pembicaraan mereka, Sang Guru berkata, "Saudara-saudara, pasangan tua itu adalah benar mengakui Saya sebagai anak lelaki mereka." Dan demikian katanya, Beliau menceritakan masa lampau ini;-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Saudara-saudara, dalam waktu lampau Brahmana ini adalah Ayah Saya dalam 500 kelahiran berturut-turut, pamanku dalam angka yang sama, dan dalam 500 lebih kakekku. Dan dalam 1500 kelahiran berturut-turut istrinya adalah masing-masing Ibuku, Bibiku, dan Nenekku. Demikian Saya membawa dalam 1500 kelahiran dengan Brahmana ini, dan dalam 1500 dengan istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Dan lagipula, setelah mengatakan 3000 kelahiran ini, Sang Guru sebagai Buddha, mengungkapkan pantun ini :-&lt;br /&gt;Orang mempunyai pikirannya, dengan siapa hatinya&lt;br /&gt;Merasa senang pada pandangan pertama, meletakkan kepercayaannya terhadap ia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                [310] Pelajarannya berakhir, Sang Guru memperlihatkan hubungan dan menyatukan kelahiran dengan berkata, "Brahmana ini dan istrinya adalah suami dan istri dalam semua keberadaan itu, dan Saya sebagai anak." (Catatan : lihat juga No.237)&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7648873842606600231#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt;       Jara-sutta dari sutta-nipata, hal.152 dari terbitan Fausboll untuk Pali Text Society.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-2469253465081326751?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/2469253465081326751/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=2469253465081326751' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/2469253465081326751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/2469253465081326751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/04/saketa-jataka.html' title='SAKETA JATAKA'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-6539164637866925868</id><published>2008-04-09T18:37:00.001-07:00</published><updated>2008-04-09T18:37:56.975-07:00</updated><title type='text'>VISAVANTA JATAKA</title><content type='html'>Diterjemahkan oleh Jimmy Chandra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. 69&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VISAVANTA-JATAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                "Menjadi malu."- ... Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika di Jetavana mengenai Sariputta, kapten dari kebenaran. Tradisi mengatakan bahwa pada hari-hari ketika Thera itu biasa memakan kue-kue, orang-orang datang ke Biara dengan sejumlah kue-kue itu untuk persaudaraan. Setelah para saudara makan sampai kenyang, masih banyak yang tersisa, dan para pemberi mengatakan, "Tuan-tuan, ambilkan beberapa juga untuk siapa yang pergi ke luar kampung." Kebetulan seorang pemuda yang menjadi kawan tinggalnya Thera itu, sedang pergi dari kampung. Untuk ia sebuah bagaian telah diambilkan, tetapi, karena ia tidak kembali, dan rasanya hari telah menjadi siang, &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7648873842606600231#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Bagian ini diberikan kepada Thera itu. Ketika bagian ini telah dimakan oleh Sang Thera, pemuda itu masuk. Sehubungan itu, Thera menjelaskan kejadian ini kepadanya, "Tuan, Saya telah memakan kue yang disediakan untukmu." "Ah!" adalah jawabannya, "Kita semua mempunyai sebuah gigi yang manis." Thera yang Agung itu banyak mendapatkan kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                "Mulai dari hari ini selanjutnya," ia berkata, "Saya ikarkan tidak akan memakan kue lagi." Dan dari hari itu selanjutnya, maka tradisi mengatakan, Thera Sariputta tidak pernah menyentuh kue lagi! Pantangan ini menjadi hal pengetahuan yang umum dalam persaudaraan, dan para saudara-saudara duduk membicarakan tentang itu di dalam Dhammasala. Berkata Sang Guru, "Apa yang kamu bicarakan, saudara-saudara, selagi kamu duduk di sini?" Ketika mereka telah menceritakan Beliau, dan Beliau berkata, "Saudara-saudara, bilamana Sariputta sekali telah memberikan apa-apa, ia tidak pernah kembali lagi untuk itu, malah walaupun kehidupannya menjadi taruhannya." Dan demikian katanya, Beliau mengatakan cerita dari masa lalu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Pada suatu waktu Brahmadatta sedang memerintah di Benares, Sang Bodhisatta dilahirkan di dalam sebuah keluarga Tabib yang ahli dalam pengobatan dari gigitan ular-ular dan ketika ia dewasa, ia berpraktek untuk kehidupannya. Sekarang itu terjadi bahwa seorang warga kota digigit oleh seekor ular, dan tanpa ayal keluarganya cepat-cepat memanggil Tabib itu. Berkata Sang Bodhisatta, "Akankah Saya menarik bisa itu dengan obat yang biasa, atau harus menangkap ular itu dan membuat ia menghisap bisanya sendiri dari luka itu?" "Harus menangkap ular itu dan membuatnya menghisap racun itu keluar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ia telah menagkap ular itu, dan menanyakan makhluk itu, katanya, "Apakah kamu menggigit orang ini?" "Ya, betul," adalah jawabannya. [311] "Kalau begitu, hisaplah racunmu sendiri keluar dari luka itu lagi." "Apa?, mengambil kembali racun yang Saya sudah sebarkan!" teriak ular itu, "Saya tidak akan melakukan, dan Saya tidak akan bersedia." Kemudian Tabib itu membuat api dengan kayu, dan berkata kepada ular itu, "Apakah kamu hisap racun itu keluar, ataukah ke dalam api kamu pergi." "Walaupun api itu yang menjadi kematianku, Saya tidak akan mengambil kembali racun yang pernah Saya sebarkan," kata ular itu, dan mengulangi pantun yang berikut ini:-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi malu pada racun yang, pernah Saya sebarkan,&lt;br /&gt;Untuk menyelamatkan hidupku, menelannya kembali!&lt;br /&gt;Lebih baik menyambut kematian dari pada hidup oleh kelemahan yang dibeli!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata-kata ini, ular itu bergerak maju ke api! Tetapi tabib itu menghalangi jalannya, dan mendorong keluar racun itu dengan mudah dan jampian-jampian, maka orang itu baik kembali. Kemudian ia membabarkan Dhamma kepada ular itu, dan membebaskannya, berkata, "Dari sekarang jangan mencelakai siapa-siapa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Sang Guru meneruskan berkata.- "Saudara-saudara, bilamana Sariputta sekali telah memberikan sesuatu, ia tidak pernah mengambil itu kembali, malah meskipun hidupya menjadi taruhan." Pelajarannya berakhir, Beliau memperlihatkan hubungan dan menyatukan kelahiran dengan berkata, "Sariputta adalah ular pada waktu itu dan Saya Tabib itu."&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7648873842606600231#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt;       Ialah tengah hari, setelah mana makanan tidak patut di makan lihat catatan, hal... ?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-6539164637866925868?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/6539164637866925868/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=6539164637866925868' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/6539164637866925868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/6539164637866925868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/04/visavanta-jataka.html' title='VISAVANTA JATAKA'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-6289623156274065339</id><published>2008-04-09T18:36:00.001-07:00</published><updated>2008-04-09T18:37:01.107-07:00</updated><title type='text'>SILAVANAGA JATAKA</title><content type='html'>Diterjemahkan oleh Jimmy Chandra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. 72&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SILAVANAGA-JATAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                "Tidak berterima kasih kekurangan lebih banyak."... Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika di hutan Bambu mengenai Devadatta. Para saudara duduk dalam Dhammasala, berkata, "Tuan-tuan, Devadatta adalah seorang yang tidak berterima kasih dan tidak mengenali kebajikan dari yang suci." Kembali ke dalam Dhammasala, Sang Guru menanyakan apa pokok pembicaraan yang mereka sedang diskusikan, dan diberi tahu. "Ini bukan yang pertama kali, saudara-saudara," kata beliau, "bahwa Devadatta telah buktikan seorang yang tidak berterima kasih, ia juga sama pada waktu yang lampau, dan ia tidak pernah mengetahui kebajikan Saya." Dan demikian katanya, atas permohonan mereka Beliau mengatakan cerita masa lalu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Pada suatu waktu ketika Brahmadatta sedang memerintah di Benares, Sang Bodhisatta dikandung oleh seekor gajah dalam pegunungan Himalaya. Ketika dilahirkan, ia berwarna putih seluruhnya, bagai sejumlah besar perak. Matanya seperti bola-bola perak, bagaikan sebuah penjelmaan dari lima kecemerlangan, &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7648873842606600231#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; mulutnya merah, seperti kain merah tua, seperti perak berbintik-bintik merah emas belalainya, dan keempat kakinya seperti dipoles dengan damar. Maka dirinya dihiasi dengan sepuluh kesempurnaan, adalah keindahan yang lengkap. Ketika ia dewasa, semua gajah-gajah di Himalaya serempak [320] mengikuti ia sebagai pemimpin mereka. Selagi ia berdiam di Himalaya dengan sebuah pengikut-pengikut dari 80.000 gajah-gajah, ia menyadari bahwa ada dosa dalam gerombolan itu. Demikian ia mengasingkan diri dari yang lain-lainnya, ia mendiami dalam hutan yang sunyi, dan kebaikan dari kehidupannya memenangkan ia nama raja Gajah yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Sekarang seorang ahli hutan datang ke Himalaya, dan melakukan perjalanannya ke dalam hutan dalam pencarian perlengkapan dari kapalnya ia tersesat dan kehilangan jalannya, ia berkelana kesana kemari merenggangkan tangannya putus asa dan menangis, dengan ketakutan dari kematian didepan matanya. Mendengar tangisan manusia, Sang Bodhisatta bergerak dengan rasa kasihan dan memutuskan untuk menolong dalam keperluan ia. Demikianlah ia menghampiri orang itu. Tetapi ketika melihat seekor gajah, ahli hutan itu berlari ketakutan. &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7648873842606600231#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; melihat ia pergi lari, Sang Bodhisatta berdiam maju lagi, dan ahli hutan itu lagi-lagi lari, berhenti sekali lagi ketika Sang Bodhisatta berhenti. Kemudian keadaan sebenarnya disadari orang itu, bahwa gajah itu berdiam ketika ia sendiri berlari, dan hanya maju ketika ia berdiam diri. Akibatnya ia menyimpulkan bahwa itu tidak bermaksud untuk melukai, tapi untuk menolong ia. Jadi ia memberanikan diri berdiri diam di tempatnya kali ini. Dan Sang Bodhisatta datang mendekat dan berkata, "Kenapa, kawan manusia, kamu menggembara berkeliling di sini dan mengeluh?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuanku," jawab ahli hutan itu, "Saya telah tersesat dan kehilangan jalan Saya, dan takut pada bahaya." Kemudian gajah membawa orang itu ke tempat kediamannya, dan di sana menghibur ia untuk beberapa-beberapa hari, menyuguhkan ia dengan berbagai-bagai buah-buahan. Kemudian berkata, "Janganlah takut kawan, Saya akan membawa kamu kembali ke tempat kediaman orang-orang." Gajah itu menundukan ahli hutan itu di atas punggungnya dan membawa ia ke tempat kediaman orang-orang tinggal. Tetapi yang tak berterima kasih berpikir pada dirinya sendiri, bahwa, bila ditanyai, ia harus bisa menjelaskan segala sesuatunya. Maka itu, selagi ia berpergian sepanjang jalan di atas punggung gajah, ia memperhatikan tanda-tanda dari pohon-pohon dan bukit-bukit. Akhirnya gajah itu membawa ia keluar dari hutan itu dan menurunkan ia di jalan yang menuju ke Benares. berkata, "Disana terletak jalananmu, kawan orang, jangan beritahu orang, bilamana kamu ditanya atau tidak, tempat dimana Saya tinggal." Dan dengan perpisahan ini, Sang Bodhisatta balik kembali ke tempat tinggalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya di Benares, orang itu datang, dalam keperluan perjalanannya melalui kota, ke Pasar tempat pekerja gading, dimana ia melihat gading-gading sedang dikerjakan menjadi bermacam-macam model dan bentuk. Dan ia bertanya pada pekerja itu [321] apakah mereka akan memberikan sesuatu untuk taring dari seekor gajah hidup.&lt;br /&gt;"Apa yang membuatnya bertanya sebuah pertanyaan seperti itu?" adalah jawabannya. "Sebuah taring gajah hidup dihargakan sejumlah besar lebih dari pada sebuah dari yang telah mati." "Oh, kalau begitu, Saya akan bawakan kamu beberapa gading gajah," berkata ia, dan ia pergi bersiap-siap ke tempat tinggal Sang Bodhisatta, dengan perlengkapan untuk perjalanan, dan dengan sebuah gergaji yang tajam. Ketika ditanya apa yang membawa ia kembali, ia merengek-rengek bahwa ia sangat menyesal dan dalam keadaan sedih dan malang bahwa ia tidak dapat menuntut sebuah penghidupan. Maka itu, ia telah datang untuk meminta sedikit taring dari gajah yang baik untuk di jual buat sebuah penghidupan!. "Tentu, Saya akan berikan kamu semua taring." berkata Bodhisatta, "Bila kamu mempunyai sebuah gergaji untuk memotongnya." "Oh, Saya membawa sebuah gergaji, tuan." "Kalau begitu gergajilah taring Saya sampai putus, dan bawa mereka bersamamu," berkata Sang Bodhisatta. Dan ia membungkukan lututunya sampai ia terletak di atas Bumi seperti seekor lembu. Kemudian ahli hutan itu menggergaji putus kedua taring utama Sang Bodhisatta! Ketika taring-taring itu lepas, Sang Bodhisatta mengambilnya dengan belalainya dan menyerahkan kepada orang itu, "Jangan berpikir, kawan orang, bahwa Saya tidak menilai atau menghargai taring-taring ini yang Saya berikan kepada kamu. Tetapi seribu kali, seratus ribu kali, lebih berharga bagiku adalah taring-taring mahatahu yang dapat memahamkan segala hal-hal. Dan dengan itu pemberianku ini kepadamu menjadikan Saya tahu segala hal." Dengan kata-kata ini, ia memberikan sepasang taring itu kepada ahli hutan itu sebagai&lt;br /&gt;harga dari tahu segala hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan orang itu mengambilnya, dan menjualnya. Dan ketika ia telah menggunakan uang itu, ia kembali kepada Sang Bodhisatta, mengatakan bahwa kedua taring hanya membawa ia cukup untuk membayar hutang-hutang lamanya, dan meminta untuk sisa dari pada gading gajah Bodhisatta. Sang Bodhisatta mengabulkan, dan memberikan sisa daripada gadingnya, setelah dipotong sebagaimana sebelumnya. Dan ahli hutan itu pergi dan menjual ini juga. kembali lagi, ia berkata, "Itu tidak berguna, tuanku, Saya bagaimana juga tidak bisa hidup maka berikan Saya tunggul dari taringmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begitu, lakukanlah," menjawab Sang Bodhisatta, dan ia berbaring di bawah seperti sebelumnya. Kemudian orang celaka yang keji, memijak ke atas belalai Sang Bodhisatta, bahwa belalai suci itu yang seperti tali perak, dan memanjat dengan susah di atas Kuil Buddha yang akan datang, yang sebagaimana puncak dari gunung kelasa, menendang pada akar-akar dari taring-taring sampai ia telah melepaskan dari dagingnya. Kemudian ia mengergaji keluar tunggulnya dan berlalu pergi. Tetapi belum cukup orang celaka itu berlalu dari pandangan Sang Bodhisatta, ketika bumi yang padat itu, tak dapat dipahamkan dan kebesarannya, [322] yang dapat menyokong berat yang maha hebat dari gunung Sineru dan puncak yang melingkarinya, dengan segala kekotoran dunia. Sekarang meletus terbelah dalam sebuah celah. Seperti layaknya tidak sanggup untuk memikul beban dari semua kejahatan-kejahatan! Dan langsung api dari neraka paling bawah membungkus si tak berterima kasih, menggulung ia seperti dalam sebuah pembungkus celaka, dan menggerek ia pergi. Dan selagi orang celaka itu ditelan ke dalam perut bumi, peri pohon yang menempati hutan itu membuat gema lingkungan dengan kata-kata ini : "Malah tidak saja pemberian dari kerajaan Seantero dunia dapat memuaskan si tak berterima kasih!" Dan dalam pantun berikut ini peri itu mengajarkan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berterima kasih kekurangan lebih banyak, lebih banyak ia dapat,&lt;br /&gt;Tidak semua dunia dapat memuaskan napsunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pelajaran seperti ini peri pohon itu membuat hutan bergema lagi. Sedangkan untuk Bodhisatta, ia hidup sampai ajalnya, akhirnya ia meninggal dunia sesuai dengan apa yang ditinggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Sang Guru, "Ini bukan pertama kali, saudara-saudara, bahwa Devadatta telah membuktikan seorang yang tak berterima kasih, ia juga sama di waktu yang lampau." Pelajarannya berakhir, Beliau menyatukan kelahiran dengan berkata, "Devadatta adalah orang yang tak berterima kasih pada waktu itu, Sariputta peri pohon, dan Saya sendiri raja gajah yang baik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Catatan: Cf.Milinda-pancho 202, 29.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7648873842606600231#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt;       Ini mengenai mata seorang Bodhisatta dalam jataka vol. III 344.9.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7648873842606600231#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt;       Seekor gajah menyendiri, atau berandalan sangat berbahaya untuk dijumpai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-6289623156274065339?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/6289623156274065339/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=6289623156274065339' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/6289623156274065339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/6289623156274065339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/04/silavanaga-jataka.html' title='SILAVANAGA JATAKA'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-1737164111809037769</id><published>2008-04-09T18:35:00.000-07:00</published><updated>2008-04-09T18:36:19.791-07:00</updated><title type='text'>SACCAMKIRA JATAKA</title><content type='html'>Diterjemahkan oleh Jimmy Chandra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No 73&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SACCAMKIRA-JATAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                "Mereka mengetahui dunia."... Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika di hutan Bambu, tentang maksud akan membunuh. Ketika, duduk di dalam Dhammasala, para bhikkhu sedang membicarakan kejahatan Devadatta, katanya, "Tuan-tuan, Devadatta tidak mengetahui kebajikannya Guru, ia sebenarnya bermaksud untuk membunuh Beliau!" Di sini Sang Guru memasuki Dhammasala dan menanyakan apa yang sedang didiskusikan mereka. [323] Setelah diberitahu, Beliau berkata," Ini bukan yang pertama kali, para bhikkhu, bahwa Devadatta akan membunuh Saya, ia melakukan hal yang sama di waktu yang lampau juga." Dan demikian katanya, Beliau mengatakan cerita masa lampau ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu waktu Raja Brahmadatta sedang memerintah di Benares. Ia mempunyai seorang anak lelaki bernama Pangeran Jahat ia galak dan kejam, seperti seekor ular, ia bicara tidak pada seorangpun tanpa kata-kata kasar dan makian. Seperti ada kerikil di matanya pangeran ini terhadap semua rakyat baik yang ada di dalam ataupun di luar istana, atau seperti seorang raksasa kelaparan, ia begitu sangat ditakuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari ia ingin bersenang-senang di sungai, ia pergi dengan sejumlah besar pengiring ke tepi air. Dan sebuah badai besar datang, dan kegelapan yang sangat terjadi. "Hai di sana!", ia berteriak kepada pembantu-pembantunya, "bawa Saya ke tengah sungai, mandikan Saya di sana, dan kemudian bawa kembali Saya lagi." Maka mereka membawanya ke dalam sungai dan di sana mengambil keputusan bersama, berkata, "Apa yang raja kerjakan kepada kita-kita? Marilah sekarang kita bunuh orang celaka yang jahat ini di sini! Begitulah kamu pergi, binatang yang merugikan!" mereka berteriak, selagi mereka melemparkannya ke dalam air. Ketika mereka melakukan perjalanan mendarat, mereka ditanyakan, dimana adanya pangeran itu, dan menjawab, "Kami tidak melihat ia, mendapatkan datang badai, ia seharusnya telah keluar dari sungai dan pulang mendahului kami."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang istana pergi ke dalam tempat raja, dan raja bertanya dimana anak-anaknya." Kami tidak tahu, tuanku," kata mereka, "Sebuah badai datang, dan kami percaya bahwa ia semestinya telah pergi disebelah depan." Segera raja membuka gerbang, pergi ke tepi sungai dan memerintahkan pencarian yang dilakukan ke atas dan ke bawah untuk mencari pangeran yang hilang. Tetapi jejaknya tidak ditemukan karena dalam kegelapan badai, ia telah disapu pergi oleh arus, dan datang menyilang sebuah batang pohon, ia telah menaiki di atasnya, dan demikian terapung di bawah aliran air, berteriak meratap dalam kesengsaraan dari ketakutannya terbenam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang di sana ada seorang saudagar kaya hidup pada waktu itu di Benares, yang telah meninggal, meniggalkan empat puluh Crores yang di kubur di tepi sungai yang sama. Oleh karena keinginannya akan kekayaan, ia dilahirkan kembali sebagai seekor ular pada tempat di bawah mana terletak harta karunnya tercinta. Dan juga pada tempat yang sama seorang yang lain telah menyembunyikan tiga puluh Crores, dan karena keinginanannya untuk kaya ia terlahir kembali sebagai seekor tikus pada tempat yang sama. Dalam arus air yang deras ke dalam tempat tinggal mereka, dan kedua makhluk itu, menyelamatakan diri dengan cara mengikuti aliran deras air itu, yang membuat jalan mereka melintangi sungai itu, ketika kesempatan mereka ke atas batang pohon dimana pangeran itu sedang berpegangan [324]. Sang ular menaiki pada satu ujungnya, dan sang tikus pada ujung yang lainnya, dan dengan demikian keduanya mendapat sebuah tempat berpijak dengan pangeran itu di atas batang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga di sana tumbuh ditepi sungai sebuah pohon kapas sutera, di dalamnya tinggal seekor burung kakatua muda, dan pohon ini telah terbongkar oleh air bahkan, jatuh ke dalam sungai itu. Hujan yang lebat memukul jatuh burung kakatua ketika ia mencoba terbang, dan burung itu hinggap waktu ia terbang jatuh di atas batang pohon yang sama. Dan demikian di sana sekarang ada empat makhluk terapung di sungai itu bersamaan di atas pohon itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Sang Bodhisatta telah dilahirkan kembali pada waktu itu sebagai seorang Brahmana dalam sebelah barat laut negeri. Meniggalkan keduniawian untuk penghidupan pertapa pada masa dewasanya, ia telah membuat sendiri sebuah pertapaan didekat sebuah belokan dari sungai itu, dan disanalah sekarang ia tinggal. Dan selagi ia jalan mondar-mandir, pada tengah malam, ia mendengar teriakan keras dari pangeran itu, dan berpikir ini dalam dirinya sendiri: "Kawan makhluk ini pasti tidak berbahaya di hadapan mata dari seorang pertapa pemurah dan berbelas kasihan seperti Saya. Saya akan menyelamatakan ia dari air, dan menyelamatkan jiwanya." kemudian ia berteriak dengan girang, "Jangan takut!" jangan takut!" dan mencebur melintasi sungai, memegang batang pohon pada ujungnya, dan dengan kekuatan sebagai seekor gajah, mendorongnya ke tepi dengan sebuah tarikan panjang, dan menyelamatkan pangeran itu dan menempatkannya dengan baik di tepian. Kemudian menyadarkan sang ular dan tikus dan burung kakatua, ia membawa mereka ke tempat pertapaannya, dan di sana ia menghidupkan api, memanaskan binatang-binatang lebih dahulu, sebagai yang lebih lemah, dan kemudian pangeran itu, setelah dilakukan, ia membawa bermacam-macam buah-buahan dan menjadikan mereka sebagai tamunya, memelihara binatang-binatang itu terlebih dahulu dan pangeran kemudian. Ini menimbulkan kemarahan pangeran muda, yang berkata dalam hatinya sendiri, "Pertapa bajingan ini tidak menaruh hormat pada kelahiran kerajaanku, tapi benar-benar memberikan binatang-binatang buas ini mendahului Saya." Dan ia mengandung kebencian terhadap Sang Bodhisatta!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, ketika keempatnya mendapatkan kembali kekuatan mereka dan air sudah surut, sang ular memohon diri kepada pertapa dengan kata-kata ini, "Bapak, telah memberikan pelajaran besar pada Saya. Saya tidaklah miskin, karena Saya mempunyai empat puluh Crores Emas yang di sembunyikan pada sebuah tempat tertentu. Bilamana Bapak menginginkan uang, semua timbunan Saya akan menjadi milikmu. Bapak hanya perlu datang ke tempat itu dan memanggil 'Ular'". Selanjutnya sang tikus memohon dirinya dengan sebuah janji yang sama kepada pertapa itu sebagaimana dengan harta karunnya, meminta pertapa datang dan memanggil "Tikus" [325] Kemudian burung kakatua mohon berpisah, berkata, "Bapak, perak dan emas Saya tidak punya tapi kalau anda menginginkan pilihan untuk beras, datanglah dimana Saya tinggal dan memanggil "Kakatua" dan Saya dengan bantuan kerabat Saya akan memberikan anda berkereta-kereta muatan dari beras." Akhirnya datanglah pangeran. Hatinya dipenuhi dengan rasa tidak berterima kasih dan dengan satu keputusan untuk meletakan orang dermawannya kepada kematian, bilamana Sang Bodhisatta akan datang mengunjungi ia. Tetapi, ia menyembunyikan keinginannya, ia berkata, "Datanglah Bapak, kepada Saya bilamana Saya sudah jadi raja, dan Saya akan anugerahi anda empat kebutuhan." Demikianlah katanya, ia melakukan perpisahan, dan tidak lama kemudian ia naik tahta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan datang pada Sang Bodhisatta untuk mencoba pernyataan-pernyataan mereka, dan pertama-tama ia pergi kepada sang ular dan berdiri didekat tempat yang dikatakannya, memanggil "Ular". Mendengar perkataan ular melintas ke muka dan dengan perilaku hormat ia berkata, "Bapak, di tempat ini ada empat puluh Crores emas. Galilah dan ambil semua!" "Baiklah," berkata Sang Bodhisatta, "Bilamana Saya memerlukannya, Saya tidak akan lupa." Kemudian mengucapkan selamat berpisah pada ular, ia meneruskan pergi ke tempat tikus tinggal, dan memanggil "Tikus". Dan sang tikus melakukan sebagaimana ular telah lakukan. Selanjutnya pergi ke tempat burung kakatua, dan memanggil "Kakatua", burung itu dengan segera terbang turun dari puncak pohon, dan dengan hormatnya menanyakan apakah itu keinginan Sang Bodhisatta, ia dengan pertolongan kerabatnya akan mengumpulkan padi untuk Sang Bodhisatta dari daerah sekitar pegunungan Himalaya. Sang Bodhisatta berpisah dengan burung kakatua, juga dengan janji bahwa, jika datang keperluan, ia tidak akan lupa tawaran sang burung. Akhirnya, ia teringat untuk pada gilirannya mengunjungi raja, Sang Bodhisatta datang ke tempat peristirahatan kerajaan, dan pada hari setelah kedatangannya melakukan perjalanan, dengan hati-hati ia berpakaian, masuk ke dalam kota dalam perjalanan kelilingnya untuk minta sedekah. Bertepatan pada waktu itu, raja yang tak berterima kasih, duduk dalam segala kebesaran raja di atas gajah kerajaan, sedang melewati dengan prosesei upacara berkeliling kota diikuti dengan pengikut yang besar. Melihat Sang Bodhisatta dari jauh, ia berpikir pada dirinya sendiri, "Inilah pertapa bajingan itu datang untuk minta tempat tinggal dan makanan kepada Saya. Saya harus mencopot kepalanya sebelum ia dapat mengungkapkannya pelayanan yang ia berikan kepada Saya." Dengan keinginan ini, ia memberi tanda pada pembantu-pembantu, dan pada pertanyaan mereka apa kesenangannya, berkata, "Saya pikir di sana ada pertapa bajingan yang ke sini untuk mengganggu Saya. Lihatlah binatang yang merugikan itu tidak datang mendekati orangku, tetapi tangkap dan ikat ia [326] Cambuk ia pada setiap sudut jalan, dan kemudian bawa ia keluar kota, pancung kepalanya pada tempat penghukuman, dan ikat badannya di atas sebuah pancang."&lt;br /&gt;Mematuhi perintah raja mereka, para pembantunya meletakan makhluk agung yang tak bersalah dalam ikatan dan mencambuk ia pada pada setiap sudut jalan dalam perjalanan ke tempat penghukuman. Tetapi semua cambukan mereka gagal untuk menggerakkan Bodhisatta atau menguncangkan ia suatu teriakan dari "Oh, Ibu dan Ayahku!". Semua yang ia perbuat adalah mengulangi pantun ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mengetahui dunia, yang membentuk perumpamaan ini betul-betul,&lt;br /&gt;"Sebuah balok membalas penyelamatan lebih baik dari pada beberapa orang"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baris-baris ini ia ulangi setiap kali ia di cambuk, sampai akhirnya yang bijaksana diantara yang hadir menanyakan si pertapa pelayanan apa yang ia telah berikan kepada raja mereka. Kemudian Bodhisatta menceritakan seluruh ceritanya, diakhiri kata-kata. "Demikianlah kejadiannya bahwa dengan menyelamatakan ia dari arus sungai yang deras Saya membawa semua sengsara ini pada diriku. Dan ketika Saya berpikir bagaimana Saya telah lalai meninggalkan kata-kata dari orang-orang tua bijaksana, Saya berteriak sebagaimana yang kamu telah dengarkan." Dipenuhi dengan rasa berang pada riwayatnya itu, orang-orang brahmana dan semua golongan dengan satu persetujuan berteriak, "Raja yang tidak berterima kasih ini tidak dapat mengenali sekalipun kebaikan dari orang baik ini yang telah menyelamatkan jiwa yang mulia, bagaimana kita dapat suatu keuntungan dari raja ini? Jatuhkan raja yang lalim!" Dan dalam kemarahan mereka menyerbu raja dari setiap sudut, dan membunuh ia di sana dan kemudian, sebagaimana ia mengendarai di atas gajahnya, dengan anak-anak panah dan lembing-lembing dan batu-batu dan pemukul-pemukul dan senjata apa saja yang dapat dipegang. Mayatnya mereka seret pada tumitnya dan melemparkannya ke dalam parit. Kemudian mereka mengangkat Bodhisatta sebagai raja dan mempersiapkan ia untuk memerintah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selagi ia sedang memerintah dalam keadilan, suatu hari [327] keinginan datang pada ia lagi untuk mencoba ular dan tikus dan burung kakak tua, dan diikuti oleh sejumlah besar pengiring, ia datang dimana sang ular berdiam. Pada panggilan "Ular", keluarlah sang ular dari lubangnya dan dengan menghormat berkata, "Di sini, tuanku, adalah harta karun anda, ambilah." Kemudian raja mengirimkan empat puluh Crores emas itu kepada pembantu-pembantunya, dan terus maju kemana sang tikus berdiam, memanggil, "Tikus". Keluarlah sang tikus dan menghormati raja, dan menyerahkan tiga puluh Croresnya. Menempatkan harta ini juga ke dalam tangan-tangan dari pembantu-pembantunya, raja terus pergi kemana sang burung kakaktua tinggal, dan memanggil, "Kakaktua". Dan dengan cara yang sama burung itu datang berlutut pada kaki raja menanyakan apakah akan mengumpulkan beras untuk tuanku. "Kami tidak akan menyusahkan kamu," berkata raja, "Sampai beras yang diperlukan. Sekarang marilah kita pergi." Maka dengan tujuh puluh Crores emas, dan dengan tikus, ular, dan begitu juga kakaktua, sang raja pergi kembali ke kota. Di sini, dalam sebuah istana yang mulia, menurut cerita, kerajaan yang ia pasang, ia menjadikan harta itu ditaruh dan dijaga, ia mempunyai sebuah tabung emas dibuat untuk tempat tinggal ular, sebuah kotak kristal untuk rumah tikus, dan sebuah sangkar emas untuk kakaktua. Setiap hari juga atas perintah raja makanan disediakan untuk ketiga makhluk dalam bejana dari emas. Jagung kering manis untuk kakaktua dan ular, dan beras wangi untuk tikus. Dan raja diliputi dalam kedermawanan dan semua pekerjaan-pekerjaan baik. Jadi dengan keserasian dan kemauan baik satu sama lain, empat kawan ini menjalin kehidupan mereka, dan ketika akhir mereka tiba, mereka meninggal sesuai dengan apa yang mereka tinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Sang Guru, "Ini bukanlah yang pertama kali, saudara-saudara, bahwa Devadatta bermaksud untuk membunuh Saya, ia melakukan hal yang sama dimasa yang lampau." Pelajarannya berakhir, Beliau memperlihatkan hubungan dan menyatukan kelahiran dengan berkata, "Devadatta adalah raja jahat pada waktu itu, Sariputta ular, Mogallana tikus, Ananda kakaktua, dan Saya sendiri raja yang adil yang memenangkan sebuah kerajaan."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-1737164111809037769?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/1737164111809037769/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=1737164111809037769' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/1737164111809037769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/1737164111809037769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/04/saccamkira-jataka.html' title='SACCAMKIRA JATAKA'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-7353490518397400639</id><published>2008-04-09T18:32:00.000-07:00</published><updated>2008-04-09T18:35:16.903-07:00</updated><title type='text'>RUKKHADHAMMA JATAKA</title><content type='html'>Diterjemahkan oleh Jimmy Chandra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. 74&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RUKKHADHAMMA-JATAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                "Bersatu, seperti hutan."... Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika di Jetavana, mengenai sebuah pertikaian karena air yang telah membawa bencana kepada kaum kerabatnya. Mengetahui ini, Beliau lewat melalui udara, duduk bersilang kaki di atas sungai rohini, dan memancarkan sinar-sinar kegelapan, yang mengejutkan kaum kerabatnya. Kemudian menurun dari tengah udara, Beliau duduk di tepi sungai dan mengatakan cerita ini yang bertalian dengan pertikaian. Hanya ringkasan diberikan disini, perincian yang detail akan berhubungan dalam kunala-jataka &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7648873842606600231#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; tetapi pada kejadian ini Sang Guru mengarahkan kaum kerabatnya, [328] berkata, “Itulah pertemuan, tuanku, bahwa kaum kerabat akan tinggal bersama dalam kerukunan dan persatuan. Karena, bila kaum kerabat bersatu, musuh-musuh tidak mendapatkan kesempatan. Tidak berbicara dari manusia, malah pohon-pohon yang kurang perasaanpun harus berdiri bersama-sama. Karena pada waktu yang lalu di pegunungan himalaya sebuah badai menghantam sebuah hutan sal, namun karena pohon-pohon, membelukar, menyemak, dan menjalarnya dari hutan itu saling menjalin satu dengan yang lainnya, badai itu tidak dapat melemparkan sebatang pohonpun tetapi lewat tanpa mencelakakan di atasnya. Tetapi sendiri di sebuah lapangan berdiri sebuah pohon yang besar, dan walaupun itu mempunyai banyak batang-batang dan cabang-cabang, namun karena itu tidak bersatu dengan pohon-pohon lain, badai mencabutnya dan merobohkannya. Karena itu, adalah pertemuan yang kamu juga harus tinggal bersama dalam kerukunan dan persatuan." Dan demikian katanya pada permintaan mereka Beliau mengatakan cerita masa lampau ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu waktu ketika Brahmadatta sedang memerintah di Benares, raja pertama Vessavana &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7648873842606600231#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; wafat, dan dan Sakka mengirimkan seorang raja baru untuk memerintah sebagai penggantinya. Setelah pergantian, raja baru Vessavana berpesan kepada semua pohon-pohon dan belukar dan semak-semak dan tanaman-tanaman, meminta pada peri-peri pohon masing-masing memilih untuk tempat tinggal yang mereka paling sukai. Pada waktu itu Sang Bodhisatta telah hidup sebagai seorang peri pohon di dalam sebuah hutan sal di pegunungan himalaya. Nasehatnya kepada kaum kerabatnya dalam memilih kependudukan mereka adalah untuk menghindari pohon yang berdiri sendiri di udara terbuka, dan untuk mengambil tempat tinggalnya semua disekitar tempat tinggal yang ia telah pilih di dalam hutan sal. Disini para peri pohon yang bijaksana, mengikuti nasehat Bodhisatta, membawa suku mereka disekitar pohon-pohonnya. Tetapi seorang yang bodoh berkata, "Kenapa kita akan bertempat tinggal di dalam hutan? Marilah kita agak mencari tempat di luar tempat tinggal orang-orang, dan mengambil tempat kita di luar kampung-kampung, kota-kota, atau di Ibu kota. Karena peri-peri yang tinggal di tempat seperti itu menerima persembahan yang kaya dan pemujaan yang terbesar." Maka mereka berpisah ke tempat tinggal dari orang-orang, dan mengambil tempat tinggal mereka dalam pohon yang besar tertentu yang tumbuh di udara terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang terjadi pada suatu hari sebuah badai yang hebat menyapu seluruh negeri. Tidak ada gunanya pohon-pohon yang menyendiri yang bertahun-tahun telah berakar dalam di tanah dan bahwa mereka adalah pohon-pohon yang tumbuh terbesar. Cabang-cabangnya, tangkai-tangkai pohon hancur, dan pohon itu sendiri terbongkar dan terlempar ke bumi oleh badai itu. Tetapi ketika badai itu memecah ke hutan sal, yang pohon-pohonnya saling terjalin, amukannya adalah sia-sia, karena, itu boleh diserang, tidak sebuah pohonpun dapat dilemparkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peri-peri yang putus asa yang tempat tinggalnya dihancurkan, membawa anak-anak mereka di tangannya dan melakukan perjalanan ke himalaya. Disana mereka mengatakan kesedihan mereka kepada peri-peri dari hutan sal, [329] yang berikutnya mengatakan kepada Sang Bodhisatta dari kembalian mereka yang sedih. "Itu disebabkan karena mereka tidak mendengar kepada kata-kata yang bijaksana, yang telah membawa mereka kepada kejadian ini," berkata ia, dan ia membabarkan kebenaran dalam pantun ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersatu, bagai hutan, akan menegakkan kaum kerabat,&lt;br /&gt;Badai melemparkan pohon yang menyendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah Sang Bodhisatta berkata, dan ketika kehidupan telah dilalui, ia meninggal dunia sesuai dengan apa yang ditinggalkannya. Dan Sang Guru terus berkata, "Itulah, tuanku, menggambarkan bagaimana itu bertemu bahwa kaum kerabat pada setiap golongan harus bersatu, dan tinggal saling mengasihi bersama dalam keselarasan dan persatuan." Pelajarannya berakhir, Sang Guru menyatukan kelahiran dengan berkata, "Pengikut-pengikut Buddha adalah peri-peri pada waktu itu, dan saya sendiri peri yang bijaksana."&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7648873842606600231#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt;       No.536.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7648873842606600231#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt;       Sebuah nama dari Kuvera.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-7353490518397400639?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/7353490518397400639/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=7353490518397400639' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/7353490518397400639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/7353490518397400639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/04/rukkhadhamma-jataka.html' title='RUKKHADHAMMA JATAKA'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-1337553838938707555</id><published>2008-03-19T00:05:00.000-07:00</published><updated>2008-03-19T00:10:54.439-07:00</updated><title type='text'>SAUNG PARAMITA CIAPUS BOGOR</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_BkYcw9ULlko/R-C7vQbUw7I/AAAAAAAAAAk/Z5Rnle1y97E/s1600-h/DSC03328.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5179345992013890482" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_BkYcw9ULlko/R-C7vQbUw7I/AAAAAAAAAAk/Z5Rnle1y97E/s320/DSC03328.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-1337553838938707555?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/1337553838938707555/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=1337553838938707555' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/1337553838938707555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/1337553838938707555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/03/saung-paramita-ciapus-bogor.html' title='SAUNG PARAMITA CIAPUS BOGOR'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_BkYcw9ULlko/R-C7vQbUw7I/AAAAAAAAAAk/Z5Rnle1y97E/s72-c/DSC03328.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-7706871381301083975</id><published>2008-03-18T23:52:00.001-07:00</published><updated>2008-03-18T23:52:53.248-07:00</updated><title type='text'>PENCURI PENCURI YANG TERHORMAT</title><content type='html'>Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;            ADHURAYAM  NIYUBJATI.&lt;br /&gt;            Orang jahat selalu melakukan apa yang seharusnya tidak dilakukan.&lt;br /&gt;                                                           Khuddakanikaya Jataka Terasanipata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian yang berbahagia, marilah sekarang kita bersama-sama mengarah-kan perhatian dan konsentrasi kita untuk mengisi kebaktian di pagi hari ini dengan pembahasan dan perenungan Dhamma yang berjudul ‘Pencuri-pencuri yang Terhormat’. Sekali lagi, judul pembahas-an dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Pencuri-pencuri yang Terhormat’.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, belum lama ini, di suatu majalah psikologi, diberitakan tentang beberapa ka-sus pencurian; dan rupanya kasus pencurian ini bukanlah seperti pada kasus-kasus pencurian biasa lainnya seperti yang biasa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, yang dilakukan oleh orang-orang yang mungkin saja sedang kepepet atau tidak punya pekerjaan; tetapi, kasus ini justru dilaku-kan oleh orang-orang tertentu yang mempunyai kedudukan tinggi atau sebagai orang yang terhor-mat. Juga beberapa tahun yang lalu, sebuah kasus pencurian pernah terjadi di toko serba ada ‘Mata-hari’, Bandung. Pelakunya empat orang wanita cantik dari kalangan berpunya, yang datang ke toko itu bermobil mewah. Mereka tertangkap basah, yaitu mengambil 61 potong pakaian seharga lebih dari Rp. 1 Juta. Namun, dalam proses pengadilan yang banyak dihadiri karyawan ‘Matahari’ itu, dua tertuduh, yaitu Ny. L (41) dan Ny. F (31), oleh Hakim Pengadilan Negeri Bandung, dinyatakan tidak bersalah. Sementara itu dua wanita lainnya, yaitu Nn. P (18) dan Ny. Li (30) malah tidak mengalami proses peradilan. Tentu saja keputusan ini menimbulkan protes para karyawan ‘Matahari’ yang ha-rus menanggung kerugian perusahaan itu. Nah, Sdr/i sekalian, mengapa bisa terjadi demikian? Me-ngapa mereka bisa dinyatakan tidak bersalah? Sdr/i seDhamma, nanti dapat kita ikuti pemecahan masalahnya mengapa hal tersebut bisa terjadi demikian.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, kasus lainnya, seperti yang terjadi pada tahun 1979, ada seorang manajer pe-rusahaan penerbangan Perancis di Jakarta, yang bernama Mr. Mech, terbongkar terlibat dalam kasus pencurian alat-alat rumah tangga. Manajer ini menyewa sebuah rumah, namun ternyata ia ingkar janji. Rumah yang disewanya itu dikatakan kemasukan pencuri. Barang-barang yang mahal berupa meja, kursi, lemari antik, hilang dari tempatnya. Padahal Sdr/i, menurut penyelidikan, kerusakan yang terjadi di rumah itu dilakukan dengan sengaja. Setelah diusut, ternyata memang benar bahwa barang-barang antik itu ada di rumah lain  yang ternyata disewa oleh sang manajer Perancis itu.  &lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian, kasus berikut yang tidak kalah serunya, dan juga menghiasi media massa, adalah yang juga terjadi pada tahun 1979, yaitu melibatkan empat warga negara Indonesia di Tokyo. Kali ini mereka dituduh melakukan pencopetan. Berikutnya lagi, sebuah kasus yang melibat-kan anggota DPR kita pada tahun 1980. SS, demikian nama pelaku tersebut, tertangkap basah se-dang mengambil barang  (shop lifting) di toko serba ada Peter Robinson, di London. SS, harus mem-bayar denda sebesar 340 pound. Tapi, berhubung dalam interogasi SS mengaku tidak bermaksud mengambil barang itu, ia lalu dibebaskan dari tuduhan. Kemudian, masih di sekitar tahun-tahun itu juga, media massa memberitakan ada seorang artis Indonesai yang juga melakukan pencurian di se-buah toko di Singapore. Tapi, artis itu membantah dengan keras. Kesudahannya, pihak toko itu yang kemudian malah meminta maaf. Apa arti semua ini?&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, kasus-kasus seperti yang telah diceritakan tadi, menunjukkan bahwa tu-duhan pencurian ternyata memang tidak selalu terjadi pada orang-orang dengan kemampuan ekono-mi rendah. Orang-orang dengan kemampuan ekonomi baik pun seringkali mendapat tuduhan mela-kukan pencurian. Masalahnya, kenapa mereka sampai mencuri? Kenapa orang-orang terhormat sam-pai mencuri? Benarkah mereka sekedar mencari perhatian orang? Sdr/i sekalian, inilah sebuah kenya taan baru, seiring dengan mewabahnya supermarket dan department store.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, menurut pandangan umum, tindakan pencurian seperti pada kasus-kasus yang baru saja kita dengar tadi itu, disebut dengan istilah ‘kleptomania’. Dan, gambaran umum tentang kleptomania itu, menurut beberapa psikolog, adalah merupakan penyimpangan tingkah laku. Pende-ritanya secara umum mengalami gangguan pada sistem syarafnya. Jika ada gangguan pada sistem syaraf ini, maka kontrol penderita terhadap perilakunya juga menjadi melemah. Atau dengan kata lain, antara pikiran dan perbuatan menjadi tidak kompak lagi. Ketidakkompakan tindakan dan pikir-an inilah yang menimpa para penderita kleptomania. Pikiran mereka mengatakan tindakan pencurian itu jelek, tapi tubuh tidak bisa menahan diri untuk tidak melakukannya. Dengan kata lain, para klep-toman ini memang sudah tidak bisa mengendalikan emosi. Bahkan, dalam kasus-kasus tertentu, me-reka sesungguhnya tidak membutuhkan barang-barang yang mereka curi itu. Mereka melakukannya demi suatu kepuasan batin, kepuasan yang tidak bisa dikontrol oleh kesadaran. Para pelaku sendiri tidak sadar kenapa mereka melakukan tindakan seperti itu. Dan, mereka kadang-kadang juga tidak tahu sebenarnya barang-barang yang telah mereka curi itu akan diapakan. Sebagai contoh, pada pen-derita yang hanya mengambil barang-barang tertentu, korek api misalnya. Kalau melihat korek api, penderita kleptomania jenis ini rasanya langsung ingin sekali mengambilnya, namun sesudah itu, ka-dang-kadang dia tidak tahu lagi barang itu mau diapakan.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian, menurut pandangan psikolog, penyebab tidak kompaknya tindak-an dan pikiran itu bisa berupa gangguan pisik, misalnya karena benturan keras yang pernah dialami penderita; tapi bisa juga penyebabnya menyangkut psikis, misalnya stress berat. Dan menurut ketua LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Jakarta, Nursyahbani Katjasungkana,S.H. jika pelaku pencurian adalah penderita kelainan jiwa seperti kleptomania, maka ia tidak dapat dihukum. Kepadanya tidak bisa diberlakukan hukum-hukum tentang pencurian. Dan, itu tidak hanya berlaku di Indonesia. Hu-kum di negara mana pun akan memberikan perlakuan hukum istimewa terhadap orang yang mende-rita kelainan jiwa .&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, sekarang bagaimanakah pandangan kita sebagai umat Buddha dalam menanggapi kasus-kasus pencurian seperti itu? Benarkah kita setuju bahwa penderita kleptomania itu tidak bersalah karena mereka melakukannya tanpa didasari dengan kesadaran? Be-narkah demikian? Yaitu tanpa didasari dengan kesadaran? Sdr/i, untuk itu sekarang marilah kita tin-jau bersama-sama tentang beberapa ajaran dalam Buddha Dhamma yang nantinya dapat dihubung-kan untuk memecahkan masalah tentang kleptomania tersebut.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, menurut ajaran Buddha Dhamma, disebutkan bahwa kesadaran adalah keada-an mengetahui sesuatu. Sekali lagi, kesadaran adalah keadaan mengetahui sesuatu. Jadi, bila kita bi-sa tahu sesuatu, maka berarti kita sadar. Bila kita bisa tahu bahwa di sana ada barang yang indah, maka berarti kita sadar. Jika kita bisa tahu bahwa ada suara yang merdu atau ada bau-bauan yang enak, maka berarti kita sadar. Jadi, kesadaran itu adalah keadaan mengetahui sesuatu yaitu melalui pintu-pintu indera-indera kita. Dan Sdr/i sekalian, satu hal yang harus kita ketahui lagi yaitu, bila di sana ada kesadaran sedang berlangsung, atau di sana sedang timbul kesadaran, maka di sana pula pasti timbul bentuk-bentuk pikiran yang di antaranya yaitu: kehendak, perasaan, kesan atau ingatan, dan sebagainya. Jadi, jika ada kesadaran, misalnya kita melihat benda, maka pada saat tersebut pasti juga muncul perasaan, misalnya senang karena benda itu indah, muncul pula kesan-kesan yang baik, kemudian muncul pula kehendak. Dan Sdr/i sekalian, hal tersebut tentunya dapat kita rasakan sendi-ri kebenarannya. Cobalah untuk merenungkannya, betul atau tidak hal tersebut? Oleh sebab itu, me-nurut pandangan agama Buddha, khususnya pandangan kita sebagai umat Buddha, pencurian yang dilakukan oleh penderita kleptomania tadi, adalah jelas sekali dilakukan dengan kesadaran yang penuh. Sebab, dia jelas-jelas tahu ada barang yang menurutnya bagus atau indah, dan jelas-jelas pula bahwa dia lalu ingin mengambil sehingga akhirnya barang itu terambil.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, lalu apakah sebabnya sampai ada orang yang bisa menderita kleptomania? Sampai katanya kalau dia mengambil barang rasanya sudah tidak berasa mengambil? Sdr/i sekalian, dalam ajaran agama Buddha dikatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi, pasti ada sebab-sebab  yang mendahuluinya. Tidak mungkin sesuatu itu ada dengan sendirinya atau tahu-tahu memang su-dah begitu. Itu tidak mungkin. Menurut ajaran Hukum Kamma yang ditinjau berdasarkan sifat hasil-nya, di sana disebutkan tentang Acinna Kamma atau Bahula Kamma, yaitu kamma kebiasaan. Arti-nya, perbuatan itu sudah merupakan kebiasaan bagi seseorang. Dan, karena seringnya dilakukan, maka seolah-olah sudah merupakan watak baru. Sebagai contoh misalnya, ada orang yang kalau me-minjam barang milik temannya, ia segan atau malas mengembalikan. Pada mulanya, memang dia hanya sekedar malas mengembalikan saja, tetapi lama kelamaan, hal tersebut menjadi kebiasaan se-hingga terbentuklah suatu watak baru yaitu kalau pinjam barang maunya selalu tidak mengembali-kan. Jadi di sini sudah jelas, bahwa suatu watak itu bisa terbentuk akibat dari adanya perbuatan yang sering sekali kita lakukan atau kita pupuk sehingga menjadi suatu kebiasaan atau watak baru.&lt;br /&gt;            Nah, Sdr/i seDhamma, demikian pula dengan watak yang maunya selalu saja mencuri. Hal ini tentu tidak tiba-tiba menjadi berwatak demikian. Hal ini tentu diakibatkan dari adanya suatu per-buatan yang sering dia lakukan  sehingga akhirnya menjadi wataknya yang baru; yaitu kalau tidak melakukan, rasanya tidak enak atau rasanya belum puas. Jadi, dia lebih baik melakukan pencurian itu walaupun sekedar untuk memenuhi hasrat keinginannya yang sudah tidak terbendung tadi. Dan hal ini, bila kita tinjau dari kadar kemelekatan kekotoran batinnya, maka jelas sekali bahwa penderi-ta kleptomania yang demikian itu kadar kemelekatannya terhadap perbuatan mencuri justru lebih be-sar jika dibandingkan dengan kadar kemelekatan orang yang mencuri karena ia sedang terpaksa me-lakukannya. Jadi Sdr/i seDhamma sekalian, sekarang sudah jelas bagi kita semua, bahwa suatu wa-tak yang maunya selalu mencuri itu, ternyata tidak timbul begitu saja dengan sendirinya, tetapi hal tersebut terjadi karena adanya pemupukan perbuatan yang terus menerus dilakukan sehingga akhir-nya dapat menimbulkan suatu watak baru. Dan ini, kadar kemelekatannya lebih berat jika dibanding kan dengan mereka yang mencuri karena terpaksa. Oleh sebab itu Sdr/i sekalian, kleptomania yang secara umum bisa dianggap lumrah atau bisa dimaklumi, bahkan secara hukum negara juga tidak bi-sa disalahkan, namun kalau ditinjau secara Buddha Dhamma, ternyata bobot kemelekatan kekotoran batinnya justru lebih berat jika dibandingkan dengan pencurian biasa. Memang, sebagai umat Bud-dha, kita harus kritis dalam menanggapi setiap kejadian.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian yang berbahagia, setelah kita mengetahui hal-hal yang menjadikan ada seorang bisa mempunyai watak selalu ingin mencuri atau dengan kata lain kleptomania, lalu apakah ada obat nya? Sdr/i seDhamma yang berbahagia, berhubung pembahasan Dhamma ini sudah terlalu panjang, maka marilah kita diskusikan saja masalah pengobatan kleptomania tersebut di dalam diskusi Dham ma setelah selesainya kebaktian ini. Semoga dengan bertambahnya pengertian kita terhadap Dham-ma, akan dapat membahagiakan diri sendiri dan semua makhluk.&lt;br /&gt;Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia!&lt;br /&gt;Sadhu! Sadhu! Sadhu!&lt;br /&gt;_________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Acuan:&lt;br /&gt;1. Majalah TIARA, No. 02 Tahun I, hal. 63 – 66.&lt;br /&gt;2. Abhidhammatthasavgaha II, hal. 39 – 40.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibacakan pada tanggal:&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-7706871381301083975?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/7706871381301083975/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=7706871381301083975' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/7706871381301083975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/7706871381301083975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/03/pencuri-pencuri-yang-terhormat.html' title='PENCURI PENCURI YANG TERHORMAT'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-4827677377621281914</id><published>2008-03-10T18:56:00.002-07:00</published><updated>2008-03-10T18:57:09.837-07:00</updated><title type='text'>KEMAMPUAN GAIB</title><content type='html'>KEMAMPUAN  GAIB  DITINJAU  DARI  BUDDHA  DHAMMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;            TATHATTANAM  NIVESEYYA  YATHA  BHURI  PAVADDHATI.&lt;br /&gt;Setelah mengetahui jalan bagi perkembangan batin, seyogyanya orang melatih diri,  sehingga kebijaksanaannya dapat berkembang.&lt;br /&gt;Khuddakanikaya Dhammapadagatha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah membaca Paritta dan bermeditasi, mari-lah sekarang kita mengadakan pembahasan dan perenungan Dhamma, yang pada hari ini berjudul “Kemampuan Gaib Ditinjau dari Buddha Dhamma”.  Sekali lagi, tema atau judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu “Kemampuan Gaib Ditinjau dari Buddha Dhamma”.&lt;br /&gt;            Sdr/i yang berbahagia, sering kita mendengar suatu istilah yaitu ‘tenaga dalam’, te-naga gaib, atau kekuatan batin, dan sebagainya. Nah, apakah itu, Sdr/i? Serta, untuk apa-kah tenaga tersebut? Kemudian, bagaimanakah tenaga tersebut dapat terjadi? Sdr/i seka-lian, kita memang banyak yang tidak mengetahui bagaimana tenaga dalam atau tenaga gaib ini dapat terjadi atau timbul. Pertanyaan tersebut sama seperti halnya orang yang me-nanyakan bagaimana dapat terjadinya ‘tenaga listrik’ itu. Dalam hal ini, kita hanya bisa menjawab karena adanya sifat-sifat dari pelistrikan itu sendiri. Demikian juga halnya de-ngan kemampuan batin atau tenaga batin tadi.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, sebenarnya, kemampuan batin ini ada pada setiap orang. Jadi sekali lagi, kemampuan batin ini ada pada setiap orang. Hanya masalahnya yaitu, dikembangkan atau tidak. Hal ini erat hubungannya dengan ajaran Sang Buddha yang telah menunjukkan kepada kita semua umat Buddha, yaitu tentang bagaimana mengurangi atau mengikis deri ta. Di dalam kitab Majjhimanikaya 22 dikatakan bahwa hanya dengan Jalan Mulia Beruas Delapan-lah maka semua derita dapat diatasi. Jalan Mulia Beruas Delapan ini mencakup tiga tahap, yaitu Sila (kemoralan/etika moral), kemudian Samadhi (pemusatan pikiran), dan Pabba (kebijaksanaan). Kita akan dapat mencapai kebijaksanaan apabila didukung oleh dua tahap lainnya yaitu etika moral dan pemusatan pikiran. Demikian pula sebaliknya kare-na ketiganya merupakan kesatuan yang saling mendukung. Nah, dalam berlatih Samadhi atau pemusatan pikiran inilah, bila kita sudah mempunyai pemahaman yang baik, maka tanpa dikehendakipun dapat timbul kekuatan batin tersebut. Namun, mengenai Samadhi ini, terpaksa akan kita bahas tersendiri pada lain kesempatan.&lt;br /&gt;            Sdr/i yang berbahagia, dikatakan ‘tenaga dalam’ karena tenaga ini berasal dari da-lam badan sendiri. Orang Inggeris menyebutnya ‘The Inner Power’, dan dalam ilmu persi-latan disebut ‘Loikang’. Lalu, untuk apakah tenaga ini sebenarnya? Apakah benar bahwa tujuan berlatih Samadhi itu hanya sekedar untuk membangkitkan tenaga dalam ini? Tentu saja tidak! Karena Sang Buddha sendiri tidak mengajarkan hal tersebut. Tenaga dalam, yang merupakan salah satu bagian dari kekuatan tenaga batin (Abhibba) hanyalah seren-tetan proses yang akan dialami oleh para siswa dalam usaha mereka untuk mencapai pe-nguasaan diri menuju kebersihan batin.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, dalam menilai bobot kemajuan berlatih Samadhi atau meditasi ini, kita mengenal adanya isitilah ‘Jhana-Jhana’, yaitu kemampuan pikiran yang melekat kuat atau mencerap pada obyek meditasi. Dalam pelajaran Samadhi terdapat delapan macam Jhana yang masing-masing mempunyai ciri-ciri kemajuannya sendiri. Bilamana seseorang telah berhasil mencapai Jhana ke IV, maka ia dapat memiliki kemampuan batin atau Abhi-bba yaitu seperti berikut ini:&lt;br /&gt;1.  Kemampuan bisa menghilang, bisa berjalan di atas permukaan air, menembus dinding, terbang di angkasa, dan sebagainya. Kemampuan ini disebut Iddhividhabana.&lt;br /&gt;2.  Kemampuan bisa mendengarkan suara dari jarak jauh atau dari alam-alam lain. Kemam puan ini disebut Dibbasotabana.&lt;br /&gt;3.  Kemampuan untuk membaca pikiran makhluk-makhluk lain atau Cetopariyabana.&lt;br /&gt;4.  Kemampuan untuk melihat alam-alam halus dan kesanggupan melihat timbul-padam atau lahir-matinya makhluk-makhluk yang tumimbal-lahir sesuai dengan karma mereka masing-masing.&lt;br /&gt;5.  Kemampuan untuk mengingat masa-masa kehidupannya yang lampau. Hal ini disebut Pubbenivasanussatibana.&lt;br /&gt;6.  Kemampuan untuk memusnahkan atau menghancurkan kekotoran batin. Hal ini disebut Asavakkhayabana.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, kecuali yang disebutkan terakhir tadi, yaitu Asavakkhayabana, ke-mampuan-kemampuan batin tersebut dapat dicapai oleh orang awam biasa (Putujana), ti-dak harus oleh seorang bhikkhu ataupun orang yang mengkhususkan diri dalam hidup me-nyendiri (celibat). Orang dengan kemampuan Iddhi tadi bukan berarti ia telah menjadi suci. Tenaga atau kemampuan batin bukanlah ukuran kesucian seseorang. Sekali lagi Sdr/i, te-naga atau kemampuan batin bukanlah ukuran kesucian seseorang. Mengapa demikian? Karena dengan memiliki kemampuan batin ini, bisa saja seseorang malahan menjadi kotor atau mundur batinnya. Oleh karena itu, Sang Buddha tidak memperkenankan para bhikkhu yang telah memiliki tenaga batin seperti ini untuk dipamerkan. Di jaman Sang Buddha, YA. Moggallana adalah siswa utama Sang Buddha yang memiliki tenaga batin luar biasa, tetapi Sang Buddha tetap melarangnya ketika ia akan menggunakan kemampuan batinnya ini un tuk sesuatu yang masih bisa diatasi dengan cara biasa.&lt;br /&gt;            Jadi Sdr/i sekalian, di dalam Buddha Dhamma, pemilikan tenaga dalam atau tenaga batin ini bukanlah merupakan tujuan akhir. Itu hanya merupakan hasil sampingan. Karena itu orang jangan sampai terpukau oleh berbagai kemampuan tersebut sehingga lupa pada tujuan utamanya yaitu merealisasi Nibbana. Apalagi kalau tenga batin ini dikomersilkan, tentu ini adalah suatu tindakan yang tidak pada tempatnya. Memang Sdr/i, banyak orang yang mengembangkan tenaga batin atau tenaga dalam ini untuk tujuan komersil. Hal ini su dah tidak aneh. Tentu, banyak sekali jalan atau cara untuk mencari nafkah, tetapi menga-pa ada juga yang mencari nafkah melalui jalur kemampuan batin ini? Jawabannya tentu Sdr/i sudah dapat menduga sendiri.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, seseorang yang dapat mencapai tingkat mendi-tasi hingga memiliki Jhana-Jhana berarti mendapat suatu hasil dari perbuatan baik yang bobotnya tinggi atau Kusala Garuka Kamma. Jadi, bisa memiliki tenaga batin juga bukan berarti sesuatu yang berkonotasi negatif. Di dalam Dhammapada diceritakan bahwa YA. Moggallana yang memiliki kekuatan batin berhasil mempengaruhi orang kaya raya yang sa ngat kikir untuk menghadap Sang Buddha mendengarkan wejangan Dhamma hingga orang tersebut menjadi sadar dan menjadi seorang dermawan yang hidupnya bahagia. Se-lain itu juga diceritakan bahwa ketika Sang Buddha baru saja merealisasi Nibbana, dengan kemampuan batinNya Beliau mengunjungi ibuNya di alam surga Tusita guna mengajarkan Dhamma. Demikian pula YA. Moggallana yang dengan kemampuan batinnya mengunjungi ibunya yang terlahir di alam neraka Avici dan berusaha memberikan pengertian kepada ibunya agar berkurang penderitaannya.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, orang yang banyak inngin tahu dengan dunia te-naga dalam ini, hendaknya agar berhati-hati apabila terjun ke bidang ini. Sebab, banyak hal-hal yang masih gelap untuk diungkapkan yang kita sendiri masih tidak tahu sehingga dapat menjerumuskan kita ke dalam penderitaan. Kita tentu telah mengenal sejarah men-jelang kejatuhan kerajaan Singasari di Jawa Timur pada abad ke XII Masehi. Karena kesa-lahan Raja Kertanegara dalam melakukan tindakan ritual mistik yang menjurus pada tena-ga dalam, yang tidak lagi membahas ajaran agama yang sebenarnya, akhirnya kerajaan runtuh dan hancur. Jadi sekali lagi kita renungkan bersama-sama bahwa Buddha Dhamma tidak mengajarkan hal-hal tentang tenaga dalam, biarpun tenaga itu akan muncul sebagai hasil samping dari suatu kemajuan latihan konsentrasi atau Samadhi.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, demikianlah pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yang berjudul ‘Kemampuan Gaib Ditinjau dari Buddha Dhamma’. Semoga kita se-mua, terutama kaum muda yang berminat menekuni bidang ini, hendaknya merenungkan kembali manfaatnya sebelum terjadi salah pandangan sehingga menjerumuskan diri sen-diri. Terimakasih.&lt;br /&gt;Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia.&lt;br /&gt;Sadhu! Sadhu! Sadhu!&lt;br /&gt;____________________&lt;br /&gt;Dibacakan pada tanggal:&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-4827677377621281914?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/4827677377621281914/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=4827677377621281914' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/4827677377621281914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/4827677377621281914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/03/kemampuan-gaib.html' title='KEMAMPUAN GAIB'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-8854230088531171688</id><published>2008-03-10T18:56:00.001-07:00</published><updated>2008-03-10T18:56:31.560-07:00</updated><title type='text'>KEKUATAN DHAMMA</title><content type='html'>KEKUATAN  DHAMMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammä Sambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;ATTÄ  HI  ATTANO  NÄTHO.&lt;br /&gt;Diri sendiri merupakan pelindung bagi diri sendiri.&lt;br /&gt;                    Khuddakanikäya Dhammapadagäthä.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah kita bersama-sama membaca Paritta dan juga bermeditasi sejenak, maka marilah sekarang kita arahkan perhatian kita guna mengadakan pembahasan dan perenungan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Kekuatan Dhamma’.&lt;br /&gt;Jadi, sekali lagi, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Kekuatan Dhamma’.&lt;br /&gt;            Sdr/i yang berbahagia, sekarang kita telah memasuki tahun 2000 atau yang sering disebut-sebut sebagai abad millennium yang ketiga. Padahal, sesungguhnya millennium yang ketiga baru akan dimulai pada tanggal 1 Januari tahun 2001. Tetapi, kapanpun millennium itu disepakati untuk dimulai, sesungguhnya, yang namanya perubahan-perubahan terus saja terjadi dan mengalir sejak saat  ini, bahkan setiap saat.&lt;br /&gt;            Menurut Dhamma, kesunyataan atau kebenaran, sifat dari kehidupan bahkan sifat dari segala sesuatu adalah perubahan dan perubahan. Adalah sangat salah, jika kita berpikir bahwa perubahan itu baru akan mendadak terjadi setelah kita memasuki tahun 2000 atau bahkan pada tahun 2001. Perubahan tidak pernah berhenti, melainkan terus terjadi. Itulah sifat kehidupan kita.&lt;br /&gt;            Abad ini, yang ditandai dengan berbagai penemuan, penggunaan teknologi, juga perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat, sangat sering pertanda ini digunakan untuk menandai kemajuan. Berkembangnya iptek secara luas, banyak dirasakan orang dengan ungkapan kemajuan, kemudahan, kenyamanan, bahkan keberhasilan.&lt;br /&gt;            Meskipun demikian, marilah kita merenung dengan pikiran yang jernih dan bersama-sama bertanya kepada diri kita, kemudian menjawab dengan jujur, apakah kemajuan, kemudahan, bahkan keberhasilan yang kita lihat sekarang di seantero pelosok dunia membuat kehidupan ini benar-benar lebih bahagia, kesulitan-kesulitan berkurang, penderitaan menjadi lebih sedikit, ketegangan, persoalan-persoalan kehidupan menjadi semakin ringan? Jawabnya hampir semua orang mengatakan “TIDAK”.&lt;br /&gt;            Hal itu memang tidak mengherankan, karena iptek, meskipun amat membantu, tetapi harus diingat, iptek dan peralatan yang dihasilkan dan kemudahan-kemudahan yang diberikan kepada kita semata-mata hanya berhubungan dengan materi. Dalam kehidupan ini, Dhamma mengingatkan kita, bahwa kita memang membutuhkan materi untuk kelangsungan hidup kita, untuk keluarga kita, demikian juga untuk masyarakat, untuk bangsa dan negara ini. Tetapi, yang harus diingat adalah materi bukanlah segala-galanya. Pada saat-saat tertentu kita akan merasakan atau bahkan melihat materi tidak bisa berbuat banyak.&lt;br /&gt;            Dalam suasana yang sedemikian kempleks, persaingan yang demikian keras dan terbuka, persoalan-persoalan juga bergolak dengan lebih pelik. Menghadapi hal-hal dan persoalan yang mungkin muncul dengan seribu satu macam warna di masyarakat maupun di ke-luarga kita masing-masing, manusia acapkali merasa lelah, seolah-olah sudah tidak mampu lagi menghadapi, sudah kehabisan jalan, kehabisan semangat untuk bertahan karena persoalan-persoalan itu akan sangat membebani kita.&lt;br /&gt;            Hal tersebut tidak mengherankan, bisa kita maklumi bersama, karena semangat kita pada suatu saat akan sangat kuat dan di saat lain akan sangat lemah. Pada saat kita lemah kita memerlukan kekuatan, manusia memerlukan perlindungan untuk menghadapi persoalan-persoalan yang datang silih berganti. Dalam keadaan yang seperti itu, manusia mencari pertolongan, perlindungan, kekuatan, dan terus mencari di mana pun juga untuk bisa segera terlepas dari beban yang terasa menghimpit. Mereka mungkin pergi ke tempat-tempat keramat, ke tempat pemujaan yang dianggap ampuh, ke gunung-gunung yang besar, menuju kekuatan-kekuatan alam yang dianggap mampu memberikan kekuatan kepada dirinya untuk mengatasi dan menghadapi persoalan kehidupan yang berat itu.&lt;br /&gt;            Berkenaan dengan hal tersebut, umat Buddha sebenarnya sudah dibekali dengan per-lindungan, yaitu sejak awal seseorang mengenal ajaran agama Buddha dan kemudian menerimanya dengan kesadaran dan pengertian, maka sejak awal orang ini kemudian menyebut, menyatakan  dengan kesungguhan, “Aku berlindung kepada Buddha, aku berlindung kepada Dhamma, aku berlindung kepada Sangha”.&lt;br /&gt;            Saat pertama kali seseorang mengucapkan aku berlindung kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha dengan sadar dan mengerti apa yang diucapkan, pada saat itulah ia sebagai seorang umat Buddha, ia sudah menjadi umat Buddha, sekalipun tanpa upacara yang resmi, tanpa penahbisan, pemercikan air, dan sebagainya. Perlindungan kepada Tiratana yang di-ucapkan dengan sadar dan mengerti artinya, membuatnya menjadi seorang umat Buddha.&lt;br /&gt;            Tetapi, benarkah kita sudah dilindungi atau bagaimanakah kita berlindung, dengan mengucapkan aku berlindung kepada Tiratana: Buddha, Dhamma, dan Sangha? Apakah su-dah benar aku dilindungi dari segala macam kesulitan, kesusahan, penderitaan, dan segala macamnya?&lt;br /&gt;            Jawabnya adalah “YA, untuk sementara”. Seseorang yang telah menyatakan berlin-dung kepada Tiratana secara kejiwaan (psikologis), berarti dia telah mempunyai perlindungan, yaitu perasaannya menjadi puas. Perlindungan seperti itulah yang mungkin boleh diistilahkan sebagai perlindungan emosional. Emosi yang mendapat perlindungan. Timbullah rasa mantap dan aman. Aman secara psikologis. Inilah yang disebutkan sebagai “YA” orang yang menyatakan berlindung kepada Tiratana, dia merasa mempunyai perlindungan sementara.&lt;br /&gt;            Tetapi, menyatakan berlindung kepada Tiratana saja, kemudian seseorang merasa mendapat perlindungan, bukanlah cara berlindung yang sesungguhnya dan bukan cara yang benar. Berlindung dengan cara seperti itu, hanya bisa memberikan kepuasan emosional, tidak menyelesaikan penderitaan, tidak mengurangi persoalan yang menghimpit, hanya melegakan emosi kita. Lalu, siapakah sesungguhnya Tiratana itu? Siapakah Buddha, Dhamma, dan Sangha?&lt;br /&gt;            Buddha, Dhamma, dan Sangha sesungguhnya mempunyai ‘inti’, yaitu kesadaran agung. Karena kesadaran agung, Bodhisatta Siddharta mencapai penerangan sempurna menjadi Buddha. Dhamma mengajarkan kesadaran agung yang harus kita latih dan pupuk untuk menyadari proses fenomena kehidupan kita, perasaan, pikiran, dan kehidupan kita ini. Sedangkan Sangha adalah batin mereka yang telah mencapai kesucian, kebebasan dari penderitaan secara total, karena telah mengembangkan kesadaran agung tersebut.&lt;br /&gt;            Pada suatu ketika, Bhikkhu Paññavaro memberikan sebuah buku kepada seorang pejabat tinggi. Buku tentang meditasi. Bhikkhu Paññavaro menjelaskan bahwa buku ini sangat baik.” Meskipun sudah lebih dari 20 tahun saya menjadi bhikkhu; saat membaca buku ini, saya mendapatkan pengetahuan yang sangat berharga” kata beliau. Kemudian pejabat ini bertanya kepada beliau,”Bhante, kalau boleh saya mengetahui, apakah yang menjadi kata kunci ajaran agama Buddha?”&lt;br /&gt;            Suatu pertanyaan yang sederhana, tetapi menantikan jawaban yang tidak sederhana. Kemudian Bhikkhu Paññavaro menjawab,”Kata kunci seluruh ajaran agama Buddha adalah pengertian yang benar serta lengkap. Itulah kata kunci ajaran agama Buddha”.&lt;br /&gt;            Kesulitan dan penderitaan menurut hukum alam yang universal, pasti muncul dan berkembang karena ada kondisi dan sebab-sebab yang mengakibatkan kesulitan, persoalan, ketegangan, bahkan penderitaan dan kesengsaraan dapat muncul dan menjadi beban kita.&lt;br /&gt;            “Tidak ada fenomena” demikianlah kalimat mudah yang muncul mendadak begitu saja, seolah-olah seperti hadiah atau hukuman dari langit. Sebenarnya tidak demikian, segala yang kita alami di dalam kehidupan ini muncul karena sebab-sebab, kondisi-kondisi, faktor-faktor yang mendahului, yang membuat, yang mengakibatkan semua fenomena, kejadian yang kita alami dalam kehidupan ini muncul dan kita rasakan.&lt;br /&gt;            Sekarang, jika kita menggunakan kesadaran kita, kewaspadaan, dan kejelian kita, mengamati gerak-gerik pikiran dan perasaan kita yang setiap hari dirangsang, ditarik-tarik, digoda-goda oleh nafsu, kenikmatan, kebencian, oleh hal-hal yang menarik, menjemukan, dan sebagainya. Kemudian perasaan dan pikiran kita bergerak; kita ingin demikian, kita ingin seperti itu, kita ingin begini dan begitu, Kita merencanakan, dan kemudian kita melakukannya. Itulah sesungguhnya awal munculnya segala macam persoalan kehidupan ini.&lt;br /&gt;            Adalah sangat benar, dalam khotbah-Nya yang pertama, sebelum Sang Buddha me-mulai pengabdian 45 tahun-Nya kepada dunia ini, Beliau menyampaikan dengan jelas dan terang sekali “Penderitaan ini disebabkan oleh nafsu keinginan”.&lt;br /&gt;            Dalam menganalisa penderitaan manusia, Sang Buddha tidak pernah melibatkan apalagi menarik-narik makhluk halus dan makhluk-makhluk lainnya dari atas langit sebagai pe-nyebab penderitaan. Tidak pernah. Penderitaan ini 100% disebabkan oleh nafsu keinginan kita. Tetapi, sekarang timbul pertanyaan, jika nafsu keinginan dapat mengakibatkan penderitaan; maka nafsu keinginan harus dikurangi. Dengan demikian, penderitaan tentu dapat berkurang.&lt;br /&gt;            Nah, Jika demikian, apakah kita tidak boleh mempunyai keinginan? Apakah kita tidak boleh maju? Karena, jika kita mempunyai keiniginan, maka kita akan menderita. Sdr/i, yang menjadi masalah sesungguhnya bukan keinginan, melainkan racun yang mengotori keinginan kita, yang membuat keinginan itu menumbuhkan dan mengakibatkan penderitaan, kesulitan, persoalan yang sambung menyambung, dan kesengsaraan yang tiada habisnya.&lt;br /&gt;            Kita tidak dilarang untuk mempunyai keinginan, tetapi marilah kita mewaspadai keinginan kita itu, kemudian kita panggil semua pengertian kita, lalu pertimbangkanlah semua keinginan itu dengan pengertian yang benar dan lengkap. Dengan demikian, keinginan itu tidak akan membuat kita tersiksa dan menderita pada saat timbul perasaan senang dan tidak senang, pada saat pikiran kita ingin demikian, ingin begini dan begitu.&lt;br /&gt;            Nanti dulu ….&lt;br /&gt;            Sekarang kita periksa keinginan itu dengan pengertian kita yang lengkap. Apakah keinginan itu benar-benar berguna atau bermanfaat? Memang benar bermanfaat! Tetapi apakah saya mempunyai kemampuan untuk melaksanakan keinginan itu? Sebab, meskipun keinginan itu benar dan bermanfaat, tetapi tidak adanya kemampuan yang cukup untuk melaksanakan keinginan itu,  maka akan mengakibatkan kesulitan dan penderitaan juga.&lt;br /&gt;            Ada seseorang yang sudah tua, mungkin sudah berusia 60 lebih, rambutnya pun su-dah memutih. Namanya Pak Kardi, ia tinggal di desa, mungkin hanya lulusan sekolah dasar; menulis tidak pandai, usia sudah lanjut, pengetahuan tidak banyak. Ia bukan pemimpin partai, tidak aktif di partai. Tetapi karena rajin membaca koran dan menonton televisi, suatu ketika muncullah keinginan di dalam pikirannya.,”Akh, aku ingin ikut berbakti, mengabdi kepada negara ini, aku juga ingin jadi presiden. Nanti pada saat Sidang Umum MPR, aku akan pergi ke Senayan dan mencalonkan diri”.&lt;br /&gt;            Keinginan menjadi presiden memang baik, tidak salah. Motivasi pikirannya juga benar tetapi tentu Pak Kardi tidak mengukur kemampuan dirinya. Karena ia sudah pasti tidak mampu menjadi presiden, memimpin bangsa dan negara ini. Jika hal ini tidak disadari, dan dilaksanakan dengan membabi buta, maka akan mengakibatkan penderitaan. Ini adalah contoh yang ekstrim.&lt;br /&gt;            Contoh lain yang riil dalam kehidupan kita, suatu ketika timbullah keinginan untuk mempunyai rumah dan kendaraan yang lebih mewah. Memang, ini bukanlah tindak kejahatan, tetapi mampukah kita melaksanakannya sekarang? Dengan menempuh segala cara? Ingat, suatu keinginan yang tidak sesuai dengan kondisi atau kemampuan akan menjadi sumber/sebab penderitaan.&lt;br /&gt;            Anak-anak yang bersekolah, melihat dan belajar komputer, melihat temannya mengendarai motor. Kemudian mereka pulang ke rumah dan meminta kepada orang tuanya untuk dibelikan komputer dan sepeda motor. Memang sebagian orang mungkin mampu, tetapi sebagian keluarga kita di daerah-daerah tidak mempu meluluskan permintaan anak mereka.&lt;br /&gt;            Anak ini tidak pernah mendapat pelajaran mengendalikan diri. Bukan melepaskan te-tapi mengendalikan keinginan, mengendalikan diri. Tidak pernah. Yang ia tahu, ia marah karena orang tuanya tidak membelikan kemputer atau motor yang sudah ia rasakan kenyamanannya. Kemudian keinginannya ini mengakibatkan penderitaan. Bukankah begitu? Seseorang mungkin menginginkan pasangan yang cocok, tetapi ia tidak mendapatkannya. Ini adalah penderitaan. Jika mendapatkan pasangan yang sesuai, alangkah bahagianya, tetapi setelah 5 tahun, kebosanan mulai menghinggapi dan timbul keinginan mencari pasangan yang baru, kemungkinan pasangan yang tidak resmi. Keinginan ini jika dituruti akan menimbulkan penderitaan, kesulitan, dan masalah yang tidak ringan.&lt;br /&gt;            Bukankah demikian penderitaan dan kesulitan yang datang kepada kita? Oleh karena itu, marilah kita gunakan kesadaran, kewaspadaan, kejelian kita, untuk mengamati gerak-gerik keinginan kita. Jikalau timbul keinginan ini atau itu, sekalipun keinginan yang baik dan bermanfaat, marilah kita panggil segala pengertian kita, kemudian kita saring dan seleksi, apakah keinginan ini sesuai untuk saya?&lt;br /&gt;            Jika saudara menggunakan kesadaran dan pengertian yang lengkap maka keinginan yang timbul itu akan terseleksi dan terpilih sehingga tidak mengakibatkan penderitaan, ke-sengsaraan, kesulitan, tekanan mental yang datang tidak henti-hentinya.&lt;br /&gt;            Mengerti penderitaan, berakar atau timbul dari keinginan yang belebihan, keinginan yang berlanjut dan tidak benar. Kemudian kita mengerti dan menggunakan kesadaran kita serta mempertimbangkan semua keinginan dengan pengertian yang lengkap. Itulah berlindung yang benar kepada Tiratana.&lt;br /&gt;            Berlindung dengan cara demikian akan memberikan kekuatan Dhamma kepada kita. Kekuatan untuk mengurangi dan menyelesaikan penderitaan, kekuatan untuk tidak membuat penderitaan baru dengan mewaspadai, mengamati, dan menyadari gerak-gerik keinginan kita, kemudian kita panggil pengertian kita untuk memberi pertimbangan dan kemudian membuat keputusan. Dengan demikian, keinginan kita akan sesuai di Jalan Dhamma. Keinginan yang membawa kita maju, sejahtera, bahagia, tetapi bukan keinginan yang mengakibatkan penderitaan, beban mental, kesulitan, ketegangan, dan kesengsaraan yang tiada habis-habis-nya.&lt;br /&gt;            Sekali lagi, mari kita renungkan, bukan makhluk halus ataupun makhluk dari langit yang membuat kita menderita. Lalu dikatakan terkena cobaan atau hukuman, bukan itu, melainkan keinginan yang sembrono, yang tidak terkendali dan tidak dipertimbangkan karena tidak ada kesadaran dan kewaspadaan. Kemudian keinginan itu kita turuti, merambah, berkembang dan mengakibatkan penderitaan.&lt;br /&gt;            Mengerti hal ini dengan terang dan jelas adalah cara yang benar untuk menyelesaikan penderitaan. Inilah berlindung yang benar kepada Sang Tiratana. Oleh karena itu, tidak cukup kita menyatakan dengan sepenuh hati aku berlindung kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha, tetapi menggunakan kesadaran, mengamat-amati, pikiran dan keinginan kita kemudian memanggil pengertian untuk memberikan pertimbangan dan keputusan, itulah cara untuk mengakhiri penderitaan, setidak-tidaknya untuk mengurangi penderitaan dan persoalan dalam kehidupan ini. Itulah jalan keluar dan kekuatan yang amat besar yang diberikan oleh Guru Agung kepada kita: berlindung yang benar kepada Tiratana, seseorang akan melihat penderitaan, penyebab derita, jalan untuk melenyapkan derita, dan dengan berlindung yang benar ini, semua penderitaan akan lenyap/terhenti.&lt;br /&gt;Sdr/i, demikianlah pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini, yaitu yang berjudul ‘Kekuatan Dhamma’. Jika di antara Sdr/i ada yang ingin bertanya tentang makalah ini, kami persilakan mendiskusikan bersama-sama setelah selesainya kebaktian ini. Teimakasih!&lt;br /&gt;Sabbe sattä bhavantu sukhitattä, semoga semua makhluk berbahagia!&lt;br /&gt;Sädhu! Sädhu! Sädhu!&lt;br /&gt;____________________&lt;br /&gt;Sumber Acuan:&lt;br /&gt;Khotbah Bhikkhu Paññavaro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibacakan pada tanggal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat Dhammapada.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-8854230088531171688?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/8854230088531171688/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=8854230088531171688' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/8854230088531171688'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/8854230088531171688'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/03/kekuatan-dhamma.html' title='KEKUATAN DHAMMA'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-3175913903026262360</id><published>2008-03-10T18:55:00.001-07:00</published><updated>2008-03-10T18:55:57.294-07:00</updated><title type='text'>BUMI DAN MANUSIA</title><content type='html'>KEJADIAN  BUMI  DAN  MANUSIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah membaca Paritta dan bermeditasi, maka marilah sekarang kita bersama-sama mengadakan pembahasan dan perenungan Dhamma yang pada hari ini berjudul ‘Kejadian Bumi dan Manusia’. Sekali lagi, judul pembahasan dan pere-nungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Kejadian Bumi dan Manusia’.&lt;br /&gt;Sdr/i seDhamma, setelah kita mempelajari dan mengetahui tentang alam semesta dan tatasurya, sekarang bagaimanakah menurut agama Buddha tentang terjadinya bumi dan manu-sia? Sdr/i, terjadinya bumi dan manusia menurut pandangan Buddhis merupakan konsep yang sangat unik dan menarik sekali untuk dipelajari. Mungkin sebagian besar dari umat Buddha belum mengetahui tentang ajaran dalam agama Buddha tentang kejadian bumi dan manusia yang pertama. Apakah Sang Buddha juga mengajarkan hal tersebut? Itulah kira-kira pertanya-an mereka dalam diri masing-masing. Semua itu dikarenakan kita tidak pernah mendengar atau bahkan tidak ada yang menceritakan kepada umat tentang terjadinya bumi dan manusia yang pertama. Hal itu disebabkan karena sangat sulit untuk menyampaikannya bagi si pence-rita dan sangat sulit bagi si pendengar untuk menerimanya. Mengapa? Sebab, kita sudah terbi-asa dengan hal-hal yang sangat mudah untuk diterima dan dicerna dalam otak/pikiran kita.&lt;br /&gt;Sdr/i, kejadian bumi dan manusia menurut pandangan Buddhis adalah berlangsung da-lam proses yang lama sekali, yang sesuai dengan Dhammaniyama. Proses kejadian ini meru-pakan suatu proses evolusi namun bukan seperti teori evolusi dari Charles Darwin. Hal ini da-pat kita lihat pada uraian berikut nanti. Manusia yang mula-mula muncul di bumi ini adalah banyak. Kejadian bumi dan manusia yang muncul mula-mula di bumi ini, diuraikan oleh Sang Buddha dalam beberapa khotbah Beliau antara lain: Brahmajala Sutta, Patika Sutta, dan Aganna Sutta dari Digha Nikaya. Tetapi, pada kesempatan ini hanya uraian dalam Aganna Sutta yang akan dikutip yang merupakan keterangan Sang Buddha kepada Vasettha. Uraian tersebut adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;“…………………………………………………………………………………………………….&lt;br /&gt;Vasettha, terdapat suatu saat, cepat atau lambat, setelah selang suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini hancur, dan bilamana hal ini terjadi, umumnya makhluk-makhluk terlahir kembali di Abhassara (alam cahaya), di sana mereka hidup dari cip-taan batin (mano maya), diliputi kegiuran, memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang di angkasa, hidup dalam kemegahan. Mereka hidup secara demikian dalam masa yang lama sekali.&lt;br /&gt;Vasettha, terdapat juga suatu saat, cepat  atau lambat, setelah selang suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini mulai terbentuk kembali,  dan ketika hal ini terjadi, makhluk-makhluk yang mati di Abhassara (alam cahaya), biasanya terlahir kembali di sini sebagai manusia. Mereka hidup dari ciptaan batin (mano maya), diliputi kegiur-an, memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang di angkasa, hidup dalam keme-gahan. Mereka hidup secara demikian dalam masa yang lama sekali.&lt;br /&gt;Pada waktu itu semuanya terdiri dari air, gelap  gulita. Tidak ada matahari atau bu-lan yang tampak, tidak  ada bintang-bintang atau konstelasi-konstelasi yang kelihat-an, siang maupun malam belum ada, bulan maupun pertengahan bulan belum ada, tahun maupun musim-musim belum ada, laki-laki maupun perempuan belum ada. Makhluk-makhluk hanya dikenal sebagai makhluk saja.&lt;br /&gt;Vasettha, cepat atau lambat, setelah suatu masa yang lama sekali bagi makhluk-makhluk tersebut, tanah dengan sarinya muncul keluar dari dalam air. Sama seperti bentuk-bentuk buih (busa) di permukaan nasi susu masak yang mendingin, demikian-lah munculnya tanah itu. Tanah itu mempunyai warna, bau, dan rasa. Sama seperti dadi susu atau mentega murni, demikianlah warnanya tanah itu, sama seperti madu tawon murni, demikianlah manisnya tanah itu.&lt;br /&gt;Kemudian Vasettha, di antara makhluk-makhluk yang memiliki pembawaan sifat sera-kah (lolajatiko) berkata:’O, Apakah ini?’ dan mencicipi sari tanah itu dengan jarinya. Dengan mencicipinya, maka ia diliputi oleh sari itu, dan nafsu keinginan masuk da-lam dirinya. Dan makhluk-makhluk yang lain mengikuti contoh perbuatannya, mencicipi sari tanah itu dengan jari-jari mereka. Dengan mencicipinya, maka mereka diliputi oleh sari tanah itu, dan nafsu keinginan masuk ke dalam diri mereka. Maka makhluk-makhluk itu mulai makan sari tanah, memecahkan gumpalan-gumpalan sari tanah tersebut dengan tangan mereka. Dan dengan melakukan hal ini, cahaya tubuh makhluk-makhluk itu menjadi lenyap. Dengan lenyapnya cahaya tubuh mereka, maka matahari, bulan, bintang-bintang dan konstelasi-konstelasi nampak. Demikian pula dengan siang dan malam, bulan dan pertengahan bulan, musim-musim dan tahun-tahun pun terjadi. Demikianlah Vasettha, sejauh itu bumi terbentuk kembali.&lt;br /&gt;Vasettha, selanjutnya, makhluk-makhluk itu menikmati sari tanah, memakannya, hi-dup dengannya,  dan berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasar-kan atas takaran yang mereka makan itu, maka tubuh mereka menjadi padat, dan ter-wujudlah berbagai macam bentuk tubuh. Sebagian makhluk memiliki bentuk tubuh yang indah dan sebagian makhluk memiliki bentuk tubuh yang buruk. Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh yang indah memandang rendah pada mereka yang memiliki bentuk tubuh yang buruk, dengan berpikir:’Kita lebih indah daripada mereka, mereka lebih buruk daripada kita’. Sementara mereka bangga akan keindahan mereka sehingga menjadi sombong dan congkak, maka sari tanah itu pun lenyap. Dengan lenyapnya sari tanah itu, mereka berkumpul bersama-sama dan meratapinya:’Sayang lezatnya! Sayang lezatnya!’  Demikian pula sekarang ini, apabila orang menikmati rasa enak, ia akan berkata:’Oh, lezatnya! Oh, lezatnya!’ sesungguhnya yang mereka ucapkan ini hanyalah mengikuti ucapan mereka masa lampau, tanpa mereka mengetahui makna dari kata-kata itu.&lt;br /&gt;Kemudian Vasettha, ketika sari tanah lenyap bagi makhluk-makhluk itu, muncullah tumbuh-tumbuhan dari tanah (bhumi pappatiko). Cara tumbuhnya adalah seperti tum-buhnya cendawan. Tumbuhan ini mempunyai warna, bau, dan rasa, seperti dadi susu atau mentega murni, demikianlah warnanya tumbuhan itu; sama seperti madu tawon murni, demikianlah manisnya tumbuhan itu. Kemudian makhluk-makhluk itu mulai makan tumbuh-tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut. Mereka menikmati, men-dapatkan makanan, hidup dengan tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka berkembang menjadi lebih padat, dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas; sebagian nampak indah dan sebagian nampak buruk. Dan, karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah pada mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk dengan berpikir:’Kita lebih indah daripada mereka, mereka lebih buruk daripada kita’. Sementara mereka bangga akan keindahan diri mereka sehingga menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan yang muncul dari tanah itu pun lenyap. Selanjutnya tumbuhan menjalar (badalata) muncul,   dan cara tumbuhnya adalah seperti bambu. Tumbuhan ini memiliki warna, bau, dan rasa; sama seperti dadi susu atau mentega murni, demikianlah warna tumbuhan itu; sama seperti madu tawon murni, demikianlah manisnya tumbuhan itu.&lt;br /&gt;Kemudian Vasettha, makhluk-makhluk itu mulai makan tumbuhan menjalar tersebut. Mereka menikmati, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan menjalar ter-sebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka tumbuh lebih padat; dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas; sebagian nampak in-dah dan sebagian nampak buruk. Dan, karena keadaan ini, maka mereka yang memi-liki bentuk tubuh indah memandang rendah pada mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk dengan berpikir:’Kita lebih indah daripada mereka, mereka lebih buruk daripa-da kita’. Sementara mereka bangga akan keindahan diri mereka sehingga menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan menjalar itu pun lenyap. Dengan lenyapnya tumbuhan menjalar itu, mereka berkumpul bersama-sama dan meratapinya:’Kasihan-ilah kita, milik kita hilang!’ Demikian pula sekarang ini, bilamana orang-orang dita-nya apa yang menyusahkan mereka, maka mereka menjawab:’Kasihanilah kita! Apa yang kita miliki telah hilang!’  sesungguhnya yang mereka ucapkan itu hanyalah mengikuti ucapan pada masa lampau, tanpa mengetahui makna dari kata-kata itu.&lt;br /&gt;Kemudian Vasettha, ketika tumbuhan menjalar lenyap bagi makhluk-makhluk itu, muncullah tumbuhan padi (sali) yang masak dalam alam terbuka (akattha pako), tanpa dedak dan sekam, harum, dengan bulir-bulir yang bersih. Bilamana pada sore hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan malam, maka keesokan paginya padi itu telah tumbuh dan masak kembali. Bilamana pada pagi hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan siang, maka pada sore hari padi tersebut telah tumbuh dan masak kembali; demikian terus menerus padi itu muncul.&lt;br /&gt;Vasettha, selanjutnya makhluk-makhluk itu menikmati padi (masak) dari alam terbu-ka, mendapatkan makanan dan hidup dengan  tumbuhan padi tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka tumbuh lebih padat, dan perbeda-an bentuk tubuh mereka tampak lebih jelas. Bagi wanita nampak jelas kewanitaannya (itthilinga) dan bagi laki-laki nampak jelas kelaki-lakiannya (purisalinga). Kemudian wanita sangat memperhatikan tentang keadaan laki-laki, dan laki-laki pun sangat memperhatikan tentang  keadaan wanita. Karena mereka saling memperhatikan kea-daan diri satu sama lain terlalu banyak, maka timbullah nafsu indera yang membakar tubuh mereka. Dan, sebagai akibat dari adanya nafsu indera tersebut, mereka mela-kukan hubungan kelamin (methuna).&lt;br /&gt;……………………………………………………………………………………………………”.&lt;br /&gt;Sdr/i,  itulah tadi sebagian dari sabda Sang Buddha dalam Aganna Sutta yang mene-rangkan tentang kejadian bumi dan manusia pertama. Dari uraian tadi jelaslah bahwa menurut agama Buddha, bumi kita yang sekarang ini adalah bumi yang kesekian kalinya terjadi. Dan, pada saat bumi ini hancur, makhluk-makhluk yang ada di bumi ini pada umumnya terlahir kembali di alam brahma Abhassara atau alam cahaya. Dan, setelah dunia ini terbentuk kemba-li, makhluk-makhluk yang ada di alam brahma Abhassara yang mati, terlahir kembali di alam manusia. Mereka hidup dari ciptaan batin (mano maya).&lt;br /&gt;Pada waktu itu bumi kita terdiri dari air dan gelap gulita, belum ada matahari yang nampak, bulan juga belum nampak, siang dan malam juga belum ada. Belum mengenal tahun, belum mengenal musim, dan juga belum ada laki-laki dan wanita. Makhluk yang ada di bumi hanya dikenal sebagai makhluk-makhluk saja. Setelah dalam waktu yang lama sekali sari ta-nah muncul dari dalam air, dan di antara makhluk-makhluk yang memiliki pembawaan sifat serakah (berarti jumlah makhluk lebih dari satu) tergiur oleh sari tanah tersebut dan mencicip-inya. Dan, sebagian makhluk yang lainnya ikut-ikutan menikmati sari tanah tadi. Dengan per-buatan mereka ini maka sari tanah masuk dalam diri mereka serta nafsu keinginan timbul da-lam diri mereka. Dan setelah kejadian itu cahaya pada tubuh mereka hilang/lenyap, dan de-ngan lenyapnya cahaya dari tubuh mereka maka matahari, bulan, dan bintang-bintang mulai nampak.&lt;br /&gt;Setelah memakan waktu yang lama sekali, makhluk-makhluk tadi bentuk tubuh mere-ka menjadi padat dan terwujudlah berbagai macam bentuk tubuh. Kemudian di bumi ini seca-ra bergantian, dalam waktu yang lama, muncul berbagai jenis tumbuhan yang semakin mema-datkan bentuk tubuh makhluk-makhluk dan perbedaan jenis makhluk-makhluk tersebut men-jadi lebih jelas lagi, sampai pada jenis kelamin mereka. Demikianlah kejadian bumi dan manusia menurut  agama Buddha. Dan, dari uraian tadi, kita juga dapat mengetahui bahwa ke-merosotan moral sudah ada sejak manusia yang mula-mula muncul di bumi ini. Akibat moral buruk yang berkembang, maka pisik manusia pun berubah. Memang, secara alamiah perkem-bangan evolusi manusia dan bumi adalah biasa, namun hal tersebut berbeda bila dilihat dari aspek moral.&lt;br /&gt;Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yang berjudul Kejadian Bumi dan Manusia. Semoga dengan diuraikannya penjelasan ini, maka kita semua menjadi mengerti dan menjadi lebih berbahagia. Dan, bila di antara Sdr/i ada yang ingin bertanya tentang makalah ini, maka kami persilakan untuk men-diskusikan bersama-sama setelah kebaktian ini selesai. Terima kasih!&lt;br /&gt;Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia!&lt;br /&gt;Sadhu! Sadhu! Sadhu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibacakan pada tanggal:&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-3175913903026262360?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/3175913903026262360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=3175913903026262360' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/3175913903026262360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/3175913903026262360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/03/bumi-dan-manusia.html' title='BUMI DAN MANUSIA'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-2367820835894447992</id><published>2008-03-10T18:54:00.002-07:00</published><updated>2008-03-10T18:55:21.389-07:00</updated><title type='text'>KEINDAHAN</title><content type='html'>KEINDAHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;KODHANO  DUBBANNO  HOTI.&lt;br /&gt;Seseorang yang suka marah akan memiliki penampilan yang buruk.&lt;br /&gt;Avguttaranikaya Sattakanipata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian, setelah kita bersama-sama membaca Paritta dan bermeditasi, marilah sekarang kita bersama-sama mengarahkan perhatian dan konsentrasi kita guna mengada-kan pembahasan dan perenungan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Keindahan’. Jadi sekali lagi, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Keindahan’.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, dalam kehidupan manusia pada umumnya, semua orang rata-rata pasti mencintai keindahan. Di mana ada keindahan, pasti menarik perhatian orang yang melihatnya. Dan dari perhatian, lalu timbul kekaguman, dan dari kekaguman ini maka timbullah kecende-rungan untuk menikmati keindahan tersebut terus menerus. Namun, meskipun setiap orang pada umumnya menyukai keindahan, ternyata nilai suatu keindahan adalah relatif bagi setiap orang. Artinya, sesuatu yang dianggap indah oleh seseorang, belum tentu dianggap indah oleh orang lain.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, jika demikian, maka darimanakah kita ini dapat melihat suatu keindahan? Umumnya, keindahan itu dilihat oleh mata terhadap suatu obyek benda. Misalnya orang cende-rung mempergunakan perhiasan untuk mempercantik diri, menggunakan berbagai asesoris untuk memperindah rumah, dan lain-lain. Semua alat bantu ini dipergunakan orang untuk membuat se-suatu menjadi lebih indah. Nah, keindahan yang demikian ini dapat digolongkan sebagai kein-dahan perhiasan.&lt;br /&gt;            Selanjutnya, selain perhiasan, manusia juga cenderung untuk membanggakan keindahan jasmaninya. Keindahan jasmani ini dapat berupa bentuk tubuh yang menarik, tidak terlalu gemuk atau terlalu kurus, tidak terlalu tinggi atau terlalu pendek; kemudian memiliki warna kulit yang menarik dan halus, mempunyai bentuk gigi yang indah, rambut yang bersih dan menarik, dan se-bagainya. Nah, keindahan yang semacam ini disebut sebagai keindahan jasmani.&lt;br /&gt;            Lalu, selain keindahan perhiasan dan keindahan jasmani, keindahan seorang manusia ju-ga dapat dilihat dari perilakunya sehari-hari. Mereka yang berperilaku baik, sopan santun dan ra-mah tamah, pasti akan menarik perhatian orang lain. Ucapan yang baik dan ramah dapat membu-at orang lain tertarik dengan kepribadian orang tersebut. Inilah yang disebut sebagai keindahan perilaku.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, selanjutnya, keindahan lain dari seseorang adalah yang disebut sebagai ke-indahan batin. Orang yang indah batinnya adalah mereka yang berhati baik, suka menolong, mencintai semua makhluk, dan sebagainya atau singkatnya adalah mereka yang mengembangkan ‘Brahma Vihara’.&lt;br /&gt;            Nah, Sdr/i yang berbahagia, dari keempat jenis keindahan ini, keindahan batin adalah yang paling terutama dan terpenting. Perhiasan sering digunakan hanya untuk menutupi kejelek-an-kejelekan jasmani. Demikian pula keindahan jasmani ternyata tidak mencerminkan keindahan perilaku. Banyak orang yang memiliki jasmani yang menarik tetapi perilakunya buruk. Oleh se-bab itu, keindahan perilaku adalah yang lebih baik daripada keindahan perhiasan dan keindahan jasmani. Akan tetapi, sering kali perilaku yang baik hanya dibuat-buat untuk menutupi sifatnya yang jelek. Oleh karena itu, keindahan yang terbaik adalah keindahan batin. Keindahan batin ti-dak dapat ditutupi dengan keindahan-keindahan lainnya. Keindahan batin tidak dapat dibuat-buat.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, dari cerita yang telah diuraikan tadi, kita dapat menarik kesimpulan bahwa keindahan yang paling mudah kita lihat adalah keindahan terluar, yaitu keindahan perhiasan. Jika perhiasannya ditinggalkan, maka yang nampak adalah keindahan jasmani. Dan jika keindahan jasmani ini juga diabaikan, maka kita akan melihat keindahan perilaku. Sedangkan keindahan yang paling halus, adalah keindahan batin. Yaitu keindahan yang dapat bertahan lebih lama dari-pada keindahan-keindahan lainnya yang hanya bersifat sementara.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, Sang Buddha, guru agung kita yang maha sempurna, mengajarkan bahwa keindahan seseorang dapat dikembangkan dengan jalan memiliki Dua Dhamma yang indah, yaitu yang disebut ‘Khanti’ dan ‘Soracca’. Khanti adalah kesabaran. De-ngan perkataan lain, Khanti berarti dapat menahan diri secara wajar pada saat menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam Buddha Dhamma, Khanti ini dibedakan menjadi dua macam.&lt;br /&gt;1.   Adhivasasana Khanti&lt;br /&gt;      Yaitu kesabaran jasmani. Artinya, walaupun jasmani merasa kecapaian, merasa sakit, lapar atau haus, kita tetap sabar dan dapat menahan diri untuk tidak berteriak, mengerang, ataupun mengeluh. Kita selalu berusaha agar apa yang terjadi pada jasmani tidak membawa pengaruh yang negatif pada batin.&lt;br /&gt;2.   Titikkhana Khanti&lt;br /&gt;      Yaitu kesabaran batin. Artinya, orang yang memiliki Titikkhana Khanti akan tetap memiliki kesabaran walaupun ia dihina, dimaki atau dimarahi. Titikkhana Khanti merupakan kelanjut-an dari melatih Adhivasasana Khanti.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, demikianlah penjelasan tentang dua macam Khanti, selanjutnya mengenai Soracca, artinya adalah sikap yang tenang, yaitu tetap melakukan pekerjaan seperti biasa walau-pun ada hal-hal yang tidak menyenangkan. Walau mengalami gangguan, jika batin tetap tenang maka tindakan-tindakan jasmanipun akan tetap tenang dan damai, perkataannya akan tetap ra-mah dan manis didengar. Demikianlah yang dimaksud dengan Soracca.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, dengan memiliki Khanti dan Soracca, seseorang akan tetap memiliki kein-dahan batin dan perilaku. Keindahan ini akan bertahan lama jika selalu dikembangkan. Dalam menghadapi situasi yang bagaimanapun, orang yang memiliki Khanti dan Soracca akan tetap menarik dan dikagumi oleh setiap orang. Oleh sebab itu, berusahalah untuk tetap memiliki kein-dahan batin ini.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah pembahasan dan perenungan Dhamma kita yang cukup singkat pada hari ini, dan semoga dengan demikian kita semua menjadi selalu menyadari makna dan hakekat dari keindahan ini demi kebahagiaan kita semua. Terimakasih!&lt;br /&gt;Sabbe satta bhavantu sukhitatta; semoga semua makhluk berbahagia!&lt;br /&gt;Sadhu! Sadhu! Sadhu!&lt;br /&gt;___________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipetik dari Dhammavibhanga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibacakan pada tanggal:&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-2367820835894447992?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/2367820835894447992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=2367820835894447992' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/2367820835894447992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/2367820835894447992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/03/keindahan.html' title='KEINDAHAN'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-5273745264087284609</id><published>2008-03-10T18:54:00.001-07:00</published><updated>2008-03-10T18:54:49.050-07:00</updated><title type='text'>KECIL BUKAN SEPELE</title><content type='html'>KECIL  BUKAN  BERARTI  SEPELE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammä Sambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;MÄVAMAÑÑETHA  PÄPASSA - NA  MAÇ  TAÇ  AGÄMÍSSATI.&lt;br /&gt;Janganlah meremehkan kejahatan, walaupun itu kecil sekali.&lt;br /&gt;                                  Khuddakanikäya Dhammapadagäthä.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah membaca Paritta dan bermeditasi sejenak, marilah sekarang kita arahkan perhatian dan konsentrasi kita guna mengadakan pembahasan dan perenungan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Kecil Bukan Berarti Sepele’. Sekali lagi Sdr/i, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Kecil Bukan Berarti Sepele’.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian, seperti yang sudah kita ketahui, bahwa pada umumnya, kalau ada sebuah benjolan kecil yang terdapat pada salah satu bagian dari tubuh kita, biasa-nya bisa merupakan suatu kanker ganas. Semua orang yang tahu hal itu, pasti tidak akan me-remehkan tumor kecil tersebut dan segera akan memeriksakan dirinya pada seorang dokter. Dalam hal ini, dokter tersebut akan memperlakukannya dengan serius, terkecuali setelah ke-mudian jelas terbukti bahwa tumor itu tidak ganas. Jadi, memang sesuatu yang kecil itu tidak seharusnya dianggap sepele. Hal ini juga seperti peribahasa yang mengatakan bahwa dengan nila setitik dapat merusak susu sebelanga.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian, demikian pula di dalam istilah umum masyarakat kita ini, manusia katanya mengenal adanya dosa kecil dan dosa besar. Dosa kecil hukumannya tentu ringan, dan dosa besar hukumannya pasti akan berat. Nah, karena hal tersebut, maka yang kecil dan ringan itu akhirnya dipandang ‘gampang dihapus’ dan ‘diabaikan’. Akhirnya, me-mang banyak orang yang takut untuk melakukan dosa besar, tetapi dengan demikian mereka malahan justru lebih banyak melakukan dosa-dosa kecil dengan dalih bahwa semua manusia pasti berdosa. Jadi bisa dimaklumi kalau hanya melakukan dosa-dosa yang kecil. Mengapa bisa terjadi pandangan demikian? Karena hal ini diakibatkan bahwa seringkali orang menu-tup mata terhadap segala bentuk kesalahan yang kecil, sehingga akhirnya mereka mengang-gap bahwa kesalahan kecil itu adalah hal yang sudah biasa dan tidak perlu diperhatikan lagi. Sdr/i sekallian, lalu bagaimanakah ajaran Sang Buddha dalam memandang hal tersebut? Apa kah juga demikian? Sdr/i sekalian, ternyata di dalam ajaran Sang Buddha kita malahan di-ingatkan bahwa kesalahan yang kecil itu bukanlah barang yang boleh dianggap sepele atau boleh diremehkan.&lt;br /&gt;            Sdr/i, di dalam kitab Dhammapada ayat 121 tadi dikatakan bahwa janganlah mere-mehkan kejahatan walau sekecil apapun, dengan beranggapan bahwa perbuatan buruk itu ti-dak akan membawa akibat. Tetapi sesungguhnya, bagaikan sebuah tempayan akan terisi pe-nuh oleh air yang dijatuhkan setetes demi setetes, demikian pula si dungu akan penuh de-ngan hasil kejahatan yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, perlu kita ketahui bahwa yang dimaksud kejahatan di sini yaitu tidak saja membunuh atau menyakiti orang lain, mencuri, asusila, berdusta, serta mabuk-mabukan, tetapi juga meliputi segala macam perbuatan yang berasal dari keserakah-an, kebencian, dan kebodohan batin dalam bentuknya yang lain seperti berjudi, berkata ka-sar, omong kosong atau membual, menfitnah, dan sebagainya.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian, ternyata peraturan larangan dan tata tertib (Vinaya) yang telah ditetapkan oleh Sang Buddha, tidak saja membahas tentang perbuatan yang jahat, tetapi juga mencakup hal-hal kecil yang dapat memberikan peluang untuk timbulnya suatu perbuat-an yang tercela. Sebagai contoh, misalnya seorang bhikkhu yang pantang melakukan hu-bungan kelamin, maka sehubungan dengan hal itu pula, ia juga tidak boleh menyentuh wani-ta sekalipun hanya rambut atau tangannya saja. Juga, untuk mendukung hal tersebut, maka tidak dibenarkan bagi seorang bhikkhu untuk duduk bersama seorang wanita di suatu tempat yang tertutup tanpa ada orang lain yang melihatnya. Mengapa demikian? Apakah hal ini ti-dak terlalu berlebihan dan mengada-ada? Sdr/i sekalian, memang bagi kita mungkin berang-gapan bahwa menyentuh atau duduk berdua dengan orang lain yang berbeda jenis kelamin-nya adalah cuma soal kecil. Tetapi Sdr/i sekalian, ternyata hal itu tidak bisa dianggap remeh dalam kehidupan seorang bhikkhu. Mengapa? Karena hal tersebut dapat membawa akibat yang besar, terutama ketika mereka sedang melatih meditasi, yaitu bisa muncul kesan-kesan sewaktu sedang duduk berduaan tadi sehingga dapat mengganggu latihan meditasinya dan akhirnya bisa juga mengarah untuk melakukan suatu perbuatan yang tercela.&lt;br /&gt;Sdr/i seDhamma sekalian, itu tadi adalah contoh dalam hidup kebhikkhuan, sedang-kan contoh lain, yang kiranya juga cukup aktual dalam kehidupan masyarakat kita, adalah “merokok”. Beberapa waktu yang lampau, dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasi onal, pemerintah Indonesia pernah mengajak masyarakat untuk tidak merokok sehari itu. Me rokok dipandang buruk karena asapnya berbahaya bagi kesehatan. Bahkan, orang-orang yang tidak merokok pun ikut pula terancam bahaya akibat pencemaran yang ditimbulkan-nya. Tetapi, hal yang demikian ini, yaitu bahwa hal tersebut juga membahayakan bagi orang lain,  masih belum diperhatikan. Masih dianggap wajar dan bisa dimaklumi.&lt;br /&gt;Sdr/i sekalian, asap rokok memang sering diremehkan karena masih dirasakan tidak begitu mengganggu seperti asap cerobong pabrik atau asap knalpot kendaraan. Sekarang ini, kalau ada pemilik pabrik yang mencemari lingkungannya, bisa digugat sebagai penjahat. Te-tapi, mereka yang merokok masih belum sampai dianggap demikian karena merokok itu ma-sih bisa diterima sebagai perbuatan buruk yang kecil yang masih bisa dianggap sebagai per-buatan wajar dalam masyarakat. Namun Sdr/i sekalian, sesungguhnya, seperti yang dikata-kan di dalam kitab Majjhima Nikäya bab I, bahwa perbuatan apapun, yang dilakukan dengan badan jasmani, ucapan, serta pikiran, bila membawa penderitaan untuk diri sendiri, orang lain, maupun kedua-duanya, maka perbuatan itu adalah buruk.&lt;br /&gt;Sdr/i Dhamma sekalian, bila tadi telah dikatakan bahwa kesalahan yang kecil tidak boleh disepelekan, demikian pula sebaliknya, kebaikan yang kecil juga tidak bisa dianggap barang yang sepele. Di dalam kitab Dhammapada ayat 122 tadi dikatakan bahwa jangan me-remehkan kebajikan walaupun sekecil apapun, dengan beranggapan bahwa perbuatan baik itu tidak akan membawa berkah. Tetapi sesungguhnya, bagaikan sebuah tempayan yang akan terisi penuh oleh air yang dijatuhkan setetes demi setetes, demikian pula orang bijaksa-na akan dipenuhi dengan hasil kebaikan yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;Sdr/i sekalian, selain itu, ada juga peribahasa yang mengatakan bahwa bila akan mengerjakan sesuatu yang susah, hendaknya dilakukan ketika masih mudah; dan bila akan mengerjakan sesuatu yang besar, hendaknya dilakukan ketika masih kecil. Sdr/i sekalian, hal tersebut adalah suatu kata-kata pengalaman dari mereka yang telah sukses dan mengajarkan agar sesuatu yang kecil itu janganlah diremehkan, janganlah dianggap sepele. &lt;br /&gt;Sdr/i seDhamma yang berbahagia, sebagai contoh, bila kita mau memperhatikan, na-mun ini hanya sebagai bahan perbandingan saja, maka sebuah sekrup kecil daru suatu mesin yang besar bukanlah barang yang dapat disepelekan. Ini juga berarti bahwa tanpa memperha-tikan hal-hal yang kecil, orang bisa tidak akan berhasil untuk menangani suatu pekerjaan yang besar. Banyak orang yang bisa menjadi kaya karena ia mau mengumpulkan penghasil-annya sedikit demi sedikit. Contoh lainnya lagi bahwa hal yang kecil ini tidak dapat diremeh kan misalnya pada uang kecil “limapuluh rupiahan”. Pada saat ini uang kecil tersebut masih sering dianggap tak ada artinya oleh banyak orang. Tetapi ternyata bagi seorang kasir yang melayani pekerjaan besar seperti pembayaran listrik, air minum, atau telepon, uang limapu-luh rupiahan ini tidak bisa dianggap sepele. Kasir tersebut pasti tidak akan mengabaikan uang limapuluh rupiah pun dari rekening yang dibayarkan kepadanya.&lt;br /&gt;Sdr/i seDhamma sekalian, sebagai bahan perenungan selanjutnya, ada sebuah contoh cerita dari Jepang. Konon, ada seorang anak yang bernama Ikkyu yang memasuki kehidupan di suatu biara ketika ia masih kanak-kanak. Suatu ketika, ia menjadi sangat geram karena ada seorang samurai atau pejabat pemerintah yang memanggilnya dengan julukan “bhiksu kecil”. Bukankah ini berarti dia telah disepelekan? Kemudian Ikkyu lalu bertanya kepada orang yang memberinya julukan tersebut. Bila ada lobak yang sedang dicuci, apakah harus dinamai lobak kecil dan lobak besar? Bukankah lobak itu kecil atau besar adalah sama saja, namanya lobak? Maka demikian pula bhiksu adalah bhiksu. Tidak ada bhiksu besar dan bhiksu kecil. Jadi, mengapa ia harus dinamakan bhiksu kecil? Bukankah kalau seorang anak manusia ke-cil pun juga tidak bisa disepelekan dengan dianggap sebagai setengah manusia?&lt;br /&gt;Sdr/i seDhamma sekalian, dari cerita tadi kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kita semua, terutama yang sudah lebih dewasa ini, hendaknya tetap tidak menganggap remeh pada perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh seorang anak kecil. Bila ada seorang anak ke-cil yang berbuat tidak benar atau kurang pantas, maka sebaiknya kita cepat-cepat memberi-kan peringatan kepadanya. Janganlah hal itu didiamkan saja atau kita anggap remeh karena hanya anak kecil yang berbuat. Demikian pula bila ada seorang anak kecil  yang berbuat ke-baikan, sebaiknya kita harus memberikan dukungan kepadanya supaya dia mau lebih me-ngembangkan lagi sifat-sifat baiknya tersebut. Janganlah hal itu diremehkan hanya karena ki-ta menganggap dia sebagai seorang anak kecil yang tidak perlu diperhatikan.&lt;br /&gt;Sdr/i seDhamma sekalian, sebagai contoh yang masih berhubungan dengan hal terse-but, yaitu masih banyak kita lihat suatu peristiwa di mana banyak orang tua atau orang yang lebih tua, masih menganggap remeh kepada suatu perbuatan baik yang dilakukan oleh anak-anak kecil. Apakah itu? Yaitu bahwa mereka tidak mau membalas salam ucapan “Selamat pagi” atau “Selamat siang” atau bahkan mungkin “Selamat Waisak” atau “Selamat Tahun Baru” yang diucapkan oleh anak-anak mereka, dan juga anak-anak lain yang masih kecil. Hal ini hendaknya perlu juga untuk lebih kita perhatikan lagi di masa-masa yang akan datang.&lt;br /&gt;Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah perenungan dan pembahasan Dham-ma kita pada hari ini dan semoga kita dapat meresapinya dan mempraktikkannya dalam kehi-dupan kita sehari-hari. Serta, tidak ketinggalan pula, sehubungan dengan hal ini, dan dengan memohon maaf sebelumnya, kami pengurus Vihara Dhammacakkhu juga ingin menyampai-kan pesan kepada Sdr/i seDhamma sekalian, bahwa sebaiknya Sdr/i seDhamma semua, ber-sedia juga membantu mengatur kerapihan vihara kita dengan merapikan letak sandal maupun sepatunya di dalam Vihara Dhammacakkhu ini setiap kali datang ke vihara. Dahulu pesan ini juga sudah pernah kami sampaikan namun sekarang ketidakrapihan dalam meletakkan sandal atau sepatu ini sudah mulai terjadi lagi. Jadi, kami sangat memohon kepada Sdr/i semua un-tuk memperhatikan hal ini karena perbuatan mengatur atau merapikan sandal dan sepatu di dalam vihara adalah juga merupakan suatu perbuatan baik yang tidak bisa dianggap kecil, ri-ngan, atau sepele. Dan, hal ini kita lakukan juga demi kebaikan kita sendiri sebagai umat Vi-hara Dhammacakkhu Bogor. Sekian dan terima kasih atas perhatian Sdr/i semua!&lt;br /&gt;Sabbe sattä bhavantu sukhitattä, semoga semua makhluk hidup berbahagia!&lt;br /&gt;Sädhu! Sädhu! Sädhu!&lt;br /&gt;____________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibacakan pada tanggal:&lt;br /&gt;- sudah pernah.&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-5273745264087284609?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/5273745264087284609/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=5273745264087284609' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/5273745264087284609'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/5273745264087284609'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/03/kecil-bukan-sepele.html' title='KECIL BUKAN SEPELE'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-8103827491924285009</id><published>2008-03-10T18:53:00.002-07:00</published><updated>2008-03-10T18:54:16.796-07:00</updated><title type='text'>KEBODOHAN</title><content type='html'>KEBODOHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;YO  BALO  MABBATI  BALYAM, PANDITO  VAPI  TENA  SO.&lt;br /&gt;Orang bodoh yang menyadari kebodohannya, sesungguhnya bukanlah orang bodoh.&lt;br /&gt;Khuddakanikaya Dhammapadagatha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian, seperti biasanya, yaitu setelah kita bersama-sama membaca Paritta dan bermeditasi, maka marilah kita sekarang bersama-sama membahas serta merenungkan Dhamma, ajaran Sang Buddha, yang pada hari ini berjudul ‘Kebodohan’. Sekali lagi Sdr/i sekalian, judul pem-bahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini adalah ‘Kebodohan’.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian yang berbahagia, pengertian umum tentang kebodohan yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, adalah diartikan sebagai sangat tumpul otaknya atau tidak cerdas. Mi-salnya saja seorang anak dikatakan bodoh karena ia tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolahnya. Atau, ia dikatakan bodoh karena ia tidak punya akal untuk mengatasi suatu permasalahan yang diha-dapinya. Jadi, kalau kita amati, arti kebodohan dalam pengertian umum tersebut, cenderung hanya mengarah pada kelemahan kadar intelektual atau segi kecerdasan saja, tetapi kurang begitu berkaitan dengan kualitas batiniah seseorang. Padahal Sdr/i sekalian, yang dimaksud dengan arti kebodohan di sini sesungguhnya mengandung makna agamis yang mengarah langsung pada kualitas batin seseo-rang. Maksudnya yaitu, bahwa yang dimaksud dengan orang bodoh di sini adalah orang yang tidak bijaksana. Dalam kitab Paramatthajotika, yaitu suatu kitab ulasan dari Khuddakapatha, Buddhagho-sa Thera mendefenisikan orang bodoh sebagai orang yang menjalani kehidupan hanya sekedar kare-na bernapas – dalam arti hanya sekedar hidup saja, tidak menjalani kehidupan dengan kebijaksanaan&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian, oleh sebab itu, di dalam ajaran agama Buddha, istilah kebodohan ini lebih tepat diartikan sebagai kebodohan batin. Artinya, tidak tahu sebab dan akibat menurut kea-daan yang sebenarnya, menurut hakekat yang sesungguhnya dari segala sesuatu. Jadi, ia tidak tahu mana yang salah dan mana yang benar. Atau, ia tidak tahu mana keadaan yang bersyarat (berkondi-si) dan yang tidak bersyarat (tidak berkondisi). Di dalam istilah Buddha Dhamma, pikiran yang me-ngandung kebodohan batin ini disebut Mohamulacitta, yang artinya kesadaran atau pikiran yang mempunyai kebodohan, kegelapan, ketidaktahuan. Atau, kesadaran atau pikiran yang tidak mampu untuk mengetahui sesuatu dengan sewajarnya. Kata Moha dan Avijja mempunyai arti yang sama, yaitu kebodohan batin atau kegelapan batin.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, selanjutnya perlu kita ketahui, bahwa kesadaran atau pikiran yang mengan-dung kebodohan ini, dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu:&lt;br /&gt;1. Kebodohan yang bersekutu dengan keragu-raguan, disertai masa bodoh.&lt;br /&gt;2. Kebodohan yang bersekutu dengan kegelisahan, disertai masa bodoh.&lt;br /&gt;Sekarang Sdr/i sekalian yang berbahagia, untuk lebih jelasnya tentang kedua hal kebodohan tersebut maka marilah kita renungkan maknanya dengan lebih seksama lagi satu persatu.&lt;br /&gt;1. Kebodohan yang bersekutu dengan keragu-raguan, disertai masa bodoh.&lt;br /&gt;Sdr/i sekalian, sebelumnya perlu diketahui, bahwa yang dimaksud dari masa bodoh di sini yaitu ka-rena disebabkan tidak tahu, bukan karena mempunyai sedikit kesenangan. Sedangkan yang dimak-sud bersekutu dengan keragu-raguan di sini yaitu kurang yakin. Bahkan, berarti ia tidak yakin atau masih ragu-ragu kepada Sang Buddha, Dhamma, dan Savgha. Hal ini juga berarti bahwa ia tidak ya-kin akan adanya Hukum-Hukum Kebenaran Mutlak seperti: Empat Kebenaran Mulia, Kamma dan Tumimbal-lahir, Paticcasamuppada, dan Tiga Corak Umum yang universal. Hal yang demikian ini mudah kita ketahui, misalnya pada saat kita melihat ada orang yang tidak yakin akan adanya kamma vipaka (hasil dari perbuatan), baik dari kehidupan yang lampau, sekarang, dan yang akan datang. Jadi, ia masih ragu-ragu terhadap hal tersebut,  yaitu apakah hal itu benar atau tidak.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, jadi sekali lagi, maksud dari bersekutu dengan keragu-raguan di sini yaitu ku-rang yakin terhadap Hukum-Hukum Kebenaran Mutlak tersebut dan tidak dapat memutuskan sesua-tu. Sedangkan kalau pembahasannya lebih diperinci lagi, maka yang dimaksud dengan keragu-ragu-an di sini ada 8 macam, yaitu sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.  Keragu-raguan terhadap Sang Buddha, yaitu apakah Sang Buddha itu memang benar-benar ada atau tidak. Atau, keragu-raguan terhadap Buddhaguna 9 (9 macam kualitas Sang Buddha). Betul-kah Sang Buddha memiliki 9 macam kualitas?&lt;br /&gt;2.  Keragu-raguan terhadap Dhamma, yaitu apakah Magga 4, Phala 4, dan Nibbana 1 itu benar-benar ada? Atau, benarkah Dhamma itu dapat membebaskan kita dari penderitaan?&lt;br /&gt;3.  Keragu-raguan terhadap Savgha, yaitu apakah betul ada anggota Savgha yang sudah berhasil mencapai tingkat-tingkat kesucian atau mencapai Magga 4 dan Phala 4?&lt;br /&gt;4.  Keragu-raguan terhadap Sikha (latihan), yaitu apakah betul ada cara-cara latihan yang terdiri dari Sila, Samadhi, dan Pabba, yang kalau dijalankan dapat mencapai ‘pembebasan’.&lt;br /&gt;5.  Keragu-raguan terhadap Khandha 5 (5 Kelompok Kehidupan); Ayatana 12 (12 unsur dari indera untuk mengetahui sesuatu);  dan Dhatu 18 (18 unsur), yang akan datang; yaitu apakah hal-hal itu memang betul-betul ada? Atau, keragu-raguan terhadap adanya kehidupan yang akan datang; apakah betul bahwa hal itu memang ada?&lt;br /&gt;6.  Keragu-raguan terhadap Khandha 5 (5 Kelompok Kehidupan); Ayatana 12 (12 unsur dari indera untuk mengetahui sesuatu);  dan Dhatu 18 (18 unsur), yang telah lalu; yaitu apakah hal-hal itu memang betul-betul ada? Atau, keragu-raguan terhadap adanya kehidupan yang lalu; apakah be-tul bahwa hal itu memang ada?&lt;br /&gt;7.  Keragu-raguan terhadap Khandha 5 (5 Kelompok Kehidupan); Ayatana 12 (12 unsur dari indera untuk mengetahui sesuatu);  dan Dhatu 18 (18 unsur), yang telah lalu dan yang akan datang; yaitu apakah hal-hal itu memang betul-betul ada? Atau, keragu-raguan terhadap adanya kehidup-an yang telah lalu dan yang akan datang; apakah betul bahwa hal itu memang ada?&lt;br /&gt;8.  Keragu-raguan terhadap Paticcasamuppada Dhamma atau Hukum Sebab Akibat yang saling mengkondisikan. Apakah betul bahwa Hukum Sebab Akibat yang saling mengkondisikan ini ada?&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, itulah tentang 8 macam keragu-raguan, dan setelah kita mengetahui 8 ma-cam keragu-raguan tersebut, lalu bagaimanakah cara untuk mengatasinya? Sdr/i sekalian, keragu-ra-guan tidak dapat diatasi hanya dengan berspekulasi tentang sesuatu yang tidak membawa kita men-capai tujuan. Keragu-raguan hanya dapat diatasi dengan mempelajari Dhamma, sehingga Pabba (kebijaksanaan) menjadi berkembang. Bila Pabba sudah berkembang, maka keragu-raguan tidak akan muncul lagi. Sebagai contoh yaitu apabila kita melihat masalah-masalah yang ada di dunia ini. Bila kita perhatikan, maka terlihatlah bahwa ternyata masalah-masalah di dunia ini adalah hanya masalah dari Nama dan Rupa atau batin dan jasmani. Ya, benar, semua hanyalah merupakan masa-lah Nama dan Rupa. Nama dan Rupa ini adalah tidak kekal, saling timbul dan padam silih berganti. Nah, bilamana Pabba atau kebijaksanaan telah timbul, maka orang dapat memahami sifat-sifat dari Nama dan Rupa yang ditanggapi melalui enam pintu indera tersebut dengan wajar atau sebagaimana adanya. Jadi, bila kita dapat mempelajari tentang Nama dan Rupa yang sedang kita hadapi sekarang, sehingga dapat melihat segala sesuatu dengan sebagaimana adanya, maka di situlah muncul kebijak-sanaan dan tidak akan timbul lagi keragu-raguan.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian, sekarang marilah kita merenungkan tentang bentuk kebodohan je-nis yang kedua, yaitu kebodohan yang bersekutu dengan kegelisahan, disertai masa bodoh. Untuk hal ini, sebaiknya kita ketahui terlebih dahulu bahwa pengertian bersekutu dengan kegelisahan arti-nya yaitu, kesadaran atau pikiran itu gelisah, dan terlepas dari konsentrasi pada berbagai macam obyek, tidak tenang atau tidak tetap berada dalam obyek. Jadi Sdr/i sekalian, bilamana ada kegelisah an, tentu pada saat itu tidak akan ada Sati (perhatian jeli). Sati merupakan perhatian untuk melihat atau mengamati sifat-sifat Nama dan Rupa sebagaimana adanya. Sati dapat dilatih dalam setiap tin-dakan kita sehari-hari. Bila seseorang Sati-nya lemah, maka ia cenderung untuk tidak dapat melihat sifat-sifat Nama dan Rupa dengan sebagaimana adanya. Akibatnya, ia selalu berada dalam keadaan pikiran yang bodoh atau Moha. Moha merupakan akar dari dari semua pikiran atau kesadaran yang buruk (Akusala Citta). Moha melandasi Lobha (ketamakan) sehingga tenggelam di dalam tipuan naf su-nafsu indera. Moha juga melandasi Dosa (kebencian), tetapi Moha hanya mempunyai sifat yaitu ketidaktahuan, dan timbulnya adalah tanpa ajakan.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian yang berbahagia, sekarang marilah kita melihat bagaimana proses timbulnya Moha ini yang terjadinya melalui ke enam pintu indera kita. Misalnya, bila kita mendengar suara ka-rena ada orang yang mengetuk pintu; lalu kalau kita tidak mengenal suara itu, dan kita masih memi-i liki kekotoran batin, maka pada saat itu juga langsung dapat timbul keragu-raguan dalam diri kita dan berpikir apakah ketukan ini disertai dengan sesuatu atau tidak? Atau, pada saat itu juga dapat timbul kegelisahan, misalnya lalu berpikir jangan-jangan ada perampok yang akan masuk, dan seba-gainya lagi. Jadi, dalam pikiran kita tersebut selalu ada keragu-raguan dan kegelisahan.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, namun untuk hal ini, seorang Ariya Puggala (orang suci), misalnya yang telah mencapai tingkat pertama dari pencapaian Penerangan Sempurna, yaitu Sotapanna, telah dapat mele nyapkan macam-macam Moha yang diikuti oleh keragu-raguan. Ia tidak lagi meragukan tentang Pa-ramattha Dhamma, ia telah memahami hal tersebut sungguh-sungguh. Ia telah yakin, betul-betul ya-kin terhadap Buddha, Dhamma, dan Savgha. Ia telah yakin kepada ‘jalan’ yang menuju terkikisnya semua hambatan, yaitu kekotoran batin. Tetapi Sdr/i sekalian, meskipun demikian, ternyata, baik So tapanna, Sakadagami, dan Anagami, ternyata masih memiliki Moha yang diikuti oleh kegelisahan.. Jadi, mereka ini masih memiliki Moha yang diikuti oleh kegelisahan. Hanya Arahat sajalah yang te-lah terbebas total dari kegelisahan ini.&lt;br /&gt;            Jadi Sdr/i sekalian, kebodohan merupakan penutup mata kita terhadap kenyataan akan ada-nya Empat Kebenaran Mulia, atau lebih tepatnya terhadap Hukum-Hukum Mutlak. Hanya dengan melakukan Vipassana (pandangan terang) yang dapat membantu kita untuk mengikis kebodohan ter-sebut. Di dalam naskah Samyuttanikaya Salayatana Vagga, dikisahkan tentang Jambukhadaka, yaitu seorang kelana yang bertanya kepada YA. Sariputta tentang pengertian kebodohan. Dia bertanya de-mikian:”Sahabatku Sariputta, jelaskanlah padaku, apakah yang dimaksud dengan kebodohan itu?” Kemudian YA. Sariputta menjawab:”Sahabatku Jambukhadaka, yang diartikan dengan kebodohan adalah mereka yang tidak mengerti tentang Empat Kebenaran Mulia, yaitu tentang Dukkha, Sebab timbulnya Dukkha, Terhentinya Dukkha, dan Cara yang Menuju ke Terhentinya Dukkha. Itulah yang diartikan dengan kebodohan atau Moha”. Lalu Sdr/i, selanjutnya Jambukhadaka bertanya lagi demikian:”Apakah ada cara untuk menghindari Dukkha itu, sahabatku?” YA. Sariputta menjawab lagi:”Sahabatku, Sang Buddha telah memberikan jawabannya, yaitu dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan yang merupakan cara untuk mengikis kebodohan (Moha)”.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian yang berbahagia, demikianlah perenungan dan pembahasan Dham-ma kita pada hari ini yang berjudul ‘Kebodohan’. Bila di antara Sdr/i sekalian ada yang kurang jelas dengan makalah ini, atau mungkin di dalam makalah ini ada kesalahan-kesalahan, maka kami persi-lakan untuk membahasnya kembali bersama-sama di dalam diskusi Dhamma setelah selesainya ke-baktian ini. Terima kasih!&lt;br /&gt;Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia!&lt;br /&gt;Sadhu! Sadhu! Sadhu!&lt;br /&gt;____________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Acuan:&lt;br /&gt;1.  Abhidhammatthasavgaha, oleh J. Kaharuddin.&lt;br /&gt;2.  Buddha Dhamma dalam Kehidupan Sehari-hari, oleh Nina van Gorkom.&lt;br /&gt;3.  Mimbar Agama Buddha Harian Sinar Pagi tanggal 2 dan 9 Maret 1988 “Kebodohan”, oleh Dhar-ma Kusumah.&lt;br /&gt;4.  Untaian Dhammakatha, oleh Jan Sabjivaputta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibacakan pada tanggal:&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-8103827491924285009?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/8103827491924285009/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=8103827491924285009' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/8103827491924285009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/8103827491924285009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/03/kebodohan.html' title='KEBODOHAN'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-1386709704831625130</id><published>2008-03-10T18:53:00.001-07:00</published><updated>2008-03-10T18:53:42.929-07:00</updated><title type='text'>KEBAHAGIAAN DAN PENDERITAAN</title><content type='html'>KEBAHAGIAAN  DAN  PENDERITAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;SABBATTHA  DUKKHASSA  SUKHAM  PAHANAM.&lt;br /&gt;Kebahagiaan akan muncul sebagai akibat dari padamnya penderitaan.&lt;br /&gt;                                                   Khuddakanikaya Dhammapadagatha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, seperti biasanya, setelah kita bersama-sama mem-baca Paritta dan bermeditasi, marilah sekarang kita mengisi kebaktian pada pagi hari ini de-ngan mengadakan pembahasan dan perenungan Dhamma, yang pada hari ini dipetik dari Ki-tab Suci Avguttaranikaya Dukanipata ayat 101, yaitu yang membahas tentang ‘Kebahagiaan dan Penderitaan’. Jadi sekali lagi, tema pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini, yaitu ‘Kebahagiaan dan Penderitaan’.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, seperti yang telah kita ketahui selama ini, kehidupan kita selalu diling-kupi oleh kebahagiaan dan penderitaan secara silih berganti. Semua orang pasti menginginkan kebahagiaan dan menghindarkan penderitaan. Tetapi ternyata, pada kenyataannya, hal terse-but tidak dapat terpenuhi terus menerus secara demikian sesuai dengan yang mereka inginkan itu. Jadi pada hakekatnya, setiap orang pasti terlibat dengan penderitaan dan kebahagiaan se-lama kehidupannya. Oleh sebab itu, karena adanya hakekat yang demikian tersebut, maka se-mua orang akhirnya tidak puas dengan kebahagiaan yang sifatnya hanya sementara atau keba-hagiaan yang masih diselingi dengan penderitaan. Akhirnya, mereka lalu mengarahkan tujuan hidup mereka kepada suatu tujuan akhir, yaitu suatu kebahagiaan yang abadi. Tetapi, yang di-namakan kebahagiaan akhir yang abadi ini, dalam setiap ajaran dari berbagai agama yang ada di dunia ini, ternyata juga sangat berbeda-beda.&lt;br /&gt;            Nah, Sdr/i seDhamma, berdasarkan atas hal-hal tadi itulah, dan supaya kita dapat lebih jelas lagi mengetahui apa pengertian kebahagiaan dan penderitaan ini, maka pada hari ini kita bersama-sama membahas petikan dari Kitab Suci Avguttaranikaya Dukanipata ayat 101, yang isinya membahas tentang pengertian kebahagiaan dan penderitaan. Sdr/i sekalian, menurut isi dari petikan kitab suci ini, kebahagiaan (atau yang dalam bahasa Pali disebut ‘Sukha’), dibagi menjadi dua macam, yaitu kebahagiaan jasmaniah (Kayika-sukha) dan kebahagiaan batin (Cetasika-sukha). Pengertian dari kebahagiaan jasmaniah adalah kebahagiaan yang diukur berdasarkan indera-indera jasmani. Artinya yaitu, apabila badan jasmani kita ini berada dalam keadaan sehat, tidak sedang terganggu oleh rasa lapar dan haus, dan tidak sedang menderita penyakit-penyakit organ tubuh lainnya, maka hal itu dikatakan sedang berada dalam suatu kondisi kebahagiaan. Inilah yang dimaksud dengan kebahagiaan jasmaniah. Sedangkan yang dimaksud dengan kebahagiaan batin (Cetasika-sukha), merupakan hasil dari sebab-sebab yang ada di dalam batin. Artinya yaitu, apabila pikiran kita sedang terserap di dalam kegembiraan, yang disebabkan apakah karena terpenuhinya keinginan-keinginan indera kita, atau karena te-lah melakukan suatu perbuatan baik, atau bahkan karena kegiuran yang timbul dari Pandang-an Terang, maka hal itu dikatakan bahwa batin berada di dalam keadaan kebahagiaan. Inilah yang dimaksud dengan kebahagiaan batin.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, setelah kita mengetahui tentang dua macam kebahagiaan tadi, yang ten-tunya penjelasan tersebut belumlah cukup, maka kita akan membahas lebih lanjut petikan dari kitab suci tadi yang ternyata juga menjelaskan adanya pengertian lain dari kebahagiaan (su-kha) ini. Di sana disebutkan bahwa pengertian lain dari kebahagiaan ini juga dibagi menjadi dua bagian yaitu : 1. Kebahagiaan dengan mata kail berumpan, atau kebahagiaan yang berma-ta kail (Samisa-sukha) dan 2. Kebahagiaan tanpa mata kail berumpan (Niramisa-sukha).&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, yang dimaksud dengan kebahagiaan dengan mata kail berumpan yaitu kebahagiaan yang timbul karena terpenuhinya keinginan-keinginan kesenangan indera kita, atau dapat juga dikatakan kebahagiaan yang berdasarkan pada obyek-obyek luar, yaitu benda-benda atau materi. Disebut dengan kebahagiaan mata kail berumpan karena kebahagiaan se-macam ini berhubungan dengan kemelekatan dan bila demikian, pasti memiliki keburukan-keburukan yang tersembunyi, misalnya kesedihan, ratap tangis, dan sebagainya apabila keba-hagiaannya tadi sudah padam. Dan, arti yang lebih dalam dari kebahagiaan dengan mata kail berumpan ini, menurut kitab komentar yaitu, kebahagiaan yang menjadikan seseorang tengge-lam di dalam arus roda perputaran kelahiran dan kematian (samsara) dengan penderitaan yang tidak dapat dipisahkan, bagaikan mata kail berumpan tadi. Demikianlah yang dimaksud de-ngan kebahagiaan mata kail berumpan.&lt;br /&gt;            Sdr/i, selanjutnya adalah tentang kebahagiaan tanpa mata kail berumpan (Niramisa-su-kha). Yang dimaksud dengan hal ini yaitu kebahagiaan yang timbul dari perasaan-perasaan keagamaan, seperti misalnya kegiuran dan pandangan terang atau peninggalan kesenangan-kesenangan indera. Dan menurut kitab komentar, kebahagiaan tanpa mata kail berumpan ini adalah kebahagiaan yang memungkinkan seseorang untuk dapat menghancurkan roda perpu-taran kelahiran dan kematian, yang memberikan padanya suatu pandangan terang di atas ke-duniawian. Demikianlah yang dimaksud dengan kebahagiaan tanpa mata kail berumpan.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, selanjutnya, setelah kita mengenal dan mengerti tentang jenis dan pembagian dari kebahagiaan, marilah sekarang kita juga melihat pembagian dari masalah pen-deritaan. Menurut isi dari petikan Kitab Suci Avguttaranikaya Dukanipata, penderitaan juga dibagi menjadi dua macam, yaitu penderitaan jasmaniah (Kayika-dukkha) dan penderitaan ba-tiniah (Cetasika-dukkha). Yang dimaksud dengan penderitaan jasmaniah di sini yaitu berla-wanan artinya dengan kebahagiaan jasmaniah seperti yang telah dijelaskan tadi. Jadi, arti dari penderitaan jasmaniah di sini yaitu menyatakan pada kondisi jasmani yang sedang terganggu oleh penyakit, rasa lapar atau haus, atau juga sewaktu sedang terganggu oleh unsur-unsur yang merangsang seperti panas dan dingin yang luar biasa. Itulah yang dimaksud dengan pen-deritaan jasmaniah. Dan selanjutnya marilah kita bahas tentang penderitaan batiniah. Yang di-maksud dengan penderitaan batiniah yaitu penderitaan yang disebabkan oleh kesedihan, duka cita, kekecewaan, ratap tangis, penyesalan, dan sebagainya. Itulah yang dimaksud dengan penderitaan batiniah.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, demikianlah pembahasan tentang jenis-jenis penderitaan, tetapi, seperti halnya pada pembahasan tentang kebahagiaan tadi, ternyata pembahasan tentang penderitaan ini juga belum cukup jika hanya sampai sekian saja. Di dalam petikan kitab suci tadi juga ma-sih ada pembahasan selanjutnya tentang penderitaan ini yaitu tentang pengertian lain dari pen-deritaan. Pengertian lain dari penderitaan (Dukkha) ini juga dibagi menjadi dua macam, yaitu 1. Penderitaan dengan mata kail berumpan (Samisa-dukkha) dan 2. Penderitaan tanpa mata kail berumpan (Niramisa-dukkha).&lt;br /&gt;            Sdr/i, pengertian dari penderitaan dengan mata kail berumpan ini berlawanan dengan pengertian tentang kebahagiaan dengan mata kail berumpan seperti yang telah dijelaskan tadi. Jadi, yang dimaksud dengan penderitaan mata kail berumpan (Samisa-dukkha) ini yaitu pen-deritaan yang timbul karena padamnya obyek-obyek kesenangan indera. Hal ini mungkin da-pat berupa penderitaan jasmaniah seperti misalnya terserang penyakit, terluka, kematian, atau dapat juga berupa penderitaan batin batiniah seperti misalnya kesedihan, duka cita, penyesal-an, dan sebagainya sebagai akibat dari padamnya obyek-obyek kesenangan indera. Itulah yang dimaksud dengan penderitaan mata kail berumpan. Jadi, maksudnya yang jelas yaitu, de-ngan padamnya obyek-obyek kesenangan indera ini, lalu muncullah penderitaan sebagai aki-bat selanjutnya. Jadi, berlawanan dengan terpenuhinya keinginan-keinginan indera, baru mun-cul penderitaan.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, selanjutnya adalah pembahasan yang kedua, yaitu penderitaan tanpa mata kail berumpan (Niramisa-dukkha). Yang dimaksud dengan penderitaan tanpa mata kail berumpan yaitu penderitaan yang timbul dari suatu usaha untuk berbuat baik, seperti misalnya adanya kesukaran-kesukaran, gangguan-gangguan, kesakitan, bahkan juga bahaya-bahaya lain yang timbul sewaktu melaksanakan Sila (kemoralan), sewaktu mempraktikkan meditasi, dan sebagainya. Jadi, untuk lebih jelasnya dalam hal ini yaitu, orang atau makhluk tersebut cukup menderita atau mengalami gangguan-gangguan ketika sedang menjalankan Sila atau meditasi-nya. Tetapi, akibat yang diperoleh dari hal itu bukanlah merupakan penderitaan. Oleh sebab itu, hal ini dikatakan sebagai penderitaan yang tanpa mata kail berumpan. Jadi Sdr/i sekalian, sekali lagi supaya lebih jelas, bahwa yang dimaksud dengan mata kail berumpan di sini yaitu menyebabkan timbulnya penderitaan bagi kita, sedangkan tanpa mata kail berumpan adalah yang tidak menyebabkan penderitaan bagi kita selanjutnya.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, demikianlah tadi penjelasan dari isi petikan Kitab Suci Avguttaranikaya Dukanipata ayat 101 tentang kebahagiaan dan penderitaan, yang secara keseluruhan semua ada 4 macam, yaitu:&lt;br /&gt;1.   Kebahagiaan dengan mata kail berumpan, atau kebahagiaan tetapi yang dapat menimbul-kan penderitaan.&lt;br /&gt;2.   Kebahagiaan tanpa mata kail berumpan, atau kebahagiaan yang tidak menimbulkan pen-deritaan.&lt;br /&gt;3.   Penderitaan dengan mata kail berumpan, atau penderitaan yang dapat menyebabkan tim-bulnya penderitaan juga.&lt;br /&gt;4.   Penderitaan tanpa mata kail berumpan, atau penderitaan tetapi yang tidak menyebabkan timbulnya penderitaan selanjutnya.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian, demikianlah tadi uraian Dhamma tentang penderitaan dan kebahagiaan yang diambil dari Kitab Suci Avguttaranikaya Dukanipata ayat 101, semoga de-ngan mengertinya kita terhadap ajaran tersebut, akan tampak semakin jelaslah tujuan akhir ki-ta tentang apa dan bagaimana yang dimaksud dengan kebahagiaan kekal yang sesungguhnya, sehingga kita sebagai umat Buddha sudah tidak salah pandangan lagi tentang maksud dari ke-bahagiaan yang kekal itu. Demikianlah uraian dan pembahasan Dhamma kita pada hari ini, semoga dengan bertambahnya pengertian kita tersebut, dapat membahagiakan diri kita sendiri dan juga semua makhluk.&lt;br /&gt;Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia!&lt;br /&gt;Sadhu! Sadhu! Sadhu!&lt;br /&gt;____________________&lt;br /&gt;Buku Acuan:&lt;br /&gt;Vajirananavarorasa, Dhamma Vibhaga. C.V. Lovina Indah. Jakarta, hal. 23 – 26.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibacakan pada tanggal:&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-1386709704831625130?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/1386709704831625130/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=1386709704831625130' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/1386709704831625130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/1386709704831625130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/03/kebahagiaan-dan-penderitaan.html' title='KEBAHAGIAAN DAN PENDERITAAN'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-1363241019439802497</id><published>2008-03-10T18:52:00.000-07:00</published><updated>2008-03-10T18:53:07.334-07:00</updated><title type='text'>KARMA MENURUT AKIBATNYA</title><content type='html'>KARMA  MENURUT  KEKUATANNYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammä Sambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;KALYÄNAKÄRÍ  KALYÄNAÇ  PÄPAKÄRÍ  CA  PÄPAKAÇ.&lt;br /&gt;Barang siapa berbuat baik akan menerima akibat yang baik, dan barang siapa berbuat jahat akan menerima akibat yang buruk.&lt;br /&gt;                                                                             Khuddakanikäya Jätaka Dukanipäta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah membaca Paritta dan bermeditasi, marilah sekarang kita pusatkan perhatian dan konsentrasi kita guna mengadakan pembahasan dan pe-renuntan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Karma Menurut Kekuatannya’. Sekali lagi, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Karma Menurut Keku-atannya’, di mana makalah ini juga bisa merupakan lanjutan dari makalah yang lalu, yaitu masih berkenaan dengan Hukum Kamma.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, pembagian karma menurut kekuatannya adalah salah satu pembahasan pembagian karma yang disusun oleh Buddhaghosa dalam Visuddhi Magga. Pembagian kar-ma oleh Buddhaghosa ini juga didasarkan pada kata-kata Sang Buddha yang tersebar dalam Kitab Suci Tipitaka. Secara keseluruhan, pembagian karma yang disusun oleh Buddhaghosa ini adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Karma menurut jangka waktu berbuahnya.&lt;br /&gt;2. Karma menurut kekuatannya.&lt;br /&gt;3. Karma menurut fungsinya.&lt;br /&gt;Masing-masing golongan tadi terdiri dari empat macam, dan bila disatukan seluruhnya ada duabelas macam, sehingga semuanya itu kadang-kadang disebut ‘duabelas karma’. Keduabe-las karma ini dapat bersifat baik (kusala) dan dapat bersifat buruk (akusala).&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian, pada pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini, yaitu tentang karma menurut tingkat kekuatannya dalam menghasilkan akibat, ternyata dapat kita ketahui bahwa golongan karma yang menurut kekuatannya ini terdiri dari empat macam. Hal ini akan dijelaskan satu persatu, yaitu sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Garuka Kamma, adalah karma yang paling berat bobotnya di antara semua karma lainnya. Dan, karena sifatnya yang amat kuat, maka karma semacam ini akan masak terlebih dahulu daripada karma-karma yang lainnya. Selama karma ini menghasilkan akibatnya, maka tidak akan ada karma lainnya yang berkesempatan untuk menghasilkan akibatnya (menjadi masak) pada saat itu. Sebagai suatu perbandingan, dapatlah kita umpamakan dengan seseorang yang menjatuhkan berbagai macam benda, misalnya batu, kayu, karton, dan bulu ayam. Maka, da-lam hal ini, tentu saja batu yang dijatuhkan akan sampai ke tanah terlebih dahulu, baru ke-mudian diikuti dengan sepotong kayu, karton, dan akhirnya bulu ayam. Garuka Kamma, di-tinjau dari seginya yang buruk (akusala), adalah melakukan salah satu atau lebih dari lima macam perbuatan yang paling jahat, yaitu:&lt;br /&gt;1. Membunuh ibu sendiri.&lt;br /&gt;2. Membunuh ayah sendiri.&lt;br /&gt;3. Membunuh orang yang telah mencapai kesucian sempurna, yaitu Arahat.&lt;br /&gt;4. Melukai tubuh seorang Buddha.&lt;br /&gt;5. Menyebabkan perpecahan dalam persaudaraan para bhikkhu (Saégha).&lt;br /&gt;Kelima macam perbuatan ini dikatakan sebagai karma yang paling buruk di antara semua karma lainnya. Seseorang yang telah melakukan salah satu di antara kelima macam perbuat-an di atas tadi, maka dalam hidupnya yang sekarang ini ia tidak akan dapat memahami Kebe-naran Mutlak, karena ia sendirilah yang telah menciptakan rintangan bagi pencapaiannya itu. Selain itu, setelah kematiannya, maka ia akan terlahir kembali dalam alam neraka yang pa-ling mengerikan, yaitu ‘niraya avici’. Contoh dari akusala garuka kamma adalah perbuatan yang dilakukan oleh Raja Ajatasattu, dan juga perbuatan yang dilakukan oleh Devadatta yang hidup pada masa Sang Buddha.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, dalam Samannaphala Sutta diterangkan bahwa Raja Ajatasattu setelah mendengar uraian Sutta ini, menyatakan penyesalannya kepada Sang Buddha atas perbuatan salah yang telah dilakukannya yaitu membunuh ayahnya sendiri. Raja Ajatasattu berkata de-mikian:”Bhante, aku mengaku telah melakukan perbuatan salah; telah begitu bodoh, lemah, dan jahatnya aku sehingga karena menginginkan tahta kerajaan, aku sampai membunuh ayah ku sendiri, seorang raja yang setia pada kebenaran, manusia kebenaran’. Nah, sehubungan dengan pengakuan Raja Ajatasattu tentang perbuatannya itu, di dalam Samannaphala Sutta, Digha Nikäya, disebutkan bahwa Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu demikian:”Para bhikkhu, seandainya sang raja tidak membunuh ayahnya … pastilah mata Dhamma (Dham-macakkhu) yang bersih tanpa noda akan timbul dalam dirinya”.&lt;br /&gt;            Sdr/i, akhirnya, setelah bertemu dan mendengar Sutta ini, Raja Ajatasattu melakukan banyak sekali perbuatan baik. Ia berusaha dengan segenap kemampuan untuk mengimbangi kejahatan yang telah dilakukan itu dengan mengembangkan kebajikan. Dipupuknyalah keya-kinannya yang benar terhadap Sang Tiratana: Buddha, Dhamma, dan Ariya Saégha. Dengan penuh ketulusan ia senantiasa menyokong kebutuhan hidup para bhikkhu. Lebih daripada itu, Raja Ajatasattu memberikan andil yang sangat berharga yaitu mensponsori dalam penye-lenggaraan Saéghasamaya pertama di Rajagaha untuk menghimpun dan merangkum ajaran murni Sang Buddha Gotama. Namun, walaupun banyak perbuatan baik (kusala kamma) yang dilakukannya, ia tetap harus melunasi akibat kejahatannya, yaitu meninggal karena dibu nuh oleh putranya sendiri yang bernama Udayibhadda yang dulu lahir tepat pada hari ke-mangkatan ayahnya. Raja Ajatasattu terlahir di alam Niraya Lohikumbhiya dan nenurut Di-gha Nikäya Atthakatha, ia akan berada di alam niraya tersebut selama 60.000 tahun, dan ke-lak ia akan menjadi seorang Pacceka Buddha yang bernama Viditavisesa.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian, sedangkan Devadatta adalah saudara dari Yasodhara yang menjadi isteri Pangeran Siddharta. Ketika Sang Buddha mengunjungi Kapilavatthu dan me-ngajarkan Dhamma kepada Suku Sakya, Devadatta bersama Ananda, Bhagu, Anurudha, Upali, dan lain-lainnya ditahbiskan menjadi bhikkhu. Setelah menjadi bhikkhu selama satu vassa (masa musim hujan), Devadatta memiliki ‘iddhividha’ atau kemampuan batin fisik, yang dapat mengubah dirinya seperti anak kecil yang dilingkari oleh banyak ular. Namun, Devadatta memiliki keinginan jahat yaitu mau mengganti kedudukan Sang Buddha sebagai kepala atau pimpinan para bhikkhu (Saégha). Ketika keinginan jahat itu muncul dan mengu-asai pikiran Devadatta, maka kemampuan iddhividhanya langsung lenyap. Tetapi, karena nafsu keinginannya terlalu kuat, ia memecah belah Saégha. Para bhikkhu yang bodoh ada yang mengikuti Devadatta dan mengakui dia sebagai pimpinan Saégha. Dorongan niat jahat-nya lebih berkobar dengan rencananya untuk membunuh Sang Buddha. Devadatta pergi ke sebuah bukit, menyiapkan batu besar dan menunggu Sang Buddha yang akan lewat di bawah bukit tersebut. Demikianlah, ketika Sang Buddha lewat di bawah bukit, dengan sekuat tena-ga Devadatta menggulingkan batu besar itu ke bawah. Sang Buddha tidak tertimpa oleh batu besar itu, namun ada serpihan batu yang mengenai ibu jari kaki Beliau dan mengakibatkan jari kaki Beliau berdarah. Devadatta pergi, dan tidak berapa lama kemudian Devadatta sakit. Ketika ia menyadari bahwa kematiannya telah dekat, Devadatta meminta pengikutnya untuk mengusung dia dan membawanya menghadap kepada Sang Buddha. Ketika Devadatta sam-pai pada suatu tempat tertentu, para pengusungnya tidak sanggup memikulnya lagi karena ja-lan yang dilalui sulit didaki. Devadatta turun dari usungan, namun ketika kakinya menyentuh tanah, ia langsung ditelan bumi dan meninggal. Setelah meninggal ia langsung terlahir kem-bali di alam neraka Avici.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, Devadatta ditelan oleh bumi maupun ia terlahir di alam neraka Avici adalah diakibatkan oleh akusala garuka kamma atau kamma buruknya yang hebat. Namun, dalam Dhammapada Attakatha dikatakan bahwa karena Devadatta pernah pula berbuat baik, antara lain pernah menjadi bhikkhu, maka kelak di kemudian hari ia akan menjadi seorang Pacceka Buddha.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, pada segi yang baiknya (kusala), garuka kamma menyatakan pada de-lapan macam pencapaian tingkat samadhi, yaitu empat tingkat Rupa Jhäna dan empat tingkat Arupa Jhäna.&lt;br /&gt;            Pembahasan selanjutnya yaitu Bahula Kamma, adalah karma yang sering berulang-ulang kali dilakukan oleh seseorang melalui saluran badan jasmani, ucapan, dan pikiran, se-hingga tertimbun dalam wataknya. Contoh dari karma seperti ini adalah mereka yang hidup sebagai tukang jagal, nelayan, petani, olahragawan, penari, pencopet, sopir, dan sabagainya. Karma kebiasaan ini akan memberikan akibatnya terlebih dahulu apabila seseorang tidak me-lakukan garuka kamma.&lt;br /&gt;            Sdr/i, pembahsan jenis yang ketiga adalah yang disebut Asanna Kamma, yaiut karma yang dibuat oleh seseorang pada saat menjelang kematian, atau dapat pula berupa perbuatan-perbuatan yang dahulu pernah dilakukan semasa hidupnya (yaitu perbuatan melalui pikiran atau batin) yang ia ingat kembali dengan amat jelas pada saat ia berada di ambang pintu ke-matian. Namun, sesungguhnya karma macam ini amatlah ditentukan oleh sifat dari kebiasaan seseorang. Bila seseorang telah berbuat jahat untuk waktu yang lama, maka hanya sedikit se-kali kemungkinan baginya untuk mempunyai asanna kamma yang baik. Sebaliknya, seseo-rang yang telah terbiasa berbuat bajik semasa hidupnya, maka sedikit sekali kemungkinan-nya untuk memiliki asanna kamma yang jelek. Menurut agama Buddha, karma ini sangat menentukan jenis kelahiran mendatang dari orang yang sedang berada di ambang pintu kema tian, yaitu apakah ia akan dilahirkan kembali dalam alam sengsara atau dalam alam bahagia, tergantung pada karma ini.&lt;br /&gt;            Misalnya Sdr/i, suatu contoh yang sebenarnya jarang terjadi, seseorang yang biasa berbuat jahat dan pada saat kematiannya ia teringat akan beberapa perbuatan baiknya yang pernah ia lakukan; kemudian ia mati dengan pikiran yang berdiam pada ingatan akan perbu-atan baiknya itu, maka ia akan terlahir kembali dalam alam bahagia karena kekuatan asanna kammanya itu. Namun, meskipun demikian, ia tidak dapat lama menikmatinya dan segera akan disusul dengan akibat-akibat buruk dari perbuatan-perbuatan jahatnya yang telah ia laku kan sepanjang masa hidupnya yang lampau. Berkenaan dengan hukum kamma macam ini, Sang Buddha telah mengumpamakan dengan sekumpulan sapi yang berada di sebuah kan-dang tertutup. Sapi yang berada di ambang pintu pasti yang akan keluar terlebih dahulu apa-bila pintunya dibuka betapapun tua dan lemahnya sapi itu. Namun, tidak lama kemudian, sa-pi-sapi yang kuat akan dapat segera menyusul dan meninggalkannya di belakang.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, jenis keempat dari penggolongan kamma menurut bobotnya adalah yang disebut Kattata Kamma. Kattata kamma adalah suatu perbuatan yang dilakukan berdasarkan kehendak tertentu, dan perbuatan ini dilakukan hanya sekali saja atau beberapa kali namun bukan perbuatan yang dilakukan terus menerus seperti pada Bahula atau Acinna kamma. Dengan kata lain, semua perbuatan yang tidak termasuk klasifikasi Garuka kamma, Bahula atau Acinna kamma, serta Asanna kamma, adalah dikelompokkan dalam Kattata kamma ini.&lt;br /&gt;            Untuk jelasnya, misalnya ada seseorang yang memberikan dana makanan kepada orang lain, dan perbuatan ini dilakukannya hanya sekali atau dua kali sebulan dengan waktu yang tidak tetap. Begitu pula dengan orang lain yang melakukan perbuatan salah seperti membunuh, mencuri, berzinah, berdusta, dan perbuatan-perbuatan jahat lainnya yang dilaku-kan hanya sekali atau beberapa kali saja. Semua perbuatan positif atau negatif tersebut di atas ini dikelompokkan dalam Kattata kamma.&lt;br /&gt;            Sdr/i, Kattata kamma ini digolongkan sebagai karma yang paling lemah di antara se-mua karma yang lainnya dan akan memberikan akibatnya apabila karma lainnya tidak ada. Sebagai contoh mengenai Kattata kamma ini misalnya ada seorang petani yang melemparkan batu ke arah sekumpulan burung yang memakan padinya. Tujuannya hanyalah untuk meng-usir burung-burung itu, dan bukan untuk membunuh mereka. Namun, ternyata batu itu me-ngenai kepala seekor itik yang berada di sekitar tempat itu sehingga akibatnya itik tersebut mati. Dalam hal ini, karma petani itu digolongkan sebagai Kattata kamma. Dalam kasus-ka-sus semacam ini, karma tidak dapat dinilai semata-mata hanya berdasarkan atas ukuran aki-bat-akibatnya saja, tetapi motif atau kehendak yang berada di belakang perbuatan itu juga harus dipertimbangkan. Oleh sebab itu, Kattata kamma hanya memiliki kemampuan yang amat kecil bila dibandingkan dengan karma-karma lain dalam menghasilkan akibatnya.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah pembahasan dan perenungan Dham-ma kita pada hari ini yang berjudul ‘Karma Menurut Kekuatannya’. Dan, bagi Sdr/i yang masih belum jelas, dapat membahasnya kembali setelah selesainya kebaktian ini. Terima kasih!&lt;br /&gt;Sabbe sattä bhavantu sukhitattä, semoga semua makhluk berbahagia!&lt;br /&gt;Sädhu! Sädhu! Sädhu!&lt;br /&gt;____________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibacakan pada tanggal:&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-1363241019439802497?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/1363241019439802497/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=1363241019439802497' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/1363241019439802497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/1363241019439802497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/03/karma-menurut-akibatnya.html' title='KARMA MENURUT AKIBATNYA'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-5784068788468583326</id><published>2008-03-10T18:51:00.002-07:00</published><updated>2008-03-10T18:52:14.256-07:00</updated><title type='text'>JENIS-JENIS MAKHLUK</title><content type='html'>JENIS-JENIS  MAKHLUK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammä Sambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;NATTHI  KHANDASAMÄ  DUKKHÄ.&lt;br /&gt;Tiada penderitaan yang menyamai kelompok kehidupan (khandha).&lt;br /&gt;                                             Khuddakanikäya Dhammapadagäthä.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian yang berbahagia, setelah kita bersama-sama membaca Parit ta dan bermeditasi sejenak, maka marilah sekarang kita isi kebaktian kita ini dengan pemba-hasan dan perenungan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Jenis-jenis Makhluk Menurut Pandangan Buddha Dhamma’. Jadi sekali lagi, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini adalah ‘Jenis-jenis Makhluk Menurut Pandangan Buddha Dhamma’.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, bila beberapa minggu yang lalu kita sudah membahas bersama-sama tentang sesuatu yang disebut sebagai makhluk, lalu tentang ciri-cirinya, tentang darimana asalnya, dan sebagainya, yang ditinjau secara ilmu pengetahuan dan secara Buddha Dham-ma, maka pada hari ini kita akan melanjutkan pembahasan tentang jenis-jenis makhluk terse-but yang juga ditinjau dari sudut ilmu pengetahuan dan dari sudut Buddha Dhamma.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, menurut pandangan ilmu pengetahuan, semua organisme hidup di-bagi dalam dua bagian besar, yaitu dunia tanaman dan dunia hewan atau yang biasa disebut dengan istilah Flora dan Fauna. Dunia tanaman ini dibagi lagi dalam beberapa kelompok be-sar (divisio) yaitu sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.  Thallophyta, yaitu tanaman yang paling sederhana. Tidak mempunyai akar, batang, dan daun yang sebenarnya. Contoh dari hal ini yaitu ganggang dan jamur.&lt;br /&gt;2.  Briophyta, adalah kelompok tanaman dengan daun-daun yang sederhana dan mempunyai bagian-bagian yang menyerupai akar dan batang, misalnya tumbuhan lumut.&lt;br /&gt;3.  Pteridophyta, adalah kelompok tingkatan tanaman yang lebih maju lagi, yaitu sudah mem-punyai akar, batang, dan daun yang sebenarnya. Hanya saja cara berkembangbiaknya be-lum menggunakan biji tetapi masih dengan spora.&lt;br /&gt;4.  Spermatophyta, adalah kelompok tanaman yang paling maju tingkatannya, yaitu sudah berkembangbiak dengan biji dan juga mempunyai sistem perakaran yang luas untuk menyerap air dan mineral-mineral.&lt;br /&gt;Demikianlah pembagian besar dalam kelompok tanaman, sedangkan dalam kelompok hewan juga terdapat pembagian besar yang demikian, yaitu hewan yang tidak mempunyai tulang punggung belakang dan yang mempunyai tulang punggung belakang. Pembagian ini pun ju-ga masih dikelompokkan lagi dari yang paling sederhana misalnya saja Protozoa atau bina-tang bersel satu sampai dengan kelompok mamalia atau binatang yang menyusui. Hanya saja hal-hal tersebut tidak dapat kami uraikan semua di sini karena kurang bermakna. Pokoknya, yang penting kita tahu bahwa di dalam dunia ilmu pengetahuan, maka yang disebut makhluk atau organisme hidup itu, juga dikelompokkan dari yang paling sederhana susunannya sam-pai yang paling tinggi tingkatannya. Sekarang, bagaimanakah dengan pengelompokan makh-luk menurut pandangan Buddha Dhamma? Apakah prinsipnya juga demikian?&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, ternyata pembagian makhluk menurut pandangan Buddha Dhamma prinsipnya adalah juga demikian, yaitu ada tingkatan makhluk yang paling menderita batin-nya sampai pada tingkatan makhluk yang paling sempurna batinnya. Hanya saja, perlu dike-tahui bahwa yang dimaksud makhluk menurut pandangan Buddha Dhamma ini sangat berbe-da dengan pandangan ilmu pengetahuan. Kalau menurut pandangan ilmu pengetahuan, maka yang disebut makhluk yaitu mencakup tumbuh-tumbuhan, manusia, dan hewan; sedangkan menurut pandangan Buddha Dhamma, secara umum yang disebut makhluk yaitu semua yang memiliki Pañcakkhandha atau lima kelompok kehidupan. Jadi, dalam hal ini tumbuh-tumbuhan tidak termasuk makhluk karena tumbuh-tumbuhan tidak mempunyai Pañcakkhan-dha. Dan, tentang Pañcakkhandha ini, kiranya sudah tidak perlu lagi diuraikan di sini karena sudah sangat sering kita bahas.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, jadi sekali lagi, yang disebut makhluk menurut pandangan Buddha Dhamma adalah terdiri dari perpaduan unsur-unsur lima kelompok kehi-dupan yang selalu berproses. Oleh sebab itu, yang terlahir di alam-alam kehidupan adalah Pañcakkhandha ini, dan yang mati di alam-alam kehidupan adalah juga Pañcakkhandha ini. Dan selanjutnya, dikatakan bahwa lima kelompok kehidupan tersebut adalah dukkha dan dukkha itulah lima kelompok kehidupan. Jadi, yang namanya makhluk adalah Pañcakkhan-dha yang masih terkena dukkha, dan apabila diringkas, maka Pañcakkhandha ini cukup dise-but sebagai Näma dan Rìpa atau batin dan jasmani. Menurut Buddha Dhamma, makhluk-makhluk yang berdiam di 31 alam kehidupan itu, secara rinci, yaitu menurut keadaan dari perkembangan batin makhluk tersebut, dibagi atau dikelompokkan dalam 12 macam. Namun Sdr/i seDhamma sekalian, sebelum kita lanjutkan dengan pembahasan dari 12 macam makh-luk ini, maka terlebih dahulu harus kita mengerti tentang keadaan batin seseorang bila ditin-jau dari segi kadar kekotoran batinnya.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, sebagai umat Buddha yang sudah sering ke vihara dan sudah sering belajar Dhamma, tentu kita semua sudah tahu bahwa ada 6 akar perbuatan yang terdiri dari 3 akar perbuatan jahat dan 3 akar perbuatan baik. 3 akar perbuatan jahat ini yaitu Lobha (kese-rakahan), Dosa (kebencian), dan Moha (kegelapan batin); sedangkan 3 akar perbuatan baik yaitu Alobha (tidak serakah), Adosa (tidak benci), dan Amoha (tidak bodoh atau bijaksana). Sdr/i sekalian, 6 akar perbuatan ini juga dapat kita sebut sebagai 6 hetu, yaitu 3 kusala hetu atau 3 akar yang baik dan 3 akusala hetu atau 3 akar yang tidak baik. Tetapi, untuk istilah se-lanjutnya nanti, kusala hetu cukup disebut dengan sebutan hetu saja. Jadi, yang dimaksud hetu di sini adalah kusala hetu tersebut.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, hetu-hetu inilah yang membuat seseorang terlahirkan dengan kon-disi yang tidak sama. Karena, seperti telah kita ketahui, bahwa manusia ini rata-rata masih memiliki Moha di dalam diri mereka, walaupun kadar moha mereka tersebut berbeda-beda. Tetapi, selama masih ada Moha, maka Lobha dan Dosa akan tetap muncul. Ini harus kita sa-dari, bahwa selama masih ada Moha, maka Lobha dan Dosa akan tetap muncul. Sedangkan Moha ini akan tetap ada sebelum seseorang mencapai tingkat kesucian Arahat. Jadi sekali la-gi Sdr/i sekalian, hetu-hetu inilah yang bisa membuat seseorang terlahirkan dengan kondisi yang tidak sama.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, seperti telah kita ketahui, bahwa kondisi pikiran seseorang sebelum kematian, adalah yang paling menentukan seseorang itu akan terlahirkan kembali di alam apa dan dalam kondisi yang bagaimana. Jadi, kondisi pikiran seseorang sebelum meninggal ini sangat penting dan harus dijaga supaya sebelum meninggal selalu berada dalam kondisi pi-kiran yang baik agar nanti dapat terlahir kembali dengan kondisi yang baik pula. Kalau pada saat-saat menjelang kematian, dalam pikiran orang itu timbul Lobha, Dosa, dan Moha, maka otomatis pada saat itu pula dalam pikirannya tidak ada Alobha, Adosa, dan Amoha yang tim-bul. Mengapa demikian? Karena, dalam satu saat atau satu moment kesadaran, hanya bisa muncul satu macam obyek pikiran. Jadi, kalau pada saat itu dalam pikiran orang tersebut timbul Lobha, Dosa, dan Moha, maka otomatis pada saat itu juga dalam pikirannya tidak akan muncul Alobha, Adosa, dan Amoha. Akibatnya, dia berada dalam keadaan yang tidak tenang, sehingga kalau dia terlahirkan kembali, maka dia disebut sebagai ‘yang dilahirkan dengan kondisi Ahetuka’, atau yang dilahirkan dengan kondisi tidak mempunyai akar yang baik, atau bisa juga disebut terlahirkan dengan tidak mempunyai hetu yang baik. Jadi, dia terlahirkan dengan tanpa hetu atau ‘Ahetuka’. Dan, orang atau makhluk yang terlahirkan da-lam kondisi seperti ini, yaitu kondisi Ahetuka, maka dia akan terlahir kembali di alam-alam rendah seperti alam neraka, setan, asura, dan binatang; atau bisa juga terlahir sebagai manu-sia cacat, baik itu cacat pisik maupun cacat mental.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, selanjutnya, kalau menjelang kematian, dalam pikirannya tidak mun-cul Lobha dan Dosa, tetapi masih ada Moha meskipun munculnya tidak bersama-sama de-ngan Alobha dan Adosa. Jadi sekali lagi, pokoknya tidak muncul Lobha dan Dosa, meski-pun masih ada Moha, maka dia akan terlahirkan dengan memiliki dua akar atau dua hetu yai-tu Alobha hetu dan Adosa hetu. Hal ini disebut terlahirkan dengan ‘Dvihetuka’. Dvi artinya dua dan hetu artinya akan. Nah, bila terlahirkan dalam kondisi Dvihetuka ini, dia bisa terla-hirkan sebagai manusia normal atau dewa tingkat rendah. Hanya saja, dalam kondisi demiki-an ini masih susah untuk mencapai tingkat-tingkat kesucian atau mencapai tingkat-tingkat Jhäna dalam kehidupan sekarang.&lt;br /&gt;            Selanjutnya lagi, Sdr/i seDhamma, kalau pikiran menjelang kematian tidak ada Lo-bha, Dosa, dan Moha; atau dapat dikatakan, pada saat itu pikirannya dalam kondisi Alobha, Adosa, dan Amoha; misalnya saja dia sadar (mengerti) tentang tidak adanya ‘roh’ atau ‘aku’ dan yang ada hanyalah Pañcakkhandha yang selalu berproses; dia memahami betul makna Anicca, dan sebagainya, maka dia dikatakan terlahirkan dengan kondisi Tihetuka atau terla-hirkan dengan tiga hetu. Bila terlahirkan dalam kondisi Tihetuka ini, maka kalau dia seka-rang berusaha dengan sungguh-sungguh, misalnya kalau dia melakukan samatha bhavana, maka dia bisa mencapai jhäna-jhäna; dan bila dia melakukan vipassana bhavana, maka dia bisa mencapai tingkat-tingkat kesucian.&lt;br /&gt;            Jadi Sdr/i sekalian, hendaknya sekarang kita tahu bahwa di dalam diri kita ini ada 6 hetu atau 6 akar perbuatan, yang bisa menentukan tingkatan batin kita selanjutnya. Dan, 6 hetu ini akan muncul atau akan terjadi bila dikondisikan dengan kondisi-kondisi yang tepat, dan munculnya juga selalu berganti-ganti atau susul menyusul. Tetapi, pada waktu susul me-nyusul itu, misalnya pada waktu adanya Alobha, Adosa, dan Amoha, bukan berarti lalu dia sudah tidak punya Lobha, Dosa, dan Moha lagi. Bukan demikian. Jadi, dia hanya dilahirkan dengan akan kebaikan yang kuat karena akar kejahatannya pada saat itu sedang tidak mun-cul. Sdr/i sekalian, memang, kalau sesuatu dilakukan dengan cetana yang begitu kuat, maka pada saat menjelang kematian hal itu bisa muncul atau teringat kembali, sehingga dia terlahir kan lagi sesuai dengan kondisi pikirannya pada saat menjelang kematian tersebut.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, setelah kita membahas tentang 6 hetu ini, maka marilah sekarang kita membahas tentang 12 macam makhluk menurut pandangan Buddha Dhamma, walaupun se-cara ringkas. Ke 12 macam makhluk ini pembagiannya ditinjau berdasarkan perkembangan batinnya. Ke 12 macam makhluk tersebut yaitu sebagai berikut:&lt;br /&gt;  1. Dugati Ahetuka Pugala, yaitu makhluk ‘tanpa akar’ dan ‘yang menyedihkan’; misalnya makhluk neraka, setan, binatang, dan asura.&lt;br /&gt;  2. Sugati Ahetuka Puggala, yaitu makhluk ‘tanpa akar’ dan ‘yang menyenangkan’; misal-nya manusia cacat atau dewa tingkat rendah.&lt;br /&gt;  3. Dvihetuka Puggala, yaitu makhluk yang mempunyai ‘dua akar’, misalnya manusia nor-mal, dewa-dewa semua tingkat.&lt;br /&gt;  4. Tihetuka Puggala, yaitu makhluk yang mempunyai ‘tiga akar’.&lt;br /&gt;  5. Sotapatti Magga, yaitu makhluk yang mencapai ‘jalan masuk’ yang menarik hati, merupa kan orang suci tingkat pertama.&lt;br /&gt;  6. Sotapatti Phala, yaitu makhluk yang mempunyai ‘pahala’ yang menarik hati, merupakan orang suci tingkat kedua.&lt;br /&gt;  7. Sakadagami Magga, yaitu makhluk yang mencapai ‘jalan masuk’ dan lahir sekali lagi, merupakan orang suci tingkat ketiga.&lt;br /&gt;  8. Sakadagami Phala, yaitu makhluk yang mempunyai ‘pahala’ untuk lahir sekali lagi, meru pakan orang suci tingkat keempat.&lt;br /&gt;  9. Anagami Magga, yaitu makhluk yang mencapai ‘jalan masuk’ dan tidak terlahir lagi, me-rupakan orang suci tingkat kelima.&lt;br /&gt;10. Anagami Phala, yaitu makhluk yang mempunyai ‘pahala’ untuk tidak terlahir lagi, meru-pakan orang suci tingkat keenam.&lt;br /&gt;11. Arahatta Magga, yaitu mekhluk yang mencapai ‘jalan masuk’ kesucian, merupakan orang suci tingkat ketujuh.&lt;br /&gt;12. Arahatta Phala, yaitu makhluk yang mempunyai ‘pahala’ mencapai kesucian, merupakan orang suci tingkat kedelapan.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah pembahasan dan perenungan Dham-ma kita pada hari ini yaitu tentang jenis-jenis makhluk, terutama menurut pandangan Buddha Dhamma. Dan, bila di antara Sdr/i sekalian ada yang belum jelas, maka kami persilakan un-tuk mendiskusikan bersama-sama setelah selesainya kebaktian ini. Terima kasih!&lt;br /&gt;Sabbe sattä bhavantu sukhitattä, semoga semua makhluk berbahagia!&lt;br /&gt;Sädhu! Sädhu! Sädhu!&lt;br /&gt;____________________&lt;br /&gt;Buku Acuan:&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibacakan pada tanggal:&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-5784068788468583326?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/5784068788468583326/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=5784068788468583326' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/5784068788468583326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/5784068788468583326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/03/jenis-jenis-makhluk.html' title='JENIS-JENIS MAKHLUK'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-3748825462912185796</id><published>2008-03-10T18:51:00.001-07:00</published><updated>2008-03-10T18:51:40.477-07:00</updated><title type='text'>JANTUNG KEMANUSIAAN</title><content type='html'>JANTUNG  KEMANUSIAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammä Sambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;PUÑÑAÇ  COREHI  DÌHARAÇ&lt;br /&gt;Jasa kebajikan tak dapat dirampas.&lt;br /&gt;     Saçyuttanikäya Sagäthavagga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah kita tadi membaca Paritta dan bermeditasi, marilah sekarang kita mengarahkan perhatian dan konsentrasi kita untuk membahas serta me renungkan salah satu Dhamma ajaran Sang Buddha yaitu tentang pengertian ‘Jantung Kema-nusiaan’. Jadi sekali lagi Sdr/i, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Jantung Kemanusiaan’.&lt;br /&gt;Sdr/i sekalian, sekarang ini kita telah memasuki suatu bulan yang di dalam agama Buddha dikenal sebagai bulan Magha, di mana pada bulan purnama sempurna di bulan Ma-gha ini umat Buddha memperingati hari suci Magha. Hari suci Magha merupakan hari yang sangat bersejarah, keramat, dan istimewa; karena pada hari suci ini terjadi suatu peristiwa penting yang ditandai dengan empat peristiwa, yaitu sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.  Pada saat bulan purnama sempurna di bulan Magha, 1250 bhikkhu yang semuanya telah mencapai tingkat kesucian sempurna atau Arahat, datang bertemu di Veluvana arama di kota Rajagaha.&lt;br /&gt;2.  Ke-1250 bhikkhu yang kesemuanya telah mencapai Arahat tersebut, datang dari tempat yang berlain-lainan berkumpul di Veluvana arama di kota Rajagaha untuk menjumpai Sang Buddha, tanpa janji, tanpa musyawarah, tanpa persetujuan sebelumnya. Mereka da-tang serempak pada hari dan di tempat yang sama.&lt;br /&gt;3.  Seribu duaratus limapuluh bhikkhu tersebut, semuanya pada waktu ditahbiskan sebagai bhikkhu, ditahbiskan langsung oleh Sang Buddha sendiri dengan sebutan ‘Ehi bhikkhu upasampada’, yang artinya para bhikkhu yang ditahbis langsung oleh Sang Buddha sen-diri.&lt;br /&gt;4.  Pada peristiwa yang istimewa ini, Sang Buddha membabarkan khotbah ‘Tiga Bait’ yang merupakan inti dari Dhamma ajaran Sang Buddha. Khotbah tiga bait ini dikenal juga de-ngan sebutan Oväda Patimokkhä, yang merupakan anjuran tentang penghayatan Dhamma. Apakah isinya? Pada kesempatan ini marilah kita ulangi dan renungkan bersama isi serta makna dari khotbah tiga bait tersebut. Demikianlah yang Sang Buddha babarkan:&lt;br /&gt;Menghindari semua perbuatan jahat,&lt;br /&gt;Menambah kebaikan,&lt;br /&gt;Membersihkan pikiran sendiri,&lt;br /&gt;Inilah ajaran semua Buddha.&lt;br /&gt;Sdr/i sekalian yang berbahagia, bait ini sesungguhnya tersusun dalam kalimat-kalimat yang sederhana. Namun, kalau kita mau merenungkan dalam-dalam ternyata kalimat-kalimat sederhana tersebut adalah jantung dari kemanusiaan. Merupakan jantung dan tuntutan setiap umat manusia di muka bumi ini, yaitu ‘menghindari semua perbuatan jahat, menambah keba-ikan, dan membersihkan pikiran sendiri’.&lt;br /&gt;“Tidak berbuat jahat”, adalah tuntutan semua ajaran agama. Tidak berbuat jahat ada-lah suara hati sanubari manusia yang paling murni, paling dalam. Kejahatan adalah pembawa penderitaan bagi makhluk lain. Bahkan, merupakan penyebab utama bencana bagi dunia ini. Dan lebih daripada itu, kejahatan adalah penghancur kehidupan kita sendiri. Karena itu, ja-nganlah kita berbuat jahat. “Jangan berbuat jahat” merupakan permintaan kita kepada diri ki-ta sendiri. Juga permintaan kita kepada setiap umat manusia. Kejahatan tidak pernah disetu-jui oleh hati nurani umat manusia. Kejahatan tidak pernah mendapat kompromi dari semua ajaran agama. Sdr/i, pada waktu Sang Buddha ditanya oleh Yakkha Alavaka tentang apakah yang harus dibunuh, maka Sang Buddha menjawab dengan tegas:”Kejahatanlah yang harus dibunuh”. Dan yang paling utama, kejahatan dalam diri kita sendirilah yang harus kita bunuh.&lt;br /&gt;Sdr/i sekalian, selanjutnya mengenai “Tambahkanlah kebaikan”, adalah juga tuntutan kuat bagi setiap umat manusia dari semua ajaran agama. Dalam kehidupan ini, berusahalah kita berbuat baik. Sekali lagi, berbuat baik, berbuat dengan hati yang tulus. Berbuat baik ha-nya dengan tujuan supaya orang lain mendapat kebaikan, dan kebaikan dalam diri kita sendi-ri menjadi bertambah. Karena itu sesadar-sadarnya, ternyata hanya kebaikanlah yang akan membuat kita bahagia; yang akan membuat kita mampu bertahan menghadapi segala macam problem dan ketegangan dalam kehidupan ini.&lt;br /&gt;Jadi Sdr/i, bukan kekerasan, bukan pula kekuasaan, bukan peperangan, bukan materi, tetapi hanyalah kebaikan. Kebaikan yang tuluslah yang akan menciptakan perdamaian di bu-mi ini di mana pun juga. Janganlah kita berbuat baik dengan pamrih yang lain, misalnya pamrih materi, pamrih kedudukan, pamrih nama, dan bermacam-macam pamrih rendah lain-nya. Jadi meskipun susah, berusahalah semampu mungkin menolong mereka yang membu-tuhkan pertolongan, mereka yang sedang menderita. Berusahalah menghibur mereka yang sedang sedih, bantulah mereka dengan niat yang murni, tanpa embel-embel. Kebaikan inilah modal terbesar bagi kita untuk mencapai semua cita-cita luhur kita. Tanpa kebaikan, kehidup an kita akan cepat hancur.&lt;br /&gt;Sdr/i sekalian, kalau kita berusaha berbuat baik dengan setulus-tulusnya, maka kita pasti merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan sejati, yang lain daripada kebahagiaan-kebahagia an yang lain. Sdr/i, memang dalam dunia ini, dalam kacamata materi, kebaikan itu kelihatan lemah. Kebaikan itu berbeda jauh dengan kekuasaan, dengan kegaiban, kekayaan dan benda-benda dunia lainnya. Namun, kebaikan mampu mengatasi segala-galanya. Meskipun kita mungkin pada suatu ketika terkena salah pengertian, ataupun fitnahan, atau perbuatan-perbu-atan jahat lainnya, hendaknya kita tetap teguh dalam niat baik kita yang tulus. Niat baik ini-lah yang akan mengangkat kehidupan kita dari semuanya itu.&lt;br /&gt;Sdr/i sekalian, memang susah untuk membuktikan secara teori bahwa kebaikan yang kelihatan lemah mampu mengatasi kekerasan dan kejahatan. Tetapi kebenaran ini akan terli-hat dalam kehidupan kita sendiri bila kita telah membuktikannya. Alangkah menyedihkan, bi la di dunia ini sebagian besar umat manusia sudah tidak mempunyai keyakinan lagi terhadap kebaikan yang tulus dan murni. Alangkah menyedihkan, bila di dunia ini banyak di antara ki ta yang berbuat baik, tetapi baik yang hanya tampak luarnya saja, sedangkan di balik itu ter-sembunyi pamrih, pamrih nama, pamrih kedudukan, kemenangan, materi, dan seribu satu ma cam yang lain. Bila demikian, maka dunia kita ini akan dilanda krisis kebaikan.&lt;br /&gt;Sdr/i, di antara semuanya, kebaikanlah yang paling unggul. Di antara senjata, senjata kebaikan yang paling tajam. Di antara kekuatan, kekuatan kebaikan yang paling hebat. Di antara segala ilmu gaib, kebaikan adalah kesaktian yang paling ampuh. Di antara semua ma-teri, kebaikan adalah kekayaan yang paling luhur. Di alam semesta ini, tidak ada yang bisa menaklukkan kebaikan. Meskipun dewa Brahma turun ke bumi, kebaikan tetap di atas segala galanya.&lt;br /&gt;Sdr/i yang berbahagia, seorang umat Buddha hendaknya selalu hidup dengan tenang menghadapi persoalan kehidupan sehari-hari. Apapun bentuknya. Karena, seorang umat Bud dha, demikian juga kita semua, hendaknya selalu mempunyai keyakinan yang teguh kuat ter-hadap kebaikan. Kebaikan yang tulus dan murni. Seandainya kita sudah berada di ujung maut, kalau kita masih mempunyai karma-karma baik, karma baik itulah yang akan menyela matkan kita. Berbahagialah Sdr/i yang teguh di dalam kebaikan.&lt;br /&gt;Akhirnya Sdr/i sekalian, pada khotbah istimewa dalam bait ke 3 tersebut Sang Bud-dha mengatakan:”Bersihkanlah pikiran sendiri”. Tidak berbuat jahat dan selalu menambah ke baikan dengan niat yang tulus, adalah pangkal kebersihan pikiran. Pikiran ini harus kita ber-sihkan sendiri. Karena, tidak seorang pun, sekali pun dewa, bisa membuat pikiran kita menja di bersih atau suci. Dengan pikiran yang bersih, kita akan dapat bertahan dalam kehidupan ini. Berseri-seri di mana pun juga. Batin kita tenang dan cemerlang.&lt;br /&gt;Sdr/i sekalian, inilah tiga kaliamt sederhana yang keramat dan suci, yang menjadi tun tutan suci sanubari setiap umat manusia. Jantung kemanusiaan dan jalan kebahagiaan. “Menghindari semua perbuatan jahat, menambah kebaikan, dan membersihkan pikiran sen-diri”. Demikianlah Sdr/i yang berbahagia, perenungan dan pembahasan Dhamma kita pada hari ini dan semoga dapat menjadi motivasi kita dalam berbuat kebaikan.&lt;br /&gt;Sabbe sattä bhavantu sukhitattä, semoga semua makhluk berbahagia!&lt;br /&gt;Sädhu! Sädhu! Sädhu!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-3748825462912185796?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/3748825462912185796/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=3748825462912185796' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/3748825462912185796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/3748825462912185796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/03/jantung-kemanusiaan.html' title='JANTUNG KEMANUSIAAN'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-928308576651987132</id><published>2008-03-10T18:50:00.002-07:00</published><updated>2008-03-10T18:51:05.329-07:00</updated><title type='text'>JADIKAN TUAN</title><content type='html'>JADIKAN  TUAN  BAGI  PIKIRAN  SENDIRI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;TELAPATAM  YATHA  PARIHAREYYA  EVAM  SACITTAMANURAKKHE&lt;br /&gt;Hendaklah orang selalu memperhatikan pikirannya sendiri seperti orang yang memba-wa tempayan penuh dengan minyak.&lt;br /&gt;                                                                                  Khuddakanikaya Jataka Ekanipata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, setelah membaca Paritta dan bermeditasi, marilah sekarang kita me-ngarahkan perhatian dan konsentrasi kita guna mengadakan pembahasan dan perenungan Dhamma yang pada hari ini berjudul ‘Jadikan Tuan bagi Pikiran Sendiri’. Jadi sekali lagi, ju-dul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Jadikan Tuan bagi Pikiran Sendiri’.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, sudah kita ketahui bahwa yang namanya manusia ini, semenjak lahir sudah memiliki jasmani dan batin. Dalam jasmani ada panca indera yang setiap saat dapat mengadakan kontak dengan obyeknya atau lingkungannya sehingga terjadilah reaksi atau pro-ses batin yang sering kita kenal dengan nama pikiran atau kesadaran. Pikiran inilah yang sela-lu mengendalikan kita di dalam kehidupan. Pikiran merupakan gejala atau gelombang dari ba-tin. Segala sesuatu yang ada di dalam dunia ini dapat dibeberkan dalam pikiran manusia. Su-ka, duka, cinta, benci, timbul oleh karena pikiran kita. Maka dari itu barang siapa yang mau hidup dengan penuh kedamaian, tenang, dan bahagia, maka haruslah melatih atau merawat pi-kirannya sendiri dengan teguh.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, pikiran adalah sesuatu hal yang tidak memiliki tubuh, sehingga bila hendak kita tunggangi, sudah pasti tidak dapat, bila hendak kita pukul, tidak kena. Oleh sebab itu, melatih pikiran haruslah dengan menggunakan teknik tertentu. Menjalankan puasa atau makan hanya sedikit mungkin juga merupakan suatu cara untuk melatih pikiran dan sekaligus juga melatih tubuh kita. Banyaknya makanan yang kita masukkan ke dalam tubah kita dapat menyebabkan beban di dalam perut yang menjadikan kita cepat mengantuk. Hal tersebut sa-ngat membuang waktu dan merupakan musuh bagi orang yang hendak mawas diri. Memang, bagi umat awam yang hidupnya tidak pernah mengendalikan dan menguasai pikirannya, akan selalu cenderung mencari kenikmatan atau kesenangan melalui panca indera, yang oleh keba-nyakan orang hal ini justru dipandang sebagai berkah, kesenangan, dan kebahagiaan. Namun, kenyataan yang sebenarnya, hal ini merupakan kekotoran batin yang tidak pernah puas, selalu dalam keadaan bingung dan kacau. Jika pikiran tidak menemukan obyek yang baik dan benar, akan menjadi sebab utama dari munculnya beraneka ragam kejahatan.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, bilamana indera kita kontak dengan obyeknya masing-masing, di sana-lah akan timbul rasa senang atau tidak senang, puas atau tidak puas, benar atau salah, dan lain lainnya. Semua itu merupakan gejala dari batin yang negatif, yaitu yang disebut ‘Kilesa’ atau kekotoran batin. Bilamana kekotoran batin ini timbul, serasa bagaikan kobaran api yang me-nyala-nyala, yang siap menyulut apa saja. Dalam hal ini, kita harus mengetahui latar belakang penyebabnya dan kondisinya, sehingga tidak sempat terwujud dalam ucapan atau dalam ting-kah laku perbuatan kita. Di dalam keadaan demikian, lebih baik kita bersikap diam dan tutup mulut meskipun batin kita terasa panas sekali. Kita amati saja keadaan batin kita yang sedang  demikian itu. Nanti kita jadi tahu bahwa batin yang panas, benci, serakah, sedih, kacau, dan lain-lainnya, merupakan sebab dari berbagai macam tingkah laku yang buruk atau pembicara-an yang tajam dan menusuk, yang mengakibatkan bertambahnya musuh dan berkurangnya sa-habat. Inilah kerugian bagi mereka yang tidak mampu mengendalikan dan menguasai dirinya sendiri, sehingga wajarlah penderitaan itu diterima dan dirasakan sendiri.&lt;br /&gt;            Sdr/i yang berbahagia, seorang yang bijaksana pasti memiliki keyakinan dan kepastian akan Hukum Kamma. Ia yakin bahwa perbuatan apapun yang dilakukannya, ia sendirilah yang akan menuai hasilnya. Perbuatan yang baik akan menghasilkan kebahagiaan, dan perbu-atan yang buruk akan mendatangkan kesengsaraan. Oleh karena itu, ia takut akan akibat dari perbuatan yang buruk. Perbuatan apapun yang dilakukan, akibatnya akan diterima oleh diri sendiri, dan perbuatan ini mungkin tidak hanya sekali saja terjadi akibatnya, melainkan dapat beratus-ratus kali terhadap satu perbuatan yang telah dilakukannya. Seorang yang bijaksana akan cepat menguasai dan menaklukkan pikirannya sendiri andaikata gelora panas kekotoran batin seperti misalnya menerima fitnah, cacian, pemukulan, dan sebagainya sedang menimpa-nya. Pada saat itu tindakan yang terbaik yang dilakukan adalah berdiam diri dan tanpa mem-berikan reaksi apapun. Orang yang berdiam diri dan tanpa memberikan reaksi apapun ketika tahu batinnya sedang panas membara, adalah seorang pemenang, karena ia mampu menakluk-kan dan menguasai pikirannya yang sedang diliputi Kilesa itu. Inilah pahlawan yang amat sa-ngat sulit dicari. Maka, jadikanlah diri tuan sebagai pahlawan. Seorang yang melakukan tin-dak kejahatan, sebenarnya ia adalah budak dari batinnya yang kotor, yang hanya mengikuti apa saja yang timbul di dalam pikirannya yang penuh dengan Kilesa itu tanpa sempat dan mau serta mampu mengendalilkannya.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, sebagai umat Buddha yang baik, hendaknya seseorang harus serta wajib menjalankan Pabca Sila Buddhis di dalam kehidupan sehari-hari, yaitu melatih untuk ti-dak membunuh, tidak mengambil barang yang tidak diberikan, tidak berbuat asusila, tidak berkata yang tidak benar, dan tidak menggunakan makanan atau minuman atau barang yang dapat menyebabkan ketagihan dan lemahnya kewaspadaan. Kekuatan untuk merealisasikan Pabca Sila Buddhis tersebut sebenarnya disebabkan oleh satu faktor saja yaitu kendalikan atau kuasailah pikiran. Mengapa? Karena pada dasarnya pikiran kitalah yang melatarbela-kangi segala wujud aktifitas kita sehari-hari. Jadi, sebab kejahatan harus kita stop agar tidak tersalur ke mulut atau ke perbuatan jasmani kita dengan cara berdiam diri tanpa memberikan reaksi apapun. Karena, dengan tidak melakukan sesuatu apapun, di sana pulalah tiada kesalah-an yang akan dilakukan. Menjalankan Pabca Sila Buddhis berarti pula menyempurnakan Sila atau kemoralan kita sehingga batin kita yang jernih pun akan semakin berkembang.&lt;br /&gt;            Sdr/i yang berbahagia, orang yang bijaksana, bila mengetahui seseorang itu melaku-kan kejahatan, maka ia tidak akan menyalahkan orang itu, tidak pula menyalahkan agamanya, dan tidak pula menyalahkan suku bangsanya. Mengapa? Karena ia tahu bahwa kesalahan itu terletak pada pikiran orang yang sudah terbiasa melakukan kejahatan tersebut, yang tidak per-nah melatih dan menguasai pikirannya sendiri. Pikiran manusia itu hampir sama saja menye-rupai komputer. Bila pikiran itu selalu terisi oleh hal-hal yang rendah, kotor, penuh kebencian, keserakahan, dan beraneka macam kejahatan, maka jawaban dan tanggapan yang didapat se-suai pula dengan isi program yang telah ada di dalam pikiran orang itu sendiri. Dengan me-mahami kondisi yang seperti ini, orang yang bijaksana tidak akan bergaul di dalam lingkung-an yang tidak baik karena ia tahu lingkungan yang tidak baik dapat menyeret orang untuk me-lakukan hal-hal yang tidak baik pula.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, pada umumnya, sifat yang biasa dari pikiran manusia adalah selalu da-lam keadaan bergerak, loncat ke sana lari ke mari, selalu bergetar dan tidak pernah diam sedi-kitpun. Inilah yang menyebabkan terjadinya bentuk-bentuk pikiran buruk seperti kebingungan atau kekacauan bagi mereka yang tidak pernah melatih dan menguasai pikirannya sendiri. Oleh sebab itu, dengan melihat sifat dasar dari pikiran tersebut, wajiblah bagi kita semua un-tuk mau dan tekun melatih menguasai pikiran kita sendiri. Untuk melatih pikiran itu agar ti-dak liar dan binal, kita harus memberikan pada pikiran itu suatu obyek yang akan mengikat-nya, yakni memperhatikan terus menerus pada obyek tersebut. Misalnya, bilamana pikiran lari dari obyek yang telah kita tetapkan itu, kita harus mengembalikan kembali pikiran tersebut mengarah pada obyek itu lagi. Pikiran lari ke sana, tarik ke obyek lagi. Pikiran mengarah ke lain hal, kembalikan ke obyek itu lagi terus menerus hingga akhirnya nanti mencapai kesatuan dengan obyek itu. Obyek yang paling baik untuk melatih pikiran tersebut adalah dengan memperhatikan sentuhan dari pernafasan, yaitu di antara bibir atas dan ujung hidung. Dengan melatih terus menerus cara demikian ini, akhirnya pikiran itu akan kelelahan dan masuk ke dalam obyek tersebut. Saat itulah pikiran mengalami istirahat yang sebenarnya. Ke manapun kita pergi, di sana pulalah pikiran tersebut berada. Oleh sebab itu, bila ada waktu senggang dan merasa tiada sesuatu pekerjaan yang harus dikerjakan, pergunakanlah waktu tersebut un-tuk melatih pikiran itu  ke arah pernafasan meskipun hanya 10 – 15 menit saja. Ini dapat dila-kukan oleh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Usahakanlah pada setiap waktu yang lu-ang untuk melatih pikiran, agar kita menjadi tuan bagi pikiran kita sendiri; bahwa kita adalah arsitek dari kehidupan kita sendiri. Inilah kekayaan dalam menggunakan waktu. Dengan me-latih pikiran seperti ini terus menerus, berarti pula kita mengecilkan atau mengurangi penderi-taan-penderitaan kita, sehingga dalam hal ini sudah jelas bahwa ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan akan bertambah besar dan teguh.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yang berjudul ‘Jadikan Tuan bagi Pikiran Sendiri’. Semoga uraian Dhamma ini dapat berguna untuk kebahagiaan kita semua. Dan, bila di antara Sdr/i sekalian ada yang ingin bertanya tentang makalah ini, maka kami persilakan untuk mendiskusikan bersama-sama setelah selesainya kebaktian ini. Terima kasih!&lt;br /&gt;Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia!&lt;br /&gt;Sadhu! Sadhu! Sadhu!&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipetik dari khotbah Bhikkhu Dhammavijayo dengan gubahan seperlunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibacakan pada tanggal:&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-928308576651987132?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/928308576651987132/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=928308576651987132' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/928308576651987132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/928308576651987132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/03/jadikan-tuan.html' title='JADIKAN TUAN'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-8534028151405950317</id><published>2008-03-10T18:50:00.001-07:00</published><updated>2008-03-10T18:50:32.001-07:00</updated><title type='text'>IBU</title><content type='html'>IBU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;                SUKHA  MATTEYYATA  LOKE.&lt;br /&gt;                Mempunyai ibu adalah kebahagiaan di dunia ini.&lt;br /&gt;                              Khuddakanikaya Dhammapadagatha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian yang berbahagia, setelah kita bersama-sama membaca Paritta dan bermeditasi, maka marilah sekarang kita mengisi kebaktian hari ini dengan mengadakan pembahas-an dan perenungan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Ibu’. Sdr/i, pembahasan dan perenungan Dhamma yang berjudul ‘Ibu’ ini kami ketengahkan sehubngan dengan adanya peringatan Hari Ibu yang jatuh pada setiap tanggal 22 Desember; dan tentu kita semua yang ada di sini pasti juga sudah mengerti maknanya, yaitu bahwa hal tersebut bertujuan untuk mengingatkan kita semua terhadap adanya peranan dari seorang ibu yang sangat penting artinya bagi keberadaan kita di dunia ini.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, seperti telah kita ketahui, bahwa ternyata tidak ada seorangpun di dunia ini yang tidak dilahirkan melalui ibu. Ibulah yang melahirkan kita dan sekaligus yang pertama sekali memberikan cinta kasih sejati kepada kita; yang mengasuh kita, dan mengorbankan segala-galanya bagi kita. Raja Dhamma sendiri, yaitu Sang Buddha, juga dilahirkan oleh ibunya, yaitu di tengah perjalanan ke kota Devadaha. Demikian pula dengan salah seorang siswa Sang Buddha yang berna-ma Sivali, yaitu yang mencapai Arahat pada waktu rambutnya dicukur, ia juga dilahirkan oleh ibu-nya yang telah menderita karena mengandungnya selama tujuh tahun, tujuh bulan, tujuh hari. Sela-ma itulah dia mengandung anaknya. Selanjutnya, ada lagi siswa Sang Buddha yang bernama Angu-limala. Ia justru akan membunuh ibunya sendiri, tetapi ternyata perasaan ibunya tidaklah demikian. Mengapa? Karena, bagi ibunya, ia dilahirkan dengan rasa sayang yang sejati. Jadi Sdr/i sekalian yang berbahagia, jika kita mau merenungkan dengan pikiran jernih, tentu kita akan mengerti bahwa setiap orang pasti telah mendapatkan cinta kasih dan kasih sayang yang sejati dari ibunya, yang wa-laupun mungkin ada yang hanya sebentar saja merasakan hal tersebut. Ini sangat masuk akal Sdr/i, karena, sepertinya tiada orang lain selain ibu yang dapat memberikan permata cinta kasih yang me-lebihi itu. Maka, untuk hal-hal itulah Sdr/i, kita perlu merenungkan, kita perlu menghayati jasa-jasa seorang ibu yang tidak kecil artinya bagi kita semua ini.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian, demikian juga pada hari ini, dalam rangka memperingati Hari Ibu, dalam rangka mengenang jasa-jasa kebajikan ibu-ibu kita dalam peranannya membimbing kita, ma-ka marilah kita sekarang bersama-sama merenungkan sebuah kisah yang dipetik dari Sonadanda Ja-taka, yaitu kisah tentang Bodhisatta (calon Sammasambuddha) yang mengungkapkan kebajikan ibu, yang dibuat dalam bentuk sajak seperti yang kami uraikan berikut ini:&lt;br /&gt;          “Dengan penuh kasih sayang dia melindungi kita, dia membesarkan kita dengan air susunya. Seorang ibu adalah jalan ke surga, dan engkulah yang amat dikasihinya.&lt;br /&gt;          Ia mengasuh dan memelihara kita dengan penuh perhatian; ia dikaruniai dengan sifat-sifat mulia ini.&lt;br /&gt;          Seorang ibu adalah jalan ke surga, dan engkaulah yang amat dikasihinya. Karena mendambakan anak, maka dengan berlutut ia sembahyang di depan cetiya. Ia memperhati-kan perubahan musim dan mempelajari ilmu perbintangan. Akhirnya, ia merasa bahwa ke-inginannya yang halus terwujud; yaitu ia hamil. Dan segera bayi yang masih dalam kan-dungan itu mulai mengetahui kawan yang mencintainya tersebut. Selama setahun atau ku-rang, ia menjaga hartanya ini dengan hati-hati. Kemudian ia melahirkannya; dan sejak saat itu ia memakai sebutan ‘ibu’.&lt;br /&gt;          Dengan susu dan senandung ia menenangkan anaknya yang gelisah. Anaknya dibung kus dalam kehangatan pelukan tangan ibunya, sehingga kesusahannya segera lenyap. Ia menjaga bayi yang belum tahu apa-apa ini dari gangguan angin dan panas. Dengan membe-lai anaknya demikian, ibu dapat disebut sebagai kekasih perawatnya.&lt;br /&gt;          Barang apapun yang merupakan milik suami dan dirinya, ia simpankan untuk anak-nya dengan harapan ‘Semoga bisa untuk kebahagiaan anaknya’. Ia berpikir:’Anakku sa-yang, suatu saat semuanya ini akan menjadi milikmu’.&lt;br /&gt;          ‘Hai, anakku sayang, lakukan ini dan itu’ kata ibu yang khawatir anaknya berbuat sa-lah. Dan setelah anaknya dewasa, sang ibu juga masih mengeluh dan bersedih hati. Ka-dang-kadang pada malam hari, dengan gegabah ia pergi mengganggu istri orang lain untuk menanyakan ke manakah anaknya. Ibunya yang khawatir dan sedih itu bertanya dalam hati: ‘Mengapa selarut malam ini anakku belum kembali?’      &lt;br /&gt;          Jadi, berdasarkan fakta-fakta tadi, maka apabila ada seseorang sampai melupakan pen deritaan ibunya yang telah mengasuh dirinya dengan penuh kekhawatiran seperti itu, apala-gi sampai menipu ibunya, maka aku katakan, apakah yang akan diperolehnya selain daripa-da neraka? Dikatakan pula, bahwa mereka yang sangat mencintai kekayaannya, apabila ia sampai berbuat demikian, maka kekayaan mereka akan segera lenyap. Demikian pula, sese-orang yang melupakan ibunya, akan segera menyesali akibat yang pasti ditanggungnya.&lt;br /&gt;          Hadiah, kata-kata lemah lembut, jasa-jasa baik serta penghormatan, yang diperlihat-kan dengan batin tenang dan seimbang pada waktu dan tempat yang tepat; bagi dunia, mu-lia tersebut adalah bagaikan paku as pada roda kereta. Apabila tidak ada sifat-sifat mulia ter sebut, maka nama ibu akan terbawa-bawa oleh anaknya. Ibu adalah seperti raja yang dimah kotai dengan penghormatan. Para bijaksana memuji orang yang memiliki sifat mulia itu, se-hingga dalam dunia ini dan setelah mati, pasti ia akan memperoleh kebahagiaan”.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, itulah tadi syair dari kisah Jataka yang diungkapkan oleh Bodhisatta sendiri untuk mengagungkan seorang ibu. Para bijaksana menggunakan istilah ‘ibu seja-ti’ untuk menamakan kebajikan dan pengorbanannya yang sempurna, untuk melukiskan cinta kasih dan kasih sayangnya yang murni, yang daripadanya dapat terlahir para Bodhisatta. Dari berbagai ce-rita, kita telah mengetahui jasa-jasa yang telah diberikan oleh seorang ibu terhadap anaknya.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, ibu sejati, adalah ibu yang pertama kali mendidik dan mengajarkan Sila kepa-da putra-putrinya. Ibu yang menumbuhkan Hiri dan Ottappa kepada putra-putrinya, yaitu rasa malu terhadap perbuatan jahat dan rasa takut terhadap akibat dari perbuatan jahat. Jadi, ibu sejati dapat di-katakan merupakan pendukung masyarakat yang utama. Jika suatu keluarga diumpamakan sebagai suatu bangunan; maka dalam hal ini ayah dikatakan sebagai atap dari bangunan tersebut, yaitu yang menaungi semua yang ada di dalamnya. Sedangkan ibu, diumpamakan sebagai tiang bangunannya yang bisa menjiwai keluarga tersebut. Sebab, banyak sekali masyarakat tercela, keluarga tercerai be-rai, dan para remaja berhati kacau karena disebabkan oleh ibu yang tidak memberikan asuhan sejati. Dari data-data catatan statistik sering didapatkan bahwa generasi yang lahir dengan ditinggalkan oleh ibunya, misalnya karena adanya suatu peperangan, maka akan terlihat bahwa generasi tersebut akan menjadi generasi yang sering menumbuhkan kekacauan. Jadi, jelas terlihat bahwa asuhan ibu sejati sesungguhnya merupakan bagian utama bagi setiap anak dan merupakan suatu kemudi yang cerah bagi setiap remaja. Asuhan sejati merupakan permata utama bagi seorang ibu, karena setiap anak pasti membutuhkannya. Namun Sdr/i sekalian, kadang-kadang tidak setiap ibu sudi memberi-kan permata utama yang dimilikinya itu kepada putra-putrinya. Mengapa bisa demikian? Hal ini se-baiknya kita tanyakan saja langsung kepada para ibu yang ada di sini, kira-kira apa sebabnya kok ada ibu yang bisa bertindak demikian. Kok sampai tega bertindak demikian. Sebab, dalam hal ini Sdr/i, kami sendiri juga belum berpengalaman atau bahkan tidak pernah berpengalaman dalam hal menjadi ibu. Oleh sebab itu, dapat kita bahas bersama dengan ibu-ibu yang ada di sini nanti.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian, setelah kita dapat mengetahui betapa besar pengorbanan seorang ibu kepada anaknya, misalnya seperti yang diuraikan dalam kisah Jataka tadi, dan juga mungkin se-perti yang kita alami sendiri, maka apabila kita membandingkan, rasanya segala penghormatan kita dan cinta kasih yang kita berikan untuk ibu kita, jauh belum berarti bila dibandingkan dengan jasa beliau yang sejati tadi. Oleh sebab itu, melayani ibu dengan penuh kasih sayang, yang timbul dari rasa kita ingin membahagiakan ibu karena ibu adalah pembawa jasa utama bagi kita, barulah merupa kan kebahagiaan kecil untuk pengorbanan yang sejati itu.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, lalu bagaimanakan balas jasa kita supaya bisa memadai atau paling tidak seimbang dengan pengorbanan yang dilakukan oleh ibu kita itu? Sdr/i sekalian, da-lam hal ini kita dapat mencontoh dari perbuatan balas jasa yang dilakukan oleh Sang Buddha kepada ibunda Beliau. Sang Buddha sendirilah yang telah berhasil memberikan jasa tertinggi, yaitu jasa yang sangat mulia bagi ibunda Beliau. Hal tersebut merupakan balas budi terhadap orang tua yang tiada tara bandingannya dalam sejarah kehidupan makhluk-makhluk. Tujuh tahun sesudah Penerang an Sempurna, Beliau melewatkan tiga bulan masa vassa untuk tinggal menetap di surga Tavatimsa gana membalas jasa kebajikan ibunda Mahamaya yang pernah melahirkannya. Pada waktu itu ibun-da Mahamaya terlahir kembali sebagai putra dewa di alam surga Tusita, yaitu dua tingkat di atas alam surga Tavatimsa. Ini bukan berarti bahwa Sang Buddha Gotama salah menuju tempat. Beliau sengaja naik ke surga Tavatimsa karena alam ini merupakan tempat pertemuan para dewa dari per-bagai tingkat. Di alam Tavatimsa ini terdapat balai umum yang bernama Saddhammasala, yang di-pergunakan untuk mendengarkan dan memperbincangkan Dhamma. Ketika berjumpa dengan Raja Dewa Indraa, Sang Buddha memerintahkan untuk menjemput ibunda Mahamaya. Tatkala ibunda Mahamaya telah tiba, Sang Buddha duduk di singgasana Pandukambala dengan sangat agungnya dan memutuskan untuk mewejangkan Abhidhamma kepada ibundaNya yang didampingi oleh para dewa dalam jumlah yang sangat banyak, dan pewejangan ini berlangsung tanpa berhenti sekejappun. Di akhir pewejangan tersebut, sejumlah 800 juta (800 koti) dewa berhasil meraih kesucian tingkat Arahat. Sementara itu, ibunda Mahamaya sendiri meraih kesucian tingkat Sotapanna. Jadi, di sinilah dengan penuh cinta kasih, Sang Buddha memberikan Dhamma kebebasan kepada ibuNya sehingga akhirnya nanti ibuNya berhasil mencapai kebebasan, yaitu terpotongnya tumimbal lahir untuk sela-ma-lamanya. Inilah penghormatan dan cinta kasih Sang Buddha kepada ibuNya, dan merupakan ba-las budi terluhur dari segala-galanya. Sehari setelah habisnya musim hujan, yang berarti selesainya pewejangan Abhidhamma di surga Tavatimsa, Beliau dengan diiringi para dewa turun kembali ke bumi, tepatnya di daerah Sankassa. Peristiwa turunnya Sang Buddha Gotama ini sekarang diper-ingati oleh umat Buddha sebagai hari Devorohana.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian yang berbahagia, jadi kita sekarang sudah dapat menghayati sendiri contoh per buatan Sang Buddha tadi, dan kita juga menyadari bahwa perbuatan seorang anak yang bagaimana-pun juga, belumlah dapat menyamai mempersembahkan Dhamma kebebasan kepada ibunya sebagai balas jasa untuk pengorbanan sejati seorang ibu kepada anak-anaknya. Sdr/i seDhamma, berbagai macam buah karma buruk telah sering kita dengar karena seorang anak mengingkari ibunya, demiki-an pula bermacam-macam cara berbuat jasa dan akhirnya jasa tertinggi yang seharusnya dipersem-bahkan oleh seorang anak kepada ibunya telah pula kita dengar. Mudah-mudahan pengertian terha-dap perenungan ini, akan membuat kita semakin giat dalam memahami dan menghayati Dhamma Sang Buddha demi kebebasan kita semua. Terimakasih!&lt;br /&gt;Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia!&lt;br /&gt;Sadhu! Sadhu! Sadhu!&lt;br /&gt;___________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Acuan:&lt;br /&gt;1.    Sang Buddha dan Ajaran-ajaranNya, oleh Ven. Narada.&lt;br /&gt;2.    Cermin Kehidupan, oleh Ven. Narada.&lt;br /&gt;3.    Abhidhamma, Sabda Murni Sang Buddha?, oleh Jan Sabjivaputta.&lt;br /&gt;4.    Ibu, oleh Samanera Tejavanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibacakan pada tanggal:&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-8534028151405950317?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/8534028151405950317/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=8534028151405950317' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/8534028151405950317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/8534028151405950317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/03/ibu.html' title='IBU'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-1045235366623547819</id><published>2008-03-10T18:49:00.001-07:00</published><updated>2008-03-10T18:50:04.874-07:00</updated><title type='text'>HUKUM PERBUATAN</title><content type='html'>HUKUM  PERBUATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;                KALYANAKARI  KALYANAM  PAPAKARI  CA  PAPAKAM.&lt;br /&gt;                Barang siapa berbuat baik akan menerima akibat yang baik;&lt;br /&gt;            barang siapa berbuat jahat akan menerima akibat yang buruk.&lt;br /&gt;                                                   Khuddakanikaya Jataka Dukanipata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia/ marilah kita sekarang bersama-sama mengarahkan perhati an dan konsentrasi kita/ untuk mengisi kebaktian pada hari ini/ dengan mengadakan pembahasan dan perenungan Dhamma/ yang kali ini berjudul ‘Hukum Perbuatan’. Sekali lagi Sdr/i, judul pemba-hasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Hukum Perbuatan’.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian/ sudah sangat sering sekali/ kita semua yang sekarang berada di vihara ini/ membahas masalah Dhamma yang berkenaan dengan hukum perbuatan/ yang istilah lainnya yaitu hukum kamma/. Kita sudah sangat sering sekali membahas hal ini/. Namun Sdr/i sekalian/ meskipun kita sudah sering sekali membahas hukum perbuatan ini/ tetapi ternyata/ untuk mewujudkan pengha-yatan kita terhadap hukum perbuatan ini di dalam kehidupan kita sehari-hari/ ternyata masih belum cukup/ bahkan masih sangat kurang/. Ya/ terus terang saja Sdr/i, penghayatan kita terhadap hukum perbuatan yang kita wujudkan/ atau yang kita praktekkan dalam kehidupan kita sehari-hari/ ternyata masih sangat kurang/. Mengapa dapat dikatakan masih kurang?/ Apakah alasannya?/ Bukankah sete-lah mengerti pelajaran tentang hukum perbuatan ini/ kita sudah sangat sering melakukan perbuatan baik?/ Lalu/ mengapa masih dikatakan bahwa penghayatan kita dalam mewujudkan hukum perbuat-an tersebut dalam kehidupan sehari-hari masih kurang?/ Mengapa demikian?/&lt;br /&gt;            Sdr/i yang berbahagia/ memang benar/ tidak salah/ bahwa setelah Sdr/i belajar Dhamma dan menghayati hukum perbuatan ini dengan baik/ maka Sdr/i menjadi lebih sering untuk melakukan ba-nyak sekali perbuatan baik/ bahkan dengan disertai penuh pengertian/. Itu sangat benar/ dan hal itu sudah merupakan suatu kemajuan batin/ tidak salah lagi/. Tetapi Sdr/i, ternyata/ masih ada segi lain lagi yang harus pula kita pahami sungguh-sungguh maknanya berdasarkan pengalaman kita sendiri/ yaitu/ bahwa kita ini masih sering sekali meremehkan suatu perbuatan/. Artinya/ kita masih suka menganggap sepele terhadap suatu perbuatan/ contohnya/ kita masih sering melakukan hal-hal seper ti demikian/ “Ah, tidak apa-apa deh, kan cuma berbuat begini saja, nanti juga kalau berbuah kita su-dah lupa. Tidak apa-apa, kok!” / Ini yang pertama, Sdr/i, / yaitu kita masih suka meremehkan suatu perbuatan dengan alasan tidak apa-apa/ karena/ paling-paling nanti kita sudah lupa apabila perbuatan itu berbuah./ Selanjutnya Sdr/i, / hal yang kedua yang masih perlu diperhatikan/ yaitu kita masih se-ring bersikap ‘tidak mau menerima’ terhadap hasil perbuatan buruk kita yang sekarang sedang ber-langsung pada diri kita./ Kita sering sekali tidak mau menerima kenyataan tentang hal ini./ Tidak mau mengerti terhadap hal yang satu ini/ walaupun/ kita sudah tahu bahwa itu adalah hasil dari per-buatan kita sendiri./ Sebagai contoh/ misalnya kita sedang sakit/ atau sedang mengalami vipaka bu-ruk lainnya/ tentunya kita sudah tahu bahwasanya kita menderita demikian itu adalah akibat dari per buatan buruk kita yang sedang berbuah;/ tetapi kenyataannya/ pada saat hal tersebut terjadi/ kita ma-sih sering melakukan penolakan atau bersikap ‘tidak mau menerima’ terhadap hal tersebut./ Misal-nya kalau kita sedang sakit gigi./ Kita tahu bahwa sakit gigi ini adalah akibat dari kamma buruk yang sedang berbuah/ kita sangat tahu hal ini./ Tetapi/ kenyataannya tetap saja kita masih mengomel “Wah, brengsek, kenapa saya jadi sakit gigi begini? Dan, kenapa sakitnya ini tidak mau hilang? Kata nya semua Anicca/ tidak kekal/ tetapi mengapa sakit gigi saya ini tidak mau hilang-hilang?/ Perbuat-an apa ya yang dulu pernah saya perbuat sehingga sekarang jadi sakit gigi begini?”/ Nah, Sdr/i seka-lian/ demikian kira-kira bentuk-bentuk ungkapan penolakan terhadap vipaka buruk yang sedang ber-buah tersebut./ Dan/ hal demikian itu tentu terjadi pula pada bentuk-bentuk vipaka buruk lainnya yang sedang kita terima atau sedang kita petik buahnya./ Jadi Sdr/i sekalian/ kedua hal inilah/ yaitu masih menganggap remeh pada suatu perbuatan/ dan satunya lagi/ tidak mau menerima terhadap ha-sil perbuatan buruk yang sedang kita petik/ yang masih sangat perlu kita perhatikan./ Sebab/ hal ini juga sangat berperanan dalam lapangan hukum perbuatan yang kita miliki./&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian yang berbahagia/ setelah kita tahu bahwa masih ada dua hal seperti tadi yang sangat perlu kita perhatikan/ lalu bagaimana mengatasinya?/ Dan/ mengapa kedua hal tersebut men-jadi sangat perlu diperhatikan?/ Sdr/i sekalian/ tentu saja kedua hal tersebut masih harus kita perhati-kan/ bahkan harus kita ketahui dan kita atasi/ karena kedua hal tersebut juga merupakan suatu keko-toran batin yang tentu berlandaskan pada Lobha (keserakahan/kemelekatan)/ Dosa (kebencian)/ dan Moha (kegelapan batin)./ Jadi/ kedua hal tadi adalah perwujudan dari Lobha/ Dosa/ dan Moha yang sedang timbul./ Coba saja sekarang Sdr/i renungkan sendiri/ pasti dengan cepat Sdr/i bisa tahu bah-wa kedua hal tadi memang masih merupakan perwujudan dari Lobha/ Dosa/ dan Moha./ Dan/ sela-ma Lobha/ Dosa/ dan Moha ini masih banyak dan masih terus saja bertambah/ maka penderitaan ki-ta juga masih akan banyak dan masih terus saja bertambah./ Oleh sebab itulah/ kedua hal tadi/ yaitu meremehkan suatu perbuatan dan tidak mau menerima terhadap hasil dari perbuatan buruk yang se-dang berbuah/ harus kita pahami benar-benar dan kita atasi./&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian yang berbahagia/ sekarang/ lalu bagaimana cara untuk mengatasi kedua hal tadi?/ Tentu saja untuk mengatasi kedua hal tersebut/ dan juga untuk mengatasi semua masalah kekotoran batin/ caranya yang paling inti yaitu hanya dengan mempraktikkan Sila/ Sama-dhi/ dan Pabba./ Tidak ada cara lain selain dengan mempraktikkan Sila/ Samadhi/ dan Pabba yang dapat mengatasi kekotoran batin tersebut./ Jadi/ hanya dengan mempraktikkan Sila/ Samadhi/ dan Pabba./ Namun Sdr/i, / meskipun demikian/ kami akan mencoba menguraikan atau menjabarkan hal ini supaya lebih mudah kita pahami bersama-sama./ Sdr/i seDhamma sekalian/ langkah awal/ untuk dapat mengatasi kedua hal tadi/ yang harus kita lakukan adalah harus memahami dengan sungguh-sungguh/ harus benar-benar mengerti/ terhadap suatu hukum/ yang bernama hukum perbuatan atau hukum kamma./ Kita harus mengerti bahwa hukum kamma ini adalah suatu hukum kebenaran Dhamma./ Jadi/ kita harus mengerti sungguh-sungguh bagaimana sifat/ atau bagaimana cara kerja-nya hukum perbuatan ini/ yang tidak dapat diganggu-gugat oleh siapapun juga./ Kita harus benar-benar memahami hal ini./ Dan/ jangan dilupakan/ bahwa untuk dapat lebih memahami sifat Dham-ma dari hukum perbuatan ini/ maka tetap diperlukan praktik Sila/ Samadhi/ dan Pabba yang baik./ Janganlah hal ini dilupakan./ Nah, Sdr/i,/ sekarang/ bagaimana sifat atau cara kerja dari hukum per-buatan ini?/ Sdr/i sekalian/ sifat atau cara kerja dari hukum perbuatan ini adalah sebagai berikut:/ “Barang siapa berbuat baik/ akan menerima akibat yang baik;/ dan barang siapa berbuat jahat/ akan menerima akibat yang buruk./ Demikianlah sifat atau cara kerja dari hukum perbuatan yang sudah ti dak dapat ditawar-tawar lagi./ Sudah mutlak./ Dan hebatnya/ cara kerja hukum perbuatan ini tidak dapat dipengaruhi dengan cara apapun/ baik dengan cara dibujuk/ atau dirayu-rayu/ ataupun disuap supaya dia dapat kita atur/ tidak bisa demikian./ Inilah kehebatan dari hukum perbuatan tersebut./ Dan/ itulah sifat dari hukum perbuatan yang harus kita pahami benar-benar/ yaitu mutlak./&lt;br /&gt;            Sdr/i yang berbahagia/ selanjutnya/ setelah kita mengerti sifat dari hukum perbuatan tadi/ mungkin di dalam hati Sdr/i akan berkata demikian:/ “Alah, itu sih saya juga sudah tahu./ Anak ke-cil saja juga tahu kalau bunyi hukum perbuatan itu begitu./ Yang berbuat baik hasilnya pasti baik/ dan yang berbuat buruk/ hasilnya pasti buruk./ Itu sih, gampang”./  Sdr/i sekalian/ memang benar/ se cara kata-kata hal tersebut adalah gampang/ bahkan sangat gampang./ Tetapi/ secara praktik/ ternya-ta tidak semudah kata-kata./ Hal ini tentu sudah dapat kita rasakan dan kita alami sendiri./ Dan seka-rang/ untuk dapat lebih memperjelas lagi sifat dari hukum perbuatan ini/ kami akan membabarkan se buah cerita sebagai bahan perbandingan untuk dapat memahami persoalan hukum perbuatan ini./ Ceritanya adalah sebagai berikut:/&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian/ di halaman rumah saya/ yaitu di atas tanah yang sama/ saya menanam dua je-nis bibit atau biji tumbuh-tumbuhan./ Yang satu adalah biji tomat/ dan yang satunya lagi adalah biji pohon pare yang buahnya sangat pahiiiit sekali./ Nah, Sdr/i sekalian/ saya menanam dua macam be-nih tersebut./ Kedua macam benih itu Sdr/i,/ yaitu biji tomat dan biji pare/ saya tanam di atas tanah yang sama/ di halaman yang sama/ sehingga tentunya dari tanah tersebut pasti juga didapat makanan yang sama bagi mereka./ Dan/ airnya juga sama/ mendapat udara dan mendapat sinar matahari juga sama./ Pokoknya/ semua kondisinya serba sama./ Sdr/i, kemudian kedua benih tadi sama-sama mu-lai tumbuh/ dan akhirnya/ masing-masing menjadi sebuah tanaman yang besar./ Tetapi Sdr/i sekali-an/ apa yang terjadi sekarang setelah mereka masing-masing berbuah?/ Apa yang terjadi dengan po-hon tomat dan apa yang terjadi dengan pohon pare?/ Ternyata Sdr/i,/ setiap buah yang dihasilkan da-ri pohon tomat rasanya manis dan enak/ sedangkan setiap buah yang dihasilkan dari pohon pare/ ra-sanya sangat pahit./ Nah, mengapa bisa demikian Sdr/i?/ Mengapa yang satu bisa berbuah manis se-dangkan yang lainnya berbuah pahit?/ Mengapa?/ Bukankah kedua biji tadi ditanam di tempat yang sama?/ Dapat airnya juga sama/ dapat sinar mataharinya juga sama/ tetapi mengapa buahnya bisa berbeda?/ Mengapa?/ Apakah alam semesta ini hanya ramah kepada pohon yang satu dan memusuhi pohon yang lain?/ Apakah demikian?/ Apakah/ ini kalau Sdr/i mau mengatakan/ apakah Tuhan Yang Mahakuasa itu begitu ramah pada pohon yang satu/ yaitu pohon tomat/ dan memusuhi pohon yang lain/ yaitu pohon pare?/ Apakah demikian?/ Sdr/i seDhamma/ ternyata/ sebenarnya tidak ada satu makhluk pun/ atau tidak ada seorang pun/ yang ramah pada pohon yang satu dan memusuhi po-hon yang lain./ Tidak ada satu makhluk pun yang berbuat demikian./ Hukum alam/ yang juga meru-pakan hukum kebenaran mutlak (Dhamma) ini sudahlah pasti./ Segala sesuatu terjadi menurut hu-kumnya/ yaitu hukum alam ini./ Lalu/ apa yang hukum alam ini kerjakan terhadap kedua benih ta-di?/ Sdr/i,/ hukum ini hanya mendukung biji-biji tadi untuk terwujud sesuai dengan kualitas sifatnya masing-masing./ Jadi sekali lagi/ hukum ini hanya mendukung biji-biji tadi untuk terwujud sesuai de ngan kualitas sifatnya masing-masing./ Kualitas sifat dari pohon tomat adalah buahnya manis/ tidak akan terwujud kualitas yang lain kecuali manis;/ sedangkan kualitas sifat pohon pare tidak ada lain-nya lagi selain buahnya pahit./ Jadi/ tidak akan terwujud yang lain selain pahit./ Oleh sebab itu/ se-suai dengan benih yang ditanam/ begitulah hasil yang akan dipetik./&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian/ sekarang saya pergi ke pohon pare tersebut/ lalu mengitarinya 108 kali/ kemu-dian saya duduk di bawahnya/ bernamakara (bersujud) 3 kali/ kemudian saya persembahkan juga bu nga-bunga/ dupa/ dan lilin/ lalu dengan tangan berabjali/ mata terpejam/ saya berdoa dan mengucap-kan keinginan saya demikian:/ “Oh, penguasa pohon pare/ berilah saya buah pare yang manis/ to-longlah pohon pare/ berilah saya buah pare yang manis/ jangan beri saya buah pare yang pahit”./ De mikianlah permohonan saya/ dan saya terus menerus memohon sambil menangis di sepanjang kehi-dupan saya/ supaya pohon pare yang buahnya pahit itu bisa memberi saya buah tomat yang manis./  Sdr/i sekalian/ biar bagaimanapun/ kita tentu tahu bahwa pohon pare itu tetap tidak akan memberi sa ya buah tomat yang manis/ tidak akan./ Jadi/ kalau memang saya benar-benar menginginkan buah to mat yang manis/ maka saya harus menanam biji pohon tomat./ Dengan demikian/ nanti saya tidak perlu lagi memohon-mohon/ bahkan sampai menangis/ untuk meminta buah tomat yang manis./ Ti-dak perlu berbuat demikian/ karena/ memang benih yang saya tanam adalah benih tomat./ Jadi/ seca-ra hukum alamnya/ tanaman ini nanti pasti akan memberi saya buah tomat/ tidak akan berbuah yang lain selain berbuah tomat./ Bukankah demikian, Sdr/i?/&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia/ demikianlah tadi cerita pemahaman tentang hukum kam-ma./ Kesulitan kita dalam hal ini adalah/ bahwa ketika kita dulu menanam benih/ benihnya itu apa/ kita sudah tidak tahu/ sudah tidak ingat lagi/ terutama ketika kita dulu pernah menanam benih yang pahit-pahit./ Tetapi/ giliran sekarang benih-benih itu sudah saatnya berbuah/ kita menjadi begitu ‘ke labakan’./ “Saya ingin yang enak/ saya hanya ingin buah tomat yang manis saja/ tidak mau meneri-ma buah yang lain yang pahit”./ Sdr/i seDhamma/ hal tersebut pasti tidak mungkin/ tidak mungkin bisa terjadi demikian/ karena/ hukumnya bekerjanya tidak demikian./ Jadi/ kesimpulan kita seka-rang/ kalau lebih awal seseorang bisa memahami realita sifat-sifat dari hukum alam ini/ yaitu sesuai dengan benih yang ditanam/ maka begitulah buah yang akan dipetik/ atau sesuai dengan perbuatan yang pernah dilakukan/ maka begitulah hasil yang akan diterima;/ maka lebih awal pula seseorang mulai melangkah di atas jalan yang menuju pembebasan./&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian/ sampai saat ini/ banyak orang yang masih tetap terpedaya oleh khayalan-khayalan diri demikian:/ “Ada seseorang yang pasti akan mengerjakan sesuatu bagi saya./ Yaitu/ meskipun saya telah atau pernah menanam benih yang pahit/ tetapi ada seseorang yang bisa menolong saya/ sehingga/ setelah saya nanti meninggal/ suatu mujijat akan datang/ sehingga saya akan tetap bisa terbebas”./ Sdr/i sekalian/ ini adalah pandangan yang tidak benar./ Ini hanyalah suatu khayalan diri saja./ Seandainya/ ada seseorang makhluk yang bisa menolong saya/ lalu mengapa ia juga tidak mau menolong yang lain?/ Mengapa?/ Mengapa kok hanya saya saja yang ditolong?/ Mungkin kita lalu berpendapat demikian:/ “Ya, karena saya sudah berdoa begitu banyak padanya/ saya bisa merayunya/ sehingga saya ditolong”./ Tetapi Sdr/i,/ jika demikian/ bukankah itu berarti ia ingin dirayu dulu baru mau menolong?/ Bukankah begitu?/ Sdr/i sekalian/ ini adalah pandangan yang tidak benar/ hanya merupakan khayalan diri saja./ Sama seperti cerita tadi/ yaitu memohon ke-pada penguasa pohon pare supaya pohon pare tersebut bisa berbuah tomat yang manis./ Hukum alam tidak bekerja secara demikian./ Hukum alam bekerjanya sudah mutlak/ pasti/ tidak bisa ditawar tawar/. Jadi/ lebih awal seseorang mulai berbuat selaras dengan hukum alam/ yang juga merupakan Dhamma/ maka lebih awal pula ia terbebas dari penderitaan./&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia/ demikianlah pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yang berjudul ‘Hukum Perbuatan’./ Dan bila ada pertanyaan-pertanyaan tentang maka-lah ini/ dapat kita diskusikan bersama-sama setelah kebaktian ini selesai. Terima kasih!&lt;br /&gt;Sabbe satta bhavantu sukhitatta; semoga semua makhluk berbahagia!&lt;br /&gt;Sadhu! Sadhu! Sadhu!&lt;br /&gt;___________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku acuan:&lt;br /&gt;1. The Art of Living.&lt;br /&gt;2. The Discourse Summaries.&lt;br /&gt;Dibacakan pada tanggal:&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-1045235366623547819?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/1045235366623547819/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=1045235366623547819' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/1045235366623547819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/1045235366623547819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/03/hukum-perbuatan.html' title='HUKUM PERBUATAN'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-3146659688866463764</id><published>2008-03-10T18:48:00.000-07:00</published><updated>2008-03-10T18:49:27.931-07:00</updated><title type='text'>HUBUNGAN MANUSIA DENGAN KEMORALAN</title><content type='html'>HUBUNGAN  ANTARA  MORAL  DAN  USIA  KEHIDUPAN  MANUSIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah kita membaca Paritta dan bermeditasi sejenak, marilah sekarang kita mengarahkan perhatian dan konsentrasi kita guna mengadakan pembahasan dan perenungan Dhamma yang pada hari ini berjudul ‘Hubungan antara Moral dan Usia Kehidupan Manusia’. Sekali lagi Sdr/i, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Hubungan antara Moral dan Usia Kehidupan Manusia’.&lt;br /&gt;     Sdr/i sekalian, hubungan antara moral manusia dan usia kehidupan mereka ternyata sangat erat sekali. Artinya, dengan adanya kemerosotan moral maka usia kehidupan manusia menjadi semakin pendek dan rupa manusia pun kelihatannya semakin bertambah buruk. Namun, bila moral manusia baik, maka usia mereka menjadi semakin panjang dan bentuk rupa mereka juga semakin cantik atau tampan. Sdr/i, sekarang ini, usia kehidupan manusia rata-rata sudah semakin merosot terus. Walaupun sekarang ini ilmu pengetahuan sudah semakin maju dan berkembang, banyak sekali obat-obatan yang sudah ditemukan untuk menunjang kesehatan manusia, tetapi ternyata umur kehidupan manusia sekarang rata-rata hanya sekitar 80 sampai 100 tahun saja. Hal ini dapat kita amati sendiri dalam kehidupan kita di dunia ini. Jadi, nampaknya tanda-tanda akan berkurangnya usia kehidupan manusia menjadi lebih nyata sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Sang Buddha karena kemerosotan moral sudah semakin banyak kita lihat di sekitar kita sekarang ini.&lt;br /&gt;     Sdr/i sekalian, malapetaka terburuk yang akan datang menimpa kita nanti, sehubungan de-ngan adanya kemerosotan moral ini, yaitu bahwa manusia akan bersifat seperti binatang dan saling membunuh. Walaupun itu berarti masih beberapa generasi lagi, tetapi telah dapat kita bayangkan kejadiannya. Nah, untuk itu, tentu saja kita harus berusaha guna memperlambat atau menghambat agar peristiwa tersebut tidak terjadi. Namun Sdr/i sekalian, dapatkah kita sebagai manusia ini berbuat sesuatu untuk hal tersebut? Untuk itu, hendaknya harus selalu kita ingat sabda Sang Buddha yang berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;“Setiap orang adalah pemilik dari perbuatannya sendiri; pewaris dari perbuatannya sendiri; terlahir dari perbuatannya sendiri; bersaudara dengan perbuatannya sendiri; terlindung oleh perbuatannya sendiri. Apa pun perbuatan yang dilakukannya, baik atau buruk, itulah yang akan diwarisinya”.&lt;br /&gt;Dengan demikian Sdr/i, manusia dapat menentukan masa depannya, namun semua tingkah la-kunya harus diselaraskan dan diseimbangkan dengan Hukum Moral atau Hukum Kamma.&lt;br /&gt;     Sdr/i seDhamma yang berbahagia, hubungan erat antara segi moral spiritual dan panjang pendeknya usia kehidupan manusia, dapat kita baca dalam salah satu khotbah Sang Buddha, yaitu yang berjudul Cakkavattisihanada Sutta. Sekarang, marilah kita ikuti bersama-sama uraian dari khotbah Sang Buddha tersebut.&lt;br /&gt;     Para bhikkhu, kemudian para menteri, para pegawai istana, para pejabat keuangan, para pengawal dan penjaga serta orang-orang yang hidup dengan melaksanakan pem-bacaan mantera, pergi menemui raja dan berkata:”Wahai raja, rakyatmu yang raja pe-rintah berdasarkan idemu dan caramu sendiri, yang berbeda dengan cara-cara yang mereka ikuti dahulu, ternyata tidak sukses seperti yang biasa mereka capai di masa raja-raja yang terdahulu, yaitu yang melaksanakan kewajiban maharaja yang suci. Se-karang, dalam kerajaan ini ada para menteri, para pegawai istana, para pejabat keuang-an, para pengawal dan penjaga, serta orang-orang yang hidup dengan melaksanakan pembacaan mantera, kami semua ini dan yang lain-lain, memiliki pengetahuan tentang kewajiban maharaja yang suci dari Raja Cakkavatti. Apabila raja menanyakan hal itu kepada kami, maka kami akan menerangkannya”.&lt;br /&gt;     Para bhikkhu, kemudian raja mempersilakan para menteri dan orang-orang lainnya duduk, setelah itu raja bertanya kepada mereka tentang kewajiban maharaja yang suci dari Raja Cakkavatti. Mereka menerangkan hal itu kepada raja. Ketika raja telah men-dengar hal itu, raja memperhatikan, menjaga dan melindungi rakyatnya dengan baik, tetapi, ia tidak memberikan dana kepada orang-orang miskin. Karena tidak berdana kepada orang-orang miskin maka kemelaratan bertambah.&lt;br /&gt;     Para bhikkhu, demikianlah, karena dana tidak diberikan kepada orang-orang yang miskin, maka kemelaratan bertambah meluas. Karena kemelaratan bertambah, maka pencuri bertambah. Karena pencuri bertambah, maka kekerasan berkembang dengan cepat. Disebabkan karena kekerasan yang meluas, maka pembunuhan menjadi biasa. Karena pembunuhan terjadi, maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia menjadi berkurang. Batas usia kehidupan mereka pada masa itu adalah 80.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka hanyalah 40.000 tahun.&lt;br /&gt;     Selanjutnya, di antara orang-orang yang batas usia kehidupannya 40.000 tahun itu … ada yang telah berdusta dengan sengaja. Demikianlah, karena dana-dana tidak di-berikan kepada orang-orang yang miskin maka kemelelaratan meluas, … kemudian mencuri, … kekerasan, … pembunuhan, … hingga berdusta menjadi biasa. Karena berdusta telah menjadi biasa, maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia men-jadi berkurang. Batas usia kehidupan manusia pada masa itu adalah 40.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka hanyalah 20.000 tahun.&lt;br /&gt;     Selanjutnya, di antara orang-orang yang batas usia kehidupannya 20.000 tahun itu … ada yang telah menfitnah dengan sengaja. Demikianlah, karena dana-dana tidak diberikan kepada orang-orang yang miskin maka kemelelaratan meluas, … kemudian mencuri, … kekerasan, … pembunuhan, … berdusta, … hingga menfitnah menjadi biasa. Karena menfitnah telah menjadi biasa, maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia menjadi berkurang. Batas usia kehidupan manusia pada masa itu adalah 20.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka hanyalah 10.000 tahun.&lt;br /&gt;     Selanjutnya, di antara orang-orang yang batas usia kehidupannya 10.000 tahun itu ada yang cantik dan ada yang buruk, sehingga mereka yang berparas buruk merasa iri terhadap yang berparas cantik. Akibatnya, orang-orang yang berparas buruk ini berzi-nah dengan isteri-isteri tetangga mereka. Demikianlah, …karena perzinahan berkem-bang, maka batas usia dan kecantikan manusia menjadi berkurang. Batas usia kehidup-an manusia pada waktu itu adalah 10.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka hanyalah 5.000 tahun.&lt;br /&gt;     Pada masa kehidupan dari orang-orang yang batas usia kehidupan mereka hanya 5.000 tahun ini, telah berkembang dua hal yaitu kata-kata kasar dan membual. Karena kedua hal ini berkembang, maka batas usia kehidupan manusia menjadi berku-rang. Batas usia kehidupan manusia pada waktu itu adalah itu adalah 5.000 tahun, akan tetapi usia kehidupan anak-anak mereka ada yang hanya 2.500 tahun dan ada yang hanya 2.000 tahun.&lt;br /&gt;     Di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 2.500 tahun ini, iri hati dan dendam berkembang. Karena kedua hal ini berkembang, maka batas usia kehi-dupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan manusia yang pada masa itu adalah 2.500 tahun dan 2.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka hanyalah 1.000 tahun.&lt;br /&gt;     Di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 1.000 tahun ini, pan-dangan sesat (micchaditthi) berkembang. Karena pandangan sesat ini berkembang, maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan yang pada masa itu adalah 1.000 tahun, akan tetapi anak-anak mereka hanyalah 500 tahun.&lt;br /&gt;     Di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 500 tahun ini, ada tiga hal yang berkembang, yaitu: berzinah dengan saudara sendiri, keserakahan, dan pe-muasan nafsu. Karena tiga hal ini berkembang, maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan manusia yang pada masa itu adalah 500 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka ada yang 250 tahun dan ada yang hanya 200 tahun.&lt;br /&gt;     Di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 250 tahun ini, hal-hal se-bagai berikut ini berkembang: kurang berbakti kepada orang tua, kurang hormat kepada para samana dan pertapa, dan kurang patuh pada pemimpin masya-rakat. Karena hal-hal ini berkembang dan meluas, maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan manusia yang pada masa itu adalah 250 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka hanyalah 100 tahun.&lt;br /&gt;     Para bhikkhu, akan tiba suatu masa ketika keturunan dari manusia ini akan mempu-nyai batas usia kehidupan hanya 10 tahun. Di antara orang-orang yang batas usia kehi-dupan mereka 10 tahun, umur 5 tahun bagi wanita merupakan usia perkawinan. Pada masa kehidupan orang-orang ini, makanan seperti dadi susu (ghee), mentega, minyak tila, gula, dan garam akan lenyap. Bagai mereka ini, biji-bijian kudrusa akan merupa-kan makanan yang  terbaik. Seperti pada masa sekarang, nasi dan kari merupakan ma-kanan yang terbaik, begitu pula biji-bijian kudrusa bagi mereka. Pada masa orang-orang itu, sepuluh macam cara melakukan perbuatan baik akan hilang, sedangkan se-puluh macam melakukan perbuatan jahat akan berkembang dengan cepat; di antara mereka tidak ada lagi kata-kata yang menyebut tentang perbuatan baik. Siapa yang akan melakukan perbuatan baik? Di antara mereka tidak ada lagi rasa berbakti kepada orang tua, tidak ada lagi rasa menghormat kepada para samana dan pertapa, serta tidak ada lagi kepatuhan kepada para pemimpin masyarakat. Kalau seperti sekarang orang-orang masih berbakti kepada orang tua, menghormat kepada para samana dan pertapa, serta patuh kepada para pemimpin, namun pada masa orang-orang yang batas usia ke-hidupan mereka hanya 10 tahun ini, rasa berbakti, hormat, dan patuh sudah tidak ada lagi.&lt;br /&gt;     Para bhikkhu, di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 10 tahun itu, tidak akan ada lagi pikiran yang membatasi untuk kawin dengan ibu, bibi dari pi-hak ibu, bibi dari pihak ayah, bibi dari pihak ayah yang merupakan isteri dari kakak ayah atau isteri guru. Dunia akan diisi oleh cara bersetubuh dengan siapa saja, bagai-kan kambing, domba, burung, babi, anjing, dan serigala.&lt;br /&gt;     Di antara orang-orang ini, saling bermusuhan yang kuat akan menjadi hukum, pera-saan benci yang hebat, dendam yang kuat, serta keinginan membunuh dari ibu terha-dap anaknya, anak terhadap ibunya, ayah terhadap anaknya, anak terhadap ayahnya, kakak terhadap adiknya, adik terhadap kakaknya, dan seterusnya …. Hal ini terjadi ba-gaikan pikiran dari para olahragawan yang menghadiri pertandingan, begitulah pikiran mereka.&lt;br /&gt;     Para bhikkhu, bagi orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 10 tahun itu akan muncul suatu masa, yaitu munculnya pedang selama seminggu. Selama masa ini, mereka akan melihat individu lain sebagai binatang liar; pedang tajam akan nampak selalu tersedia di tangan mereka dan mereka berpikir:”Individu ini adalah binatang liar. Individu ini adalah binatang liar”. Dengan pedang mereka saling membunuh.&lt;br /&gt;     Sementara itu, ada orang-orang tertentu berpikir:”Sebaiknya kita jangan membu-nuh atau kita tidak membiarkan orang lain membunuh kita. Marilah kita menyembu-nyikan diri ke dalam belukar, ke dalam hutan, ke cekungan tepi sungai, ke dalam gua gunung, dan kita hidup dengan akar-akaran atau buah-buahan di hutan”. Mereka akan melaksanakan hal ini selama seminggu. Pada hari ketujuh mereka keluar dari belukar, hutan, cekungan sungai, dan gua, mereka akan saling berangkulan dan akan saling membantu dengan berkata:”O, kami masih hidup! Senang sekali melihat anda masih hidup!”&lt;br /&gt;     Para bhikkhu, pada orang-orang itu akan muncul keinginan sebagai berikut:”Kare-na kita melakukan cara-cara jahat, maka kita kehilangan banyak saudara. Marilah kita berbuat kebajikan-kebajikan. Sekarang, kebajikan apakah yang dapat kita lakukan? Marilah kita berusaha untuk tidak melakukan pembunuhan. Itu merupakan perbuatan baik yang dapat kita lakukan”. Akhirnya, mereka akan berusaha untuk tidak membu-nuh, hal yang baik ini mereka laksanakan terus. Karena melaksanakan kebajikan ini maka akibatnya batas usia kehidupan dan kecantikan mereka bertambah. Bagi mereka batas usia kehidupan hanya 10 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak me-reka mencapai 20 tahun.&lt;br /&gt;     Para bhikkhu, selanjutnya hal-hal seperti ini akan terjadi pada orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 20 tahun:”Sekarang, karena kita mengikuti dan melaksa-nakan kebajikan, maka batas usia kehidupan dan kecantikan kita bertambah. Marilah kita meningkatkan kebajikan kita. Marilah kita berusaha untuk tidak mengambil apa yang tidak diberikan, kita berusaha untuk tidak berzinah, kita berusaha untuk tidak berdusta, kita berusaha untuk tidak menfitnah, kita berusaha untuk tidak mengucapkan kata-kata kasar, kita berusaha untuk tidak membual, kita berusaha untuk tidak serakah, kita berusaha untuk tidak membenci, kita berusaha untuk tidak berpandangan sesat, ki-ta berusaha untuk tidak melakukan tiga hal berikut ini, yaitu: tidak bersetubuh dengan keluarga sendiri, tidak tamak, dan tidak memuaskan nafsu. Marilah kita berbakti kepa-da kedua orang tua kita, kita menghormat para samana dan pertapa, serta kita patuh kepada pemimpin masyarakat. Marilah kita selalu melaksanakan kebajikan-kebajikan ini".&lt;br /&gt;     Demikianlah, mereka akan selalu melaksanakan kebajikan-kebajikan: tidak meng-ambil apa yang tidak diberikan … berbakti kepada kedua orang tua, menghormat para samana dan pertapa, serta patuh kepada pemimpin masyarakat. Karena mereka melak-sanakan kebajikan-kebajikan itu, maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia bertambah, sehingga mereka yang batas usia kehidupan hanya 20 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 40 tahun. Selanjutnya, bagi mereka yang batas usia kehidupan hanya 40 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 80 tahun; … anak-anak mereka mencapai 160 tahun; … anak-anak mereka mencapai 320 tahun; … anak-anak mereka mencapai 640 tahun; … anak-anak mereka mencapai 2.000 tahun; … anak-anak mereka mencapai 4.000 tahun; … anak-anak mereka mencapai 8.000 tahun; … anak-anak mereka mencapai 20.000 tahun; … anak-anak mereka mencapai 40.000 tahun; dan mereka yang pada masa itu hanya ber-batas usia kehidupan 40.000 tahun, akan tetapi anak-anak mereka mencapai batas usia kehidupan 80.000 tahun.&lt;br /&gt;     Para bhikkhu, di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 80.000 ta-hun, maka usia perkawinan bagi wanita adalah pada usia 500 tahun. Pada masa orang-orang ini hanya akan ada tiga penyakit, yaitu: keinginan, lupa makan, dan ketuaan. Pada masa kehidupan orang-orang ini Jambudipa akan makmur dan jaya, desa-desa, kampung-kampung, kota-kota dan kota-kota kerajaan akan berdekatan satu dengan yang lain sehingga ayam jantan dapat terbang dari satu kota ke kota yang lain….&lt;br /&gt;     Para bhikkhu, pada masa kehidupan orang-orang ini, di dalam dunia akan muncul seorang Bhagava Arahat Sammasambuddha bernama Metteyya …. Dhamma kebenar-an … akan dibabarkan … kehidupan suci akan dibina dan dipaparkan dengan sempur-na … seperti yang Saya lakukan sekarang ini. Ia akan diikuti oleh beberapa ribu bhik-khu Savgha, seperti Saya sekarang ini ….&lt;br /&gt;     Sdr/i seDhamma sekalian, demikianlah petikan dari khotbah Sang Buddha yang berjudul Cakkavattisihanada Sutta, yang berisikan tentang hubungan antara moral dan batas usia kehi-dupan manusia. Dan mengapa hal tersebut dapat terjadi? Kami rasa Sdr/i yang ada di vihara ini dapat menjawab sendiri, dan apabila ada pertanyaan yang masih membingungkan, maka kami persilakan untuk mendiskusikan bersama-sama setelah selesainya kebaktian ini. Terima kasih!&lt;br /&gt;Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia!&lt;br /&gt;Sadhu! Sadhu! Sadhu!&lt;br /&gt;__________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dibacakan pada  tanggal:&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-3146659688866463764?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/3146659688866463764/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=3146659688866463764' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/3146659688866463764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/3146659688866463764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/03/hubungan-manusia-dengan-kemoralan.html' title='HUBUNGAN MANUSIA DENGAN KEMORALAN'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-2478882934800414367</id><published>2008-03-10T18:46:00.002-07:00</published><updated>2008-03-10T18:48:19.758-07:00</updated><title type='text'>GEMPA BUMI</title><content type='html'>GEMPA  BUMI&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;DHAMMO  HAVE  RAKKHATI  DHAMMACARIM&lt;br /&gt;NA  DUGGATIM  GACCHATI  DHAMMACARI.&lt;br /&gt;Dhamma akan melindungi mereka yang melaksanakan&lt;br /&gt;Mereka yang melaksanakan Dhamma tak akan hidup sengsara.&lt;br /&gt;                                          Khuddakanikaya Jataka Theragatha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Sdr/i seDhamma yang berbahagia, marilah sekarang kita bersama-sama menga-rahkan perhatian dan konsentrasi kita untuk mengisi kebaktian ini dengan mengada-kan pembahasan dan perenungan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Gempa Bu-mi’. Jadi sekali lagi, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini ya itu ‘Gempa Bumi’.&lt;br /&gt;          Sdr/i sekalian, kalau kita membaca atau mendengar berita-berita yang terdapat di berbagai media massa, baik melalui radio, koran, majalah, ataupun melalui teve, ki-ta dapat mengetahui bahwa sekarang ini sedang banyak sekali terjadi peristiwa gempa bumi di mana-mana, di bumi kita ini. Gempa bumi itu ada yang terjadi di luar negeri, misalnya di India, di California (Amerika Serikat), di Jepang, di beberapa negara di be nua Eropa, dan masih banyak lagi yang lainnya yang tidak sempat kita ketahui berita-nya. Demikian pula Sdr/i, gempa bumi itu juga ada yang terjadi di dalam negeri, seper ti misalnya di Maluku, di Jakarta, di Lampung, dan yang sekarang sedang terjadi yaitu di daerah …..&lt;br /&gt;          Sdr/i sekalian, bagi kita yang sudah pernah belajar tentang ilmu bumi, maka pe-ristiwa gempa bumi itu adalah hanya suatu gejala alam yang biasa saja, tidak ada hal-hal istimewanya. Tetapi Sdr/i sekalian, ternyata, cara berpikir kita ini tidak hanya sam pai di situ saja. Memang benar, bahwa gempa bumi itu hanyalah merupakan suatu pe-ristiwa gejala alam saja, tetapi mengapa kok terjadinya gejala alam itu tempatnya seo-lah-olah ‘milih’. Jadi, gejala alam itu seolah-olah ‘milih’ tempat. Mengapa kok terjadi nya tidak di tengah-tengah hutan yang lebat yang tidak ada penduduknya sama sekali? Mengapa kok terjadinya gempa itu tidak di tengah-tengah gurun pasir raksasa saja, yang juga tidak ada penduduknya? Mengapa tidak demikian? Mengapa gempa bumi itu terjadinya justru di daerah yang cukup padat penduduknya? Bukankah ini bisa me-nimbulkan banyak penderitaan? Cobalah Sdr/i renungkan, bila di negara-negara yang sudah maju saja, seperti Amerika dan Jepang, kalau mereka terkena gempa bumi ini, mereka masih kalang kabut tidak keruan. Nah, apalagi kalau gempa itu terjadi di nega ra-negara yang belum maju misalnya seperti negara-negara di benua Afrika; atau juga di negara-negara yang sedang berkembang, seperti di India, Filipina, bahkan di Indo-nesia sendiri; sudah tentu hal itu akan menimbulkan keadaan yang lebih kalang kabut lagi bila dibandingkan dengan mereka yang sudah maju dan sudah biasa menghadapi gempa bumi tersebut. Nah, jadi mengapa demikian? Benarkah gempa bumi itu juga ‘milih’ tempat dan sasaran untuk terjadinya dia? Benarkah demikian?&lt;br /&gt;          Sdr/i yang berbahagia, ternyata banyak sekali pendapat-pendapat yang memba-has tentang masalah gempa bumi ini, termasuk dengan masalah pertanyaan tadi, baik ditinjau dari segi ilmu pengetahuan ataupun dari segi yang lainnya lagi, misalnya dari segi keagamaan. Ada yang menjawab bahwa gempa bumi itu adalah suatu peristiwa alam yang sudah tidak bisa diatur oleh siapapun juga di dunia ini. Jadi, menurut dia, manusia itu hanya bisa mengatur untuk mencegah terjadinya bencana alam dalam ba-tas-batas tertentu saja, tetapi tidak bisa mencegah dalam keadaan yang lebih jauh lagi, seperti gunung meletus, banjir, gempa bumi, dan sebagainya. Lalu Sdr/i, ada juga pen dapat yang mengatakan bahwa bencana alam yang sudah tidak bisa diatasi manusia ini disebabkan karena memang sudah merupakan hukuman dari Yang Mahakuasa. Ja-di, manusia tidak bisa mencegahnya biar bagaimanapun canggihnya ilmu pengetahu-an. Itu sudah merupakan hukuman dari Yang Mahakuasa untuk manusia-manusia yang sudah penuh dengan ‘dosa’. Namun Sdr/i, di antara manusia yang menjadi kor-ban gempa itu ternyata ada yang bertanya demikian:”Mengapa saya yang sering berbu at baik kok juga ikut dihukum terkena gempa ini? Mengapa anak-anak yang masih ke-cil-kecil, yang belum banyak berbuat salah, kok juga ikut dihukum terkena gempa bu-mi ini?” Demikianlah Sdr/i, kira-kira jawaban dan pendapat tentang gempa bumi ini yang ternyata juga masih simpang siur. Bahkan, salah seorang penyair dan penyanyi yang sudah cukup terkenal, melalui salah satu lagunya, dia mengatakan bahwa untuk mengetahui tentang terjadinya bencana alam ini, kita disuruh untuk bertanya pada rum put yang bergoyang.&lt;br /&gt;          Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah kita tahu bagaimana kira-kira pan-dangan secara umum tentang gempa bumi ini, sekarang marilah kita tinjau hal itu dari sudut pandangan Buddha Dhamma. Sdr/i sekalian, di dalam ajaran agama Buddha, ter nyata dengan jelas sekali Sang Buddha menerangkan tentang sebab-sebab terjadinya gempa bumi ini. Di dalam cerita tentang riwayat Sang Buddha, diceritakan bahwa be-berapa bulan sebelum Sang Buddha parinibbana, Beliau masih selalu membabarkan Dhamma dari daerah ke daerah; pada waktu itu tibalah Sang Buddha dan YA. Ananda di sebuah cetiya yang bernama Cetiya Capala, di dekat Vesali. Setelah Beliau membe-rikan nasehat dan khotbah Dhamma kepada YA. Ananda, dan YA. Ananda pergi me-ngundurkan diri, datanglah Mara mendekati Sang Buddha. Sambil berdiri di satu sisi, Mara berkata kepada Sang Buddha:”Sekarang, Yang Mulia, sudilah agar Sang Bhaga-va mengakhiri masa hidupnya; semoga Yang Terbahagia berkenan memasuki parinib-bana. Waktunya sesungguhnya telah tiba bagi Sang Bhagava parinibbana. Sebab, per-nah dulu Sang Bhagava berkata kepadaku demikian:’Aku tak akan mengakhiri hidup-Ku sebelum para bhikkhu dan bhikkhuni, upasaka dan upasika, benar-benar menjadi murid sejati, yaitu bijaksana, patuh kepada tata tertib, pandai dan terpelajar, pemeliha-ra Dhamma, hidup sesuai dengan Dhamma, memiliki tingkah laku yang patut, dan se-telah mendengar ajaran Sang Guru, sanggup untuk menerangkannya kembali, untuk mengkhotbahkannya, membabarkannya, membahasnya secara terperinci dan membu-atnya terang; dan kalau timbul pendapat yang berbeda, dapat memberikan bukti-bukti yang benar dan seksama, dan menguraikan dengan baik ajaranKu yang menyakinkan dan dapat membebaskan manusia’. Dan sekarang Yang Mulia, para bhikkhu dan bhik-khuni, upasaka dan upasika, sudah menjadi murid-murid Sang Bhagava seperti yang diharapkan. Karena itu, O, Yang Mulia, Sang Bhagava hendaknya mengakhiri masa hidupNya sekarang; semoga Yang Terbahagia berkenan memasuki parinibbana. Wak-tunya sesungguhnya telah tiba bagi Sang Bhagava parinibbana”.&lt;br /&gt;          “Selain itu, Yang Mulia, sebab pernah juga Sang Bhagava mengucapkan kata-kata ini kepadaku:’Aku tidak akan mengakhiri hidupKu, O, Mara yang jahat, sebelum penghidupan suci yang Aku ajarkan telah berhasil baik, makmur, terkenal, disukai oleh umum, dan berkembang; sebelum penghidupan suci ini dikenal baik oleh para de wa dan manusia’. Sang Bhagava, dan inipun sekarang telah menjadi kenyataan. Kare-na itu, O, Yang Mulia, Sang Bhagava hendaknya mengakhiri masa hidupNya seka-rang; semoga Yang Terbahagia berkenan memasuki parinibbana. Waktunya sesung-guhnya telah tiba bagi Sang Bhagava untuk parinibbana.&lt;br /&gt;          Sdr/i sekalian, demikian tadi permohonan Mara supaya Sang Buddha bersedia untuk mengakhiri hidupNya, yaitu bersedia supaya cepat-cepat parinibbana karena alasannya semua tugas dan keinginan Sang Buddha telah selesai dipenuhi. Sdr/i seka-lian, menghadapi hal tersebut, Sang Buddha lalu menjawab demikian:”Engkau tidak usah bersusah payah, orang jahat. Tidak lama lagi Sang Tathagata memang akan me-masuki parinibbana. Tiga bulan lagi Sang Tathagata akan mengakhiri hidupNya”. De-mikianlah Sdr/i, pernyataan dari Sang Buddha tersebut. Dan di Cetiya Capala, dengan penuh kesadaran dan pikiran terpusat, Sang Buddha mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupNya. Kemudian setelah Sang Buddha mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupNya, maka terjadilah gempa bumi yang hebat, menakutkan, mengeri kan, dan guntur gemuruh di langit. Sang Buddha memandang kejadian ini dengan pe-nuh pengertian dan kemudian Beliau mengucapkan syair seperti ini:&lt;br /&gt;“Yang menjadi sebab kehidupan, kasar atau halus,&lt;br /&gt;Yaitu proses tumimbal-lahir, telah dilepas oleh Sang Pertapa,&lt;br /&gt;Dengan hati tenang dan gembira, seperti menembus pakaian dari rantai,&lt;br /&gt;Ia mematahkan ‘sebab’ dari kehidupanNya sendiri”.&lt;br /&gt;          Sdr/i sekalian, demikianlah syair yang diucapkan oleh Sang Buddha, dan di da-lam batin YA. Ananda timbul pikiran yang demikian:”Mengagumkan benar dan ajaib sekali! Bumi menggetar hebat dan menakutkan! Sedangkan guntur  bergemuruh de-ngan dahsyat dan mengerikan di langit! Apakah sebabnya? Apakah yang dapat menim bulkan gempa bumi sedahsyat ini?&lt;br /&gt;          Sdr/i sekalian yang berbahagia, YA. Ananda kemudian menghampiri Sang Bha gava, memberi hormat dengan khidmat, mengambil tempat duduk di satu sisi, dan ke-mudian bertanya kepada Sang Buddha:”Mengagumkan benar dan ajaib sekali, Bhan-te! Bumi menggetar hebat dan menakutkan! Sedangkan guntur bergemuruh dengan dahsyat dan mengerikan di langit! Apakah sebabnya? Apakah yang menimbulkan gempa bumi sedahsyat ini, Bhante?”&lt;br /&gt;          Sdr/i sekalian, Sang Buddha lalu menjawab:”Ananda, terdapat delapan alasan,  delapan sebab, yang dapat menimbulkan gempa bumi yang hebat. Apakah kedelapan sebab tersebut?”&lt;br /&gt;          “Bumi ini, Ananda, tercipta karena ada zat cair; zat cair tercipta karena ada uda ra; dan udara tercipta karena ada ruang (akasa). Apabila Ananda, terjadi gangguan he-bat di udara, maka zat cair itu akan mendapat tekanan; dan zat cair yang mendapat te-kanan ini akan menimbulkan pergeseran dalam lapisan bumi. Ini adalah sebab perta-ma yang menimbulkan sebuah gempa bumi yang hebat.&lt;br /&gt;          Selain dari itu, Ananda, apabila ada seorang pertapa atau orang suci yang memi liki kekuatan besar dan dapat menguasai pikirannya, atau seorang dewa yang berkuasa dan berkemampuan besar mengembangkan pemusatan pikiran yang kuat terhadap si-fat yang terbatas dari unsur tanah dan terhadap sifat yang tak terbatas dari unsur cair; maka orang itu pun dapat menyebabkan bumi ini bergetar dan bergoyang. Ini adalah sebab kedua yang dapat menimbulkan sebuah gempa bumi yang hebat.&lt;br /&gt;          Selanjutnya, Ananda :&lt;br /&gt;-   Ketika Sang Bodhisatta turun dari surga Tusita dan masuk di rahim ibunya, dengan penuh kesadaran dan pikiran terpusat; (3)&lt;br /&gt;-   Dan ketika Sang Bodhisatta keluar dari rahim ibunya, dengan penuh kesadar-an dan pikiran terpusat; (4)&lt;br /&gt;-   Ketika Sang Tathagata merealisasi Penerangan Agung, Penerangan yang Sempurna dan tak ada bandingnya; (5)&lt;br /&gt;-   Ketika Sang Tathagata menggerakkan Roda Dhamma yang gilang gemilang; (6)&lt;br /&gt;-   Ketika Sang Tathagata mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupNya; (7)&lt;br /&gt;-   Dan ketika mencapai parinibbana, di mana tak ada lagi tertinggal unsur keme lekatan. (8)&lt;br /&gt;Maka pada peristiwa-peristiwa tersebut tadi, bumi ini akan bergetar dan bergoyang. Ini semua, Ananda, adalah delapan alasan, delapan sebab, yang dapat menimbulkan gempa bumi”.&lt;br /&gt;          Sdr/i seDhamma sekalian, demikian tadi sabda Sang Bhagava tentang adanya delapan sebab atau delapan alasan terjadinya gempa bumi yang dijelaskan dalam Mahaparinibbana Sutta, Dighanikaya II, 16; mengenai hari-hari terakhir Sang Bud-dha. Dan bersama ini pula, kami akhiri pembahasan dan perenungan Dhamma kita pa-da hari ini yang bertemakan ‘Gempa Bumi’. Bila di antara Sdr/i ada yang ingin berta-nya tentang makalah ini, dapat kita diskusikan bersama-sama setelah selesainya kebak tian ini. Terimakasih.&lt;br /&gt;Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia!&lt;br /&gt;Sadhu! Sadhu! Sadhu!&lt;br /&gt;_____________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Acuan:&lt;br /&gt;1. Riwayat Hidup Buddha Gotama, penyusun S. Widyadharma.&lt;br /&gt;2. Berbagai media massa tentang masalah ‘gempa bumi’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibacakan pada tanggal :&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-2478882934800414367?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/2478882934800414367/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=2478882934800414367' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/2478882934800414367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/2478882934800414367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/03/gempa-bumi.html' title='GEMPA BUMI'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-8851958908805380748</id><published>2008-03-10T18:46:00.001-07:00</published><updated>2008-03-10T18:46:47.144-07:00</updated><title type='text'>GANAKAMOGGALLANA</title><content type='html'>GANAKAMOGGALLANA  SUTTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammä Sambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;DHAMMO  HI  ISINAÇ  DHAJO&lt;br /&gt;Dhamma adalah lambang bagi pertapa.&lt;br /&gt;             Saçyuttanikäya Nidänavagga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian yang berbahagia, setelah kita membaca Paritta dan bermeditasi, maka marilah sekarang kita isi kebaktian pada pagi hari ini dengan pembahasan dan perenungan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Ganakamoggallana Sutta’. Sdr/i sekalian, sebelumnya perlu kami jelaskan bahwa kita biasanya selalu membahas Sutta-Sutta secara khusus di Vihara Dhamma-cakkhu ini hanya sebulan sekali. Namun, berhubung begitu banyaknya Sutta-Sutta yang belum kita kenal, maka alangkah baiknya apabila kita juga lebih sering lagi membahas Sutta-Sutta tersebut ti-dak hanya sebulan sekali. Hal ini bertujuan untuk menambah pengetahuan dan wawasan kita terha-dap ajaran dari Guru Agung kita sendiri, yaitu Sang Buddha. Jadi, janganlah sampai kita ini, yang katanya mengaku sebagai umat Buddha, mengaku sebagai siswa Sang Buddha, tetapi malahan tidak tahu apa-apa tentang ajaran dari gurunya sendiri. Oleh sebab itulah Sdr/i yang berbahagia, mulai se-karang marilah kita tanamkan tekad kita untuk menggali bersama-sama tentang ajaran Sang Buddha ini, di mana saja, kapan saja, sesuai dengan kondisinya. Nah, Sdr/i sekalian, jadi berdasarkan alasan tersebut tadi, maka sekarang ini kita akan membahas bersama-sama salah satu khotbah Sang Bud-dha yang berjudul ‘Ganakamoggallana Sutta’. Sdr/i, Ganakamoggallana Sutta ini kami ambil dari kitab Majjhima Nikäya bagian Devadaha Vagga, dan merupakan Sutta ke 107 dalam Majjhima Ni-käya tersebut. Sdr/i sekalian yang berbahagia, sekarang marilah kita mulai saja untuk membahas Sutta ini.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian, tersebutlah ketika Sang Buddha sedang berada di Pubharama di kota Savatthi, datanglah seorang pertapa yang juga seorang ahli matematika (jika diistilahkan de-ngan bahasa sekarang), menghadap Sang Buddha untuk mengadakan perbincangan; dan, perbincang an pertapa ini dengan Sang Buddha adalah berkenaan dengan hal-hal yang bertahap, yaitu tentang latihan yang bertahap, lalu melakukan yang bertahap, dan praktik yang bertahap.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, pertapa tersebut bernama Ganakamoggallana, dan mohon diperhatikan bah-wa Ganakamoggallana ini adalah berbeda dengan Mahämoggallana yang merupakan siswa Sang Buddha yang memiliki kekuatan batin paling tinggi. Jadi sekali lagi, Ganakamoggallana ini adalah berbeda dengan Mahämoggallana.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, selanjutnya, pertapa Ganakamoggallana ini bertanya kepada Sang Buddha demikian:”Bhante, bila semua yang kita lakukan ini selalu bertahap-tahap; mialnya dalam memba-ngun Vihara Pubharama yang tujuh tingkat ini dilakukan bertahap-tahap, lalu dalam pelajaran ber-hitung, kita juga mempelajarinya secara bertahap-tahap, kemudian dalam pelajaran memanah, kita juga pasti akan melakukannya secara bertahap-tahap. Demikian pula Bhante, buat para brahmana, juga dikenal adanya metode latihan yang bertahap-tahap ini, misalnya dalam mempelajari Wedha, hal tersebut dilakukan secara bertahap-tahap, tidak sekaligus. Nah, Bhante, sekarang bagaimana de-ngan ajaran Sang Buddha ini, apakah bertahap-tahap juga atau tidak?”&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, ditanya dengan pertanyaan demikian, Sang Buddha menjawab “sama”, yaitu bertahap-tahap juga. Beliau menerangkan bahwa hal ini dapat diumpamakan seperti orang yang me-latih kuda liar yang lalu dibiasakan dengan kendali. Demikian pula Tathagatha, Beliau akan melatih orang yang bisa dilatih dengan cara demikian. Dan, tahap-tahap latihan tersebut, yang dalam hal ini ditujukan terutama untuk para bhikkhu, adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.   Melatih Sila atau kemoralan. Dalam hal ini, Patimokkha atau peraturan dalam kebhikkhuan, ada lah merupakan kendali untuk tidak melakukan suatu kesalahan, walaupun hal itu merupakan su-atu kesalahan yang kecil atau ringan. Jadi, kesalahan yang kecil atau ringan ini juga harus diper-hatikan dan tidak bisa dianggap sepele. Dan, sebagai kendalinya supaya tidak melakukan kesa-lahan-kesalahan ini yaitu dengan Patimokkha atau tata tertib kebhikkhuan.&lt;br /&gt;2.   Para bhikkhu harus menjaga pintu-pintu indera mereka. Dalam hal ini ada enam pintu indera yang harus dijaga ketat. Pintu indera ini dijaga supaya kalau bisa jangan sampai melihat obyek-obyek yang dapat menimbulkan Lobha, Dosa, dan Moha. Atau, dijaga jangan sampai menim-bulkan Lobha, Dosa, dan Moha apabila melihat (terlihat) obyek-obyek tadi.&lt;br /&gt;3.   Para bhikkhu harus seimbang dalam hal makan. Dalam hal makan ini ada perenungannya. Para bhikkhu hendaknya makan secukupnya dan hendaknya selalu merenungkan dalam hatinya demi kian:’Dana makanan apapun yang telah kupergunakan hari ini, bukanlah untuk kesenangan atau untuk pemabukan, bukan untuk menggemukkan badan atau memperindah diri, tetapi makan ini hanya untuk kelangsungan hidup dan memelihara tubuh ini, untuk menjaga tubuh agar tidak ce-pat rusak, untuk membantu pelaksanaan kehidupan suci; dan berpikir, aku akan menghilangkan perasaan lapar (yang lama) dan tidak menimbulkan perasaan baru dengan makan berlebihan dan sebagainya. Dengan demikian terdapat kebebasan bagiku dari gangguan tubuh dan dapat hidup dengan tentram’.&lt;br /&gt;4.   Para bhikkhu hendaknya berlatih selalu sadar, tidak banyak tidur, dari pagi hari misalnya ketika makan, hendaknya dia menyadari bahwa dia sedang makan; lalu siang hari melatih kesadaran dengan meditasi duduk dan meditasi berjalan; sore menjelang malam juga melatih meditasi mi-salnya meditasi berjalan, kemudian pada malam hari menyadari saat-saat istirahat dan akhirnya pada pagi dini hari melatih lagi meditasi duduk dan meditasi berjalan. Sdr/i, hal-hal tersebut ini merupakan kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh Sang Buddha dan hendaknya para bhikkhu mencontoh demikian. Dan juga, bedanya, kalau bagi Sang Buddha hal-hal tersebut sudah bukan merupakan suatu latihan lagi; sedangkan bagi para bhikkhu yang belum mencapai tingkat kesu-cian Arahat, maka hal-hal itu merupakan suatu latihan.&lt;br /&gt;5.   Selalu melatih perhatian murni atau Satisampajañña; misalnya mengetahui bagaimana posisi tu-buh, yaitu sewaktu duduk, sewaktu makan, sewaktu meninggalkan tempat, sewaktu berdiri, ber-jalan, dan sebagainya. Semuanya tadi harus disertai dengan perhatian murni.&lt;br /&gt;6.   Mencari tempat yang sesuai untuk bermeditasi, misalnya di hutan, di bawah pohon, di dalam gua-gua, di kuburan-kuburan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;7.   Setelah mengatasi Lima Rintangan Batin, yang nanti akan diterangkan dalam diskusi Dhamma setelah selesainya kebaktian ini, mereka mencapai Jhäna I.&lt;br /&gt;8.   Mencapai Jhäna II.&lt;br /&gt;9.   Mencapai Jhäna III.&lt;br /&gt;10. Mencapai Jhäna IV.&lt;br /&gt;11. Mencapai atau merealisasi Magga 4, Phala 4, dan Nibbäna.&lt;br /&gt;            Sdr/i yang berbahagia, demikian tadi latihan-latihan yang bertahap di dalam ajarran Sang Buddha yang dikhotbahkan Beliau kepada Ganakamoggallana. Kemudian Sdr/i, setelah pertapa Ga-nakamoggallana ini mengetahui tentang latihan yang bertahap-tahap tersebut, dia lalu bertanya lagi kepada Sang Buddha demikian:”Bhante, setelah dilatih dengan jalan demikian tadi, apakah semua siswa Sang Buddha mencapai tujuan akhir (Nibbäna)? Ataukah ada sebagian siswa yang tidak men-capai?”&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, menanggapi pertanyaan Ganakamoggallana ini, Sang Buddha menjawab bah wa sebagaian dari siswa-siswa yang dilatih secara demikian tadi dapat mencapai tujuan akhir (Nib-bäna), namun sebagian lagi juga ada yang tidak mencapai.&lt;br /&gt;            Sdr/i, mendengar jawaban dari Sang Buddha yang demikian itu, Ganakamoggallana pena-saran dan mendesak lagi kepada Sang Buddha dengan pertanyaan demikian:”Mengapa bisa demiki-an, Bhante? Apa sebab dan alasannya? Bukankah bahwa Nibbäna itu ada; lalu penunjuk jalannya (yang dalam hal ini adalah Sang Buddha sendiri) juga ada; dan kemudian jalan menuju Nibbäna itu juga ada? Tetapi, mengapa masih ada yang tidak berhasil mencapainya?”&lt;br /&gt;            Sdr/i, seperti biasanya, Sang Buddha ini mempunyai lima macam cara dalam menjawab per tanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada Beliau. Dan, salah satu di antaranya adalah dengan cara ‘kembali bertanya’. Jadi, ketika menjawab pertanyaan Ganakamoggallana ini, Sang Buddha kemba-li bertanya demikian:”Pertapa, apakah anda tahu jalan ke kota Rajagaha?”  Ganakamoggallana men-jawab:”Ya, saya tahu, Bhante!”  Lalu Sang Buddha meneruskan:”Pertapa, umpama ada orang di si-ni yang mau pergi ke kota Rajagaha, kemudian orang itu minta tolong Anda untuk menunjukkan jalan ke sana. Nah, karena Anda sudah tahu, maka Anda tentu akan menjawa ‘ya, ini jalannya. Ja-lan terus saja, nanti kamu sampai di suatu desa, lalu di suatu kota, akhirnya sampai Rajagaha’. Teta-pi pertapa, bagaimana kalau orang ini berjalan ke arah yang berlawanan dengan yang anda tunjuk-kan tadi? Apakah dia bisa mencapai Rajagaha?”  “Tidak, Bhante” jawab Ganakamoggallana. Lalu Sang Buddha meneruskan lagi, “Kemudian ada orang kedua yang bertanya kepada Anda, dan de-ngan patuh diikutinya petunjuk Anda tadi secara seksama. Apakah dia bisa mencapai Rajagaha?”  “Bisa, Bhante” jawab Ganakamoggallana. “Nah, pertapa, sekarang saya akan bertanya; mengapa orang yang pertama bertanya kepada Anda tadi tidak sampai ke kota Rajagaha sedangkan orang yang kedua bisa sampai ke sana? Bukankah kota Rajagaha itu ada? Penunjuk jalannya, yang dalam hal ini adalah Anda sendiri, juga ada? Dan juga, jalan yang menuju ke kota Rajagaha tadi juga ada? Tetapi, mengapa dia bisa tidak sampai?” “Lho, saya khan hanya penunjuk jalan, Bhante! Jadi, apa yang dapat saya lakukan?”  “Pertapa, demikian juga dengan pertanyaanmu tadi, dalam hal itu, apa yang dapat saya lakukan? Saya hanyalah seorang penunjuk jalan!”&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, itulah tadi isi dari Ganakamoggallana Sutta yang merupa kan Sutta ke 107 dari kitab Majjhima Nikäya, yaitu bagian Devadaha Vagga. Mungkin setelah Sdr/i mendengar ceritera tadi, tentu Sdr/i yang berada di Vihara ini juga sudah dapat menangkap makna yang terkandung di dalam khotbah Sang Buddha tersebut. Sehingga, apabila suatu saat nanti Sdr/i masih sulit dalam memahami atau mempelajari Dhamma Sang Buddha tersebut, kita tidak menjadi berkecil hati bila masih belum bisa, karena ajaran Sang Buddha memang suatu latihan yang berta-hap-tahap. Dan juga, untuk dapat mencapai tujuan akhir, yaitu merealisasi Nibbäna, kita harus beru-saha sendiri, karena seperti yang telah kita dengar tadi, bahwa dalam hal ini Sang Buddha hanyalah sebagai seorang penunjuk jalan. Jadi, kita sendirilah yang harus berusaha untuk mencapai tujuan akhir kita.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah perenungan dan pembahasan Dhamma yang telah kita lakukan bersama-sama pada hari ini, dan semoga dapat mengkondisikan untuk kebahagia-an kita semua. Terimakasih!&lt;br /&gt;Sabbe sattä bhavantu sukhitattä, semoga semua makhluk berbahagia!&lt;br /&gt;Sädhu! Sädhu! Sädhu!&lt;br /&gt;____________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibacakan pada tanggal:&lt;br /&gt;- 15 Agustus 1993.&lt;br /&gt;- 5 Maret 1995.&lt;br /&gt;- 26 Januari 1997.&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-8851958908805380748?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/8851958908805380748/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=8851958908805380748' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/8851958908805380748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/8851958908805380748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/03/ganakamoggallana.html' title='GANAKAMOGGALLANA'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-5705333820087896020</id><published>2008-03-10T18:45:00.001-07:00</published><updated>2008-03-10T18:46:01.375-07:00</updated><title type='text'>FRUSTRASI</title><content type='html'>FRUSTASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammä Sambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;ATTHE  JÄTE  CA  PANDITAÇ&lt;br /&gt;Dalam menghadapi suatu masalah, seorang bijaksana senantiasa diharapkan.&lt;br /&gt;                                                                   Khuddakanikäya Jätaka Ekanipäta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sdr/i seDhamma yang berbahagia, marilah sekarang kita bersama-sama mengarah-kan perhatian dan konsentrasi kita untuk membahas dan merenungkan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Frustasi’. Sekali lagi Sdr/i seDhamma, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Frustasi’.&lt;br /&gt;Sdr/i sekalian, sebagai manusia yang bermasyarakat, tentu kita semua yang ada di Vihära ini sudah tidak asing lagi bila mendengar sebuah kata yaitu kata ‘frustasi’, dan bah-kan kita semua ini pasti juga memahami arti atau makna dari kata ‘frustasi’ tersebut. Sdr/i seDhamma, namun meskipun demikian, untuk lebih jelasnya, maka kami terlebih dahulu akan menjelaskan pengertian dari kata ‘frustasi’ ini supaya kita dapat lebih mudah mema-hami maknanya, terutama dalam hubungannya dengan Dhamma, ajaran Sang Buddha.&lt;br /&gt;Sdr/i yang berbahagia, apabila ada seseorang yang dalam suatu kegiatan atau dalam suatu usahanya dapat mencapai tujuan kesuksesan atau keberhasilan, tentu ia akan merasa puas. Tetapi, bila usahanya untuk mencapai tujuan itu mengalami suatu kegagalan karena adanya rintangan-rintangan tertentu, maka akan timbullah kekecewaan dalam dirinya. Nah, bila kekecewaan ini menjadi mendalam dan berlangsung terus menerus, maka akan menim-bulkan suatu keadaan batin yang biasa disebut dengan istilah ‘frustasi’. Frustasi ini menye-babkan tidak adanya keseimbangan dalam tindakan emosinya atau keadaan batinnya. Atau, sebenarnya lebih tepat bila dikatakan bahwa karena keseimbangan batinnya yang kurang kuat itulah maka menyebabkan timbulnya frustasi. Sdr/i, kekecewaan yang terus menerus sehingga menyebabkan timbulnya kondisi yang disebut frustasi ini, tentu sifatnya emosional sehingga orang yang mengalaminya menjadi kurang mampu untuk menggunakan pikiran yang rasional (nalar) dan juga cara berpikir serta tindakannya menjadi lamban, tidak ada daya adaptasi atau kemampuan menyesuaikan diri. &lt;br /&gt;Sdr/i sekalian, sumber atau lebih tepatnya ‘sebab’ dari frustasi yang emosional ini dapat berasal dari orang lain, dari benda-benda, atau alam sekitarnya. Banyak sekali bentuk frustasi enosional ini, dan untuk lebih jelasnya akan kami uraikan beberapa contoh yaitu se-perti berikut ini:&lt;br /&gt;Contoh pertama Sdr/i, secara pengertian umum, ada reaksi emosional yang dikata-kan sebagai ‘reaksi emosional yang tak terpikirkan’. Sebagai contoh misalnya, karena sese-orang tidak berhasil dalam mencapai tujuannya atau keberhasilannya, maka ia langsung bereaksi dengan marah-marah, dan bahkan mungkin sampai merusak sesuatu yang ada di sekitarnya atau bahkan ada juga yang merusak dirinya sendiri. Jadi, begitu dia tahu bahwa usahanya itu mengalami kegagalan, secara spontan ia langsung ‘ngamuk-ngamuk’, pukul sana pukul sini, termasuk mungkin memukuli dirinya sendiri. Inilah contoh dari reaksi emo-sional yang secara umum dikatakan ‘tidak terpikirkan’.&lt;br /&gt;Sdr/i sekallian, ada lagi contoh dari bentuk reaksi emosional yang tidak terpikirkan lainnya, yaitu tentang adanya seorang mahasiswa yang tiba-tiba pingsan setelah ia mengeta-hui bahwa ia tidak lulus dalam ujian akhirnya. Reaksi ini tercetus dengan menunjukkan si-kap yang tidak berdaya, pasif, atau patah hati, dan sebagainya yang secara emosional. Ben-tuk lain lagi dari reaksi emosional ini bisa kita lihat pada orang yang sedang mengalaminya, yaitu walaupun ia telah dewasa, namun ia bisa menunjukkan tingkah laku yang sifatnya ke-kanak-kanakan, misalnya ia akan langsung menangis meraung-raung saat itu juga, bahkan sampai berguling-guling di lantai, dan sebagainya. Nah, tingkah laku seperti itu juga meru-pakan suatu contoh dari bentuk frustasi yang disebut ‘regression’ atau ‘kemunduruan’, yaitu ia menjadi bertingkah laku seperti anak-anak.&lt;br /&gt;Sdr/i yang berbahagia, selanjutnya, kami masih ingin memberikan bentuk frustasi lainnya agar bisa menjadi lebih jelas lagi. Bentuk frustasi yang merupakan reaksi batin ini adalah dengan cara mengulang kembali dari suatu cara yang pernah memberikan hasil yang baik bagi dirinya. Misalnya, bila ada seorang anak kecil yang meminta sesuatu, tetapi oleh orang tuanya tidak diberi atau ditolak. Akibatnya, anak tersebut frustasi, dan reaksinya yaitu dia langsung menangis. Nah, karena menangis tersebut, akhirnya orang tuanya lalu memberikan apa yang dimintanya itu. Pengalaman ini, akhirnya ia gunakan kembali atau ia ulangi kembali pada waktu-waktu selanjutnya nanti yaitu pada saat permintaannya tidak di-penuhi oleh orang tuanya. &lt;br /&gt;Sdr/i seDhamma, masih ada lagi bentuk frustasi emosional lainnya yaitu di mana orang tersebut menekan emosinya atau berusaha untuk melupakan sesuatu perbuatan atau pengalaman yang telah dilakukannya, karena perbuatan atau pengalaman itu dianggap pe-ngalaman pahit atau buruk. Misalnya, seseorang yang pernah melakukan perbuatan keji se-perti membunuh, mencuri, berzinah, dan sebagainya. Lalu, pengalaman ini ingin ia lupakan atau ditekan, sebab hal ini merupakan pengalaman yang buruk. Sdr/i, selanjutnya masih ada bentuk frustasi yang lain lagi, yaitu bentuk frustasi dengan melakukan suatu perbuatan yang dibuat-buat. Misalnya seorang mahasiswa karena saking takutnya kepada dosen pada waktu menghadapi ujian, maka ia lalu menggerak-gerakkan kaki atau tangannya untuk menghilang kan atau menutupi perasaan takutnya itu.&lt;br /&gt;Sdr/i yang berbahagia, demikianlah beberapa bentuk frustasi yang telah kita ketahui, dan itu semua merupakan sebagian saja dari berbagai macam bentuk frustasi yang ada di dunia ini. Demikian pula kalau Sdr/i membaca cerita Buddhis, di sana juga kita dapati ber-bagai peristiwa tentang masalah frustasi ini. Misalnya saja cerita tentang Pangeran Nanda yang merasa menyesal dan menderita setelah ditahbiskan menjadi bhikkhu, karena terus menerus memikirkan istrinya yang cantik yang bernama Janapada Kalyani. Hal ini dilihat oleh bhikkhu lainnya yang kemudian menegurnya :”Mengapa anda kelihatan sedih?” “Sau-dara, aku sebenarnya menyesal. Aku tidak menyukai penghidupan sebagai bhikkhu. Aku ingin melepaskan jubah dan pulang ke istana”, jawab Pangeran Nanda. Sdr/i, bhikkhu yang menemuinya itu kemudian pergi dan melaporkan peristiwa tersebut kepada Sang Buddha. Akhirnya, Sang Buddha memanggil Pangeran Nanda dan menanyakan kebenaran laporan itu. Setelah mengetahui kebenaran itu, Sang Buddha dengan kekuatan batinNya memegang tangan Pangeran Nanda dan membawanya ke alam Deva Tävatiçsä. Dalam perjalanan itu Sang Buddha menunjukkan hutan yang terbakar kepada Pangeran Nanda, di mana di hutan itu ada seekor kera rakus yang sedang duduk di atas dahan yang terbakar. Telinga, hidung, dan ekor kera itu telah terbakar pula. Nah, ketika sampai di alam Deva Tävatiçsä, Sang Buddha menunjukkan kepada Pangeran Nanda limaratus bidadari berkaki ungu yang mela-yani Deva Sakka, yaitu rajanya para deva. Setelah menunjukkan kedua hal itu, Sang Bud-dha lalu bertanya kepada Pangeran Nanda :”Nanda, yang mana kamu pandang lebih cantik, lebih indah, dan lebih menyenangkan untuk dilihat? Istrimu Janapada Kalyani, atau limara-tus bidadari berkaki ungu ini?” Pangeran Nanda menjawab:”Bhante, kalau begini, Janapada Kalyani hanya sebanding cantiknya dengan kera yang telah kehilangan telinga, hidung, dan ekornya karena terbakar di hutan tadi. Sangat jauh bedanya, Bhante.  Oleh sebab itu, bila dibandingkan dengan para bidadari ini, maka isteri saya tidak termasuk hitungan. Ia tidak setitik kecilpun bila dibandingkan dengan mereka. Sebaliknya, limaratus bidadari ini adalah sangat cantik, sangat menarik, dan molek sekali, Bhante”. Sang Buddha kemudian berkata lagi :”Benar, Nanda, bergembiralah. Saya menjamin, saya memberi garansi, bahwa engkau pasti bisa mendapatkan limaratus bidadari berkaki ungu itu, bila engkau mau bekerja keras”. “Wah, kalau Bhante menggaransikan saya bisa mendapatkan limaratus bidadari ini, maka    dengan segala senang hati saya ingin terus hidup sebagai bhikkhu”. Sdr/i sekalian, demikian lah kisah Pangeran Nanda yang frustasi, yang akhirnya bisa ditolong oleh Sang Buddha.&lt;br /&gt;  Sdr/i seDhamma yang berbahagia, masih ada cerita lain tentang masalah frustasi ini yaitu seperti yang disebutkan dalam Mahä Parinibbäna Sutta berikut ini :”Demikianlah, ke-tika Sang Bhagavä telah parinibbäna, beberapa bhikkhu yang belum terbebas dari kemele-katan, mengangkat tangan mereka dan menangis sedih, beberapa di antara mereka, bergu-ling-guling di atas tanah sambil menangis dan meratap, ‘Terlalu cepat Sang Sugata lenyap dari pandangan’. Demikianlah, ratapan para bhikkhu yang masih mengalami frustasi ketika Sang Buddha parinibbäna.&lt;br /&gt;Sdr/i yang berbahagia, contoh cerita frustasi lainnya kami ambil dari Therigäthä, Canto VI ; 50 : yang menceritakan tentang seorang wanita yang bernama Patacara, yang sa-ngat menderita karena dalam satu hari ia ditinggal mati oleh suami, dua anaknya, dan juga kedua orang tua serta saudara-saudaranya. Ia menjadi gila karena menanggung kesedihan ini, tetapi setelah bertemu Sang Buddha, akhirnya ia dapat sembuh kembali. Demikian pula dengan cerita Mahäpajapati yang juga mengalami frustasi yang hebat ketika anak satu-satu-nya meninggal. Ia dapat disembuhkan dari frustasinya itu setelah bertemu Sang Buddha dan hanya disuruh mencari segenggam biji lada dari suatu keluarga yang belum pernah menga-lami kematian di keluarganya.&lt;br /&gt;Sdr/i seDhamma yang berbahagia, akhirnya sebagai contoh terakhir dari sekian ba-nyak contoh mengenai frustasi ini, maka kami akan menceritakan keadaan Sang Buddha sendiri ketika Beliau baru saja beberapa minggu merealisasi Penerangan Sempurna. Ketika itu, Sang Buddha di bawah pohon Ajapala Banyan merenungkan demikian :”Dhamma yang telah Kupamani ini sungguh sangat dalam, sulit dirasakan, sulit dipahami, halus, agung, ti-dak dalam jangkauan logika, dan hanya bisa dipahami oleh mereka yang bijaksana. ….. Maka, jika Aku harus mengajar Dhamma, pihak lain tidak akan memahamiKu. Itu akan menjemukanKu, itu akan melelahkanKu”.  Demikianlah Sdr/i, renungan dari Sang Buddha tersebut, dan setelah merenungkan demikian itu, akhirnya sebuah syair indah yang belum pernah terdengar, diutarakan oleh Sang Buddha sebagai berikut :”Dengan susah payah Kupahami Dhamma. Tidaklah perlu untuk membabarkannya sekarang. Dhamma ini tidak mudah untuk dipahami oleh mereka yang dikuasai keserakahan dan kebencian. Mereka yang masih dikendalikan keserakahan, diselimuti kegelapan, tidak dapat melihat Dhamma ini yang berjalan menentang arus, yang sulit dimengerti, mendalam, sukar dirasakan, dan halus”. Jadi singkatnya saja, Dhamma ini dalam sekali dan sulit untuk dimengerti. Hal ini menimbulkan perasaan enggan dalam diri Sang Buddha untuk mengajarkan Dhamma tersebut. Demikianlah kira-kira contoh cerita frustasi yang juga dialami oleh Sang Buddha sendiri. Dan, hal tersebut bisa diatasi oleh Sang Buddha setelah Brahma Sahampati, yang dapat membaca pikiran Sang Buddha saat itu, dan juga karena takut bahwa dunia mungkin hancur karena tidak ada yang mendengar Dhamma, turun dari Brahmaloka lalu menghadap Beliau dan memohon Beliau untuk mengajarkan Dhamma dengan menyatakan demikian: ”O, Guru, biarlah Yang Mulia membabarkan Dhamma! Biarlah Yang Sempurna membabarkan Dhamma! Dalam dunia ini, terdapat juga makhluk dengan sedikit debu di mata mereka, yang apabila tidak mendengar Dhamma akan jatuh. Mereka itulah yang akan memahami Dhamma yang akan diajarkan”.&lt;br /&gt;Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah tadi beberapa contoh dari bentuk-bentuk frustasi yang dapat kita ketahui pada pembahasan dan perenungan Dhamma hari ini. Semoga setelah kita dapat mengenali lebih baik lagi tentang perihal frustasi ini, maka diha-rapkan kita dapat mengatasinya dengan baik. Dan, apabila di antara Sdr/i sekallian ada yang ingin bertanya tentang makalah ini, atau mungkin ada yang berpendapat bahwa makalah ini salah sehingga bisa menimbulkan frustasi, maka kami persilakan untuk mendiskusikan ber-sama-sama setelah selesainya kebaktian ini. Terima kasih!&lt;br /&gt;Sabbe sattä bhavantu sukhitattä, semoga semua makhluk berbahagia!&lt;br /&gt;Sädhu! Sädhu! Sädhu!&lt;br /&gt;____________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Acuan:&lt;br /&gt;1.  Pengantar Psikologi. Oleh E. Usman Effendi dan Juhaya S  Praja.&lt;br /&gt;2.  Cerita Buddhis Dhammapada Atthakatha I. Alih bahasa Bhikkhu Aggabalo.&lt;br /&gt;3.  Riwayat Hidup Buddha Gotama. Penyusun S. Widyadharma.&lt;br /&gt;4.  Sang Buddha dan Ajaran - AjaranNya, bagian I. Oleh Bhikkhu Narada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibacakan pada tanggal :&lt;br /&gt;-   13  Februari  1994.&lt;br /&gt;-   14  April  1996.&lt;br /&gt;-   11  Agustus 1999.&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-5705333820087896020?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/5705333820087896020/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=5705333820087896020' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/5705333820087896020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/5705333820087896020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/03/frustrasi.html' title='FRUSTRASI'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-5011480799273613284</id><published>2008-03-10T18:44:00.000-07:00</published><updated>2008-03-10T18:45:24.949-07:00</updated><title type='text'>DHAMMA YANG ALAMIAH</title><content type='html'>DHAMMA  YANG  ALAMIAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;SATAM  DHAMMO  DURANVAYO.&lt;br /&gt;Dhamma orang bijaksana, sangat sulit dimengerti.&lt;br /&gt;                              Samyuttanikaya Sagathavagga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian yang berbahagia, seperti biasanya, yaitu bila kita melakukan ke-baktian, maka kita akan mengisi pula dengan pembahasan dan perenungan Dhamma. Hal ini selalu kita lakukan setiap kita melakukan kebaktian. Oleh sebab itu Sdr/i seDhamma, dapatlah dikatakan bahwa selama ini kita tentu sudah mempunyai pengertian Dhamma yang cukup banyak. Apalagi, ki-ta juga sudah sering berdiskusi dan menelaah Dhamma sesudah kita selesai melakukan kebaktian. Tetapi Sdr/i sekalian, untuk hari ini, Dhamma yang akan kita bahas bersama agak berbeda dari pem-bahasan-pembahasan Dhamma sebelumnya. Hari ini, kita akan membahas Dhamma yang alamiah. Dalam pembahasan Dhamma yang alamiah ini, kita harus lebih seksama lagi karena untuk menjaga supaya tidak terjadi timbulnya salah tanggapan.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, ketika pohon sedang berbunga, angin berhembus dan menjatuhkan bunga-bunganya ke tanah. Bunga-bunga yang tidak jatuh akan berkembang menjadi buah yang kecil. Teta-pi, bila angin berhembus lagi, ia akan menjatuhkan juga beberapa buah yang kecil ini. Hanya sisa-nya saja mungkin yang tetap tumbuh menjadi buah sampai hampir masak atau sampai ranum, sebe-lum mereka akhirnya jatuh ke tanah.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, begitu pula halnya dengan manusia. Seperti bunga dan buah yang tertiup angin tadi, mereka juga berguguran dalam keadaan yang berbeda. Ada yang meninggal sejak masih dalam rahim, ada pula yang meninggal beberapa hari sejak kelahirannya. Ada yang hidup beberapa tahun lalu meninggal sebelum mencapai kedewasaannya. Ada yang meninggal dalam masa remaja, ada pula yang mencapai usia yang sangat tua sebelum akhirnya meninggal dunia.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, jika kita merenungkan tentang manusia ini, membandingkan dengan buah-buah tadi, kedua-duanya sangat tidak menentu atau tidak kekal. Ketidakkekalan ini dapat juga dili-hat dalam kehidupan keviharaan. Beberapa orang datang untuk ditahbiskan, tetapi kemudian pikir-annya berubah dan meninggalkan kehidupan kebiaraan. Ada yang setelah ditahbiskan lalu memutus-kan untuk melepas jubah. Ada pula yang hanya menjalani kehidupan biarawan selama satu vassa. Jadi, seperti buah-buah tadi, semua tidak menentu.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, pikiran kita pun demikian. Pikiran baik muncul dan padam dari batin kita, sama seperti buah-buah tadi. Sang Buddha memahami ketidakkekalan dari semua benda. Beliau memperhatikan peristiwa buah-buahan yang ditiup angin dan membandingkannya dengan para bhik-khu dan samanera yang menjadi murid-muridNya. Beliau menemukan bahwa sesungguhnya mereka adalah sama, yaitu tidak kekal.&lt;br /&gt;            Sdr/i, bagi mereka yang selalu melatih kesadaran atau kewaspadaan, tidaklah terlalu membu-tuhkan orang lain untuk menasehati dan mengajarkan segala sesuatu, baru bisa mengerti. Sebagai contoh adalah Sang Buddha, yang dalam kehidupanNya yang lampau pernah menjadi raja Chanoko-mun (Cakkavati). Beliau tidak membutuhkan banyak belajar, yang dilakukannya adalah mengamati sebuah pohon mangga.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, pada suatu hari, ketika raja sedang mengunjungi sebuah taman bersama pa-ra pengawal dan menterinya, dari punggung gajahnya ia melihat beberapa pohon mangga penuh de-ngan buah yang masak. Karena tidak ada yang boleh berhenti pada waktu itu, raja lalu bertekad da-lam hati untuk memetik mangga-mangga itu dalam perjalanan pulang nanti. Tetapi, tanpa sepengeta-huan raja, para menteri secara sembunyi-sembunyi telah memetik mangga-mangga itu. Mereka menggunakan tongkat untuk memukul ranting, sehingga daun-daun mangga itu berhamburan.&lt;br /&gt;            Ketika kembali ke hutan mangga pada petang harinya, raja telah membayangkan kelezatan buah mangga itu. Tetapi ia hanya menemukan bahwa mangga-mangga itu telah habis. Bahkan, ran-ting dan daunnya pun berserakan di tanah. Raja menjadi kecewa dan bingung, kemudian ia memper-hatikan pohon mangga lainnya yang masih utuh. Dalam hatinya ia bertanya, mengapa demikian? Kemudian ia sadar bahwa pohon itu ternyata tidak ada buahnya. Jika pohon tidak ada buahnya atau tidak mempunyai buah, maka tidak akan ada orang yang menyentuhnya. Pelajaran ini membuatnya asyik berpikir dalam perjalanan pulang ke istananya. “Tidak menyenangkan, menyusahkan, dan su-lit untuk menjadi raja. Kedudukannya harus dijaga sungguh-sungguh. Bagaimana kalau ada yang mencoba menyerang, merampok, dan merampas kerajaanku?”  Akhirnya, raja tidak dapat beristira-hat dengan tenang, bahkan dalam tidurnya ia sering diganggu mimpi-mimpi yang tidak menyenang-kan. Dia merenungkan sekali lagi, pohon mangga yang tanpa buah yang tidak diganggu. “Jika saya sama seperti pohon itu, maka daun dan rantingku tidak akan diganggu”. Demikian pikir raja. Dalam kamarnya ia duduk bermeditasi. Akhirnya, ia memutuskan untuk menjadi seorang pertapa setelah mendapat ilham dari pohon mangga. Ia membandingkan dirinya dengan pohon mangga lalu berke-simpulan bahwa jika seseorang tidak terlibat dalam cara-cara duniawi, ia akan benar-benar bebas, bebas dari kecemasan dan kesulitan. Bahkan pikirannya pun tidak akan terganggu.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, sejak saat itu, kemanapun ia pergi, jika ditanya siapa gurunya, maka ia akan menjawab:”Sebuah pohon mangga”. Ia tidak membutuhkan begitu banyak pelajaran. Pohon mangga menyebabkan timbulnya pengertian pada ‘Opanayiko Dhamma’, yaitu ajaran yang menun-tun ke dalam batin. Dan dengan pengertiannya ini, ia menjadi pertapa, yaitu orang yang sedikit ke-butuhannya, puas dengan yang sedikit, dan menyukai kesepian. Kedudukannya sebagai raja dilepas-kan, sehingga akhirnya pikirannya penuh dengan ketenangan.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, dalam cerita ini, kita dapat melihat ketika Sang Buddha masih sebagai Bo-dhisatta yang selalu terus menerus mengembangkan latihannya. Jadi, seperti halnya Sang Buddha ketika masih menjadi Bodhisatta Raja Cakkavati, kitapun seharusnya melihat sekeliling kita dan mengamatinya, sebab segala sesuatu di dunia ini sesungguhnya telah siap untuk mengajar kita. Bah-kan dengan sedikit kebijaksanaan, kita dapat melihat peristiwa-peristiwa di dunia ini dengan jelas. Kita akan mengerti bahwa semua yang ada di alam ini adalah seorang guru. Pohon dan tanaman menjalar misalnya, dapat membuka pikiran kita terhadap kenyataan Kebenaran Mutlak. Dengan ke-bijaksanaan tersebut, kita tidak perlu bertanya atau belajar dari orang lain. Kita cukup belajar dari alam untuk mendapatkan penerangan, seperti dalam cerita Raja Cakkavati tadi. Sebab, segala sesua-tu di alam ini selalu mengikuti jalannya Hukum Kebenaran Mutlak. Tidak pernah menyimpang dari Hukum Kebenaran Mutlak tersebut.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, hal lain yang berkaitan dengan kebijaksanaan adalah ketenangan dan pe-ngendalian nafsu. Hal ini akan membawa kita pada pemahaman mendalam tentang kebiasaan alam. Dalam hal ini kita akan mengetahui tentang kebenaran mutlak dari semua benda, yaitu Anicca, Duk-kha, dan Anatta. Pada mulanya mereka akan muncul, kemudian tumbuh dan berkembang, selalu ber-ubah terus, dan akhirnya mati. Demikian pula manusia dan hewan, mereka terlahir, tumbuh, dan ber-kembang, dan sampai tiba saatnya mereka harus mati. Keanekaragaman yang terjadi dalam kehidup-annya menunjukkan ‘Jalan Kebenaran’. Itulah yang dikatakan bahwa semua benda tidak kekal, akan gugur dan hancur sebagai kondisinya yang alamiah.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, jika kita memiliki kesadaran dan pengertian, jika kita belajar dengan penuh perhatian, maka kita akan dapat melihat bagaimana Dhamma yang sesungguhnya. Dalam hal ini, berarti kita akan melihat manusia sebagai suatu benda yang lahir, berkembang, dan akhirnya mati. Tiap orang adalah subyek dalam lingkaran kelahiran dan kematian. Oleh karena itu, tiap orang di dunia ini adalah ‘satu’ benda. Jadi, dengn melihat satu orang dengan jelas adalah sama dengan meli-hat semua orang di dunia ini.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, dalam cara yang sama, sebenarnya segala sesuatu adalah Dhamma. Bukan saja hanya apa yang dapat kita lihat dengan mata, tetapi juga mencakup semua yang kita lihat de-ngan pikiran kita. Sebuah pikiran muncul, kemudian berubah, dan akhirnya padam. Itulah yang di-namakan ‘Nama Dhamma’, yaitu suatu keadaan batin yang selalu muncul, berlangsung, dan padam. Inilah sesungguhnya sifat alamiah dari pikiran itu. Semua ini adalah Kebenaran Mulia dari Dham-ma. Jika seseorang tidak dapat melihat dan mengamati dengan cara ini, maka ia sesungguhnya ‘tidak melihat’. Dan, jika seseorang telah ‘melihat’, ia akan memiliki kebijaksanaan untuk mendengarkan Dhamma sebagaimana yang telah dibabarkan oleh Sang Arahanta Samma Sambuddha.&lt;br /&gt;Di manakah Sang Buddha berada?&lt;br /&gt;Sang Buddha berada di dalam Dhamma.&lt;br /&gt;Di manakah Dhamma berada?&lt;br /&gt;Dhamma berada di dalam Sang Buddha.&lt;br /&gt;Nah, sekarang!&lt;br /&gt;Di manakah Savgha berada?&lt;br /&gt;Savgha berada di dalam Dhamma.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, dalam hal ini,  berarti Sang Buddha, Dhamma, dan Savgha, berada dalam pi-kiran kita, tetapi kita harus melihat mereka dengan jelas. Banyak orang yang berkata demikian:”Oh, Sang Buddha, Dhamma, dan Savgha berada dalam pikiranku”. Tetapi, ternyata tingkah laku mereka tidak pantas. Jika demikian, maka tidak benar bahwa Sang Buddha, Dhamma, dan Savgha dapat di-temukan dalam pikiran orang yang seperti itu. Sebab, pikiran adalah awal dari segalanya, sehingga pikiranlah yang mengenal Dhamma. Dengan melihat segala sesuatu berdasarkan Dhamma, maka ki-ta akan dapat mengetahui bahwa di dunia ini Kebenaran Mutlak itu ada, dan karena itulah maka kita memiliki kemungkinan untuk berlatih dan merealisasikannya.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, dalam hal ‘Nama Dhamma’, yaitu perasaan, pikiran, khayalan, dan lain-lain, semua tidak kekal. Ketika kemarahan timbul, ia akan tumbuh dan berkembang dan akhirnya padam. Perasaan senang pun juga demikian, ia akan timbul, berlangsung, dan kemudian padam. Jadi, sesung guhnya semua itu ‘kosong’ belaka. Semua itu sesungguhnya bukanlah ‘sesuatu’. Hal tersebut hanya-lah proses dari semua benda baik mental maupun material. Dalam diri kita ini mereka adalah batin dan jasmani. Sedangkan di luar diri kita, misalnya pepohonan atau tumbuh-tumbuhan dan sebagai-nya, mereka adalah aneka ragam benda-benda yang memperlihatkan hukum universal tentang keti-dakkekalan.&lt;br /&gt;            Baik pohon, gunung, ataupun hewan, semua adalah Dhamma. Segala sesuatu adalah Dham-ma. Di manakah Dhamma ini berada? Secara sederhana dapat dikatakan bahwa apa yang bukan Dhamma itulah yang tidak ada. Dhamma adalah alamiah. Inilah yang dikatakan sebagai ‘Sacca Dhamma’, Dhamma Kebenaran, Dhamma Sejati. Jika seseorang melihat alam, ia melihat Dhamma, jika ia melihat Dhamma, maka ia telah melihat alam. Dengan melihat alam, secara otomatis kita me-ngetahui Dhamma.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, jadi apa gunanya banyak belajar kalau dalam kenyataannya bahwa kehidup an ini setiap saat, setiap perbuatan, hanyalah sebuah lingkaran dari kelahiran dan kematian yang tak  pernah berakhir. Jadi, jika kita penuh perhatian dan selalu sadar akan keadaan kita, misalnya ketika sedang duduk, berdiri, berjalan, atau berbaring, maka pengetahuan kita itu telah siap untuk dilahir-kan. Itulah pengetahuan tentang Dhamma Sejati yang ada di sini sekarang ini juga.&lt;br /&gt;            Jadi Sdr/i, sekarang ini Sang Buddha, yaitu Sang Buddha yang sesungguhnya, masih tetap ada. Beliau adalah Dhamma itu sendiri, yaitu yang disebut Sacca Dhamma. Dan, Sacca Dhamma ini, yang memungkinkan seseorang menjadi Buddha, masih tetap ada. Ia tidak akan pergi ke mana pun. Sacca Dhamma ini membangkitkan dua Buddha. Satu dalam tubuh jasmani, dan satunya lagi dalam pikiran.&lt;br /&gt;            Dhamma Sejati, menurut sabda Sang Buddha kepada Bhikkhu Ananda, hanya dapat dicapai dengan berlatih. Siapapun yang melihat Dhamma, ia melihat Buddha. Dan siapapun yang melihat Buddha, ia juga melihat Dhamma. Bagaimana hal ini dapat terjadi? Tentu kita semua sudah dapat memahaminya.&lt;br /&gt;            Sdr/i, dahulu kala, Sang Buddha juga belum ada. Beliau baru ada ketika Siddharta Gotama menemukan Dhamma dan menjadi Buddha. Jadi, Beliaupun sama seperti kita. Jadi, jika kita menger ti akan Dhamma, maka kita akan dapat menjadi Buddha. Ini dikatakan Buddha dalam pikiran atau ‘Nama Dhamma’.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini tentang Dhamma yang alamiah. Semoga perbuatan baik kita ini dapat menambah kebi-jaksanaan kita dan kebahagiaan semua makhluk. Terima kasih!&lt;br /&gt;Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia!&lt;br /&gt;Sadhu! Sadhu! Sadhu!&lt;br /&gt;____________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipetik dari Bodhinyana, Dhamma Nature, halaman 27 – 33.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibacakan pada tanggal:&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-5011480799273613284?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/5011480799273613284/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=5011480799273613284' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/5011480799273613284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/5011480799273613284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/03/dhamma-yang-alamiah.html' title='DHAMMA YANG ALAMIAH'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-1491758410165178611</id><published>2008-03-10T18:43:00.000-07:00</published><updated>2008-03-10T18:44:47.087-07:00</updated><title type='text'>DHAMMA YANG ABADI</title><content type='html'>DHAMMA  HUKUM  YANG  ABADI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;DHAMMAM  CARE  SUCARITAM.&lt;br /&gt;Janganlah lalai melakukan Dhamma yang benar.&lt;br /&gt;                  Khuddakanikaya Dhammapadagatha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian, setelah kita tadi bersama-sama membaca Paritta dan bermedi-tasi, maka selanjutnya marilah kita bersama-sama mempersiapkan diri kita untuk memasuki aca-ra selanjutnya yaitu pembahasan dan perenungan Dhamma. Sdr/i yang berbahagia, pada hari ini, Dhamma yang akan kita bahas bersama-sama adalah yang berjudul ‘Dhamma Hukum yang Aba-di’. Dan semoga, setelah kita selesai berbuat baik dengan mendengarkan uraian Dhamma ini, ja-sa dari perbuatan baik kita tersebut dapat bermanfaat bagi kita dan bagi semua makhluk yang ada di alam semesta ini.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, Dhamma yang ditemukan oleh guru agung kita yaitu Sang Buddha Gota-ma, yang kemudian diajarkan kepada kita sekalian umat Buddha, adalah mempunyai satu tujuan, yaitu untuk memberikan santapan nektar pada batin kita agar menjadi sehat, segar, sejahtera, te-guh, dan sentosa. Artinya, juga bertujuan untuk membersihkan batin kita dari noda-noda, seperti antara lain: keserakahan yang tak pernah merasa cukup dan berpuas hati; kebencian yang senan-tiasa menyiksa; pengertian dan pandangan salah yang selalu menimbulkan masalah; kemelekatan tolol yang konyol; keakuan; kesombongan; serta keangkuhan yang menyesatkan; dan lain seba-gainya.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, Dhamma menjadikan batin kita bebas, merdeka, penuh keseimbangan, pe-nuh toleransi dan harmonis, serta bijaksana, dan juga sekaligus membangkitkan keikhlasan untuk mengabdi demi kesejahteraan, kemajuan, dan manfaat orang banyak. Sdr/i sekalian, untuk men-capai keadaan batin yang sedemikian itu, kita memerlukan sarana yang sangat membantu usaha kita tersebut, yaitu: 1. Keyakinan, 2. Semangat, 3. Perhatian, 4. Konsentrasi, dan 5. Kebijaksana-an yang semua itu dinamakan ‘Lima Kekuatan’, yang amat ampuh untuk membantu perjuangan kita dalam hal mengembangkan kebajikan.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, keyakinan muncul dan berkembang karena kita terus menerus melaksanakan kebajikan seperti berdana, ibadah agama, dan moral agama yang baik. Sedangkan semangat, perhatian, dan konsentrasi, muncul dan berkembang karena kita rajin ber-meditasi. Dan akhirnya, kebijaksanaan akan berkembang karena kita taat melaksanakan moral agama dan rajin bermeditasi.&lt;br /&gt;            Sdr/i, keyakinan adalah kekayaan batin, moral (Sila) adalah ibarat pakaian indah yang ki-ta kenakan pada badan dan membuat badan kita menjadi indah pula. Kebajikan moral, kegunaan-nya adalah untuk mencegah, menahan, memutuskan, serta mengendalikan ucapan dan perbuatan yang jahat, salah, dan merugikan. Dan sebaliknya, menjaga dan meluruskan ucapan dan perbuat-an menjadi selalu berguna dan bermanfaat. Inilah kebajikan moral, namun masih belum merupa-kan kebajikan yang tertinggi.&lt;br /&gt;            Selanjutnya adalah semangat. Semangat di sini berarti tekun, rajin, ulet, keras hati, berte-kad teguh, berani, dan tidak henti-hentinya memperjuangkan kebajikan. Inilah yang dimaksud sebagai semangat. Sedangkan perhatian penuh, berarti selalu waspada dan mengendalikan pikir-an, ucapan, dan perbuatan agar jangan sampai menyimpang dari sasaran kebajikan. Jadi, selalu menyadari apa yang baik dan yang buruk, serta memiliki sikap yang lepas dari kejahatan dan ke-tololan (kegelapan batin).&lt;br /&gt;            Sekarang tentang konsentrasi. Konsentrasi berarti menjadikan pikiran terpusat teguh pada satu obyek. Jadi, pikiran tidak tumpul, tertutup, lamban atau asyik mengembara pada keinginan-keinginan yang lampau dan yang akan datang, melainkan pikiran menjadi stabil, mantap, teguh terpusat, dan tak tergoyahkan.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian, semangat, perhatian, dan konsentrasi itu merupakan bantuan kekuatan tritunggal yang sanggup meningkatkan batin kita yang masih duniawi sekali, menjadi lebih tinggi dan lebih murni. Batin kita menjadi tidak begitu tertarik lagi pada kesenangan-kese-nangan inderawi yang bernilai rendah dan kekanak-kanakan. Inilah batin yang sudah meningkat maju, walaupun kita tidak menjadi bhikkhu atau tidak tinggal di vihara; atau, walaupun kita ma-sih berumahtangga dan bekerja seperti biasa.&lt;br /&gt;            Sdr/i yang berbahagia, yang terakhir, yaitu kebijaksanaan, yang digolongkan pada keba-jikan tertinggi, adalah dapat muncul dan berkembang karena kita tekun dan ulet melaksanakan moral agama dan bermeditasi sehingga mampu mencapai tingkat pemusatan pikiran yang perta-ma, yang kedua, yang ketiga, dan yang keempat. Atau, bila dalam praktik meditasi khusus, telah mencapai tingkat pengetahuan spiritual yang tinggi (Bana), di mana sang batin dapat melihat dua aspek dari sang pikiran, yaitu sang pikiran yang terus menerus mengalami perubahan (muncul dan padam), dan sang pikiran yang ‘menembus’ Nibbana yang tidak mengalami perubahan.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian, sekarang, mengapa kita umat Buddha harus menggunakan Dhamma untuk mencapai keadaan batin yang sedemikian itu? Sebelum menjawab pertanyaan ini, marilah kita terlebih dahulu berusaha memahami dengan baik tentang arti, makna, hakikat, dan manfaat dari Dhamma itu; kemudian tentang alasan mengapa kita harus belajar Dhamma, dan kemudian mempraktikkannya.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, adalah rahasia alam yang harus dimengerti untuk tujuan meningkatkan kehidupan kita ini agar dapat meraih kebijaksanaan dan kebahagiaan tertinggi; yaitu suatu keada-an kehidupan yang dapat mengatasi dan mengeliminir semua problem, masalah, ketidakpuasan, konflik, derita, sedih, takut, cemas, agitasi, frustasi, dan lain sebagainya. Hidup ini, terutama da-lam konteks Dhamma, adalah peristiwa proses alam yang disebut Dhamma Jati, yaitu sesuatu yang timbul dari dan oleh dirinya  sendiri, oleh hukum-hukum alam yang terkandung di dalam dirinya sendiri. Nah, Sdr/i sekalian, rahasia dari alam kehidupan atau Dhamma ini, mempunyai empat aspek yaitu sebagai berikut: 1. Alam itu sendiri, 2. Hukum alam, 3. Tingkah laku kita yang sesuai atau tidak sesuai dengan hukum alam itu, dan 4. Buah atau akibat yang muncul kare-na tingkah laku tersebut tadi.&lt;br /&gt;            Jadi, pahamilah Dhamma yang berada pada jasmani dan batin yang kita anggap sebagai diri kita sendiri ini. Di situ terdapat hukum alam yang mengontrol hidup dan kehidupan ini. Pi-kiran, ucapan, dan perbuatan kita harus sesuai dan selaras dengan hukum alam, sehingga akan berakibat hidup sejahtera, tenang, damai, dan bahagia. Akan tetapi, bila pikiran, ucapan, dan per-buatan kita tidak sesuai, tidak selaras, dan bertentangan dengan hukum alam, maka akibatnya adalah penderitaan, ketidakpuasan, banyak problem atau masalah, sedih, takut, cemas, konflik, frustasi, dan sebagainya. Jadi, jelas dan terang sekali, bahwa dalam diri kita masing-masing ini berlakulah empat aspek Dhamma tersebut dan saling berkaitan.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, apabila kita menyelidiki dengan seksama ke empat aspek Dhamma ini se-cara komplit, kita akhirnya akan mengerti bahwa hidup dan kehidupan ini adalah semata-mata hanya perwujudan dari empat aspek Dhamma atau rahasia dari alam kehidupan tersebut tadi. Jadi, itulah alasannya mengapa kita sebaiknya mengerti dan menghayati Dhamma, kemudian mengamalkannya sebaik mungkin demi kemajuan dan peningkatan hidup kita ini, sampai akhir-nya nanti mampu mengatasi semua bentuk derita dan ketidakpuasan.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, ada empat cara yang sangat bermanfaat untuk dapat berhasil meningkatkan kehidupan kita ini. Ke empat cara tersebut adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.  Mencegah munculnya sesuatu yang jahat, yang membahayakan, atau merusak kehidupan kita.&lt;br /&gt;2.  Mengusir atau menghancurkan sesuatu yang jahat, yang buruk, yang telah muncul pada diri kita.&lt;br /&gt;3.  Memperbanyak kebajikan atau melakukan hal yang bermanfaat untuk pengembangan diri kita.&lt;br /&gt;4.  Mempertahankan dan mengembangkan hal-hal yang baik, bermanfaat untuk pengembangan diri kita.&lt;br /&gt;            Sdr/i, selanjutnya hal yang sangat penting, bahkan yang akan menjadi kunci kesuksesan kita dalam mempraktikkan Dhamma, adalah menelusuri secara lebih mendalam akan Kebenaran Mutlak dari Dhamma ini, yang berarti menyelidiki dan mempelajari rahasia tertinggi dari alam ini. Dengan memiliki pengetahuan ini, kita dapat mengarahkan kehidupan kita dengan lebih baik. Sdr/i, rahasia kebenaran hukum alam ini ternyata adalah Anicca, Dukkha, Anatta, Subbata, dan Tathata yang selalu mengontrol  hidup dan kehidupan ini. Anicca berarti bahwa segala sesuatu yang muncul karena adanya sebab, adanya syarat atau kondisi, adalah tidak kekal, mengalami perubahan terus menerus, yaitu timbul dan padam, lahir dan mati. Dukkha berarti bahwa segala sesuatu yang berubah-ubah tadi  adalah tidak  dapat memuaskan keinginan kita, sehingga timbul-lah ketidakpuasan, problem atau masalah, frustasi, konflik, kesedihan, dan derita. Sedangkan Anatta berarti bahwa segala sesuatu dalam arti Kebenaran Tertinggi, adalah ‘bukan aku’, ‘bukan milikku’, ‘bukan kepunyaanku yang mutlak’. Bolehlah disimpulkan bahwa apa yang kita anggap sebagai ‘milik’ itu sebenarnya hanyalah sekedar hak pakai, hak guna, hak usaha, atau hak kum-pul bersama, yang berlaku hanya untuk waktu yang sementara. Kemudian Subbata berarti bahwa segala sesuatu itu adalah kosong dari ‘aku’. Dan Tathata berarti bahwa proses hidup dan kehi-dupan ini hanyalah begitu-begitu saja, hanya demikian-demikian saja, hanya fenomena sekejap yang timbul dan padam, muncul dan padam dengan sangat cepat, menyajikan ketidakpuasan, bu-kan milik, dan kosong dari ‘aku’.&lt;br /&gt;            Sdr/i yang berbahagia, kesemua itu, Anicca, Dukkha, Anatta, Subbata, dan Tathata, ada-lah kebenaran yang mutlak, hukum alam yang berlaku di seluruh alam semesta. Kebenaran ini ti-dak dapat dibantah. Kita umat Buddha harus meresapkan benar-benar pengertian ini dan mengin-safi betul-betul melalui praktik-praktik meditasi khusus. Dan, bila batin kita sudah merealisir dan meyakini sepenuhnya kebenaran hukum alam ini, maka terjadilah proses alkimia spiritual, proses transformasi pada batin kita; yaitu batin kita tidak mau lagi berulah macam-macam, cengeng, ke-kanak-kanakan, melainkan menjadi lebih dewasa, matang dan mantap, serta dapat menempuh ja-lan yang benar. Batin mulai dapat melihat segala sesuatu dalam keadaan proporsi yang sebenar-nya, yaitu apa dan bagaimana keadaan benda-benda serta batin yang sebenarnya. Ternyata ben-da-benda dan batin hanyalah fenomena-fenomena yang berproses timbul dan padam dengan sa-ngat cepat sekali, dan berhakekat Anicca, Dukkha, Anatta, Subbata, dan Tathata. Mereka tidak dapat dinilai sebagai baik atau buruk, benar atau salah, datang atau pergi, menang atau kalah, se-nang atau susah, untung atau rugi, positif atau negatif, apabila kita sudah menginsafi benar-benar Dhamma yang tinggi ini yang disebut Tathata. Adapun pandangan dualisme seperti tadi itu ada-lah konsep pikiran kita yang masih duniawi sekali, masih bersifat kekanak-kanakan, cengeng, dan belum dewasa dalam hal spiritual. Tetapi, pengertian Tathata atau ‘hanya kedemikianan’, akan dapat mengatasi semua artian positif dan negatif, optimisme dan pesimisme, mengatasi se-mua paham dualisme.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, inilah usaha kita yang pertama untuk mencapai kemajuan selanjutnya, yai-tu batin kita akan mulai melepaskan belenggu-belenggu yang sangat kuat, beban-beban yang sa-ngat berat, yaitu yang berupa kemelekatan-kemelekatan pada apa yang disenangi dan yang tidak disenangi. Kalau dahulu kita sangat melekat kepada apa yang disenangi, menganggapnya sebagai kekal, menyenangkan terus, dan sebagai milikku selamanya, tetapi sekarang dapat melihat de-ngan jelas sebagai Anicca, Dukkha, dan Anatta. Dan, apabila beberapa bentuk kemelekatan atau belenggu, atau beban, telah dapat dilepaskan, maka ini akan mengakibatkan batin menjadi ringan serta nyaman.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah uraian Dhamma untuk perenungan kita pada hari ini, dan semoga dapat bermanfaat bagi kita sendiri maupun bagi kebahagiaan semua makhluk. Terimakasih.&lt;br /&gt;Sabbe satta bhavantu sukhitatta; semoga semua makhluk berbahagia!&lt;br /&gt;Sadhu! Sadhu! Sadhu!&lt;br /&gt;___________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipetik dari :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibacakan pada tanggal:&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-1491758410165178611?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/1491758410165178611/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=1491758410165178611' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/1491758410165178611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/1491758410165178611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/03/dhamma-yang-abadi.html' title='DHAMMA YANG ABADI'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-3416411203567559543</id><published>2008-03-10T18:42:00.000-07:00</published><updated>2008-03-10T18:43:52.211-07:00</updated><title type='text'>CULA SIHANADA</title><content type='html'>CÌLASÍHANÄDA  SUTTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammä Sambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;SABBE  DHAMMÄ  NÄLAÇ  ABHINIVESÄYA.&lt;br /&gt;Semua Dhamma mengajarkan hendaknya orang tidak melekat terhadap sesuatu.&lt;br /&gt;                                                                      Majjhimanikäya Mìlapannäsaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah membaca Paritta dan bermeditasi, marilah sekarang kita pusatkan perhatian dan konsentrasi kita guna mengadakan pembahasan dan pe-renungan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Cìlasíhanäda Sutta’. Sekali lagi Sdr/i, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Cìlasíhanäda Sutta’, yang kami ambil dari kitab Majjhima Nikäya bagian Síhanäda Vagga. Sekarang, marilah kita ikuti bersama-sama pembahasan Sutta ini.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berada di Jetavana, di taman milik Anathapindika,  di Savatthi. Pada saat itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu demikian:”Para bhikkhu”.  “Ya, Bhante”, jawab mereka. Selanjutnya Sang Bhagava berkata lagi:”Para bhikkhu, hanya di sini ada samana, hanya di sini ada samana kedua, hanya di sini ada samana ketiga, dan hanya di sini ada samana keempat. Dalam ajaran lain tidak ada samana; beginilah hal itu harus diraungkan (síhanäda)”.&lt;br /&gt;            Sdr/i yang berbahagia, begitulah Sang Bhagava mulai bersabda kepada para bhikkhu, dan sebelum dilanjutkan, terlebih dahulu kami jelaskan, bahwa yang dimaksud dengan kata ‘samana’ oleh Sang Buddha di sini artinya yaitu Sotapanna. Sedangkan ‘samana kedua’ arti-nya ‘Sakadagami’; ‘samana ketiga’ artinya ‘Anagami’; dan ‘samana keempat’ artinya adalah ‘Arahat’. Sekarang, marilah kita lanjutkan uraian Sutta ini, yaitu lanjutan dari sabda Sang Bhagava tadi.&lt;br /&gt;            “Para bhikkhu, mungkin pertapa dari sekte lain ada yang bertanya begini:’Apakah se-babnya maka Anda mengatakan demikian, yaitu bahwa dalam ajaran lain tidak ada samana (orang suci)?’ Untuk itu, pertanyaan tersebut harus dijawab demikian:’Saudara, empat Dhamma telah dinyatakan oleh Sang Bhagava, yaitu:&lt;br /&gt;1. Kami yakin pada guru (Sang Buddha).&lt;br /&gt;2. Kami yakin kepada Dhamma.&lt;br /&gt;3. Kami memiliki Síla yang sempurna.&lt;br /&gt;4. Kami mencintai saudara-saudara pelaksana Dhamma (sahadhammika) apakah mereka umat awam atau pabbajja.&lt;br /&gt;Berdasarkan hal-hal itulah maka kami menyatakan begitu”.&lt;br /&gt;“Namun para bhikkhu, meskipun demikian, para pertapa dari sekte yang lain masih dapat berkata begini:’Kami juga yakin kepada guru, yaitu guru kami. Kami juga yakin kepada Dhamma, yaitu dhamma kami. Síla kami sempurna, yaitu sesuai dengan Síla kami. Dan, kami juga mencintai saudara-saudara pelaksana Dhamma yang hidup sebagai umat awam atau pabbajja. Jadi, apakah perbedaannya?’&lt;br /&gt;“Para bhikkhu, hal itu harus dijawab dengan bertanya lagi begini:’Apakah tujuannya hanya satu, atau banyak?’  “Mereka pasti akan menjawab dengan benar:’Tujuannya hanya satu’.&lt;br /&gt;“Apakah tujuan itu bebas dari nafsu, kebencian, kebodohan, keinginan, dan kemelekatan?” “Ya, tujuan itu bebas dari nafsu, kebencian, kebodohan, keinginan, dan kemelekatan”.&lt;br /&gt;“Apakah tujuan itu disertai penglihatan, tanpa pro dan kontra, maupun perbedaan?’  “Ya, tu-juan itu disertai penglihatan, tanpa pro dan kontra, maupun perbedaan”.&lt;br /&gt;“Demikianlah para bhikkhu, jawab mereka tersebut dengan benar”.&lt;br /&gt;“Tetapi para bhikkhu, meskipun demikian, selanjutnya ada hal-hal yang perlu dijelaskan lagi yaitu sebagai berikut: ada dua ditthi (pandangan), yaitu bhava ditthi (pandangan tentang ada nya makhluk), dan vibhava ditthi (pandangan tanpa ada makhluk).&lt;br /&gt;*   Para samana atau brahmana yang berpaham bhava ditthi menentang paham vibhava ditthi.&lt;br /&gt;*   Para samana atau brahmana yang berpaham vibhava ditthi menentang paham bhava ditthi.&lt;br /&gt;Para samana dan brahmana yang tidak mengerti sebagaimana adanya tentang sebab, terhenti-nya, kesenangan, bahaya, dan jalan ke luar dari ditthi (pandangan) itu, adalah diliputi oleh nafsu, kebencian, kebodohan, keinginan, kemelekatan, tanpa penglihatan, terlibat pro dan kontra, menyenangi dan menikmati perbedaan. Mereka tidak dapat bebas dari kelahiran, usia tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, kesakitan, duka-cita, dan putus asa. Mereka tidak da-pat bebas dari dukkha (penderitaan).&lt;br /&gt;Para samana dan brahmana yang mengerti sebagaimana adanya tentang sebab, terhentinya, kesenangan, bahaya, dan jalan ke luar dari dua ditthi (pandangan) itu, adalah tidak diliputi oleh nafsu, kebencian, kebodohan, keinginan, kemelekatan. Mereka berpenglihatan, tidak ter libat dalam pro dan kontra, tidak menyenangi dan tidak menikmati perbedaan. Mereka dapat bebas dari kelahiran, usia tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, kesakitan, duka-cita, dan putus asa. Mereka dapat terbebas dari dukkha.&lt;br /&gt;Selanjutnya para bhikkhu, ada empat macam kemelekatan (upadana), yaitu:&lt;br /&gt;1.  Kemelekatan pada nafsu indera (kama upadana).&lt;br /&gt;2.  Kemelekatan pada pandangan salah (ditthi upadana).&lt;br /&gt;3.  Kemelekatan pada upacara dan ritual (silabbata upadana).&lt;br /&gt;4.  Kemelekatan pada pandangan tentang adanya jiwa yang kekal (attavada upadana).&lt;br /&gt;Ada samana dan brahmana yang menyatakan berpengetahuan jelas tentang semua kemelekat-an, tetapi tidak secara rinci menerangkan ‘pengetahuan jelas tentang semua kemelekatan’ nya itu. Mereka menerangkan ‘pengetahuan jelas tentang kemelekatan pada nafsu indera’, tetapi tanpa menerangkan tentang kemelekatan pada pandangan salah, kemelekatan pada upacara dan ritual, maupun kemelekatan pada pandangan adanya jiwa yang kekal. Mengapa demiki-an? Karena mereka itu tidak mengerti dengan jelas sebagaimana adanya tentang tiga macam kemelekatan tersebut. Akibatnya, mereka itu menyatakan berpengetahuan jelas tentang se-mua kemelekatan, tetapi mereka hanya menerangkan tentang pengetahuan jelas yang berke-naan dengan nafsu indera saja, tanpa menerangkan tiga macam kemelekatan lainnya.&lt;br /&gt;Ada pertapa dan brahmana yang menyatakan berpengetahuan jelas tentang semua kemelekat-an, . . . . Mereka menerangkan dengan pengetahuan jelas tentang kemelekatan pada nafsu in-dera dan kemelekatan pada pandangan salah., tetapi tanpa menerangkan tentang kemelekatan pada upacara dan ritual serta kemelekatan pada pandangan tentang adanya jiwa yang kekal. Mengapa demikian? Karena mereka tidak mengerti.&lt;br /&gt;Ada pertapa dan brahmana yang menyatakan berpengetahuan jelas tentang semua kemelekat-an, . . . . Mereka menerangkan dengan pengetahuan jelas tentang kemelekatan pada nafsu in-dera, kemelekatan pada pandangan salah, dan kemelekatan pada upacara ritual, tetapi tanpa menerangkan tentang kemelekatan pada pandangan tentang adanya jiwa yang kekal. Menga-pa demikian? Karena mereka tidak mengerti.&lt;br /&gt;Dalam ‘Dhammavinaya’ seperti itu, adalah biasa menyatakan keyakinan kepada guru dan Dhamma, namun tidak terarah dengan benar; pelaksanaan Síla sempurna juga tidak terarah dengan benar; mencintai saudara-saudara pelaksana Dhamma yang hidup sebagai umat awam atau pabbajja juga tidak terarah dengan benar. Mengapa demikian? Karena Dhamma-vinaya itu salah diuraikan, salah dinyatakan, tanpa tujuan, tidak mengarah pada kedamaian, dan dibabarkan oleh bukan seorang Sammä Sambuddha.&lt;br /&gt;Jika Tathagata, Arahat Sammä Sambuddha, yang membabarkan pengetahuan jelas tentang semua macam kemelekatan tersebut, Beliau tentu dengan sempurna menguraikan semua ma-cam kemelekatan tersebut, yaitu kemelekatan pada nafsu indera, kemelekatan pada pandang-an salah, kemelekatan pada upacara dan ritual, serta kemelekatan tentang adanya jiwa yang kekal.&lt;br /&gt;Dalam ‘Dhammavinaya’ seperti itu, adalah biasa menyatakan keyakinan kepada guru dan Dhamma yang terarah dengan benar, pelaksanaan Síla sempurna yang terarah dengan benar, mencintai saudara-saudara pelaksana Dhamma yang hidup sebagai umat awam atau pabbajja yang terarah dengan benar. Mengapa demikian? Karena Dhammavinaya itu benar diuraikan, benar dinyatakan, bertujuan, mengarah pada kedamaian, dan dibabarkan oleh seorang Sam-mä Sambuddha.&lt;br /&gt;Lalu, apa yang dimaksud dengan ‘sumber’ atau sebab, tempat kelahiran, dan yang mempro-duksi empat macam kemelekatan tersebut?&lt;br /&gt;Empat macam kemelekatan itu bersumber atau bersebab dari keinginan (tanha), lahir dari keinginan, dan diproduksi oleh keinginan.&lt;br /&gt;Lalu, apakah sumber atau sebab dari keinginan itu?&lt;br /&gt;Keinginan bersumber atau bersebab dari perasaan (vedana), lahir dari perasaan, dan dipro-duksi oleh perasaan.&lt;br /&gt;Apakah sumber atau sebab dari perasaan itu?&lt;br /&gt;Perasaan bersumber atau bersebab dari kontak (phassa), lahir dari kontak, dan diproduksi oleh kontak.&lt;br /&gt;Apakah sumber atau sebab dari kontak itu?&lt;br /&gt;Kontak bersumber atau bersebab dari enam landasan indera (salayatana), lahir dari enam lan dasan indera, dan diproduksi oleh enam landasan indera.&lt;br /&gt;Apakah sumber atau sebab dari enam landasan indera itu?&lt;br /&gt;Enam landasan indera bersumber atau bersebab dari batin dan jasmani (nama - rupa), lahir dari batin dan jasmani, dan diproduksi oleh batin dan jasmani.&lt;br /&gt;Apakah sumber atau sebab dari batin dan jasmani itu?&lt;br /&gt;Batin dan jasmani bersumber atau bersebab dari kesadaran tumimbal lahir (vinnana), lahir dari kesadaran tumimbal lahir, dan diproduksi oleh kesadaran tumimbal lahir.&lt;br /&gt;Apakah sumber atau sebab dari kesadaran tumimbal lahir itu?&lt;br /&gt;Kesadaran tumimbal lahir bersumber atau bersebab dari bentuk-bentuk perbuatan (sankhara) lahir dari bentuk-bentuk perbuatan, dan diproduksi oleh bentuk-bentuk perbuatan.&lt;br /&gt;Apakah sumber atau sebab dari bentuk-bentuk perbuatan itu?&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk perbuatan bersumber atau bersebab dari kebodohan batin (avijja), lahir dari kebodohan batin, dan diproduksi oleh kebodohan batin.&lt;br /&gt;Segera setelah kebodohan batin (avijja) dihentikan dan pengetahuan muncul, maka ia tidak lagi melekat pada nafsu indera, pandangan salah, upacara dan ritual, serta pandangan tentang adanya jiwa yang kekal. Ketika tidak ada kemelekatan, maka ia tidak menderita. Ketika ia ti-dak menderita, maka ia merealisasi Nibbäna: kelahiran telah terhenti, kehidupan suci telah dicapai, apa yang harus dikerjakan telah dilaksanakan, tidak ada sesuatu yang melebihi ini”.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah pembahasan dan perenungan Dham-ma kita pada hari ini yang berjudul ‘Cìlasíhanäda Sutta’, yang kami petik dari kitab Majjhi-ma Nikäya bagian Síhanäda Vagga, Sutta ke 11. Semoga dengan telah dibahasnya Sutta ini bersama-sama, maka kebijaksanaan dan kebahagiaan kita menjadi bertambah sehingga dapat bermanfaat bagi kesejahteraan kita sendiri maupun bagi kesejahteraan semua makhluk.&lt;br /&gt;Sabbe sattä bhavantu sukhitattä, semoga semua makhluk berbahagia!&lt;br /&gt;Sädhu! Sädhu! Sädhu!&lt;br /&gt;____________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Acuan:&lt;br /&gt;1.   Kitab Suci Sutta Pitaka II, Materi Pokok Universitas Terbuka modul 7 - 12, disusun oleh Corneles Wowor, hal. 35 - 37.&lt;br /&gt;      (Catatan: dengan gubahan seperlunya).&lt;br /&gt;2.   Dhamma Vibhaga Penggolongan Dhamma II, disusun oleh Vajirananavarorasa, alih ba-hasa Bhikkhu Jeto, hal. v.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibacakan pada tanggal:&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-3416411203567559543?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/3416411203567559543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=3416411203567559543' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/3416411203567559543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/3416411203567559543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/03/cula-sihanada.html' title='CULA SIHANADA'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-3779000374550619986</id><published>2008-03-10T18:38:00.000-07:00</published><updated>2008-03-10T18:41:09.093-07:00</updated><title type='text'>CETASIKA - ABHIDHAMMA</title><content type='html'>CETASIKA (FAKTOR-FAKTOR BATIN)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;          YONISO  VICINE  DHAMMAM&lt;br /&gt;Periksalah Dhamma dengan amat teliti dan cermat.&lt;br /&gt;                           Majjhimanikaya Uparipannasaka..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Sdr/i yang berbahagia, setelah membaca Paritta dan bermeditasi, marilah seka-rang kita mengarahkan perhatian dan konsentrasi, guna mengadakan pembahasan dan perenungan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Cetasika (Faktor-Faktor Batin). Ja-di sekali lagi, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Cetasika (Faktor-Faktor Batin).&lt;br /&gt;          Sdr/i sekalian, kita tentu tahu, bahwa yang namanya manusia, seperti kita ini, tentu terdiri dari batin dan jasmani. Jasmani, terbentuk dari perpaduan beberapa unsur materi, yaitu unsur padat, unsur cair, unsur panas, dan unsur gerak. Sedangkan batin, juga merupakan perpaduan dari beberapa unsur batin, yaitu: perasaan, pencerapan, bentuk-bentuk pikiran, dan kesadaran. Jadi jelas, bahwa batin kita ternyata juga meru-pakan perpaduan, bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Nah Sdr/i seDhamma, untuk pembahasan kali ini, kami akan menguraikan salah satu dari unsur batin tadi, yaitu yang disebut ‘bentuk-bentuk pikiran’. Alasannya? Karena mengenai bentuk-bentuk pikiran ini, masih jarang sekali dibahas dalam setiap perbincangan Dhamma.&lt;br /&gt;          Sdr/i sekalian, yang namanya pikiran, atau kesadaran, yang dalam bahasa Pali disebut Citta, artinya yaitu ‘sadar akan sesuatu’. Jadi, sadar akan sesuatu. Maksudnya, keadaan mengetahui sesuatu atau mengetahui obyek. Inilah yang dimaksud dengan kesadaran. Jadi, pada ‘satu saat’ kesadaran, hanya bisa ada ‘satu obyek’ saja. Inilah yang dimaksud dengan kesadaran atau keadaaan mengetahui obyek. Dan, dalam batin manusia, dapat muncul berbagai jenis kesadaran, tergantung dari fenomena yang dialami sewaktu organ-organ indera kita kontak dengan obyeknya masing-masing. Nah, Sdr/i sekalian, setelah kita tahu apa yang dimaksud dengan kesadaran, maka se-karang marilah kita bahas lebih lanjut lagi, yaitu hal-hal apa saja yang bisa membuat terbentuknya suatu kesadaran. Jadi, faktor-faktor apa saja yang diperlukan untuk bisa terwujudnya suatu kesadaran.&lt;br /&gt;          Sdr/i seDhamma, ternyata dalam ajaran Buddha Dhamma dijelaskan, bahwa sa-tu kesadaran akan muncul bersamaan dengan faktor-faktor batin atau bentuk-bentuk pikiran, atau yang dalam bahasa Pali disebut Cetasika. Sebenarnya, istilah ‘faktor-faktor batin’ ini lebih tepat digunakan daripada istilah ‘bentuk-bentuk pikiran’. Jadi, satu kesadaran akan muncul bersamaan dengan faktor-faktor batin (Cetasika). Tidak ada suatu kesadaran yang muncul tanpa mengandung faktor-faktor batin. Dengan kata lain, faktor-faktor batin inilah yang sesungguhnya membentuk suatu kesadaran. Fak-tor-faktor batin inilah yang merupakan syarat mutlak bagi terbentuknya suatu kesa-daran. Kemunculan satu jenis kesadaran (Citta), tergantung dari jenis-jenis faktor-faktor batin (Cetasika) yang membentuknya.&lt;br /&gt;          Sdr/i seDhamma, di dalam ajaran Buddha Dhamma, ada 52 jenis faktor-faktor batin atau Cetasika. Dari kelimapuluhdua jenis Cetasika ini, apabila dihubungkan de-ngan pembahasan manusia atau makhluk, maka Sabba (pencerapan) dan Vedana (perasaan) sudah merupakan dua Cetasika. Sedangkan 50 buah Cetasika selebihnya, secara kolektif disebut sebagai Savkhara khandha. Namun perlu diketahui, bahwa isti-lah ‘Savkhara’ ini merupakan istilah dalam Buddha Dhamma yang banyak mengan-dung arti sesuai dengan pemakaiannya. Oleh sebab itu, kita hendaknya berhati-hati dalam menggunakan istilah ‘Savkhara’ ini.&lt;br /&gt;          Sdr/i yang berbahagia, selanjutnya marilah kita bahas bersama-sama 52 faktor-faktor batin ini secara lebih seksama. Ke 52 faktor-faktor batin itu adalah:&lt;br /&gt;1. Kontak (Phassa)&lt;br /&gt;2. Perasaan (Vedana)&lt;br /&gt;3. Pencerapan (Sabba)&lt;br /&gt;4. Kehendak (Cetana)&lt;br /&gt;5. Faktor keterpusatan (Ekaggata)&lt;br /&gt;6. Fakor vitalitas psikis (Jivitindriya)&lt;br /&gt;7. Perhatian (Manasikara).&lt;br /&gt;          Tujuh jenis faktor batin (Cetasika) ini, yaitu …. , disebut universal atau umum, karena semuanya itu secara umum dijumpai di semua jenis kesadaran (Citta). Hal ini dalam bahasa Pali disebut ‘Sabba-citta-sadharana-cetasika 7’, yang artinya 7 Ceta-sika yang umum terdapat di semua Citta (kesadaran). Jadi, dengan kata lain, setiap ke-sadaran atau Citta, sedikitnya terdiri dari 7 faktor batin (Cetasika) yang umum ter-sebut.&lt;br /&gt;          Sdr/i sekalian, selanjutnya, setelah yang 7 macam tadi, di antara 52 faktor batin ini, terdapat enam faktor batin yang disebut ‘khusus’ (Pakinnaka). Mengapa disebut khusus? Karena, mereka tidak selalu ada di dalam setiap Citta (kesadaran). Nah, Ke-enam Cetasika atau faktor batin yang khusus ini adalah:&lt;br /&gt;1. Pengarahan pikiran pada obyek (Vitakka)&lt;br /&gt;2. Perenungan penopang (Vicara)&lt;br /&gt;3. Keputusan (Adhimokkha)&lt;br /&gt;4. Semangat (Viriya)&lt;br /&gt;5. Kegiuran (Piti)&lt;br /&gt;6. Hasrat berbuat (Chanda)&lt;br /&gt;          Keenam jenis faktor batin yang khusus ini tidak memihak kepada sisi moral atau pun sisi  tak bermoral (immoral), akan tetapi lebih cenderung disebut sebagai ‘unmoral’ atau netral. Namun Sdr/i, apabila ke-enam Cetasika tersebut muncul bersama Akusala Citta (kesadaran tak bermoral), maka mereka menjadi tidak baik (Akusala); dan apabila muncul bersama Kusala Citta (kesadaran yang bermoral), maka mereka akan menjadi baik (Kusala). Jadi, mereka ini tergantung kepada ‘teman-teman’ mereka.&lt;br /&gt;          Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah kita mengetahui 7 Cetasika yang uni-versal, dan kemudian juga 6 Cetasika yang khusus, marilah kita lanjutkan lagi uraian ini dengan membahas faktor-faktor batin (Cetasika) yang bersifat buruk. (Akusala). Sdr/i, ada 14 macam faktor batin (Cetasika) yang bersifat buruk, yaitu sebagai berikut:&lt;br /&gt;  1. Kebodohan batin (Moha)&lt;br /&gt;  2. Tidak malu dalam berbuat jahat (Ahirika)&lt;br /&gt;  3. Tidak takut akan akibat perbuatan jahat (Anottappa)&lt;br /&gt;  4. Kegelisahan (Uddhacca)&lt;br /&gt;  5. Keserakahan (Lobha)&lt;br /&gt;  6. Pandangan keliru (Ditthi)&lt;br /&gt;  7. Kesombongan (Mana)&lt;br /&gt;  8. Kebencian (Dosa)&lt;br /&gt;  9. Iri hati (Issa)&lt;br /&gt;10. Keegoisan/kekikiran (Macchariya)&lt;br /&gt;11. Kekhawatiran (Kukkucca)&lt;br /&gt;12. Kemalasan (Thina)&lt;br /&gt;13. Kelambanan batin (Middha)&lt;br /&gt;14. Keraguan skeptis (Vicikiccha)&lt;br /&gt;          Sdr/i seDhamma, ke 14 faktor batin (Cetasika) ini, bersama-sama dengan 13 Ce tasika yang tadi, yaitu 7 universal dan 6 khusus, akan bergabung dalam berbagai cara dan kombinasi, membentuk atau memproduksi berbagai jenis kesadaran yang tidak baik (Akusala Citta). Jadi, ke 14 Cetasika ini disebut Akusala karena selalu berkaitan/&lt;br /&gt;selalu mengkondisikan timbulnya Akusala Citta (kesadaran yang tidak bermoral).&lt;br /&gt;          Sdr/i yang berbahagia, demikianlah tentang 14 faktor batin (Cetasika) yang bu-ruk. Selanjutnya, marilah kita membahas pula tentang faktor-faktor batin yang baik (Kusala). Sdr/i, terdapat 19 faktor batin yang baik atau indah yang disebut ‘Sobhana-cetasika’, yang artinya 19 faktor batin yang baik atau indah, yang terdapat secara umum pada semua kesadaran yang indah (Sobhana Citta). Mereka ini adalah:&lt;br /&gt;  1. Keyakinan (Saddha)&lt;br /&gt;  2. Perhatian murni (Sati)&lt;br /&gt;  3. Malu akan berbuat jahat (Hiri)&lt;br /&gt;  4. Takut akan akibat perbuatan jahat (Ottappa)&lt;br /&gt;  5. Tidak serakah / dermawan (Alobha)&lt;br /&gt;  6. Tidak membenci / cinta kasih (Adosa)&lt;br /&gt;  7. Keseimbangan batin (Tatramajjhattata)&lt;br /&gt;  8. Ketenangan / kesabaran bentuk batin (Kaya-passadhi)&lt;br /&gt;  9. Ketenangan / kesabaran kesadaran (Citta-passadhi)&lt;br /&gt;10. Keringanan bentuk batin (Kaya-lahuta)&lt;br /&gt;11. Keringanan kesadaran (Citta-lahuta)&lt;br /&gt;12. Sifat menurut bentuk batin (Kaya-muduta)&lt;br /&gt;13. Sifat menurut kesadaran (Citta-muduta)&lt;br /&gt;14. Sifat adaptasi bentuk batin (Kaya-kammabbata)&lt;br /&gt;15. Sifat adaptasi kesadaran (Citta-kammabbata)&lt;br /&gt;16. Kemampuan / keahlian bentuk batin (Kaya-pagubbata)&lt;br /&gt;17. Kemampuan / keahlian kesadaran (Citta-pagubbata)&lt;br /&gt;18. Ketulusan bentuk batin (Kayujukata)&lt;br /&gt;19. Ketulusan kesadaran (Cittujukata)&lt;br /&gt;          Sdr/i seDhamma, demikianlah tentang 19 faktor batin yang indah yang terdapat di semua kesadaran yang baik atau yang disebut ‘Sobhana-cetasika’. Dan selanjutnya, masih ada lagi tiga faktor batin dalam berpantang, atau yang disebut sebagai Virati Cetasika. Tiga faktor batin ini yaitu:&lt;br /&gt;1. Berbicara benar (Samma-vaca)&lt;br /&gt;2. Berbuat benar (Samma-kammanta)&lt;br /&gt;3. Berpenghidupan benar (Samma-ajiva)&lt;br /&gt;          Sdr/i yang berbahagia, selanjutnya lagi, masih ada dua Cetasika atau dua faktor batin yang disebut faktor batin tanpa batas atau Appamabba Cetasika. Kedua faktor batin ini adalah:&lt;br /&gt;1. Belas kasihan (Karuna)&lt;br /&gt;2. Simpati akan kebahagiaan makhluk lain (Mudita)&lt;br /&gt;          Sdr/i, Karuna dan Mudita ini disebut sebagai faktor batin tanpa batas karena mereka memiliki obyek (Arammana) yang tanpa batas. Dan selanjutnya, masih ada satu faktor batin lagi yang disebut faktor batin kebijaksanaan (Pabba). Kebijaksanaan (Pabba) adalah faktor batin yang baik serta bermoral yang ke-25. Jadi Sdr/i sekalian, semua tadi, kalau dijumlahkan, terdapat 25 faktor batin yang indah (Sobhana Ceta-sika).&lt;br /&gt;          Sdr/i sekalian, selanjutnya, supaya tidak  terlalu bingung, secara garis besar, faktor-faktor batin tadi dapat diringkas sebagai berikut ini:&lt;br /&gt;- ada 13 Cetasika yang bersifat tidak baik pun tidak buruk, kemudian&lt;br /&gt;- ada 14 Cetasika yang bersifat buruk, dan&lt;br /&gt;- ada 25 Cetasika yang bersifat indah dan baik&lt;br /&gt;Cetasika-cetasika tersebut muncul berkelompok dengan kombinasi tertentu di dalam batin kita.&lt;br /&gt;          Sdr/i seDhamma, langkah selanjutnya, untuk lebih mematangkan pemahaman kita, marilah sekali lagi kita melihat bagaimana satu kesadaran atau Citta muncul, dan apa yang sesungguhnya menyusun kesadaran (Citta) itu. Sdr/i, kebutuhan/perlengkap-an awal tertentu penting sekali untuk dipenuhi bagi munculnya suatu kesadaran. Misal nya, harus terdapat kontak (Phassa); harus ada perasaan (Vedana) terhadap obyek; ha-rus terdapat pencerapan (Sabba) terhadap obyek; dan harus ada beberapa faktor batin lain. Dalam hal ini, setiap kesadaran (Citta), sedikitnya terdiri dari 7 faktor  batin (Ce-tasika) yaitu:&lt;br /&gt;1. Kontak (Phassa)&lt;br /&gt;2. Perasaan (Vedana)&lt;br /&gt;3. Pencerapan (Sabba)&lt;br /&gt;4. Kehendak (Cetana)&lt;br /&gt;5. Faktor keterpusatan (Ekaggata)&lt;br /&gt;6. Fakor vitalitas psikis (Jivitindriya)&lt;br /&gt;7. Perhatian (Manasikara).&lt;br /&gt;          Ketujuh faktor batin ini disebut ‘universal’ (Sabba-citta-sadharana) karena me-reka pasti muncul di semua jenis kesadaran (Citta). Jadi, Citta atau kesadaran apa saja, pasti mengandung 7 faktor batin ini. Selanjutnya, ada faktor batin yang tidak berpihak pada segi moral maupun immoral, yaitu yang disebut Pakinnaka Cetasika atau faktor batin khusus. Faktor batin khusus ini ada 6, yaitu:&lt;br /&gt;1. Pengarahan pikiran pada obyek (Vitakka)&lt;br /&gt;2. Perenungan penopang (Vicara)&lt;br /&gt;3. Keputusan (Adhimokkha)&lt;br /&gt;4. Semangat (Viriya)&lt;br /&gt;5. Kegiuran (Piti)&lt;br /&gt;6. Hasrat berbuat (Chanda)&lt;br /&gt;          Enam jenis faktor batin ini disebut ‘khusus’ karena fungsinya tergantung kepa-da faktor batin lain yang bersekutu dengannya, baik faktor batin lain itu bersifat mo-ral maupun immoral. Nah, ke-13 faktor batin tadi, yaitu 7 universal dan 6 khusus, apa-bila bercampur dengan 14 Akusala Cetasika dalam berbagai kombinasi, tergantung persepsi yang dialami dari waktu ke waktu, maka akan muncul berbagai jenis kesa-daran yang buruk / tak bermoral / immoral (Akusala Citta). Sebaliknya, apabila ke-13 faktor batin tadi bercampur dalam berbagai kombinasi dengan Sobhana Cetasika (fak-tor batin yang indah dan baik), maka akan muncul kesadaran yang indah (Sobhana Citta). Nah, hal yang harus diperhatikan pada tahap ini yaitu, bahwa ke-19 jenis faktor indah (Sobhana Cetasika) yang pertama tadi, semuanya pasti hadir. Jadi, tanpa ke-19 faktor batin indah ini, maka tidak mungkin muncul kesadaran indah bermoral. Dengan kata lain, setiap Sobhana Citta, harus dan pasti mengandung ke-19 belas jenis Cetasi-ka yang indah ini.&lt;br /&gt;          Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yang berjudul ‘Cetasika atau Fakor-Faktor Batin’. Semoga semua yang telah kita lakukan ini dapat menambah pengetahuan Dhamma kita. Dan, bila ada pertanyaan, marilah kita diskusikan bersama-sama setelah selesainya kebakti-an ini. Terimakasih.&lt;br /&gt;Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia.&lt;br /&gt;Sadhu! Sadhu! Sadhu!&lt;br /&gt;____________________&lt;br /&gt;Dibacakan pada tanggal:&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-3779000374550619986?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/3779000374550619986/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=3779000374550619986' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/3779000374550619986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/3779000374550619986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/03/cetasika-abhidhamma.html' title='CETASIKA - ABHIDHAMMA'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-7952419062149495138</id><published>2008-03-03T21:10:00.001-08:00</published><updated>2008-03-03T21:10:58.523-08:00</updated><title type='text'>TIRATANA</title><content type='html'>IV.  T I R A T A N A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Arti Tiratana dan mengapa yakin pada Tiratana&lt;br /&gt;A.    Artinya ‘tiga permata’ yaitu Buddha (sebagai guru), Dhamma (sebagai ajaran), dan Sangha (sebagai siswa yang berhasil).&lt;br /&gt;B.    Jadi, ada siswa yang berhasil sebagai bukti kebenaran dari ajaran sang guru.&lt;br /&gt;       Oleh karena ada siswa yang berhasil inilah maka kita mau meyakini Tiratana, mau menja-dikan Tiratana sebagai ‘perlindungan’ kita.&lt;br /&gt;C.    Dikatakan sebagai permata karena Tiratana nilainya sangat luhur&lt;br /&gt;       1) Buddha                Nibbana&lt;br /&gt;       2) Dhamma              Nibbana           Nibbana = sangat luhur&lt;br /&gt;       3) Sangha                 Nibbana&lt;br /&gt;2.    Beberapa perumpamaan Tiratana&lt;br /&gt;       Buddha, Dhamma, dan Sangha tidak dapat dipisah-pisahkan dalam pembahasannya. Jadi, kalau ada guru, maka harus ada ajaran dan juga harus ada siswa yang berhasil untuk membuktikan ke-benaran ajaran sang guru tersebut. Oleh sebab itu, ketiga hal ini saling berkaitan. Dalam Khud-dakanikaya Khuddakapatha dijelaskan beberapa perumpamaan dari Tiratana di antaranya yaitu:&lt;br /&gt;            BUDDHA                                         DHAMMA                              SANGHA&lt;br /&gt;       1)  Dokter                                           Obat                         Pasien yang sudah sembuh&lt;br /&gt;       2) Matahari                                          Sinar                         Bumi yang terkena sinar&lt;br /&gt;       3) Sopir kapal                                      Kapal                        Penumpang yang sampai tujuan&lt;br /&gt;       4) Penunjuk harta karun                       Peta                          Orang yang menemukan harta karun&lt;br /&gt;       5) Busur panah                                    Anak panah               Sasaran yang terkena anak panah&lt;br /&gt;       6) Pelatih kuda                                     Metode melatih          Kuda yang terlatih&lt;br /&gt;3.    Skema Tiratana (lihat pada lampiran ‘skema’)&lt;br /&gt;4.    Penjelasan singkat Tiratana&lt;br /&gt;A.    Penegasan arti Ti = tiga (mengapa?) dan Ratana = permata (mengapa?)&lt;br /&gt;B.    Kualitas Tiratana&lt;br /&gt;       1) Kualitas Buddha                ada 9 (Buddhanussati)&lt;br /&gt;       2) Kualitas Dhamma              ada 6 (Dhammanussati)&lt;br /&gt;       3) Kualitas Sangha                 ada 9 (Sanghanussati)&lt;br /&gt;C.    Sammasambuddha&lt;br /&gt;1)  Defenisi&lt;br /&gt;a.  Orang yang mencapai kebuddhaan&lt;br /&gt;b.  Dengan usaha sendiri tanpa bantuan pihak lain&lt;br /&gt;c.  Mengajarkan Dhamma (ajaranNya)&lt;br /&gt;d.  Yang diajar dapat mencapai tingkat-tingkat kesucian&lt;br /&gt;2)  Kemunculan&lt;br /&gt;a.  Dalam satu umur dunia (kappa), paling banyak hanya muncul lima orang Samma-sambuddha&lt;br /&gt;b.  Sekali muncul hanya satu orang dalam lingkup satu Buddhajatikkhetta (ribuan tata surya          gugus galaxy)&lt;br /&gt;c.  Pada saat itu siklus moral manusia sedang bagus (usia manusia rata-rata antara 100 tahun sampai 100.000 tahun)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3)  Syarat-syarat menjadi Sammasambuddha&lt;br /&gt;a.  Sudah mempunyai simpanan Parami (kesempurnaan kebajikan) yang tingkat biasa sebanyak 100.000 kappa&lt;br /&gt;b.  Dia lalu bertekad di depan Sammasambuddha yang ada pada waktu itu&lt;br /&gt;c.  Sammasambuddha tersebut lalu memberikan ‘penegasan’&lt;br /&gt;d.  Sejak saat itu dia disebut ‘Bodhisatta’ dan harus menyempurnakan Parami-nya lagi untuk dapat menjadi Sammasambuddha&lt;br /&gt;4)  Penjelasan Parami (kesempurnaan kebajikan)&lt;br /&gt;     SAD PARAMITA                          DASA PARAMI&lt;br /&gt;a.  Dana                                       Dana&lt;br /&gt;                                                    Metta&lt;br /&gt;                                                    Nekkhamma&lt;br /&gt;b.  Sila                                          Sila&lt;br /&gt;                                                    Sacca&lt;br /&gt;c.  Kshanti                                    Khanti&lt;br /&gt;d.  Virya                                       Viriya&lt;br /&gt;                                                    Adhitthana&lt;br /&gt;e.  Dhyana                                    Upekkha&lt;br /&gt;f.   Prajna                                      Panna&lt;br /&gt;Ada 3 (tiga) tingkatan Parami&lt;br /&gt;a.  Biasa                mengorbankan kedudukan dan harta benda&lt;br /&gt;b.  Sedang             mengorbankan organ tubuh&lt;br /&gt;c.  Tinggi              mengorbankan kehidupan&lt;br /&gt;PARAMI         SAVAKA BUDDHA       PACCEKA BUDDHA        SAMMASAMBUDDHA&lt;br /&gt;a.  Biasa …… 100.000 kappa              &lt;br /&gt;                                                         100.000 kappa&lt;br /&gt;b.  Sedang ………………….                                               4 Asankheyya 100.000 kappa        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.  Tinggi …………………………………………….&lt;br /&gt;D.    Pacceka Buddha&lt;br /&gt;1)  Defenisi&lt;br /&gt;a.  Orang yang mencapai kebuddhaan&lt;br /&gt;b.  Dengan usaha sendiri tanpa bantuan pihak lain&lt;br /&gt;c.  Tidak mengajarkan Dhamma (ajaran)&lt;br /&gt;d.  Seandainya mengajar, maka yang diajar tidak mencapai tingkat-tingkat kesucian&lt;br /&gt;2)  Kemunculan&lt;br /&gt;a.  Muncul pada saat di dunia ini tidak ada ajaran Sammasambuddha&lt;br /&gt;b.  Sekali muncul banyak orang&lt;br /&gt;c.  Pada saat itu siklus moral manusia sedang tidak bagus&lt;br /&gt;3)  Syarat-syarat menjadi Pacceka Buddha&lt;br /&gt;     Mempunyai simpanan Parami tingkat biasa dan sedang sebanyak 100.000 kappa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.    Savaka Buddha&lt;br /&gt;1)  Defenisi&lt;br /&gt;a.  Orang yang mencapai kebuddhaan&lt;br /&gt;b.  Karena mempelajari ajaran Sammasambuddha&lt;br /&gt;c.  Mengajarkan Dhamma (ajaran)&lt;br /&gt;d.  Yang diajar dapat mencapai tingkat-tingkat kesucian&lt;br /&gt;2)  Kemunculan&lt;br /&gt;a.  Muncul pada saat di dunia ini ada ajaran Sammasambuddha&lt;br /&gt;b.  Sekali muncul banyak orang&lt;br /&gt;c.  Pada saat itu siklus moral manusia sedang bagus&lt;br /&gt;3)  Syarat-syarat menjadi Savaka Buddha&lt;br /&gt;Mempunyai simpanan Parami tingkat biasa sebanyak 100.000 kappa&lt;br /&gt;F.    Pariyati Dhamma (teori)                 lihat pembahasan kitab suci Tipitaka (Pali)&lt;br /&gt;G.    Patipati Dhamma (praktik)             lihat pembahasan Sila dan Samadhi.&lt;br /&gt;H.    Pativeda (hasil penembusan)&lt;br /&gt;1)  Magga (jalan kesucian)        begitu Magga langsung disusul Phala!&lt;br /&gt;2)  Phala (hasil kesucian)           (analogi ‘orang melangkah’ atau ‘siswa naik kelas’)&lt;br /&gt;3) Nibbana (tidak berkondisi)&lt;br /&gt;Penjelasan tingkat-tingkat kesucian&lt;br /&gt;Ada 10 (sepuluh) belenggu batin (Dasa Samyojana) yang dipatahkan, yaitu:&lt;br /&gt;BELENGGU BATIN                           SOTAPANNA        SAKADAGAMI            ANAGAMI              ARAHAT&lt;br /&gt;  1. Sakkayaditthi                             ´                          ´                       ´                      ´&lt;br /&gt;  2. Vicikiccha                                  ´                           ´                       ´                      ´&lt;br /&gt;  3. Silabbataparamasa                        ´                        ´                       ´                      ´&lt;br /&gt;  4. Patigha/Byapada                                                     √                       ´                      ´&lt;br /&gt;  5. Kamaraga                                                               √                       ´                     ´&lt;br /&gt;  6. Ruparaga                                                                                                                  ´&lt;br /&gt;  7. Aruparaga                                                                                                                 ´&lt;br /&gt;  8. Mana                                                                                                                        ´&lt;br /&gt;  9. Udaccha                                                                                                                   ´&lt;br /&gt;10. Avijja                                                                                                                       ´&lt;br /&gt;I.     Sangha (pesamuan)&lt;br /&gt;1)  Ariya Sangha                pesamuan mereka yang sudah mencapai tingkat-tingkat kesucian&lt;br /&gt;2)  Sammuti Sangha           pesamuan para bhikkhu yang belum mencapai tingkat kesucian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.    Ungkapan berlindung pada Tiratana&lt;br /&gt;A.    Mengucapkan Tisarana (tiga perlindungan)&lt;br /&gt;                 Buddham saranam gacchami&lt;br /&gt;                 Dhammam saranam gacchami&lt;br /&gt;                 Sangham saranam gacchami&lt;br /&gt;                 Dutiyam’ pi Buddham saranam gacchami&lt;br /&gt;                 Dutiyam’ pi Dhammam saranam gacchami&lt;br /&gt;                 Dutiyam’ pi Sangham saranam gacchami&lt;br /&gt;Tatiyam’ pi Buddham saranam gacchami&lt;br /&gt;                 Tatiyam’ pi Dhammam saranam gacchami&lt;br /&gt;                 Tatiyam’ pi Sangham saranam gacchami&lt;br /&gt;B.    Riwayat pengucapan Tisarana&lt;br /&gt;       Ketika 60 Arahat menyebarkan Dhamma di dunia untuk faedah orang banyak (yaitu sesu-dah YA. Yasa dan kawan-kawannya telah mencapai Arahat), supaya praktis mereka diberi kewenangan oleh Sang Buddha untuk mentahbiskan sendiri kepada mereka yang ingin menjadi bhikkhu dengan syarat sebagai berikut:&lt;br /&gt;1)  Setelah rambut dan jenggotnya dicukur (jadi, kalau mau menjadi bhikkhu, inilah yang pertama kali dilakukan)&lt;br /&gt;2)  Kemudian ia mengenakan jubah kuning&lt;br /&gt;3)  Lalu ia memberi hormat (bersujud di kaki bhikkhu), berjongkok (duduk bersimpuh ber-tumpu lutut) sambil berabjali.&lt;br /&gt;4)  Kemudian ia harus diberitahu:&lt;br /&gt;     “Ucapkanlah demikian:’Saya berlindung kepada Buddha&lt;br /&gt;                                            Saya berlindung kepada Dhamma&lt;br /&gt;                                            Saya berlindung kepada Sangha&lt;br /&gt;                                            Untuk kedua kalinya (idem 3 kalimat di atas)&lt;br /&gt;                                            Untuk ketiga kalinya (idem 3 kalimat di atas)&lt;br /&gt;     Cara ini disebut Tisaranagamana Upasampada yang sekarang digunakan untuk pentah-bisan samanera.&lt;br /&gt;     Riwayat ini diucapkan oleh Sang Buddha sendiri, bukan oleh siswa Beliau, yaitu terda-pat dalam Khuddakanikaya Khuddakapatha bagian Saranattaya.&lt;br /&gt;C.    Aspek-aspek keyakinan&lt;br /&gt;1)  Aspek pengertian&lt;br /&gt;2)  Aspek kemauan&lt;br /&gt;3)  Aspek kebahagiaan&lt;br /&gt;Artinya, kita harus mengerti dulu akan adanya kebenaran, barulah kemudian kita mau me-laksanakan  dan kemudian hasil dari praktik/pelaksanaan itulah yang akan membuahkan hasil yaitu kebahagiaan.&lt;br /&gt;D.    Makna berlindung pada Tiratana&lt;br /&gt;Maknanya adalah perlindungan yang aktif, artinya hasil usaha kita sendirilah yang dapat melindungi kita. Jadi, mereka yang praktik Dhamma akan terlindungi oleh Dhamma dan yang tidak praktik tidak akan terlindungi. Dhammo have rakkhati dhammacarim, chattam mahantam viya vassakale (Dhamma melindungi seseorang yang melaksanakannya, bagai-kan payung besar di musim hujan).&lt;br /&gt;Analogi: - ingin mencapai tepi seberang&lt;br /&gt;               - ingin mencapai puncak gunung&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-7952419062149495138?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/7952419062149495138/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=7952419062149495138' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/7952419062149495138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/7952419062149495138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/03/tiratana.html' title='TIRATANA'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-1377543686617591477</id><published>2008-02-28T19:38:00.001-08:00</published><updated>2008-02-28T19:38:40.580-08:00</updated><title type='text'>Bulan Dana Kathina</title><content type='html'>BULAN  DANA,  BULAN  KATHINA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;NATTHI  CITTE  PASANNAMHI  APPAKA  NAMA  DAKKHINA.&lt;br /&gt;Suatu pemberian tak pernah memiliki nilai yang kecil bila diberikan dengan kesungguhan hati.&lt;br /&gt;                                                                                                   Khuddakanikaya Vimanavatthu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah membaca Paritta dan bermeditasi, marilah kita se-karang mengarahkan perhatian dan konsentrasi guna mengadakan pembahasan dan perenungan Dhamma yang pada hari ini berjudul ‘Bulan Dana, Bulan Kathina’. Jadi sekali lagi Sdr/i sekalian, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Bulan Dana, Bulan Kathina’, karena berkenaan untuk menyambut bulan Kathina pada tahun ini.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, istilah ‘bulan dana’ pasti sudah biasa kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Yang paling populer adalah bulan dana PMI, di mana pada saat itu PMI mengumpulkan dana dari masyarakat dengan berbagai cara. Ada yang menjual sticker lewat karcis tanda masuk di gedung-ge-dung pertunjukan; ada lagi yang dengan cara meminta sumbangan suka rela dari masyarakat; kemu-dian ada yang dengan cara mengedarkan map-map yang berisi formulir permohonan dana di seko-lahan-sekolahan; atau dengan cara-cara yang lainnya lagi. Sdr/i, kegiatan ini bersifat suka rela dan tidak memaksa. Namun, kalaupun dalam praktiknya ada petugas yang memaksa masyarakat untuk membeli sticker atau barang-barang lainnya tadi, itu merupakan masalah yang lain lagi.&lt;br /&gt;            Sdr/i yang berbahagia, di dalam agama Buddha, ternyata juga terdapat yang namanya bulan dana seperti itu walaupun maknanya tentu berbeda. Bulan dana di dalam agama Buddha ini tidak menggunakan istilah ‘bulan dana umat Buddha’ atau ‘bulan berdana bagi umat Buddha’ atau dengan istilah yang lainnya lagi, karena masa satu bulan yang merupakan bulan dana tersebut, sudah dikenal dengan istilah ‘bulan Kathina’ atau ‘masa Kathina’. Bulan Kathina ini selalu hadir antara bulan Ok-tober dan bulan Nopember, yakni setelah ‘masa Vassa’ berakhir. Pada saat tersebut adalah masa yang tepat bagi umat Buddha untuk memberikan dana kepada para bhikkhu yang telah menjalankan Vassa; dan tentang arti ‘masa Vassa’ ini Sdr/i, dahulu sudah pernah dijelaskan, dan nanti dapat dije-laskan lagi dalam diskusi Dhamma kita.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian, sebenarnya masa Kathina merupakan bulan terakhir dari musim hujan. Sang Buddha memberikan ijin kepada para bhikkhu bahwa satu bulan terakhir dari musim hujan merupakan waktu untuk mencari kain atau bahan jubah yang baru, guna mengganti jubah lama yang telah robek. Sdr/i sekalian, kalau dibayangkan, memang kehidupan di jaman Sang Bud-dha tentu tidak sama dengan kehidupan di jaman sekarang. Dalam kitab-kitab suci banyak dicerita-kan tentang kehidupan di jaman Sang Buddha ini. Ada orang yang kaya raya, ada raja yang menjadi sponsor atau yang menyokong kehidupan para bhikkhu, dan masih banyak lagi yang lainnya. Tentu saja tidak semua bhikkhu hidup dari bantuan orang kaya atau raja yang memerintah.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, para bhikkhu yang hidup di daerah yang makmur, yang didukung oleh orang kaya atau raja, tentu tidak akan kesulitan untuk mendapatkan empat kebutuhan pokok. Nampaknya umat Buddha pada jaman Sang Buddha ini selalu menyediakan empat kebutuhan pokok tersebut de-ngan baik. Tetapi, untuk jubah, para bhikkhu pada umumnya mengumpulkan kain-kain bekas pem-bungkus mayat. Kain pembungkus mayat ini dikenal dengan nama ‘pamsukula’. Kain-kain tersebut dikumpulkan dan dijahit menurut ketentuan yang ada untuk menjadi jubah. Pembuatan jubah ini bia-sanya dilakukan pada masa Kathina; dan untuk mewarnai serta memotong kain tersebut, diperlukan alat berupa bingkai untuk membentang kain jubah tersebut, bingkai ini juga dikenal dengan nama Kathina.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, masa Kathina merupakan satu kurun waktu yang cukup baik bagi umat Bud-dha untuk mempraktikkan perbuatan baik terutama dengan cara berdana. Mengapa demikian? Kare-na seperti yang sudah sering kita ketahui, bahwa ladang yang paling baik untuk menerima dana ada-lah Savgha atau persamuan para bhikkhu. Dalam Savghanussati atau perenungan terhadap kualitas Savgha dinyatakan demikian ‘lapangan untuk menanam jasa yang tiada taranya di alam semesta’. Tentu saja banyak juga tempat lain seperti panti asuhan, rumah jompo, dan sebagainya lagi yang juga merupakan tempat-tempat yang cukup baik atau pantas untuk menerima dana.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, dalam masa satu bulan tersebut, umat memilih satu hari tertentu untuk me-rayakan upacara Kathina. Pemilihan hari tersebut tergantung dari umat sendiri, di samping juga ke-sediaan para bhikkhu yang akan menghadiri upacara Kathina yang diadakan itu.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, lalu apa saja yang bisa diberikan atau yang bisa didanakan kepada para bhik-khu pada saat upacara Kathina Puja ini? Sdr/i, pertanyaan ini sering muncul dan kadang-kadang menjadi pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh diri sendiri karena memang tidak tahu jawaban-nya. Sdr/i, untuk hal ini, dana yang dapat kita berikan adalah bisa berupa empat kebutuhan pokok para bhikkhu, yaitu: jubah atau bahan jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan. Empat ke-butuhan pokok tersebut merupakan kebutuhan minimal bagi semua orang. Tetapi, dalam hal ini, pe-ngertian memberikan kebutuhan berupa tempat tinggal di sini bukan berarti membawa rumah BTN atau rumah dengan sistem ‘knock down’ yang kini sedang populer itu. Bukan demikian! Pengertian tempat tinggal di sini berarti ‘kuti’ yang ada di vihara, yang merupakan sumbangan umat ketika da-lam pembangunannya.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, di samping itu, umat juga dapat memberikan keperluan yang lainnya seperti sabun, sikat gigi, handuk, pasta gigi, dan benda-benda lainnya yang masih bisa dikatakan untuk ke-perluan bhikkhu. Kemudian, banyaknya dana yang kita berikan kepada para bhikkhu tersebut juga tergantung pada pribadi kita sendiri, tergantung pada kerelaan kita, dan faktor-faktor lainnya yang ada di dalam batin kita sendiri.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian, akibat banyaknya umat Buddha yang merayakan Kathina ini, maka vihara-vihara yang cukup besar dan terkenal bisa menjadi seperti super market. Sabun, pasta gigi, sikat gigi, handuk, kain putih, dan sebagainya lagi menjadi sangat banyak. Tentu saja hal terse-but tidak semuanya digunakan oleh para bhikkhu, dan tentunya para bhikkhu juga tidak mungkin menjualnya kembali. Akhirnya, dana tersebut disalurkan kembali kepada umat yang memerlukan di daerah-daerah atau diserahkan ke panti asuhan. Oleh karena itu, akhirnya dalam beberapa tahun be-lakangan ini, umat lebih senang memberikan uang. Hal ini disebabkan karena umat tidak tahu ten-tang apa saja yang sedang dibutuhkan oleh para bhikkhu pada saat itu, apakah untuk pendidikan para calon bhikkhu di luar negeri, atau untuk membantu pembangunan beberapa vihara di daerah, ataupun untuk membantu para guru agama yang bertugas di daerah dengan honor yang minim. Jadi, kalau dengan berdana berupa uang, tentu dapat lebih bisa dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan yang ada atau yang harus dipenuhi.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, perlu juga diketahui, bahwa dana yang akan dipersembahkan pada saat Kathi-na ini adalah bukan hanya untuk para bhikkhu tertentu saja atau hanya kepada bhikkhu yang dise-nangi ataupun hanya kepada para bhikkhu yang sering memberikan khotbah-khotbah Dhamma di vihara. Bukan, bukan hanya untuk itu saja. Tetapi, dana tersebut sesungguhnya adalah dipersembah-kan kepada Savgha. Jadi kepada Savgha. Dana tersebut dipersembahkan kepada Savgha, bukan ke-pada pribadi bhikkhu yang hadir dalam perayaan tersebut.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, namun, karena terbatasnya jumlah bhikkhu yang ada di Indonesia, maka hal ini menyebabkan upacara Kathina Puja yang dilaksanakan oleh umat Buddha di Indonesia hanya bisa dihadiri oleh seorang atau dua orang bhikkhu saja. Tetapi walaupun demikian, perayaan Kathi-na tetap bisa berlangsung di vihara-vihara dan para bhikkhu juga tetap berusaha untuk hadir dalam perayaan tersebut. Di samping itu, sesungguhnya juga terdapat beberapa pilihan dalam upacara Ka-thina yang dapat dilakukan oleh umat Buddha. Upacara-upacara pilihan tersebut adalah sebagai beri-kut ini:&lt;br /&gt;1.  Upacara civara dana di masa Kathina&lt;br /&gt;     Dalam hal ini dana yang kita persembahkan adalah berupa bahan jubah atau jubah, di samping juga ada dana-dana yang lainnya kepada Savgha. Upacara ini dapat berlangsung walaupun hanya dihadiri oleh seorang bhikkhu yang mewakili Savgha.&lt;br /&gt;2.  Upacara dana di masa Kathina&lt;br /&gt;     Dalam hal ini dana yang dapat kita persembahkan berupa keperluan para bhikkhu, dengan tanpa jubah atau bahan jubah. Upacara ini dapat dilaksanakan walaupun hanya dihadiri oleh seorang atau dua orang bhikkhu.&lt;br /&gt;3.  Upacara Savgha dana di masa Kathina&lt;br /&gt;     Dalam upacara ini biasanya dihadiri oleh empat atau lima orang bhikkhu yang mewakili Savgha; dan persembahan yang dapat kita berikan adalah berupa keperluan para bhikkhu serta jubah dan bahan jubah.&lt;br /&gt;            Sdr/i, salah satu dari tiga pilihan upacara Kathina tersebut dapat dilakukan pada salah satu hari di masa Kathina, sehingga dengan demikian kita telah berusaha untuk melaksanakan perbuatan baik melalui berdana.&lt;br /&gt;            Sdr/i, selain itu, walaupun persembahan atau dana yang kita berikan mungkin tidak banyak, namun pikiran yang menyertai persembahan tersebut akan memberikan pengaruh yang sangat besar pada akibatnya. Jadi, persembahan yang diberikan hendaknya disertai dengan kehendak (cetana) yang baik, yaitu pada saat sebelum memberi dana, pada saat memberi dana, dan pada saat sesudah memberi dana. Hal ini akan dapat memberikan buah yang lebih besar daripada mereka yang membe-ri dengan tujuan atau dengan niat yang kurang baik. Namun Sdr/i sekalian, penjelasan pengertian ini bukanlah ‘iming-iming’ bagi Sdr/i yang ada di sini supaya mencari buah kamma yang sebesar-besar-nya. Bukan, bukan itu maksudnya.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, setelah tadi kita mengetahui ada tiga jenis upacara dalam Kathina ini, lalu bagaimanakah sesungguhnya yang disebut dengan upacara Kathina yang sebenarnya itu? Sdr/i seka-lian, upacara Kathina yang sebenarnya, dalam arti yang sesuai dengan Vinaya, adalah upacara per-sembahan bahan jubah dan pembuatan jubah Kathina. Upacara ini hanya dapat berlangsung jika pada masa vassa berdiam lima orang bhikkhu di satu vihara. Apabila kurang dari lima bhikkhu, maka umat tidak bisa melaksanakan upacara Kathina yang sebenarnya ini. Di Indonesia, upacara Kathina Puja yang sebenarnya ini pernah dilaksanakan untuk pertama kalinya di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya di Jakarta yaitu pada tahun 1988 dan menyusul kemudian pada tahun-tahun yang lain di beberapa tempat yang lain.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, namun, walaupun mungkin di daerah kita sekarang ini ti-dak bisa berlangsung upacara Kathina Puja dalam arti yang sebenarnya tersebut, tetapi kesempatan yang ada untuk berdana sebaiknya tidak kita lewatkan begitu saja. Bahkan, sampai kelak setelah ma-sa Kathina ini berakhir, kita juga hendaknya masih terus melakukan perbuatan baik dengan cara ber-dana atau dengan cara yang lainnya lagi. Jadi, kesempatan untuk berbuat baik ini tidak akan bera-khir. Ladang untuk berbuat baik cukup banyak, demikian pula cara untuk berbuat baik. Semuanya itu dapat kita kembangkan dalam kehidupan sekarang ini juga.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian yang berbahagia, tentunya kita semua yang berada di sini sudah siap untuk menyambut perayaan Kathina pada bulan ini, baik di vihara kita sendiri atau juga di viha-ra-vihara yang lainnya. Untuk hal ini, kami mengucapkan ‘Selamat Hari Kathina’. Semoga perbuat-an baik yang telah kita kembangkan dapat menghasilkan kebahagiaan bagi semua pihak selain juga kebahagiaan bagi diri kita sendiri. Terima kasih!&lt;br /&gt;Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia!&lt;br /&gt;Sadhu! Sadhu! Sadhu!&lt;br /&gt;___________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Acuan: dikutip dari berbagai sumber dengan gubahan seperlunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibacakan pada tanggal:&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-1377543686617591477?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/1377543686617591477/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=1377543686617591477' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/1377543686617591477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/1377543686617591477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/02/bulan-dana-kathina.html' title='Bulan Dana Kathina'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-5864960641609706611</id><published>2008-02-28T19:37:00.001-08:00</published><updated>2008-02-28T19:38:00.792-08:00</updated><title type='text'>Berbohong</title><content type='html'>BERBOHONG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;     NATTHI  AKARIYAM  PAPAM  MUSAVADISSA  JANTUNO.&lt;br /&gt;     Seorang pembohong tak pernah akan ragu-ragu berbuat jahat.&lt;br /&gt;                                                                   Khuddakanikaya Itivuttaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah kita tadi membaca Paritta dan bermeditasi, maka marilah sekarang kita pusatkan perhatian dan konsentrasi kita untuk bersama-sama pula mengisi kebaktian ini dengan mengadakan pembahasan dan perenungan Dhamma, yang pada hari ini  mengetengahkan tema tentang ‘Berbohong’ atau ‘Berdusta’. Jadi, tema pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Berbohong’ atau ‘Berdusta’.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, sebagai seorang umat Buddha yang sudah sering ke vihara dan su-dah sering mendengarkan Dhamma, maka pasti kita semua yang berada di vihara ini sudah mengetahui dengan benar tentang arti berbohong atau berdusta itu. Apalagi, bagi mereka yang benar-benar atau berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjalankan dan menjaga Pabca Sila Buddhis yang sedang dilatihnya, tentu masalah mengatasi berbohong atau berdusta ini pasti sudah menjadi bagian dari hidupnya. Memang Sdr/i sekalian, masalah berbohong atau berdusta ini sedapat mungkin harus kita atasi karena perbuatan ini dapat menimbulkan pende-ritaan bagi pihak lain maupun bagi diri sendiri. Kecuali itu, dengan berusaha menghindari ber-dusta, berarti kita sudah satu langkah maju dalam usaha kita untuk mengikis kekotoran batin yang paling kasar, sehingga nanti dengan seringnya melakukan latihan ini, maka kita akhirnya dapat juga mengikis kekotoran batin yang paling halus, yang paling sukar dicapai. Dan, apabi-la kita sudah berhasil dalam hal ini, yaitu pengikisan kekotoran batin yang paling halus, maka tercapailah cita-cita kita yaitu terbebas dari penderitaan untuk selama-lamanya.&lt;br /&gt;            Tetapi Sdr/i sekalian, usaha kita untuk mengurangi atau mengikis perbuatan berdusta ini memang tidak mudah. Sebab-sebabnya mungkin sudah mulai sejak kecil kita sudah terbia-sa dengan lingkungan yang demikian itu, yaitu selalu disuruh tidak boleh ini, atau tidak boleh itu dan harus begini, atau harus begitu, tetapi contoh-contoh yang konsekuen dengan hal-hal tersebut tidak dilakukan oleh yang menyuruh atau yang memberikan nasehat. Untuk lebih mu-dahnya dalam memahami permasalahan ini, maka akan kami berikan beberapa contoh seperti berikut ini. Dahulu waktu kita ini masih kecil, di rumah, ibu kita selalu mengajarkan bahwa kita semua tidak boleh berbohong, karena katanya berbohong itu tidak baik. Selain itu, di ru-mah, ibu kita juga sering melarang banyak hal yang tidak boleh untuk kita lakukan, tetapi ada juga hal-hal yang harus kita lakukan seperti misalnya sebelum tidur harus menggosok gigi, se-belum makan harus cuci tangan, dan masih banyak lagi jumlahnya. Tetapi Sdr/i sekalian, apa-kah dalam hal ini ibu kita tadi juga konsekuen dengan pernyataannya sendiri tersebut? Arti-nya, apakah beliau juga melaksanakan hal-hal yang dinasehatkan kepada kita itu? Bagaimana reaksi kita pada waktu itu ketika melihat hal-hal ini? Inilah salah satu sebab mengapa kita su-dah terbiasa dengan enak sekali untuk cenderung melakukan perbuatan berdusta. Tapi ini ha-nya salah satu kondisi saja bagi kita, sebab yang namanya Lobha, Dosa, dan Moha itu tidak semata-matta disebabkan oleh peristiwa tersebut saja. Ini hanya salah satu contoh waktu kita masih kecil.&lt;br /&gt;            Sekarang, demikian pula yang terjadi ketika kita sudah boleh masuk sekolah karena sudah cukup umur. Di sekolah, guru kita juga mengajarkan tidak boleh berbohong, karena berbohong itu tidak baik. Selain itu, guru kita tersebut juga melarang banyak hal yang tidak boleh kita lakukan, misalnya membolos sekolah, menyontek pada saat ulangan, tidak boleh terlambat, kalau ke sekolah harus pakai seragam, pakai sepatu, tidak boleh merokok, dan ma-sih banyak lagi yang lainnya. Tetapi Sdr/i sekalian, apakah guru kita itu juga melakukan hal-hal tersebut sebagai contoh dan teladan bagi murid-muridnya?&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, hal demikian itu juga terjadi setelah kita remaja. Mungkin di antara kita sudah ada yang punya pacar, dan biasanya pacar kita tadi juga mengatakan bahwa kita jangan berbohong, karena berbohong itu tidak baik, tidak jujur, dan berarti tidak setia. Pacar kita tadi sering melarang kita dalam banyak hal dan juga menghendaki kita agar melakukan banyak hal. Tetapi, apakah dia sendiri juga bersikap demikian?&lt;br /&gt;            Selanjutnya Sdr/i, demikian pula ketika kita sudah mulai aktif di vihara. Para peng-khotbah biasanya juga mengajarkan kita untuk tidak berbohong, karena berbohong itu me-langgar Sila, dan masih banyak lagi yang dapat menyatakan bahwa kita ini bisa melanggar Sila. Tetapi, apakah dia sendiri juga bertindak demikian?&lt;br /&gt;            Dan yang paling celaka Sdr/i, yaitu kalau pada suatu hari kita sendiri yang diminta oleh teman-teman untuk memberikan khotbah di vihara, karena menurut mereka kita sanggup dan memenuhi syarat. Akhirnya, secara otomatis kita sendiripun juga memberikan wejangan-wejangan dan juga mengatakan jangan berbohong karena berbohong itu tidak baik, tidak ter-puji, dan sebagainya. Tetapi, apakah kita sendiri ini juga sudah berbuat demikian itu?&lt;br /&gt;            Sdr/i  sekalian, seandainya penceramah tersebut mengatakan bahwa dia sudah tidak berbohong lagi, maka mungkin kita akan merenungkan dengan berkata dalam hati ‘Apakah dia juga tidak berbohong dengan berkata demikian itu?’ Sdr/i sekalian, memang demikianlah kondisi-kondisi yang terjadi di dunia ini. Banyak sekali kondisi yang terjadi di dunia ini yang dapat membuat kita menjadi terpancing untuk melakukan tindakan berbohong, di antaranya yaitu kita tidak konsekuen terhadap apa yang kita nyatakan sendiri, atau istilahnya kita masih sering melanggar janji yang kita buat sendiri, kita masih sering tidak menepati kata-kata kita sendiri. Sdr/i sekalian, memang menepati janji kadang-kadang bukan merupakan suatu peker-jaan yang gampang. Karena, bila kondisi tidak baik, mungkin kita terpaksa tidak menepati janji walaupun dalam kondisi yang baik kita selalu berusaha menepatinya. Dan, biasanya apa-bila kita sering tidak menepati janji atau sering tidak konsekuen dengan pernyataan yang kita buat sendiri, maka oleh masyarakat di sekitar kita, kita dikatakan sebagai orang yang suka berbohong. Lain di mulut, lain praktiknya.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, kalau kita teliti lebih dalam tentang ajaran yang diberikan oleh Sang Buddha kepada kita, maka kita dapat melihat bahwa memang untuk umat awam suatu janji yang diucapkan pada umumnya tidak mengikat, tetapi kita hendaknya menyadari dan dapat menilai bahwa janji yang kita ucapkan di dalam ajaran Sang Buddha itu, misalnya Pabca Sila Buddhis, adalah suatu cara untuk bertekad melatih diri, yang hasilnya nanti sebenarnya juga untuk kebahagiaan kita sendiri. Kita menyadari bahwa apa yang telah diberikan oleh Sang Buddha adalah suatu petunjuk yang maha bijaksana, yang dapat mengarahkan kita kepada pembebasan dari derita. Memang, pada dasarnya sangat sulit untuk melatih diri menjalankan Sila. Pelaksanaannya tidak semudah yang diduga, dan itupun harus bertahap serta harus di-ikuti dengan kedisiplinan. Jadi, kalau kita tidak bisa menepati janji dalam berlatih Pabca Sila Buddhis, itu bukan lalu berarti bahwa kita ini berdusta. Hal ini berbeda kasusnya dengan con-toh-contoh yang telah dikemukakan tadi. Oleh sebab itu, supaya lebih jelas lagi, maka kita ha-rus tahu terlebih dahulu apa syarat-syarat bahwa suatu perbuatan itu dikatakan perbuatan ber-dusta. Yang pertama yaitu, ada sesuatu atau hal yang memang tidak benar; kemudian yang kedua yaitu, mempunyai pikiran atau kehendak untuk berdusta; yang ketiga berusaha berdus-ta; dan yang keempat yaitu ada orang atau pihak lain yang mempercayainya sehingga pihak lain tersebut tertipu. Nah, apabila keempat faktor tersebut ada semua, maka perbuatan kita ta-di dapat dikatakan sebagai perbuatan berdusta dan melanggar Sila ke 4 dalam Pabca Sila Buddhis. Tetapi, apabila syarat-syarat keempat hal itu tidak terpenuhi, maka perbuatan kita ta-di belum dapat dikatakan sebagai perbuatan berdusta. Selanjutnya Sdr/i sekalian, setelah kita mengetahui keempat faktor dalam berdusta ini, yaitu (1. …..; 2. …..; 3. …..; 4. ….. ) maka se-karang kita dapat mengetahui apakah dari contoh-contoh peristiwa yang telah kita dengar tadi juga dapat digolongkan dalam berdusta? Untuk itu bisa kita jawab dalam diskusi Dhamma se-telah selesainya kebaktian ini.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, perbuatan berdusta ini menurut ajaran dalam agama Buddha dapat dibe-dakan dalam dua macam yaitu: 1) yang dapat menyeret pelakunya masuk ke dalam alam-alam rendah, dan 2) ada yang tidak dapat menyeret ke alam rendah. Suatu pendustaa tidak menye-ret pelakunya masuk ke alam rendah apabila tidak menimbulkan kerugian pada pihak yang dibohongi; misalnya ada seorang dokter yang memberikan keterangan palsu kepada pasiennya dengan tujuan mulia supaya tidak menyebabkan kecemasan atau goncangan batin yang dapat memperparah kesehatannya. Juga bagi orang yang berdusta dengan misalnya mengatakan ti-dak punya uang atau makanan tertentu padahal dia punya, dengan tujuan tidak kehilangan mi-likknya apabila ada yang minta, atau dengan kata lain dia adalah seorang yang pelit, maka perbuatannya itu juga hanya menimbulkan akibat yang ringan. Tetapi Sdr/i, apabila pendusta-annya itu mengakibatkan kerugian besar pada pihak lain, misalnya bersaksi palsu dalam suatu sidang perkara, maka hal ini akan berakibat berat. Bagi para bhikkhu, berdusta dengan me-ngatakan bahwa dia sudah berhasil mencapai kemampuan tertentu yang sesungguhnya tidak dimilikinya, akan membawa akibat yang sangat berat. Akibat-akibat dari pendustaan ini me-mang banyak sekali di antaranya menimbulkan akibat pada pelakunya sebagai berikut: bicara-nya tidak jelas, giginya jelek dan tidak rapi, mulutnya berbau busuk, perawakannya tidak nor-mal, yaitu terlalu gemuk atau terlalu kurus, terlalu tinggi atau terlalu pendek, sorot matanya tidak wajar, perkataannya tidak dipercayai walaupun oleh orang-orang terdekatnya atau ba-wahannya sekalipun.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, perlu juga ditambahkan di sini bahwa berdusta ini adalah suatu perbuat-an buruk yang tidak mungkin dilakukan oleh seseorang yang telah bertekad untuk mencapai Pencerahan Agung atau seorang Bodhisatta. Tidak berdusta atau bersikap jujur adalah salah satu ciri utama seorang Bodhisatta, karena ia bukan pengingkar perkataannya sendiri. Ia ber-tindak seperti yang ia ucapkan dan ia mengucapkan seperti yang ia lakukan (yathavadi tatha-kari yathakari tathavadi). Menurut Harita Jataka (No. 431) seorang Bohdisatta dalam rentang pengembaraan kehidupannya, ia tidak pernah berbohong walaupun suatu ketika ia mungkin melanggar empat peraturan yang lainnya. Dan bahkan di dalam Maha Sutasoma Jataka (No. 537) dikatakan bahwa untuk memenuhi sebuah janji, sang Bodhisatta bersedia untukmengor-bankan hidupnya. Seorang Bodhisatta dapat dipercaya, tulus dan jujur. Apa yang ia pikirkan, ia ucapkan. Terdapat keselarasan yang sempurna dalam pikiran, ucapan, dan perbuatannya. Ia teguh dan berterus terang dalam semua perbuatannya. Ia bukan seorang munafik karena ber-pegang teguh pada prinsip-prinsipnya yang luhur. Tidak ada perbedaan antara batin dan pe-nampilannya. Kehidupan pribadinya sesuai dengan kehidupannya dalam masyarakat.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, demikianlah pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yang bertemakan tentang ‘Berdusta’, dan semoga dengan bertambahnya pengertian kita terhadap hal ini, maka kita akan semakin giat untuk selalu berusaha mengikisnya.&lt;br /&gt;Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia!&lt;br /&gt;Sadhu! Sadhu! Sadhu!&lt;br /&gt;-------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Kepustakaan:&lt;br /&gt;1.   Tanpa Nama, “Bias Kotbah, Nasehat dan …”, HIKMAHBUDHI, No. 1/XX/ Tahun 1991, hal. 45 – 46.&lt;br /&gt;2.   Yantoli E, “Janji”, HIKMAHBUDHI, No. 4/XIX/Juni 1990, hal. 16 dan 27.&lt;br /&gt;3.   Jan Sanjivaputta, MANGALA BERKAH UTAMA, Lembaga Pelestari Dhamma, 1990. hal. IX – 28.&lt;br /&gt;4.   Narada, Mahathera, SANG BUDDHA DAN AJARAN-AJARANNYA II, Yayasan Dhammadipa Arama 1992. hal. 265 – 266.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibacakan pada tanggal:&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-5864960641609706611?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/5864960641609706611/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=5864960641609706611' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/5864960641609706611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/5864960641609706611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/02/berbohong.html' title='Berbohong'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-2495526482441958972</id><published>2008-02-28T19:36:00.000-08:00</published><updated>2008-02-28T19:37:10.268-08:00</updated><title type='text'>Menanam Kusala Kamma</title><content type='html'>BERBAGAI  CARA  MENANAM  KEBAJIKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;            SUKARAM  SADHUNA  SADHU.&lt;br /&gt;            Sangatlah mudah bagi orang baik untuk melakukan hal-hal yang baik.&lt;br /&gt;                                                                                     Khuddakanikaya Udana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah kita bersama-sama membaca Paritta dan bermeditasi, marilah sekarang kita mengadakan perenungan dan pembahasan Dham-ma yang pada hari ini berjudul ‘Berbagai cara menanam kebajikan’. Jadi sekali lagi, judul perenungan dan pembahasan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Berbagai cara menanam kebajikan’.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, kita tentu sudah tahu apa yang namanya menanam kebajikan. Mena-nam kebajikan berarti menanam bibit atau benih kebaikan, yaitu melakukan amal kebaikan atau melakukan suatu perbuatan baik. Tetapi, bagaimana cara menilai besar kecilnya bibit kebaikan yang kita tanam tersebut? Sdr/i sekalian, umumnya, orang-orang Hongkong, be-gitu berbicara soal melakukan amal kebaikan, pasti mereka akan langsung mengaitkan de-ngan sederetan pengertian yang bunyinya begini:”Wah, itu sih persoalan yang harus dila-kukan oleh orang-orang kaya. Sebab,hasil pendapatanku sedikit, bagaimana mungkin bisa melakukan amal? Masih kah aku harus mendermakan uang?”&lt;br /&gt;Begitulah Sdr/i, suatu pengertian salah yang menganggap melakukan amal kebaik-an disamakan dengan mengeluarkan uang. Jadi, harus mengeluarkan uang dulu, barulah bisa disebut beramal. Padahal, ruang lingkup beramal adalah cukup luas. Ada amal ke-baikan yang memang dengan mengeluarkan uang, misalnya mendirikan rumah sakit, se-kolahan, panti perawatan orang jompo, panti asuhan, memberi uang pada fakir miskin, mengobati atau memberikan obat secara cuma-cuma, membangun jembatan dan jalan, memberi penerangan lampu jalan, menyumbang korban bencana alam dan kelaparan, beli peti mati bagi yang melarat, memperbaiki atau mendirikan vihara, mencetak buku-buku Dhamma untuk disebarluaskan secara gratis, membeli makhluk hidup untuk kemudian dilepaskan, dan lain-lain. Itulah jenis-jenis amal kebaikan yang memang dengan me-ngeluarkan uang. Tetapi, ada juga amal kebaikan yang tanpa mengeluarkan uang, misalnya tidak melakukan pembunuhan terhadap makhluk hidup, menghapus dendam atau memaafkan pada orang lain, menghapus segala pertentangan, menyingkirkan batu-batu di jalanan termasuk kulit pisang, pecahan beling, dan sebagainya yang dapat mem-bahayakan orang lewat, mempersilakan tempat duduk bagi wanita hamil atau orang tua, sedapat mungkin menolong orang yang sedang menderita sakit di perjalanan, menghibur dengan kata-kata bagi penderita penyakit berat dan orang yang frustasi, membantu ter wujudnya cita-cita seseorang, membantu orang lain agar sanak saudaranya dapat berkum-pul kembali, membicarakan sejarah atau riwayat orang-orang yang baik agar orang yang mendengarnya terbebas dari kelaliman atau kebodohan, menasehati orang supaya meng-hindari kemaksiatan dan menuju kebenaran, memaafkan kesalahan orang, secara sukare-la membacakan Paritta untuk orang lain yang sedang menderita maupun yang sedang ba-hagia, menasehati orang agar yakin terhadap adanya hukum sebab-akibat, menolong orang tanpa pamrih, menyumbangkan darah untuk menolong orang lain, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Jadi Sdr/i, jelaslah sudah, bahwa beramal tidak pasti harus keluar uang; yang pasti ia harus dengan kesungguhan hati mengerjakannya. Artinya harus benar-benar rela dan ikhlas. Beramal sangat luas ruang lingkupnya. Di manapun terdapat pintu untuk menanam-kan kebajikan. Jadi terserah kita sendiri, dengan kesungguhan hati melakukannya atau ti-dak. Dalam beberapa ajaran dikatakan bahwa tempat yang tidak ada pamrihnya adalah justru merupakan pahala yang besar. Artinya, orang yang selalu berhati tanpa pamrih da-lam berbuat kebaikan apapun, maka pahala dari yang dilakukannya itu adalah pahala yang besar. Oleh sebab itu, kesungguhan hati atau keikhlasan yang tanpa pamrih ini sangat penting sekali peranannya dalam setiap melakukan suatu perbuatan baik. Kesungguhan hati merupakan suatu titik tolak, yaitu titik tolak dari sikap welas asih. Bagi orang yang su-dah cukup memadai pembinaan batinnya atau laku akhlaknya, maka welas asih yang di-pancarkan sangatlah jauh. Orang yang demikian itu, setiap kebaktian mungkin merenung-kan keinginan atau tekadnya, yaitu tekad menolong umatnya semoga terbebas dari keseng saraan. Sikap welas asih yang agung demikian itu adalah sudah merupakan kualitas batin yang besar, yang tidak dapat dinilai dan diukur. Oleh sebab itu, hendaknya setiap kebakti-an kita berlatih merenungkan atau memancarkan sikap welas asih ini dengan bertekad se-moga dengan kebaktian ini dapat mengkondisikan perdamaian dunia, bebas bencana, ba-gi yang punya sawah panennya bisa baik, semoga semua umat yang ikut kebaktian juga hidup tentram dan sejahtera, dan sebagainya. Hal-hal demikian ini juga merupakan perwu-judan pancaran welas asih dari batin kita yang juga merupakan suatu sikap yang luhur yang tak ternilai.&lt;br /&gt;Sdr/i seDhamma, demikian tadi tentang keikhlasan beramal, sekarang bagaimana kita memilih cara beramal yang bisa sering dilakukan tetapi kalau bisa tanpa mengeluarkan uang, atau sedikit sekali mengeluarkan uang, tetapi tetap bisa mendapatkan hasil yang baik? Sdr/i, beberapa cara berikut ini akan kami sajikan, yang menurut kami dapat meng-hemat dan sangat mudah dilakukan.&lt;br /&gt;Yang pertama adalah membaca Paritta. Inilah cara terbaik berbuat kebajikan tanpa biaya satu sen pun. Jadi, baik si kaya maupun si miskin dapat melakukannya. Tetapi harus ada keyakinan dan tekad. Membaca Paritta harus dengan penuh keyakinan dan kejujuran, tidak kenal lelah dan putus asa di tengah jalan, barulah bisa berhasil. Makin lama memba-ca Paritta makin besar hasilnya. Kekuatan Paritta tidak tampak, jika lama membacanya, dapat menghindarkan berbagai bencana atau malapetaka, juga penyakit yang sedang di-derita, bahkan dapat mengubah nasib yang buruk menjadi jalan yang lapang. Sdr/i, kekuat-an Paritta ini tak terduga. Sdr/i, berbagai hambatan perjalanan nasib manusia, pada dasarnya bersumber pada keadaan ‘telah menanam benih kejahatan’ dan sekarang se-dang menerima akibatnya. Nah, kekuatan Paritta dapat menghapus segala siklus ‘benih ja-hat’ yang pernah kita tanam sehingga dengan sendirinya dapat mengubah nasib buruk menjadi agak baik. Yang harus diperhatikan dalam membaca Paritta yaitu kita harus mem-buang segala segala pikiran yang bukan-bukan. Memang, pada permulaannya kurang bisa berkonsentrasi, banyak pikiran yang mengganggu, tetapi tetap harus setapak demi seta-pak kita melatih diri sehingga lambat laun akan tercapai terpadunya ucapan dan pikiran. Jika ada ucapan tetapi tidak bersatu dengan pikiran, maka cara membaca Paritta sema-cam ini biarpun sampai tenggorokan kita serak, tidak akan berguna. Demikianlah Sdr/i, mengenai membaca Paritta.&lt;br /&gt;Yang kedua adalah melepaskan makhluk hidup. Melepaskan makhluk hidup merupa kan cara yang baik pula untuk memupuk kebajikan atau amal kebaikan. Dalam dunia ini, untuk menikmati hidangan yang lezat, manusia telah berusaha memotong makhluk hidup yaitu hewan, sebanyak mungkin. Dalam masyarakat yang sudah menitikberatkan materi, umumnya orang telah kehilangan pengertian tentang makhluk hidup atau hewan ini. Dan ini adalah suatu bagian kehidupan yang menyedihkan. Kita seharusnya memahami bahwa yang namanya makhluk hidup atau hewan itu juga mempunyai jiwa atau roh seperti kita. Jadi mengapa harus makan daging si lemah secara paksa? Benarkah mereka dilahirkan untuk dibantai manusia? Tidak adakah keadilan hukum alam bagi mereka? Apakah tanpa makan darah dan dagingnya lalu manusia tidak dapat hidup? Jadi, apakah manusia yang merupakan ‘pemimpin dari semua makhluk di dunia’ dibentuk atas dasar kelakuan yang sangat kejam ini? Dari penderitaan mereka pada saat para hewan dibantai, telah cukup membuktikan adanya dendam kesumat mereka pada manusia yang sekaligus juga mem-buktikan kelaliman manusia. Oleh karena itu, orang yang memperhatikan amal kebajikan, selalu melakukan sesuatu perbuatan baik yang dalam hal ini yaitu melepaskan makhluk hi-dup. Melepaskan makhluk hidup berarti telah memberi kesempatan kepada mereka untuk lolos dari kematian atau memberikan sebuah jalan kehidupan.&lt;br /&gt;Yang ketiga adalah melakukan vegetarian. Yaitu berjanji tidak makan makhluk berji-wa atau yang lebih dikenal dengan istilah ‘cia cai’. Hal ini juga merupakan salah satu cara beramal yang tanpa harus mengeluarkan uang. Namun, hal ini harus dilihat dari perbedaan pekerjaan dan situasi setiap orang serta kekuatan janji dan tujuan kita sendiri. Bagi yang berjanji harus benar-benar memegang kata-katanya dan perbuatannya. Jadi apa yang diu-capkan harus dapat dilaksanakan, apabila melanggar, maka akan lebih berat karma buruk-nya daripada yang tidak berjanji.&lt;br /&gt;Yang keempat adalah menolong yatim piatu. Walaupun hal ini harus mengeluarkan harta atau materi, namun tidak mesti dalam jumlah yang banyak, jadi bisa sesuai dengan kemampuan kita. Kita sering membaca dalam surat kabar yang menyerukan agar para pembaca memberikan sumbangan bagi penderita bencana alam, menolong orang yang cacat dan sebatang kara, hingga pengemis di jalan serta orang yang sakit parah tanpa sa-nak saudara yang sedang sengsara. Hal-hal yang menyedihkan semacam itu dapat dite-mui di mana saja. Bagi orang yang mempunyai belas kasihan, pasti akan merasa iba dan oleh karenanya tidak sedikit mereka yang tergerak hatinya lalu mengumpulkan sumbangan lewat surat kabar tersebut untuk diteruskan ke tangan si penderita. Berarti, orang-orang yang berderma tersebut sedang meluku sawah kebajikan, menanam benih kebajikan bagi masa depannya sendiri. Dan, seperti telah diuraikan tadi, bahwa memberikan amal bukan-lah diukur dari banyak sedikitnya uang yang dikeluarkan saja, tetapi juga dari kesungguhan hati kita. Jadi, disesuaikan dengan kemampuan kita masing-masing. Asalkan si pengamal setiap ada kesempatan lalu melakukannya, maka besarlah pahalanya. Bila mungkin, hen-daknya langsung diterimakan pada si penderita. Karena dengan menyaksikan penderitaan mereka, akan lebih mengetuk hati nurani kita dan menimbulkan sikap welas asih. Inilah yang sering disebut dengan ‘hati bodhisatta’. Selain itu, sebaiknya waktu menyumbang ti-dak mencantumkan nama kita. Kita kan bermaksud berbuat baik dengan tanpa pamrih apa pun, tanpa minta balasan apa pun. Jadi, kita kondisikan agar yang menerima tidak mengi-ngat-ingat di dalam batinnya. Hal ini akan membuat pahala kita menjadi lebih besar. Inilah yang disebut sebagai ‘kebajikan tanpa wujud’.&lt;br /&gt;Yang kelima adalah mengunjungi panti jompo. Dalam hal ini masing-masing orang berdana sesuai dengan kemampuan masing-masing lalu bersama-sama membeli makan-an dan kemudian diberikan pada panti jompo untuk dibagikan pada orang-orang yang ber-usia lanjut. Umumnya, penghuni panti jompo adalah orang sebatang kara, yang berpenya-kitan sehingga dapatlah kita bayangkan kesunyian hati dan kesedihannya. Mereka itu mem butuhkan kehangatan, kemesraan, dan perhatian. Jadi mengunjungi panti jompo juga da-pat dikatakan melakukan perbuatan baik yang nilainya cukup besar. Jika anda pernah mengunjungi panti jompo, anda melihat bagaimana mereka dengan langkah gontai dan ta-ngan gemetar serta derai air mata, mereka menerima pemberian kita dengan kedua ta-ngan yang keriput namun wajahnya menyungging senyum kepasrahan. Ada pula yang se-gera mempergunakan tangannya yang gemetaran mengupas kulit buah-buahan dan me-masukkan buah yang telah dikupas itu ke dalam mulutnya yang telah ompong. Menyaksi-kan adegan yang sungguh mengharukan ini, di samping ikut juga menikmati kegembiraan orang-orang itu, anda juga dapat menyelami betapa besar benih kebaikan yang telah anda lakukan.&lt;br /&gt;Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah tadi cara-cara berbuat kebaikan yang tidak harus mengeluarkan banyak uang. Jadi kesimpulannya siapa saja bisa berbuat baik sesuai dengan kemampuan masing-masing. Masalahnya adalah mau atau tidak. Itu saja. Nah Sdr/i yang berbahagia, demikianlah perenungan dan pembahasan Dhamma kita pada hari ini yang berjudul ‘Berbagai cara menanam kebajikan’. Dan, jika di antara Sdr/i ada yang ingin bertanya tentang makalah ini, kami persilakan untuk mendiskusikan bersa-ma-sama setelah selesainya kebaktian ini. Terimakasih!&lt;br /&gt;Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia!&lt;br /&gt;Sadhu! Sadhu! Sadhu!&lt;br /&gt;____________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dengan gubahan seperlunya dari ‘Berbagai cara menanam benih kebajikan’, Berita Dharmayana Edisi No : 35 tahun 2003, halaman 34 – 36.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMIMPIN KEBAKTIAN DAN PEMBACA MAKALAH : HATI – HATI, DALAM ARTIKEL INI BANYAK SEKALI PANCINGAN. MOHON DISKUSIKAN LAGI DENGAN LEBIH CERMAT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibacakan pada tanggal:&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-2495526482441958972?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/2495526482441958972/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=2495526482441958972' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/2495526482441958972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/2495526482441958972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/02/menanam-kusala-kamma.html' title='Menanam Kusala Kamma'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-5574185952457777521</id><published>2008-02-28T19:35:00.000-08:00</published><updated>2008-02-28T19:36:10.665-08:00</updated><title type='text'>Belajar Dhamma</title><content type='html'>BELAJAR  DHAMMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammä Sambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;YONISO  VICINE  DHAMMAÇ&lt;br /&gt;Periksalah Dhamma dengan amat teliti dan cermat.&lt;br /&gt;                          Majjhimanikäya Uparipannäsaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara/i seDhamma yang berbahagia, setelah kita membaca Paritta dan bermeditasi, maka marilah sekarang kita pusatkan perhatian dan konsentrasi kita guna mengadakan pembahasan dan perenungan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Belajar Dhamma’. Sekali lagi, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Belajar Dhamma’ atau ‘Memeriksa Dhamma’.&lt;br /&gt;Saudara/i sekalian, tentu kita semua telah mengetahui bahwa agama Buddha merupakan agama yang cukup tua bila dibandingkan dengan agama-agama yang lain. Lebih dari duaribulimaratus ta-hun yang lampau ketika semua masih primitif, Sang Buddha telah mengajarkan Dhamma-Nya yang memang luar biasa. Namun, walaupun demikian, walaupun telah lebih dari duaribulimaratus tahun yang lalu, bukanlah berarti agama Buddha telah usang, telah ketinggalan jaman, sehingga perlu di-perbaiki, perlu direvisi. Tidak, Saudara! Justru sebaliknya, ajaran Sang Buddha untuk sekarang ini lebih kelihatan relevan dan cocok dengan ilmu pengetahuan. Dan, ini adalah suatu bukti bahwa Dhamma tidak akan pernah usang oleh waktu, dan orang-orang besar di dunia ini pun mengakui hal ini.&lt;br /&gt;Saudara/i sekalian, jika kita mau belajar, mau meneliti dan memeriksa lebih dalam serta lebih seksama tentang ajaran-ajaran Sang Buddha, kita akan memperoleh manfaat yang besar bagi kehi-dupan kita. Tetapi, kalau kita hanya sekedar mengenal agama Buddha, kalau kita hanya sekedar menganut agama Buddha, kalau kemudian hanya sekedar melakukan sembahyang, kebaktian, dan tidak berusaha untuk mencari tahu dan tidak berusaha untuk mengerti dari apa yang sesungguhnya diajarkan oleh Sang Buddha, kita tidak akan mungkin mendapatkan manfaat yang lebih maju.&lt;br /&gt;Banyak manfaat dari ajaran Sang Buddha yang masih tersembunyi, yang belum pernah kita kenal. Karena itu, semakin banyak kita belajar, semakin banyak kita mengenal, mendalami, dan meneliti apa yang diajarkan oleh Sang Buddha serta semakin menghayati, maka akan semakin ba-nyak manfaat yang dapat kita petik dari ajaran Sang Buddha.&lt;br /&gt;Saudara/i sekalian, lebih dari duaribulimaratus tahun yang lampau hingga sekarang ini, ajaran Sang Buddha telah berkembang mulai dari India sebelah barat sampai ke Jepang sebelah timur, dari Srilanka sebelah selatan sampai ke Tibet sebelah utara, dari Eropa sampai ke Australia dan Amerika. Dalam perjalanan sejarah, selama duaribulimaratus tahun, ajaran Sang Buddha dapat diterima dengan damai oleh bangsa-bangsa di dunia ini tanpa menggunakan kekerasan dan tanpa mendapat-kan perlawanan-perlawanan dari bangsa yang mengenal agama Buddha. Jadi, dari mulai dikenal sampai saat ini, semangat agama Buddha adalah semangat lemah lembut, semangat cinta kedamaian, semangat yang penuh toleransi, tetapi tetap mempertahankan ajaran-ajaran yang mendasar dari ajar-an Sang Buddha itu sendiri.&lt;br /&gt;Sampai saat ini, kalau masyarakat melihat agama Buddha, mereka tidak mudah bersimpati apa-lagi jatuh cinta pada agama Buddha. Apa sebabnya demikian? Karena Saudara/i, kesan pertama yang dilihat oleh mereka adalah kurang menarik. Misalnya saja, dalam hal berpakaian waktu pergi ke vihara, masih kurang mendapat perhatian dari saudara/i kita yang bertindak selaku umat Buddha. Saudara/i kita tersebut akan seenaknya saja memakai kaos atau bahkan ada yang bercelana pendek, atau duduknya yang tidak rapi, gaduh pada saat kebaktian, dan lain-lain. Hal-hal ini Saudara/i, akan memberikan kesan yang kurang baik, sehingga mereka menjadi segan untuk ikut dengan Saudara/i; ditambah lagi masih ada saudara/i kita yang melakukan kebaktian dengan altar penuh dengan patung patung  yang kadang kala patung itu besar sekali. Hal ini menyebabkan mereka akan berpikir, tentu agama Buddha mengajarkan orang untuk menggantungkan diri pada patung-patung, memohon-mohon kepada patung, dan seterusnya dan mereka akan berpikir bahwa agama Buddha adalah agama yang sudah ketinggalan jaman, agama yang tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan, agama yang tidak mempunyai daya tarik, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Saudara/i, inilah kesan-kesan pandangan pertama masyarakat pada saudara/i kita tersebut dan juga kepada agama kita, yaitu agama Buddha, yang menimbulkan kesan tidak simpatik dan tentunya sulit untuk jatuh cinta kepada Saudara/i, kepada agama Buddha.&lt;br /&gt;Sesungguhnya tidak menjadi soal. Memang, sepintas lalu agama Buddha tidak bisa mengun-dang orang untuk dapat cinta, apalagi bila altarnya banyak patungnya serta bermacam-macam sajian seperti: pisang, jambu, mangga, roti, dan sebagainya sehingga mereka akan berpikir apakah ini suatu agama yang masih dapat kita pakai di jaman sekarang?&lt;br /&gt;Saudara/i seDhamma, memang bukanlah persoalan apabila ada pandangan demikian terhadap kita, terhadap agama Buddha, memang ada yang mengatakan demikian, tetapi satu hal yang penting; hati yang baik. Tak ada gunanya mempunyai wajah yang cantik tetapi hatinya tidak baik. Sebalik-nya, meskipun berwajah jelek, tetapi berhati mulia tentu akan dicari orang, hanya saja tidak mudah untuk menarik simpati orang.&lt;br /&gt;Saudara/i, kalau saja mereka-mereka itu yang mempunyai salah pengertian terhadap agama Buddha tersebut, terhadap agama kita, mau sedikit membuka telinga, mau sedikit mendengar dan mengerti apa yang sesungguhnya diajarkan oleh Sang Buddha, mau tidak mau mereka akan membe-rikan hormat yang setinggi-tingginya terhadap Sang Buddha, terhadap ajaran-Nya.&lt;br /&gt;Saudara/i seDhamma, kalau Saudara/i membaca buku-buku tentang orang-orang besar dan orang-orang pintar di dunia ini, akan kita ketahui bahwa begitu tingginya mereka menghargai Sang Buddha, menghargai ajaran-Nya. Mengapa demikian? Sebab, ajaran Sang Buddha bukan suatu ajar-an yang membawa kita pada diskriminasi tapi suatu ajaran yang berusaha mengangkat derajat manu-sia dengan usahanya sendiri; suatu ajaran yang mengajak kita untuk berpikir dewasa, suatu ajaran agar kita tidak suka menggantungkan diri pada orang lain, suatu ajaran agar kita mempunyai suatu pegangan yang universal.&lt;br /&gt;Pada kenyataannya, memang sulit untuk melaksanakannya, sulit untuk melaksanakan ajaran yang membangun kita, yang membuat kita sadar dan bertanggung-jawab atas kehidupan kita masing masing. Yang paling mudah adalah, kalau orang lain mau menanggung persoalan kita. Yang paling mudah adalah, memohon sesuatu apabila kita mengalami kesulitan sehingga kita terbebas dari kesu-litan itu. Menggantungkan diri pada sesuatu, mengharapkan sesuatu, merupakan hal yang paling di-sukai oleh manusia, karena merupakan sesuatu yang paling mudah untuk dilaksanakan.&lt;br /&gt;Andaikata Saudara/i, ajaran Sang Buddha ini disulap menjadi demikian, ini andaikata, dan andaikata ajaran Sang Buddha diperbaharui, direvisi, karena dianggap sudah usang, sudah kuno. Dan, ajaran Sang Buddha yang baru itu berbunyi demikian:”Kalau saudara/i mempunyai kesulitan dan persoalan, saudara/i cukup menyebut satu doa, satu mantera, atau satu jampi, dijamin beres dan pasti semua kesulitan teratasi, cita-cita tercapai”.&lt;br /&gt;Nah Saudara/i, siapa yang tidak senang? Siapa yang tidak tertarik? Tetapi ingat, ajaran yang demikian itu sesungguhnya …. Seperti Saudara/i diberi racun yang rasanya madu. Enak memang, tetapi Saudara/i sebentar lagi mati. Maksudnya yang mati bukan Saudara/i melainkan pengertian Saudara/i. Ajaran yang seperti itu, seperti racun yang rasanya madu; seperti baygon yang rasanya jeruk.&lt;br /&gt;Saudara/i, kalau kita mau meneliti apa yang diajarkan oleh Sang Buddha, maka ajaran Sang Buddha sesungguhnya merupakan suatu ajaran yang berusaha menguraikan, menganalisa, menjelas-kan dengan jelas sekali tentang kehidupan kita. Belajar agama Buddha berarti belajar agama kehidup an, karena tidak ada satu kalimat pun dalam ajaran Sang Buddha yang tidak berhubungan dengan ke hidupan. Kalau kita meneliti kehidupan kita dengan jujur, maka akan kita ketahui apa yang menjadi kebutuhan kita, yaitu sandang, pangan, rumah, obat-obatan, pendidikan, uang, nama harum, kekua-saan dan kedudukan yang tinggi serta kehormatan. Tetapi Saudara/i, sebenarnya ada satu lagi yang diperlukan manusia yang justru lebih penting dari semua itu. Tanpa yang satu ini, kehidupan Sauda-ra/i tidak akan mempunyai arah. Memang Saudara/i, makan itu perlu, uang perlu, rumah perlu, perlu Saudara/i, tetapi ada yang lebih perlu yang kadang-kadang kita lupakan, kita abaikan. Nah, apakah yang satu ini? Yang satu ini tidak lain adalah keyakinan.&lt;br /&gt;Orang yang hidup tanpa keyakinan, hidupnya tidak mempunyai arah dan arti. Mengapa demi-kian? Misalnya saja kalau Saudara/i tidak yakin bahwa membaca buku itu membawa manfaat, maka tidak mungkin Saudara/i membacanya. Kalau Saudara/i tidak yakin bahwa sekolah itu ada manfaat-nya, tidak mungkin Saudara/i akan bersemangat untuk bersekolah. Segala sesuatu yang dikerjakan tanpa keyakinan, tidak akan membawa hasil walaupun Saudara/i dipaksa mengerjakannya. Saudara/i akan mengerjakannya dengan terpaksa, tanpa perasaan gembira, tanpa perasaan bahagia, tertekan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Saudara/i seDhamma sekalian, tidak hanya dalam hal-hal tertentu melainkan dalam sepanjang hidup ini, kita harus mempunyai keyakinan. Saudara/i harus mempunyai sesuatu yang benar-benar ‘benar’, yaitu benar yang sesungguhnya benar; dalam hal ini keyakinan itu sebagai penunjuk arah, sebagai kompas, sebagai pemberi semangat dalam hidup ini. Lalu, apakah yang harus kita yakini se-bagai sesuatu yang sungguh-sungguh benar itu? Saudara/i, hal tersebut ada empat dan tidak sulit.&lt;br /&gt;1. Setiap umat Buddha sudah seharusnya yakin bahwa di dunia ini ada dua macam perbuatan. Perbuatan baik dan perbuatan tidak baik. Kedua perbuatan ini berbeda bentuknya dan berbeda akibat yang dihasilkannya. Ada yang mengatakan bahwa antara perbuatan baik dan perbuatan tidak baik adalah relatif. Tergantung kepada yang memberikan pandangan. Oleh karena itu perbuatan baik dan perbuatan tidak baik tergantung pada yang menamakannya. Ini samasekali tidak benar, Saudara/i!&lt;br /&gt;Perbuatan baik dan perbuatan tidak baik tidak dapat dikawinkan, tidak dapat diutak-utik, tidak dapat dikompromikan, menjadi setengah baik dan setengah tidak baik. Tidak dapat demikian! Lalu, apakah yang disebut baik itu, Saudara/i? Ialah semua yang kalau kita kerjakan akan mengakibatkan, akan berakibat berkurangnya penderitaan, yaitu berkurangnya keserakahan, berkurangnya kebenci-an, dan berkurangnya kegelapan batin. Siapapun yang mengajarkan, siapapun yang menamakan dan agama apapun, itu namanya tetap perbuatan baik dan harganya tetap sama yaitu BAIK.&lt;br /&gt;Sekarang, apa yang disebut tidak baik, Saudara/i? Ialah perbuatan apapun juga yang bila diker-jakan akan mengakibatkan bertambahnya keserakahan, bertambahnya kebencian, bertambahnya ke-gelapan batin dan berarti bertambahnya penderitaan. Siapapun juga yang mengajarkan ini, perbuatan itu adalah perbuatan tidak baik. Andaikata Saudara/i berbuat jahat dan dengan segala kepintaran Saudara/i sehingga orang yang mendengarnya akan membenarkan perbuatan Saudara/i tersebut, itu juga tetap perbuatan tidak baik dan hukum kamma akan tetap berjalan sesuai dengan hukumnya. Saudara/i akan tetap merasakan akibatnya, yaitu PENDERITAAN.&lt;br /&gt;2. Setiap perbuatan akan menghasilkan akibat, inilah keyakinan yang kedua yang harus kita miliki. Perbuatan baik akan menghasilkan kebahagiaan dan perbuatan tidak baik akan menghasilkan penderitaan. Ini adalah hukum kamma, Saudara/i, yang sudah ada sebelum adanya Sang Buddha. Sang Buddha bukan pembuat hukum, Sang Buddha bukan perangkai hukum. Dalam hal ini, tidak mungkin dan tidak akan pernah terjadi bahwa perbuatan jahat akan menghasilkan kebahagiaan. Ini tidak pernah terjadi. Yang ada yaitu perbuatan baik akan membuahkan kebahagiaan dan perbuatan jahat pasti membuahkan penderitaan.&lt;br /&gt;3. Setiap orang yang melakukan perbuatan, baik atau tidak baik, akan mendapatkan akibatnya. Bukan orang lain. Saudara/i gagal, Saudara/i kecewa, Saudara/i jatuh, penuh kesulitan dalam kehi-dupan Saudara/i, itu adalah akibat dari perbuatan Saudara/i sendiri. Demikian juga sebaliknya, jika kehidupan Saudara/i penuh dengan kebahagiaan, itu adalah hasil dari perbuatan Saudara/i sendiri.&lt;br /&gt;Saudara/i, berdoa itu perlu, sembahyang itu perlu, semua ini hanya untuk menambah keyakin-an kita, memperkuat iman dan keyakinan kita (ini menurut istilah umum), tetapi bukan berarti bah-wa dengan berdoa atau bersembahyang lalu segala sesuatu akan selesai, akan beres. Bukan berarti bahwa dengan berdoa atau bersembahyang lalu kekayaan akan jatuh dari langit begitu saja. Ini tidak mungkin, Saudara/i. Tanpa usaha jangan harap Saudara/i akan berhasil mencapai sesuatu, dan ja-ngan harap hanya dengan meminta (ketika berdoa atau bersembahyang tersebut) lalu segala-galanya dapat terkabul.&lt;br /&gt;Saudara/i yang berbahagia, pada jaman Sang Buddha, masyarakat India waktu itu menganut agama Brahma dengan memuja bermacam-macam dewa. Nah, apakah Sang Buddha menentang de-wa-dewa itu? Tidak! Sang Buddha mengatakan bahwa dewa-dewa itu memang ada, hanya saja dewa-dewa itu juga seperti kita, makhluk hidup, tidak kekal. Mereka terlahir sebagai dewa, suatu saat mereka akan mati, sebab tidak ada kelahiran tanpa kematian. Justru Sang Buddha mengajarkan hukukm kamma, siapa yang berusaha ia akan mencapainya, demikian juga sebaliknya.&lt;br /&gt;Saudara/i, ini adalah suatu ajaran yang masih asing, yang sulit diterima oleh masyarakat pada waktu itu, suatu ajaran yang keras, suatu ajaran yang tidak bisa meninabobokkan manusia, suatu ajaran yang tidak bisa memberikan janji-janji tapi tidak pernah menjadi suatu kenyataan. Memang, bagi banyak orang susah untuk menerima ajaran ini karena ajaran tentang hukum kamma ini meng-ajak kita untuk berpikir dewasa. Jadi, jangan mengharapkan dapat memetik buah tanpa menanam pohon terlebih dahulu. Karenanya, jangan sekali-kali menyalahkan Tuhan bila Saudara/i dicela, dicaci maki, gagal dalam usaha, dan lain-lain. Orang yang mengerti hukum kamma tidak akan me-nyalahkan Tuhan, karena mereka mengerti bahwa suka dan duka, jatuh dan bangun, semuanya ada-lah akibat dari perbuatan sendiri. Karena itu, buatlah banyak kebajikan. hanya perbuatan baiklah yang akan menolong kita, hanya perbuatan baiklah yang akan menghibur kita bila saat kematian datang. Tidak ada yang lain lagi yang dapat menghibur kita menjelang kematian; tidak isteri, tidak anak, maupun cucu-cucu kita. Tidak juga kekayaan, kedudukan, atau nama harum. “Hanya perbuat-an baiklah sesungguhnya pelindung kita”.&lt;br /&gt;4. Keyakinan yang keempat adalah yakin bahwa Sang Buddha Gotama benar-benar telah men-capai penerangan sempurna. Yakin terhadap apa yang diajarkan Sang Buddha bukanlah suatu ajaran hasil peniruan, bukanlah seperti ajaran seorang filosofi, bukan ajaran yang dicocok-cocokkan. Apa yang Sang Buddha ajarkan adalah suatu ajaran yang benar-benar telah Beliau ‘lihat’ sendiri pada saat Beliau mencapai penerangan sempurna, dengan kemampuan-Nya sendiri (dengan kesempurna-an Parami Beliau sendiri pada kehidupan Beliau di masa yang lampau) sehingga Beliau mencapai penerangan sempurna dan ‘melihat’ kebenaran mutlak dan mengajarkannya kepada kita.&lt;br /&gt;Demikianlah Saudara/i tentang empat keyakinan yang harus kita yakini sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh benar.&lt;br /&gt;Saudara/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini, dan semoga bisa bermanfaat untuk kebahagiaan kita sendiri maupun kebahagiaan makhluk-makhluk lain. Terima kasih atas perhatian Saudara/i!&lt;br /&gt;Sabbe sattä bhavantu sukhitattä, semoga semua makhluk berbahagia!&lt;br /&gt;Sädhu! Sädhu! Sädhu!&lt;br /&gt;_____________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipetik dari ceramah Bhikkhu Paññavaro di Vihara Padumuttara, Tangerang.&lt;br /&gt;Dibacakan pada tanggal:&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-5574185952457777521?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/5574185952457777521/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=5574185952457777521' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/5574185952457777521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/5574185952457777521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/02/belajar-dhamma.html' title='Belajar Dhamma'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-6888716762080423913</id><published>2008-02-28T19:34:00.000-08:00</published><updated>2008-02-28T19:35:20.168-08:00</updated><title type='text'>Belajar Berenang</title><content type='html'>BELAJAR  BERENANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;          PABBAM  NAPPAMAJJEYYA.&lt;br /&gt;          Jangan lengah terhadap kebijaksanaan.&lt;br /&gt;                  Majjhimanikaya Uparipannasaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Sdr/i seDhamma yang berbahagia, seperti biasa, setelah kita membaca Paritta dan bermeditasi, marilah sekarang kita isi kebaktian pada hari ini dengan pembahasan dan perenungan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Belajar Berenang’. Sekali lagi Sdr/i, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Belajar Berenang’.&lt;br /&gt;          Sdr/i sekalian, pada pembahasan Dhamma kita beberapa waktu yang lalu, yaitu pada topik yang berjudul ‘Pabba (Kebijaksanaan)’, kita telah mengetahui tentang ada-nya berbagai tingkatan Pabba (Kebijaksanaan) ini. Ada yang disebut Sutamaya Pab-ba, yaitu Pabba yang timbul atau Pabba yang sifatnya hanya menerima begitu saja terhadap apa saja yang kita ketahui, tanpa memikirkan atau mempertimbangkan lagi hal tersebut; jadi, asal terima saja. Kemudian ada lagi yang disebut Cintamaya Pabba, nah, Pabba jenis ini sifatnya sudah mulai mempertimbangkan segala sesuatu yang kita ketahui dengan menggunakan akal atau logika kita. Artinya, kalau hal tersebut masuk akal, bisa diterima dengan logika, oke kita terima; tetapi,  kalau tidak masuk akal, ya nanti dulu! Demikianlah jenis Pabba tingkat yang kedua tadi. Dan, tingkat yang ter-akhir, yaitu Bhavanamaya Pabba, Pabba jenis ini sifatnya sudah langsung merasakan atau mengalami sendiri kebenaran Dhamma melalui praktek-praktek Dhamma yang kita lakukan, atau praktek kebenaran yang kita lakukan, yang dialami sendiri secara langsung. Nah Sdr/i sekalian, demikian tadi tentang jenis-jenis Pabba yang kita bahas kembali secara sekilas, karena uraiannya yang panjang lebar telah kita bahas pada waktu kebaktian beberapa waktu yang lalu.&lt;br /&gt;          Sdr/i yang berbahagia, sekarang, setelah mengingat kembali pelajaran tentang Pabba atau kebijaksanaan tersebut, mungkin Sdr/i akan bertanya demikian:”Bagaima-na sih sebenarnya proses bekerjanya Pabba itu? Mengapa dalam ajaran Buddha Dham ma hal ini sangat diutamakan sekali? Katanya, Pabba ini bisa membersihkan segala macam kekotoran batin yang ada di dalam diri kita. Sebenarnya, bagaimana sih hal ini bisa terjadi?”  Sdr/i sekalian, untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka kita hendaknya harus mengetahui, yaitu mengetahui melalui pengalaman Sdr/i sendiri, bahwa setiap pintu-pintu indera kita, yang dalam hal ini ada enam pintu inde-ra, kontak dengan obyeknya masing-masing, maka pasti, ini pasti, kita pasti mengada-kan reaksi. Coba Sdr/i renungkan sendiri, benar atau tidak, bahwa kalau pintu-pintu indera kita kontak dengan obyeknya masing-masing, maka kita pasti mengadakan re-aksi. Contoh, misalnya Sdr/i melihat ada suatu bentuk makanan, misalnya soto sapi, atau makanan yang enak lainnya, pada saat itu juga, kita pasti terus langsung menga-dakan reaksi, yaitu jadi kepingin. Nah, kepingin itu adalah reaksi, Sdr/i. Reaksi dari batin kita karena adanya kontak tadi. Jadi, begitu pintu indera kontak dengan obyek, maka langsung ada reaksi. Dan, kontaknya ini bisa kontak dengan hal yang menye-nangkan, atau bisa juga dengan hal yang tidak menyenangkan. Yang penting, pasti bereaksi. Hal demikian ini, berlaku terhadap semua pintu indera kita, tidak hanya me-lalui mata saja atau melalui telinga saja, tetapi melalui semua pintu indera kita.&lt;br /&gt;          Sdr/i sekalian, setelah Sdr/i mengetahui dan merenungkan sendiri tentang hal tersebut tadi, yaitu kalau ada kontak antara obyek dengan indera pasti ada reaksi, ma-ka hendaknya kita sekarang lebih mengetahui lagi, bahwa hal tersebut tadi, memang sudah merupakan sifat batin kita yang selalu kita pupuk terus menerus hingga sampai saat sekarang ini. Jadi, sampai saat sekarang ini juga, kalau indera kita kontak dengan suatu obyek atau sasaran, maka pasti langsung bereaksi. Demikianlah sifat batin kita sekarang ini. Dan Sdr/i yang berbahagia, perlu diketahui, bahwa selama sifat batin ki-ta ini masih demikian, yaitu begitu kontak langsung bereaksi, maka kita belum bisa terbebas dari dukkha, kita belum bisa terbebas dari kekotoran batin. Mengapa? Kare-na, reaksi sebagai akibat dari adanya kontak tadi, pasti selalu mengandung Lobha, Do sa, dan Moha. Dan, selama masih ada Lobha, Dosa, dan Moha ini, maka selama itu pu la masih ada penderitaan. Jadi sekali lagi kami ulangi, karena reaksi yang merupakan akibat dari adanya kontak antara indera dengan obyeknya tadi pasti mengandung Lo-bha, Dosa, dan Moha, maka selama itu pula masih ada penderitaan.&lt;br /&gt;          Sdr/i sekalian, lalu sekarang bagaimana supaya tidak timbul penderitaan, supa-ya tidak timbul dukkha, supaya tidak timbul Lobha, Dosa, dan Moha? Apakah semua pintu indera kita harus kita tutup supaya tidak ada kontak sehingga tidak ada reaksi? Apakah harus demikian? Sdr/i sekalian, hal tersebut sangatlah tidak mungkin untuk kita lakukan. Memang, bisa saja seandainya kita mau menutup pintu-pintu indera kita walaupun hal ini tidak wajar, tetapi coba, bagaimana mungkin kita bisa menutup inde-ra pikiran kita? Coba saja Sdr/i renungkan sendiri, bisa apa tidak? Jadi, sekarang ba-gaimana pemecahannya? Bagaimana caranya supaya tidak timbul dukkha karena ka-lau menghindari kontak, itu tidak mungkin? Sdr/i yang berbahagia, caranya hanya sa-tu, yaitu boleh saja pintu-pintu indera kita kontak dengan obyek, tetapi …. pada saat itu kita harus menjaga supaya tidak timbul reaksi dalam batin kita. Sekali lagi, boleh saja pintu-pintu indera kita kontak dengan obyek, tetapi …. pada saat itu kita harus menjaga supaya tidak timbul reaksi dalam batin kita. Jadi, yang biasanya begitu kon-tak langsung ada reaksi, sekarang kita ubah sifat batin kita menjadi begitu kontak ti-dak langsung reaksi, melainkan …. langsung mengadakan pengamatan, sehingga yang timbul adalah Pabba atau kebijaksanaan. Jadi sekali lagi, kita ubah sifat batin kita, da-ri yang biasanya begitu kontak langsung reaksi, menjadi …. begitu kontak langsung mengadakan pengamatan, sehingga yang timbul adalah Pabba atau kebijaksanaan. Inilah satu-satunya jalan supaya kita bisa terbebas dari Lobha, Dosa, dan Moha; satu-satunya jalan. Selanjutnya Sdr/i, bila begitu kontak, terus kita langsung melakukan pe-ngamatan, lalu apa sih sebenarnya yang diamati saat itu? Sdr/i yang berbahagia, yang harus kita amati saat itu adalah perasaan kita. Sekali lagi, yang harus kita amati saat itu adalah perasaan kita. Bila pintu indera kita kontak dengan obyek, pasti saat itu, se-cara bersamaan, akan timbul pula perasaan, kesan-kesan, dan sebagainya. Nah, yang perlu kita amati adalah perasaan kita tersebut, sebab hal itulah yang paling bisa kita rasakan atau yang paling berasa bagi kita. Jadi begitu kontak, langsung kita amati saja perasaan kita tersebut. Dan, perasaan ini ada tiga macam (Tisso Vedana), yaitu: me-nyenangkan, tidak menyenangkan, dan netral. Nah, kita amati saja perasaan kita terse-but dan kita renungkan pula bahwa perasaan itu pasti, pasti … tidak kekal. Jadi, cukup kita amati saja perasaan ini, jangan sekali-kali Sdr/i mencoba melawan atau mengikuti nya. Bila sampai demikian, yaitu mencoba melawan atau mengikuti, berarti sudah tim bul reaksi dalam batin Sdr/i. Oleh sebab itu, amati saja perasaan tersebut dan renung-kanlah bahwa hal itu pasti tidak kekal (Vedana Aniccam). Nah dengan demikian, de-ngan adanya pengamatan atau perenungan terhadap perasaan tadi, maka begitu kontak tidak langsung timbul reaksi, melainkan melalui proses perenungan dan pengamatan tadi, yang timbul adalah Pabba atau kebijaksaan. Jadi begitu kontak, lalu langsung di-renungkan atau diamati, maka yang timbul adalah Pabba. Sdr/i yang berbahagia, demi kianlah proses dan sifat dari batin kita tersebut.&lt;br /&gt;          Sdr/i seDhamma, setelah kita mengetahui metode atau cara untuk bisa terbebas dari dukkha, maka hendaknya cara ini harus benar-benar kita latih dan kita alami lang sung dalam kegiatan kita sehari-hari. Kita tidak bisa mengandalkan hal tersebut hanya berdasarkan percaya atau hanya berdasarkan logika saja. Dalam hal ini, kita harus be-nar-benar melatih pengamatan tersebut supaya kita tidak langsung tenggelam dalam reaksi. Karena, kalau kita sampai tenggelam dalam reaksi, berarti kita juga langsung tenggelam dalam dukkha. Jadi, harus benar-benar kita latih sendiri dalam kehidupan kita sehari-hari supaya menjadi watak batin kita yang baru, yaitu watak yang tidak langsung tenggelam dalam perasaan atau reaksi.&lt;br /&gt;          Sdr/i seDhamma, ada sebuah cerita sebagai bahan perbandingan untuk hal terse but. Ceritanya sebagai berikut: pada suatu hari ada seorang profesor yang sangat ting-gi pendidikannya dan gelarnya juga banyak sekali. Profesor ini masih muda dan be-lum dewasa dalam menghadapi masalah kehidupan, dia hanya sangat tinggi dalam pendidikannya saja. Pada suatu ketika, profesor ini berlayar dengan sebuah kapal yang cukup besar; dan di dalam kapal tersebut, juga ada seorang pelaut yang sudah tua serta kurang berpendidikan. Dia menjadi pelaut hanya dari pengalaman hidupnya saja. Nah Sdr/i sekalian, secara tidak sengaja, pada suatu saat pelaut tua ini iseng-iseng pergi ke tempat profesor tadi, sebab, dia telah mendengar bahwa profesor ini pendidikannya sangat tinggi, jadi siapa tahu bisa menambah pengetahuan bila berte-mu dengannya. Akhirnya, dia bisa bertemu dengan profesor itu, dan begitu bertemu, profesor itu langsung bertanya padanya:”Hai pak pelaut tua, apakah bapak pernah be-lajar geologi?”  “Apa itu tuan profesor?”  “Itu lho, ilmu pengetahuan yang mempela-jari  tentang bumi”.  “Oh, tidak tuan profesor, saya tidak pernah belajar di sekolah maupun di perguruan tinggi. Saya tidak pernah belajar apa-apa”.  “Wah, pak tua, ka-lau begitu, berarti bapak sudah kehilangan seperempat dari seluruh kehidupan bapak karena ternyata bapak, sebagai pelaut, tidak tahu tentang ilmu bumi”. Sdr/i sekalian, mendengar hal ini, pelaut tua itu menjadi sangat sedih. Karena, kalau yang bilang de-mikian itu adalah seorang profesor, berarti hal itu memang benar. Oleh sebab itu, dia menjadi sangat sedih karena merasa telah kehilangan seperempat dari hidupnya. Arti-nya, seperempat bagian dari kehidupannya telah sia-sia karena tidak punya pengetahu an tentang geologi tadi. Sdr/i sekalian, hari berikutnya, ketika dia berjumpa lagi de-ngan profesor tersebut, lagi-lagi profesor itu bertanya:”Pak tua, pak tua, apakah bapak pernah belajar oceanologi? Pernah tidak?”  “Apa sih itu, tuan profesor?”  “Itu lho, il-mu yang mempelajari soal laut, soal samudera”.  “Wah, tidak pernah tuan, khan saya sudah bilang, bahwa saya tidak pernah belajar apa-apa”.  “Wah, pak tua, kalau begitu, berarti sekarang bapak telah kehilangan setengah dari kehidupan bapak; karena, seba-gai pelaut, bapak tidak tahu tentang ilmu samudera”. Sdr/i, pelaut tua itu sekarang tam bah sedih lagi karena dikatakan demikian oleh sang profesor. Dan Sdr/i sekalian, pada saat berikutnya lagi, lagi-lagi profesor itu bertanya kepada pelaut tua tersebut:”Pak tua, pak tua, apakah bapak pernah belajar metereologi?”  “Apa lagi sih itu, tuan profe-sor, saya tidak tahu”.  “Itu lho, ilmu yang mempelajari tentang cuaca, hujan, angin, dan sebagainya”.  “Wah, tidak pernah tuan profesor, saya benar-benar tidak pernah be lajar apa-apa”.  “Nah, pak tua, kalau begitu, berarti sekarang bapak telah kehilangan tiga perempat dari seluruh kehidupan bapak”. Sdr/i sekalian, pelaut tua itu sekarang benar-benar menjadi sangat sedih sekali karena profesor tadi telah mengatakan demi-kian. Artinya, dia merasa telah kehilangan tiga perempat dari seluruh kehidupannya. Sdr/i seDhamma, tetapi tidak lama kemudian, pelaut tua itu tiba-tiba berlari-lari mene mui sang profesor sambil berteriak-berteriak:”Tuan profesor, tuan profesor, apakah anda belajar swimologi? Cepat katakan tuan, apakah anda pernah belajar swimologi?” “Belum pak tua, belum pernah. Apa itu swimologi?”  “Ilmu berenang tuan, apakah tuan profesor bisa berenang?”  “Wah, saya tidak bisa berenang, pak tua. Kenapa?”  “Wah, tuan profesor, kalau begitu berarti tuan telah kehilangan seluruh kehidupan tuan, bukan hanya tiga perempat. Sebab, baru saja kapal ini menabrak karang, dan se-karang sedang akan tenggelam. Jadi, siapa saja yang bisa berenang, dia bisa mencapai pantai; kalau tidak  bisa, ya tenggelam. Maka, maafkan saya tuan profesor, karena tidak bisa menolong tuan”.&lt;br /&gt;          Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikian tadi cerita tentang seorang profe-sor sebagai bahan perbandingan dalam praktek Dhamma kita sehari-hari. Kebanyakan dari kita masih seperti sang profesor tadi, yaitu banyak sekali gelarnya, kepandaian-nya, akan tetapi ilmu yang penting malah dia tidak bisa. Atau, mungkin dia belajar be-renang hanya berdasarkan buku-buku saja dan tidak pernah mencebur ke air. Jadi, be-gitu ada musibah, dia lalu langsung tenggelam. Kita pun demikian, Sdr/i, kita belajar Dhamma ini, belajar Dhamma itu, tetapi prakteknya kurang, sehingga kalau pintu inde ra kita kontak dengan obyek, maka kita langsung, artinya langsung tenggelam, yaitu berupa reaksi atau tindakan. Sebagai contoh, ada seorang umat Buddha yang sangat rajin. Artinya, ke vihara rajin, ke Dhamma Class juga rajin, berdananya rajin, dia juga cukup pandai dan cerdas dalam mempelajari Buddha Dhamma. Dia tahu Metta dan Karuna, tahun Empat Kebenaran Mulia, tahu Paticcasamuppada, tahu hukum Kamma, Tilakkhana, dan sebagainya lagi. Pokoknya banyak sekali Dhamma yang dia tahu. Tetapi Sdr/i, pada suatu hari, ketika dia sedang membereskan buku, tiba-tiba muncul binatang yang dia takuti, yaitu cecak, nah, tanpa tunggu-tunggu lagi, secara spontan, dia langsung bereaksi, yaitu ‘bluk’ , sandalnya dipukulkan ke cecak tersebut sehingga binatang itu langsung mati. Nah Sdr/i sekalian, mengapa bisa demikian? Inilah Sdr/i, yang dinamakan ‘belajar berenangnya masih kurang lihai’. Jadi masih tenggelam. Oleh sebab itu Sdr/i sekalian, marilah kita semua, mulai dari sekarang ini, lebih giat lagi berlatih ‘berenang’, yang artinya berlatih praktek Dhamma secara langsung, agar kita bisa mencapai pantai seberang, yaitu merealisasi Nibbana, terbebas dari dukkha.&lt;br /&gt;          Sdr/i yang berbahagia, demikianlah pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini, dan bila ada hal-hal yang kurang berkenan, maka bisa kita diskusikan bersama-sama sesudah kebaktian ini selesai. Terimakasih.&lt;br /&gt;Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia!&lt;br /&gt;Sadhu! Sadhu! Sadhu!&lt;br /&gt;____________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku acuan:&lt;br /&gt;The Art of Living Vipassana Meditation as Taught by : S.N. Goenka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibacakan pada tanggal:&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-6888716762080423913?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/6888716762080423913/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=6888716762080423913' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/6888716762080423913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/6888716762080423913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/02/belajar-berenang.html' title='Belajar Berenang'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-100058345822858675</id><published>2008-02-28T19:33:00.000-08:00</published><updated>2008-02-28T19:34:33.333-08:00</updated><title type='text'>Ogha</title><content type='html'>BANJIR  (OGHA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammä Sambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;NATTHI  TANHÄSAMÄ  NADÍ.&lt;br /&gt;Tidak ada arus sungai yang dapat menyamai arusnya nafsu keinginan.&lt;br /&gt;                                                 Khuddakanikäya Dhammapadagäthä.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah kita tadi membaca Paritta dan bermeditasi bersama-sama, maka marilah kita sekarang mengarahkan perhatian dan konsentrasi kita guna mengadakan pembahasan dan perenungan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Banjir (Ogha)’. Sekali lagi Sdr/i, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yai-tu ‘Banjir (Ogha)’.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, kalau kita mendengar atau membaca berita-berita yang terjadi di nega-ra kita sendiri maupun di negara-negara lain, kita dapat mengetahui bahwa beberapa tempat di daerah-daerah tersebut sering terserang oleh bencana banjir. Beberapa contoh misalnya di daerah Jawa Timur, juga kemudian di sekitar daerah Bandung, Jawa Barat, dan sebagainya. Sdr/i yang berbahagia, berbagai tindakan sudah dilakukan masyarakat guna mengatasi masa-lah perbanjiran ini. Hal tersebut dilakukan untuk meringankan beban penderitaan bagi mere-ka yang sedang tertimpa musibah banjir ini.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma sekalian, berdasarkan adanya peristiwa banjir tersebut, maka pem-bahasan Dhamma hari ini juga berkenaan dengan kata ‘banjir’ tadi, mengapa? Karena de-ngan harapan supaya ajaran Dhamma ini lebih mudah teringat atau lebih dapat berkesan di dalam diri kita, sehingga akhirnya bisa menambah kemajuan dan kebahagiaan batin kita. Sdr/i sekalian, kalau kita membaca kitab Saçyuttanikäya Mahäväravagga bab 19 ayat 88, maka di sana kita bisa mengetahui tentang pembahasan Dhamma yang bertemakan mengenai banjir ini. Di dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa ‘banjir’ atau yang istilahnya dalam bahasa Pali disebut ‘Ogha’, mempunyai empat macam maksud yaitu:&lt;br /&gt;1.   Banjir kenafsuan atau yang disebut dengan ‘kama-ogha’.&lt;br /&gt;2.   Banjir perwujudan atau yang disebut dengan ‘bhava-ogha’.&lt;br /&gt;3.   Banjir pandangan-pandangan atau yang disebut dengan ‘ditthi-ogha’.&lt;br /&gt;4.   Banjir ketidaktahuan atau yang disebut dengan ‘avijja-ogha’.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, sekali lagi kami tegaskan tentang empat macam ‘banjir’ tersebut yaitu: 1. …. ; 2. …. ; 3. …. ; 4. …. .  Sdr/i, jadi itulah tadi yang dimaksud dengan ‘banjir’ yang berkenaan dengan ajaran Dhamma yang terdapat di dalam Saçyuttanikäya Mahäväravagga. Keempat hal tadi disebut sebagai banjir, karena mereka memiliki kekuatan untuk mengha-nyutkan makhluk-makhluk yang telah jatuh menjadi korban kekuatan-kekuatan mereka. Sdr/i sekalian, selanjutnya marilah sekarang kita ikuti uraian pembahasan dari keempat hal terse-but tadi yang bisa disebut sebagai ‘banjir’.&lt;br /&gt;            Yang pertama Sdr/i, yaitu yang dimaksud dengan banjir kenafsuan atau ‘kama-ogha’. Sdr/i, menurut kitab Khuddakanikäya Mahävagga 29/1, yang dimaksud ‘käma’ atau nafsu-nafsu indera ini, ada dua bagian.&lt;br /&gt;1.   Yaitu nafsu inderanya itu sendiri atau yang disebut kilesa-kama, dan&lt;br /&gt;2.   Yaitu obyek dari nafsu indera tersebut, yang dalam hal ini disebut vatthu-kama.&lt;br /&gt;Jadi, nafsu indera yang muncul dari keinginan untuk memuaskan hawa nafsu, atau dengan kata lain hawa nafsunya itu sendiri, disebut sebagai kilesa-kama. Misalnya keinginan memu-askan hawa nafsu itu sendiri, yang dalam hal ini disebut ‘raga’, kemudian ada lagi misalnya keserakahan (lobha), lalu kerinduan (icchä), iri hati (issä), keinginan jahat (byapada), dan ke-tidakpuasan (arati). Demikianlah yang dimaksud dengan nafsu indera atau kilesa-kama. Dan selanjutnya, marilah kita membahas tentang hal-hal yang dapat menimbulkan nafsu indera tersebut. Sekali lagi, hal-hal yang dapat menimbulkan adanya nafsu indera tersebut, inilah yang disebut sebagai vatthu-kama. Jadi, vatthu-kama adalah hal-hal yang menimbulkan ada-nya nafsu keinginan atau nafsu indera tadi. Contoh vatthu-kama ini misalnya bentuk-bentuk yang dapat dilihat, suara yang dapat didengar, bau-bauan, rasa, dan juga sentuhan-sentuhan yang menyenangkan. Dalam hubungannya dengan Pañcakkhandha atau lima kelompok kehi-dupan, maka kilesa-kama termasuk di dalam kelompok bentuk-bentuk batin (saékharakkhan-dha), sedangkan vatthu-kama termasuk dalam kelompok ‘rupa’ atau materi. Dan kalau ditin-jau dalam hubungannya dengan godaan, maka kilesa-kama ini diperbandingkan sebagai penggodanya yang dalam hal ini juga disebut sebagai ‘mara’, sedangkan vatthu-kama dapat dikatakan sebagai tali jeratnya si penggoda tadi, yang dapat mengikat makhluk-makhluk yang terjerat oleh mereka. Demikianlah Sdr/i sekalian, penjelasan tentang banjir kenafsua atau yang disebut kama-ogha ini.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, selanjutnya yang kedua yaitu yang disebut sebagai banjir perwujudan atau bhava-ogha. Sdr/i, yang dimaksud dengan banjir perwujudan ini yaitu perwujudan atau timbul di alam-alam kehidupan, yang dalam hal ini ada 31 (tigapuluh satu) alam kehidupan. Namun, hal ini dapat dikelompokkan menjadi empat bagian, yaitu sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.   Kamavacara-bhumi, yaitu alam-alam yang makhluk-makhluknya masih mempunyai atau masih dikuasai oleh kesenangan-kesenangan indera. Alam manusia dan enam alam dewa adalah kamavacara-bhumi ini, yaitu kamavacara-bhumi yang menyenangkan.&lt;br /&gt;2.   Rupavacara-bhumi, yaitu yang merupakan perkembangan selanjutnya, adalah alam-alam bagi mereka yang telah mencapai meditasi tingkat ‘rupa jhana’ atau jhana bermateri, yai-tu meditasi yang didasarkan pada suatu obyek yang bermateri atau memiliki bentuk. Pada tingkatan alam ini, makhluk-makhluknya sudah dapat mengatasi keinginan atau kese-nangan-kesenangan nafsu indera, dan sebaliknya terserap ke dalam kegiuran dan kebaha-giaan yang timbul dari meditasi tadi.&lt;br /&gt;3.   Arupavacara-bhumi, yaitu juga merupakan perkembangan selanjutnya lagi, adalah alam-alam bagi mereka yang telah mencapai atau telah memasuki meditasi tingkat arupa jhana atau jhana tidak bermateri, yaitu meditasi yang didasarkan pada suatu obyek yang tidak bermateri atau obyek tanpa bentuk.&lt;br /&gt;4.   Lokuttara-bhumi, merupakan tingkat tertinggi dari semua alam-alam pikiran tadi, yaitu alam-alam pikiran dari mereka yang telah menyadari ‘keadaan di atas keduniawian’. Ba-tin yang sudah demikian ini, tidak dapat mengalami kemunduran apapun juga, dan batin yang demikian ini dimiliki oleh para siswa mulia atau makhluk-makhluk ‘ariya’ (suci).&lt;br /&gt;Sdr/i, itulah tadi yang dimaksud dengan bhava-ogha atau banjir perwujudan, hanya saja per-lu kami jelaskan bahwa yang dimaksud dengan alam-alam kehidupan di sini yaitu merupa-kan tingkat-tingkat atau tahap-tahap dari perkembangan batin.&lt;br /&gt;            Sdr/i, selanjutnya yaitu pembahasan yang ketiga, yang disebut banjir pandangan-pan-dangan atau ditthi-ogha. Yang dimaksud dalam hal ini yaitu pandangan-pandangan salah, yang dalam hal ini ada tiga macam pandangan salah yaitu sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.   Akiriya Ditthi atau ajaran yang menolak akibat kamma. Ajaran ini beranggapan bahwa-sanya tidak ada akibat nyata dari hal-hal yang disebut baik atau buruk. Jadi, apabila ada seseorang melakukan perbuatan baik atau buruk yang tidak dilihat atau diketahui oleh orang lain, maka secara mutlak tidak ada akibat baik atau buruk yang diharapkan dari perbuatan itu. Perbuatan baik atau buruk akan ada hasilnya bila ada orang lain yang tahu atau melihatnya. Contoh, misalnya ada seseorang menerima hadiah, itu karena ada orang lain yang melihat perbuatan baiknya tersebut; demikian pula halnya dengan seseorang yang menerima hukuman. Tetapi bila perbuatan baik atau buruknya itu tidak diketahui oleh orang lain, maka akibatnya tidak ada. Jadi, keyakinan semacam ini menolak akibat (vipaka) dari kamma atau perbuatan. Inilah yang disebut dengan pandangan ‘Akiriya Ditthi’.&lt;br /&gt;2.   Ahetuka Ditthi atau ajaran yang menolak adanya sebab-sebab dari kamma. Ajaran ini mengajarkan tentang faham nasib atau takdir. Jadi, dengan demikian dapat disebut seba-gai ‘determinisme’. Seseorang yang menganut ajaran ini beranggapan bahwasanya orang -orang mengalami kebahagiaan atau penderitaan itu, adalah sesuai dengan apa yang telah ditakdirkan bagi mereka. Selama saat-saat beruntung, maka apapun yang mereka lakukan pasti akan memberikan hasil-hasil baik, seperti kenaikan pangkat, kekayaan, nama harum dan sebagainya. Sedangkan pada saat tidak beruntung, mereka dapat dipecat, gagal, dan putus asa, tidak perduli bagaimana bersemangatnya mereka telah berjuang untuk berbuat baik. Jadi, ajaran ini menolak adanya kekuatan kamma sebagai sebab yang mendasari ke-bahagiaan dan penderitaan itu. Inilah yang dimaksud dengan pandangan ‘Ahetuka Dit-thi’.&lt;br /&gt;3.   Natthika Ditthi atau ajaran yang menolak semuanya, atau ajaran tentang ketiadaan. Pan-dangan ini mengajarkan bahwasanya tidak ada apapun juga dari apa yang disebut manu-sia atau binatang. Wujud-wujud ini adalah hasil-hasil pengelompokan dari apa yang dise-but unsur-unsur, yang kadang-kadang saling membantu satu dengan yang lain tetapi ka-dang-kadang juga berlawanan satu dengan yang lain. Demikianlah keadaan ini, yaitu ka-rena sifat dasar dari masing-masing, maka tidak ada apapun juga yang dapat dianggap sebagai perbuatan baik atau buruk itu sendiri. Apabila, misalnya, setelah turun hujan pohon-pohon berbunga dan menghasilkan buah, adalah tidak masuk akal untuk berpikir bahwasanya terdapat suatu perbuatan berjasa pada pihak sang hujan. Selanjutnya, apabila suatu api di dalam hutan membakar seluruh pohon-pohon di dalamnya, maka tak ada seorang pun yang berpikiran waras akan pernah beranggapan bahwasanya terdapat suatu perbuatan jahat yang dilakukan oleh api. Jadi, demikianlah juga keadaannya, tidak ada yang dapat dianggap sebagai perbuatan berjasa ataupun perbuatan jahat apapun bilamana seseorang melukai atau membantu orang lain. Inilah yang dimaksud dengan pandangan ‘Natthika Ditthi’.&lt;br /&gt;            Sdr/i, selanjutnya sekarang marilah kita lihat pembahasan yang keempat, yaitu ten-tang banjir ketidaktahuan atau yang disebut dengan avijja-ogha. Yang dimaksud dengan ban-jir ketidaktahuan ini adalah tidak tahu terhadap ‘Empat Kebenaran Mulia’, yaitu tidak tahu mengenai penderitaan, tidak tahu mengenai sebab penderitaan, tidak tahu mengenai terhenti-nya penderitaan, dan tidak tahu mengenai jalan yang membawa pada pengikisan penderitaan.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah renungan dan pembahasan Dhamma kita pada hari ini, yang berkenaan dengan kata ‘banjir’ atau ‘ogha’, dan bila di antara Sdr/i ada yang ingin bertanya tentang makalah ini, maka kami persilahkan untuk membahasnya nanti setelah selesainya kebaktian ini.&lt;br /&gt;Sabbe sattä bhavantu sukhitattä, semoga semua makhluk berbahagia!&lt;br /&gt;Säddhu! Säddhu! Säddhu!&lt;br /&gt;____________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Acuan:&lt;br /&gt;Disalin dengan gubahan seperlunya dari buku ‘Dhamma Vibhaéga, Penggolongan Dhamma’ disusun oleh Prince Vajirananavarorasa, alih bahasa oleh Bhikkhu Jeto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibacakan pada tanggal:&lt;br /&gt;- 17 April 1994.&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-100058345822858675?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/100058345822858675/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=100058345822858675' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/100058345822858675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/100058345822858675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/02/ogha.html' title='Ogha'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-1917552597889824581</id><published>2008-02-28T19:32:00.001-08:00</published><updated>2008-02-28T19:33:06.982-08:00</updated><title type='text'>Aroghya</title><content type='html'>AROGYA  ( KESEHATAN )&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;AROGYA  PARAMA  LABHA ; SANTUTTHI  PARAMAM  DHANAM.&lt;br /&gt;Kesehatan adalah keuntungan yang paling besar ;&lt;br /&gt;Kepuasan adalah kekayaan yang paling berharga.&lt;br /&gt;                                            Khuddakanikaya Dhammapadagatha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah membaca Paritta dan bermeditasi, marilah sekarang kita pusatkan perhatian dan konsentrasi kita guna mengadakan pem-bahasan dan perenungan Dhamma yang pada hari ini berjudul ‘Arogya atau Kesehat-an’. Jadi sekali lagi, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini ya-itu ‘Arogya atau Kesehatan’.&lt;br /&gt;          Sdr/i seDhamma yang berbahagia, kesehatan dapat dikatakan sebagai faktor un-tuk memperoleh keuntungan. Bahkan, dapat pula dikatakan bahwa kesehatan sering di anggap sama dengan harta kekayaan atau sejenis dengan harta kekayaan. Hal ini se-sungguhnya tidak berlebih-lebihan, karena hal-hal yang merupakan tujuan seseorang, misalnya kekayaan, nama harum, persahabatan, dan sebagainya tidak dapat dicapai tanpa adanya faktor kesehatan ini. Bagaimana mungkin seseorang bisa mencapai ke-suksesan yang diinginkannya apabila ia selalu menderita sakit-sakitan? Bagaimana mungkin seseorang dapat melaksanakan pekerjaan atau rencananya dengan baik apa-bila badannya sering terserang penyakit dan pikirannya sering terganggu?&lt;br /&gt;          Sdr/i seDhamma sekalian, badan jasmani manusia ini dapat diibaratkan seperti sebuah mesin. Apabila sebuah mesin digerakkan dengan uap atau sumber-sumber tena ga lainnya, maka tubuh manusia juga bisa dikatakan demikian karena adanya tenaga yang juga bergerak dan bekerja. Hanya saja Sdr/i, di dalam tubuh manusia, kemauan atau kekuatan untuk bergerak dan bekerja ini, tergantung pada fungsi-fungsi yang sa-ling berhubungan di antara organ-organnya. Jika ada sesuatu yang keliru atau tergang-gu dalam hubungan-hubungan tersebut, maka akibatnya dapat terwujud timbulnya ra-sa nyeri dan sakit, lelah, gelisah, hilangnya nafsu makan, dan meningkatnya suhu tu-buh atau gejala-gejala lainnya. Ini adalah yang disebut sebagai tanda-tanda menurun-nya kesehatan.&lt;br /&gt;          Sdr/i seDhamma yang berbahagia, terdapat beberapa langkah umum untuk men cegah timbulnya penyakit. Memang, di dunia ini terdapat banyak sekali penyakit yang tidak terhitung jumlahnya, yang diagnosa dan pengobatannya secara medis dapat dipe lajari dalam buku-buku kedokteran. Tetapi, di sini kita hanya akan membahas menge-nai langkah-langkah pencegahan untuk menjaga kesehatan yang telah dikenal oleh masyarakat dan telah dilaksanakan secara umum. Hal ini juga menerangkan apa yang terdapat di dalam kitab-kitab suci dan untuk memperlihatkan bagaimana cara merawat dan mencegah penyakit-penyakit, baik menurut cara-cara fisik maupun batin. Hal-hal yang dapat diungkapkan secara umum guna mendapatkan kesehatan antara lain yaitu:&lt;br /&gt;1.   Hanya berhubungan dengan hal-hal yang sesuai dan menghindari hal-hal yang ti-dak sesuai. Hal ini meliputi barang-barang materi seperti makanan, pakaian, tem-pat tinggal, obat-obatan, dan teman bergaul; dan juga hal yang bukan materi misal nya cara hidup dan norma-norma susila. Atau singkatnya, meliputi apa saja yang sesuai ataupun tidak sesuai menurut keadaan jasmani, rasa, dan selera seseorang.&lt;br /&gt;2.   Tidak berlebih-lebihan dalam hal makan dan minum. Walaupun beberapa macam makanan sesuai untuk badan dan pikiran, tetapi menikmatinya secara berlebih-le-bihan akan sama bahayanya dengan makan makanan yang tidak sesuai. Demikian juga dalam hal minuman.&lt;br /&gt;3.   Tidak berlebih-lebihan dalam hal tidur. Tidur adalah perlu sekali untuk kesehatan badan dan pikiran, tetapi tidur berlebih-lebihan menjadikan orang lemah dan ma-las. Demikian pula jika tidur terlampau sedikit, akan melelahkan dan menyebab-kan seseorang tidak dapat melanjutkan pekerjaan.&lt;br /&gt;4.   Mengubah-ubah sikap badan (duduk, berbaring, berdiri, berjalan, dan sebagainya). Jangan tetap berada dalam satu sikap tertentu terlalu lama karena hal itu akan da-pat melelahkan secara keseluruhan.&lt;br /&gt;5.   Bersikap waspada terhadap perubahan cuaca. Janganlah membuka diri pada cuaca yang sangat panas atau sangat dingin walaupun badan rasanya cukup kuat. Juga jangan memaksa diri untuk menahan lapar dan haus serta menahan untuk buang air kecil atau besar.&lt;br /&gt;6.   Selalu bersikap waspada dan sadar, tidak bersikap lalai dalam setiap gerakan. Ini juga berlaku untuk setiap gerakan badan, setiap kita berbuat atau berbicara, terma-suk saat sebelum atau sewaktu berbuat, berbicara, bergerak, atau mengubah sikap badan.&lt;br /&gt;7.   Selalu mengendalikan diri. Artinya selalu waspada terhadap bentuk-bentuk nafsu seperti marah, senang, susah yang berlebih-lebihan dan lain-lainnya. Hal-hal seper ti itu dapat merusak kesehatan mental. Kemampuan mengendalikan diri semacam itu akan memberikan kepada kita suatu keseimbangan batin.&lt;br /&gt;          Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikian tadi nasehat-nasehat secara umum guna mendapatkan kesehatan. Sudah tentu masih banyak nasehat untuk menjaga kese-hatan, tetapi untuk dapat mengetahui lebih mendetail lagi, tentu sebaiknya diperiksa oleh seorang dokter atau seorang yang ahli dalam bidang tersebut. Sedangkan cara-ca-ra yang telah diuraikan tadi adalah cara-cara yang telah disebutkan dan digolongkan secara umum menurut apa yang dijelaskan di dalam kitab-kitab suci, yang memperli-hatkan bagaimana orang-orang pada jaman dahulu selalu berbuat sesuai dengan ilmu kesehatan.&lt;br /&gt;          Sdr/i seDhamma yang berbahagia, jadi di sini dapat dilihat, bahwa unsur kese-hatan untuk mencapai kekayaan materi, kemashuran, dan persahabatan, adalah meru-pakan suatu hal yang tidak dapat dikesampingkan atau ditiadakan. Oleh sebab itu, se-seorang perlu mengetahui bagaimana menjaga kesehatannya dan bagaimana mengo-bati dirinya bila ia sakit supaya ia dapat menjadi sembuh kembali untuk dapat mene-ruskan pekerjaannya seperti semula.&lt;br /&gt;          Sdr/i seDhamma sekalian, di dalam dunia internasional, kesehatan juga merupa kan masalah pokok yang utama. Kesehatan dapat dikatakan sebagai kualitas hidup ba-gi seseorang. Menurut standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kesehatan itu me-liputi kesehatan mental, fisik, kesehatan sosial (pergaulan), tidak cacat dan tidak le-mah gizi. Sedangkan penanggulangannya meliputi pencegahan, terapi (penyembuhan) dan rehabilitasi (pemulihan).&lt;br /&gt;          Sdr/i seDhamma, kalau kita mau meneliti, ternyata ajaran Sang Buddha juga sa-ngat erat hubungannya dengan kesehatan. Dari ajaran Beliau yang paling sederhana, misalnya tentang Sila (kemoralan), kita dapat mengambil manfaatnya untuk kesehat-an. Dengan melaksanakan Sila secara benar, maka semua perbuatan kita dikendali-kan, misalnya dalam hal makan, kita menjadi tidak terlalu banyak makan, semua as-pek hidup menjadi teratur, dan sebagainya. Juga, dengan menjalankan Sila yang perta ma, yaitu menghindari membunuh makhluk hidup, maka kita dapat terhindar dari umur pendek, sakit-sakitan, dan pada kehidupan yang akan datang nanti kita tidak ter-lahir sebagai manusia cacat. Lalu dengan menjalankan Sila ketiga, yaitu menghindari berbuat asusila, maka kita dapat terhindar dari segala macam bentuk penyakit kela-min. Dan dengan menjalankan Sila kelima, kita dapat melihat pengaruhnya, yaitu bila kita menghindari segala macam minuman keras atau barang-barang yang memabuk-kan, maka kita dapat terhindar dari penyakit radang otak, kanker, dan sebagainya.&lt;br /&gt;          Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikian pula dengan melaksanakan Sama-dhi atau meditasi. Bila kita selalu melatih Samadhi dengan benar, maka hidup akan te rasa lebih tenang, tidur dapat lebih nyenyak, sehingga kesehatan akan bertambah. Ju-ga bila kita memiliki Pabba atau kebijaksanaan, maka kita akan bisa menerima seba-gaimana adanya apa yang terjadi pada diri kita. Artinya, kita mengetahui bahwa kese-hatan juga tidak kekal, pasti selalu ada gangguan sakit. Kita mengetahui bahwa kondi-si kesehatan adalah bersyarat. Artinya, kalau syaratnya tidak terpenuhi maka kesehat-an bisa berubah menjadi tidak sehat. Jadi, kalau pada suatu saat kita menderita suatu penyakit, hendaklah kita jangan terlalu mengeluh. Sadarilah bahwa itu adalah hasil dari karma kita sendiri. Karena, di dalam agama Buddha tidak ada sesuatu yang terja-di secara kebetulan. Semua yang terjadi adalah akibat dari karma kita sendiri. Jadi, yang penting adalah pikirkanlah hal yang baru untuk mengatasi bagaimana penyakit tersebut, jangan terlalu larut dalam kesedihan. Sebab, bila kita bisa segera menyadari terhadap apa yang sedang terjadi pada diri kita, maka kita segera pula menyadari un-tuk memperbaikinya, sehingga semakin cepat dikenal penyakitnya, maka kemungkin-an untuk menjadi parah akan semakin sedikit.&lt;br /&gt;          Sdr/i seDhamma yang berbahagia, jadi semakin jelas, bahwa dengan melaksana kan ajaran Sang Buddha, ternyata kita bisa mencegah banyak hal yang dapat merugi-kan kesehatan kita. Dan, hendaknya kita juga selalu menyadari bahwa semua masalah itu dapat diselesaikan atau diatasi dengan Dhamma.&lt;br /&gt;          Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yang berjudul ‘Arogya atau Kesehatan’. Dan bila di antara Sdr/i ada yang ingin bertanya tentang makalah ini, kami persilakan untuk mendiskusi-kan bersama-sama setelah selesainya kebaktian. Terimakasih!&lt;br /&gt;Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia!&lt;br /&gt;Sadhu! Sadhu! Sadhu!&lt;br /&gt;____________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibacakan pada tanggal :&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7648873842606600231-1917552597889824581?l=aligurubuddha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/feeds/1917552597889824581/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7648873842606600231&amp;postID=1917552597889824581' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/1917552597889824581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7648873842606600231/posts/default/1917552597889824581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aligurubuddha.blogspot.com/2008/02/aroghya.html' title='Aroghya'/><author><name>Ali Sasana Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13255217402191156921</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_BkYcw9ULlko/R8KNu4uNC3I/AAAAAAAAAAY/wr_dUWo5ZHc/S220/image-upload-17-725135.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7648873842606600231.post-7736682390806782436</id><published>2008-02-28T19:30:00.000-08:00</published><updated>2008-02-28T19:32:03.170-08:00</updated><title type='text'>Ramalan dan Kamma</title><content type='html'>ANTARA  RAMALAN  DAN  HUKUM  KAMMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammä Sambuddhassa (3x).&lt;br /&gt;KAMMUNÄ  VATTATI  LOKO.&lt;br /&gt;Semua makhluk di dunia tergantung oleh karmanya sendiri.&lt;br /&gt;                                 Majjhimanikäya Majjhimapaêêäsaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah kita membaca Paritta dan bermeditasi, ma-rilah kita sekarang mengadakan pembahasan dan perenungan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Antara Ramalan dan Hukum Kamma’. Jadi sekali lagi Sdr/i, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Antara Ramalan dan Hukum Kamma’. Dan, makalah ini merupakan ringkasan dari salah satu khotbah Bhikkhu Subalaratano.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, dewasa ini seringkali kita melihat bahwa masih banyak umat Buddha yang sangat menggantungkan sikapnya kepada ramalan ahli nujum. Apalagi, kalau umat Buddha tersebut masih awam dan belum mengerti Buddha Dhamma. Mereka itu umumnya belum mempunyai pengertian yang mendalam mengenai apa yang telah diajarkan oleh Sang Buddha Gotama. Kecuali itu, ternyata situasi kemajuan materi juga merupakan pendorong bagi suburnya praktik ramal meramal ini. Hal ini tidak lain karena manusia yang sedang mengejar materi biasanya lupa untuk membina batin atau menghayati ajaran agama (yang da-lam hal ini adalah Dhamma) secara benar. Sehingga, masalah yang berkaitan dengan ‘keba-tinan’ ini lalu diserahkan kepada para peramal. Maka, tidaklah mengherankan bila kita men-dengar bahwa beberapa pemimpin negara maju di bidang materi juga masih terikat dan per-cara kepada ramalan para ahli nujum.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, raja-raja pada jaman dahulu, di samping memiliki penasehat pemerin-tahan biasanya juga memiliki penasehat batin yang tugasnya memberikan pendapat mengenai arti ramalan, mimpi, atau kejadian-kejadian yang terjadi dan dianggap merupakan ramalan di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, Buddha Dhamma yang telah diwariskan oleh Buddha Gotama bu-kan menolak ramal-meramal atau memojokkan para ahli nujum. Dengan membabarkan Hu-kum Kesunyataan tentang Kamma, Sang Buddha berusaha mendidik manusia agar lebih mandiri daripada bergantung kepada ramalan saja. Sebab, manusia yang cara berpikirnya se-lalu tergantung kepada ramalan, tidak akan menjadi ‘manusia dewasa’ sehingga bisa menem-patkan soal ramal meramal ini pada tempat yang tepat dan bukan sebagai tujuan hidup.&lt;br /&gt;            Sdr/i sekalian, memang, dalam riwayat Buddha Gotama dapat kita baca bagaimana para peramal yang ahli dari Raja Suddhodana memberikan arti ramalan mereka setelah meli-hat putra mahkota Kapilavatthu, yang kelak kemudian menjadi Buddha Gotama. Mereka itu, yang katanya tergolong ahlipun, masih tidak bisa memberikan ramalan yang tepat, sehingga mereka menjawab dengan dua kemungkinan, yaitu bila pangeran menjadi raja, maka ia akan menjadi raja dunia; tetapi, bila pangeran menempuh hidup bertapa, maka ia akan menjadi orang suci.&lt;br /&gt;            Sdr/i seDhamma, begitu pula dengan permaisuri Raja Bimbisara yang sedang me-ngandung. Ia diramalkan oleh ahli ramalnya bahwa putra yana akan lahir itu nantinya akan menjadi musu
